dokumentasi IDRUS FAI

Posted by idrus86_tarbiyah in Oct 20, 2009, under FAKULTAS AGAMA ISLAM

KATA PENGANTAR
Masalah pendidikan merupakan kepentingan yang memeperoleh prioritas utama sejak awal kehidupan manusia. Bahkan Rasulullah sendiri telah mengisyaratkan bahwa proses belajar bagi setiap insan adalah sejak ia masih dalam kandungan ibunya sampai si insane sudah mendekati liang kuburnya, dan sejak dari rumah tangga orang tuanya sampai jauh ke lain negara. Sebagai agama yang mengutamakan pendidikan, maka sepanjang kurun kehidupan Islam hingga kini telah muncul banyak ahli piker menyumbangkan buah pikirannya dalam bidang pendidikan khususnya, maupun dalam berbagai bidang lainya. Tokoh- tokoh pemikir yang termasyhur, antara lain Al- Qobisi, Al- Gazzaly, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, yang telah menyumbangkan buah pikirannya untuk kesempurnaan dan kemajuan bidang pendidikan Islam yang berlandaskan pada Alquran dan Sunah Nabi.
Dalam buku ini pandangan-pandangan para pemikir/ pakar pendidikan Islam tersebut diketengahkan kembali untuk kita kaji bersama, sehingga bisa kita jadikan pedoman atau pengangan serta penelaahan lebih jauh mengenai sistem-sistem atau metode-metode pendidikan yang berdasarkan pada Alquran dan sunahsemoga buku ini akan memberikan tambahan ilmu kepada para pembaca. Apabila ada saran-saran dari para pembaca demi

BAB I
PENDAHULUAN
PERBANDINGAN PENDIDIKAN PERSPEKTIF ISLAM

Alhamdulillah Wasshalatu Wassalaamu ‘Alaa Rasulillah S.A.W. Ammaa Ba’du:
A. Latar Belakang
Sejak awal perkembangan pendidikan Islam telah berdiri tegak di atas dua sumber pokok yang amat penting yaitu Al-Quran dan sunnah Nabi. Di dalam kitab suci ini terkandung ayat-ayat mufasshalaat (terinci) dan ayat-ayat mubayyinat (yang memberikan bukti-bukti kebenaran) yang mendorong kepada orang untuk belajar membaca dan menulis serta untuk menuntut ilmu, memikirkan, merenungkan dan menganalisis ciptaan langit dan bumi. Oleh karena itu maka tujuan da’wah Islamiyah adalah untuk memberi cahaya terang kepada hati nurani dan pikiran serta menambah kemampuan umat Islam dalam melakukan proses pengajaran dan pendidikan. Karena Rasulullah s.a.w. sendiri diutus pertama-tama untuk menjadi pendidik dan beliau adalah guru yang pertama dalam Islam.
Walaupun sasaran, metode dan tujuan-tujuan pendidikan Islam sangat berbeda dengan apa yang terdapat dalam pendidikan umum, karena pendidikan Islam berlandaskan pada Al- Qur’an dan sunnah Rasul- Nya, tetapi system pendidikan Islam selalu mengkaitkan pola dan system pendidikan umum. Dalam hubungan ini Al- Qur’an telah memberikan penjelasan tentang ketentuan-ketentuan hukkum yang memperhatikan kepentingan umat manusia, yaitu antara lain: mengkaitkan antara ketentuan agama dengan norma-norma akhlak; meletakkan kaidah-kaidah yang mengatur kehidupan manusia sehari-hari; menciptakaan kondisi kehidupan yang ideal bagi manusia dalam mencapai kesatuan hidup social. Di sampig itu dijelaskan pula tentang akidah atau kepercayaan, ibadah dan mu’amalah, dan lain-lian.
Pada dasarnya pola pelaksanaan pendidikasn Islam dapat menggabungkan dalam waktu bersamaan antara pendidikan kejiwaan dengan pembersihan ruh (jiwa), menumbuhkan kecerdasan pikiran, memperkuat jasmani (kesemuanya ini akan dijelaskan dalam bab demi bab).
Pendidikan Islam dimulai dari keluarga (rumah) di mana anak-anak menerima pengaruh dari apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dengan cara meniru dan menerima pelajaran. Sembahyang merupakan pelajaran yang pertama-tama diberikan kepada anak sejak masa kecil, karena sembahyang itu merupakan salah satu rukun Islam yang kedua ( yang menjadi tiangnya agama ).
Kemudian disusul dengan berdirinya pengajian anak-anak dan yang menjadi gurunya di sebut al-faqih yang pada umumnya mereka hapal Al-Qur’an, mengerti dasar-dasar pendidikan agama. Pada saat itu kaum muslimin amat memperhatikan pengajaran Al-Qur’an bagi anak-anaknya yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar huruf-huruf hijaiyah, nahwu sorof, bahasa arab dan dasar-dasarilmu hitung. Kemudian setelah itu berkembanglah system pengajaran Islam dengan cepatnya di negara-negara Islam yang membuka hubungan kebudayaan Islam dengan bangsa-bangsa lain di dunia, seperti yunani-kuno, dan lain-lainnya. Bentuk hubungan-hubungan tersebut anntara lain dengan cara menerjemahkan dan menukil ilmu pengetahuan daribuku-buku mereka. Maka dengan cara ini berkembanglah pengajaran dan pendidikan yang akhirnya melahirkan Madrasah Nizamiyyah, perpustakaan-perpustakaan Islam (Daar al- kuttub), balai-balai ilmu dan hikma, serta muncullah ilmuwan-ilmuwan muslim dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Pada hakikatnya agama Islam adalah agama yang mendasarkan kepada persamaan dan tasammuh (toleransi), kebebasan, kasih saying antara sesama manusia, mengajarkan amar-ma’ruf dan nahi-mungkar. Dari aspek-aspek inilah pendidikan Islam berkembang dengan jiwa agama yang didasarkan pada rasa takut kepada Allah SWT; seorang muslim tidak ada yang ditakuti kecuali Allah SWT, dan ia berani menghadapi hak orang lain, yang telah ditetapkan berdasarkan sunnah Nabi dalam bentuk serta melaksanakan kewajiban menurut ajaran agamnya.
Dalam pendidikan Islam tidak dikenal pengertian interaksi seperti yang dikenal oleh para pemikir aliran empirisme- eksteralisme, akan tetapi pendidikan Islam mengenal adanya interaksi yang tidak mempertentangkan antara perbuatan seseorang yang berkaitan dengan hak-hak asasi terhadap kebebasan berkehendak (free will).
Jika kita ingin mendapatkan ruh agama yang kuat dalam pendidikan Islam , maka kita akan menemukan dalam eksistensinya yang meliputi ruh Al-Qur’an dan kemudian dari ruh yang terkandung di dalam peradaban Islam yang bersumber pada Al-Qur’an (yang menolak faham individualisme yang egoistic), menciptakan dan mendorong manusia yang berwatak sosialistik serta memberikan kepada setiap orang kebebasan atau kemerdekaan berfikir, sereta membebaskan masyarakat dari kasta-kasta. Di samping itu tujuan pendeknya adalah merealisasikan prinsip-prinsip keadilan, menghormati segi-segi kemanusian dan tolong-menolong antara sesama manusia.
Peradaban Islam berdiri di atas landasan ilmu dan iman yang kokoh yaitu ilmu yang manfaat yang memberikan kebajikan kepada manusia seluruhnya dan iman yang kuat kepada Allah SWT sebagai pencipta langit dan bumi. Ilmu dan iman itu merupakan landasan kuat bagi pembangunan masyarakat yang sejahtera di dunia dan di akhirat kelak.Ilmu dan iman menjadi sumber orisinal pendidikan Islam yang sejalan degan tuntutan kehidupan modern sekarang ini. Modernitas kehidupan manusia jaman sekarang harus membuka diri kepada cita-cita hidup yang berkembang, yang membawa ketinggian martabat hidup di dunia yang membuka pintu yang luas untuk persiapan kehidupan akhirat.
Jika system pendidikan tidak berlandaskan pada iman dan ilmu, maka tak akan mampu merealisasikan kebahagiaan hidup manusia dengan sempurna. Oleh karna dengan sistem ini, pendidikan akan mampui merealisasikan ketenangan dan kemantapan jiwa anak serta menghormati kepribadian individual. Islam mengajak kepada ketentraman, penghormatan kepada orang lain dalam melaksanakan pendidkan Islam yang lebih mementingkan pada pembentukan kebebasan hakiki yang menghayati essensinya kebebasa itu sendiri. Oleh karena itu Islam mendorong pertumbuhan dan perkembangan serta memberikan kebebasan berpikir supaya mampu menganalisis dan melakuakan upaya pengambilan hukum serta menetapkan hukum melelui kecerdasan pikirannya. Dalam kitab ini saya berusaha mengungkapkan ciri-ciri pendidikan Islam dan pandangan-pandangan khusus yang diambil dari hasil studi yang di lakukan oleh 4 orang pakar pendidikan Islam yang cukup terkenal, yatitu Al Qabisi, Ibnu sina, Al Gazzaly dan Ibnu Khaldun.
Adapun tujuan pokoknya kami bermaksud menyajikan di hadapan para yang menekuni masalah-masalah pendidikan Islam baik di Mesir, Arab maupun di negara Islam lainnya agar mengetahui tentang tujuan-tujuan, kurikulum, metodik, dan didaktik yang terdapat dalam pendidikan Islam (dalam bentuk proses belajar mengajar secara efektif dan efisien).
Uraian yang di sajikan dalam kitab ini lebih menitikberatkan pada perbandingan antara berbagai pendapat di kalangan tokoh-tokoh dan para ahli pendidikan Islam, yang dengan teori-teori pendidikan modern sekarang ini. Di samping itu di uraikan pula pendapat-pendapat baru dari tokoh-tokoh pemikir masa lalu, agar supaya kita dapat memastikan bahwa para ulama dan ilmuwan bangsa Arab Islam mempunyai pandangan yang luas sesuai dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, dan teknologi pendidikan.
Kami tidak berpretensi bahwa kitab yang kecil ini telah mencakup segalah aspek yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Namun karena ada beberapa aspek pendidikan Islam yang memerlukan tambahan pelajaran dan studi banding, maka perlu kita jelaskan tentag metodologisnya, sehingga memberikan kejelasan kepada kita, bahwa : 1. Usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara Islam, seperti di Arab, Mesir dan di negara-negara Islam lainnya, agar status dan pedidikan kita menjadi modern sebagaimana telah terjadi pada zaman keemasan Islam (abad 12 dan 13 M). 2. Semua usaha tersebut tak akan tercapai melainkan harus kembali kepada filsafat pendidikan yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul. Kedua prinsip pendidikan yang telah di uraikan sebelumnya yaitu iman dan ilmu, mampu merealisasikan modernisasi yang kita cita-citakan, dengan syarat apabila kedua prinsip pendidikan Islam ini menjadi pola panutan dalam kehidupan kita masing-masing.
Dalam uraian tersebut jelaslah bagi kita bahwa sikap dan pandangan kaum muslimin yang paling penting dalam pendidikan Islam, adalah pandangan yang bersumberkan kepada Al-Qur’an dan hadist rasulullah s.a.w.
Tujuan pendidikan Islam pada dasarnya ialah mempersiapkan perkembangan anak agar mampu berperan serta secara berkesinambungan dalam pembangunan manusia yang berkembang terus dan mampu beramal kebajikan selama dalam upaya mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhiratnya. Inilah yang merupakan jalan Islami yang diajarkan dalam kitab suci Al- Qur’an sebagai berikut :
“ Dan carilah segala sesuatu yang telah menganugerahkan kepadamu mengenai kampung akhiratmu, dan janganlah kamu melupakan nasib hidupmu di dunia”. (Al- Qasas, 77)
Kitab ini terbagi ke dalam beberapa bab, yaitu bab pertama tentang ciri-ciri dan tujuan pendidikan Islam; lembaga-lembaga pendidikan dalam Islam; tujuan-tujuan pendidikan Islam, tujuan-tujuan pendidikan zaman dulu dan masa sekarang. Hubungan antara Islam dan pendidikan, Al- Qur’an menetapkan kebijaksanaan pendidikan yang paling baik, beberapa prinsip filsafat pendidikan menurut Al- Qur’an, kurikulum pendidikan Islam, pandangan orientalist. Dan bab II menjelaskan tentang pandangan Al- Qabisi, seorang ulama ahli fiqih dan hadits yang menyoroti masalah pendidikan. Bab berikutnya tentang pendapat Ibnu Sina sebagai filosuf, pendidik, ahli kedokteran dan ahli ilmu jiwa, dan tentang keistimewaan pendidikan Islam, kemudian perbandingan antara pendapat Al- Qabisi, Ibnu Sina dan Al- Gazzaly serta Ilmu Khaldun. Akhirnya penutup, yang berisi uraian tentang pentingnya riset dalam pendidikan nasional. Dalam tiap bab, saya uraikan tentang kedudukan pendidikan Islam yang berkaitan dengan pandangan atau hipotesa dari pendidikan modern masa kini. Akhirnya kepada Allah kita memohon petunjuk agar dapat berhasil dalam melaksanakan sistem dan pola pendidikan Islam.
BAB II
CIRI-CIRI DAN TUJUAN
PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan Islam mulai dilaksanakan oleh Rasulullah s.a.w. sebagai Mubalug yang agung di tengah masyarakat di rumah Arqam bin Al- Arqam di Mekah. Beliau mengajarkan tentang ajaran Islam dan semua ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, dengan membacakan secara berurutan dan bertahap. Pada waktu itu bangsa Arab berada pada puncaknya bahasa Arab yang fasih dan tinggi mutu balaghahnya (nilai kesusastraannya). Oleh karena itu ketinggian bahasa Al-Qur’an dapat menerangi hati mereka dan menembus lubuk hati mereka, sehingga mereka dapat memahami maksud dari hukum-hukum yang terkandung di dalam kitab suci ini.Ayat-ayat yang mutasyabihat (yang belum jelas maksudnya) dalam Al-Qur’an dapat mereka pahami melalui penjelasan Rasulullah. s.a.w. Sistem pengajaran Islam semacam ini berlangsung terus sampai pada waktu Rasulullah memerintahkan para tawanan perang Badar (dari kaum musyrik) untuk mengajarkan membaca dan menulis kepada sepuluh anak di madinah. Maka sejak itu mulailah sistem mengajar membaca dan menulis mengikuti metode yang baru. Pada waktu itu membaca dan menulis dipandang sebagai alat yang wajib dimiliki untuk mempelajari Alquran dalam bentuk menulis, menghafal dan membacanya secara benar.
Dalam hubungan ini kita dapati didalam Alqur’an sendiri penjelasan pada awal surat yang diturunkan kepada Nabi yang mengajak
(dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah Ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir, 28).
Firman Allah lainnya adalah seperti dalam surat Ibrahim, 32-33 sebagai berikut:
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (Ibrahim, 32).
“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim, 33).
Kitab suci Al-Qur’an yang penuh dengan segala kemuliaannya yang menunjukkan kepada ketinggian ciptaan Allah itu mendorong manusia muslim untuk memikirkan tentang segala yang diciptakan-Nya dalam alam semesta yang penuh dengan keajaiban tanda-tanda kebesaran-Nya- Bahkan orang-orang yang memikirkan tentang makna dan tujuan dari ayat-ayat Al-Qur’an itu tidak hanya terdorong untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, membahasnya dan mendidik akal saja, melainkan karena agama Islam yang berdiri tegak di atas landasan dan kaidah-kaidah yang telah ditunjukkan oleh Rasulollah s.a.w. di dalam hadisnya yang mulia bahwa: “Islam dibangun di atas lima manusia untuk belajar membaca dan menulis Juga menjelaskan tentang penggunaan pena tersebut untuk mempelajari, menggali dan menemukan hakikat kebenaran. Maka tidak mengherankan jika Allah SWT sendiri bersumpah dengan “KALAM” (PENA) seperti tercantum pada surat Al-Qalam sebagai berikut :
“Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tuliskan’.’ (Al-Qalam,:1)
Sudah selayaknya jika kita berkeyakinan bahwa ilmu pengetahuan yang dianjurkan oleh Al-Qur’an tidak terbatas pada ilmu pengetahuan agama saja, melainkan juga ilmu-ilmu lain yaitu ilmu-ilmu pengetahuan yang bersifat komprehensif yang dihasilkan dari proses diskusi, penelitian, telaahan dan istimbat (pengambilan hukum). Hal ini sejalan dengan maksud ayat Al-Qur’an dan Surat Al-Fathir 27-28) sebagai berikut :
“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkaii dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka -warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat’ (Fathir, 27).
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah Ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir, 28).
Firman Allah lainnya adalah seperti dalam surat Ibrahim, 32-33 sebagai berikut:
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bwni dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (Ibrahim, 32).
“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim, 33).
Kitab suci Al-Qur’an yang penuh dengan segala kemuliaannya yang menunjukkan kepada ketinggian ciptaan Allah itu mendorong manusia muslim untuk memikirkan tentang segala yang diciptakan-Nya dalam alam semesta yang penuh dengan keajaiban tanda-tanda kebesaran-Nya. Bahkan orang-orang yang memikirkan tentang makna dan tujuan dan ayat-ayat Al-Qur’an itu tidak hanya terdorong untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, membahasnya dan mendidik akal saja, melainkan karena agama Islam yang berdiri tegak di atas landasan dan kaidah-kaidah yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. di dalam haditsnya yang mulia bahwa: “Islam dibangun di atas lima landasan ….” maka yang dimaksud dengan dua kalimah syahadah adalah mengesakan Allah dan beriman kepada Rasul-Nya; yang keduanya merupakan landasan pokok dari Islam dan iman. Sedangkan shalat adalah menjadi tiangnya agama yang mengandung pendidikan jasmani dan rohani, Membayar zakat adalah mensucikan jiwa dan harta; Menunaikan ibadah haji ke Baitul-Haram adalah menuntut kekuatan fisik menempuh perjalanan yang mendidik manusia untuk tahan terhadap kesulitan serta melatih jasmaniahnya. Mengerjakan puasa menuntut kesabaran, membersihkan jiwa serta mencegah anggota-anggota badan dari segala kerusakan, juga melatih nafsu terhadap segala sesuatu yang tidakdisukai dan terhadap segala yang melelahkan-nya. Di dalam kondisi demikian itu terdapat unsur-unsur kependidikan yang saling menyempurnakan antara akhlak, latihan mental dan fisik manusia.
Oleh karena itu pendidikan Islam mulai sejak periode awal perkembangannya mengandung keunggulan karena pendidikan Islam adalah pendidikan yang bercorak komprehensif (menyeluruh) yang mendorong ke arah mendidik seorang muslim dan segala aspek kemampuannya.
Oleh karena itu semua hal yang telah kami jelaskan mengenai komprehensivitas pendidikan Islam itu diperkuat dengan bukti-bukti bahwa Allah SWT ketika mengangkat derajat Nabi Muhammad s.a.w. yang mulia melebihi Nabi-nabi dan para ahli kebenaran lain memerintahkan Nabi untuk menyeru kepada jalan Allah dengan lemah lembut dengan firman-Nya :
“Dan katakanlah : Wahai Tuhan-ku. tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan…..”
Oleh karena itu Islam menjadikan ilmu pengetahuan sebagai salah satu sarana untuk meneguhkan keimanan dan memperkuatnya rasa kebersamaan manusia dalam menangani pendidikan.
Hampir seluruh ayat-ayat Al-Quran mengandung ajakan ke arah berpikir dan merenungkan terhadap segala ciptaan Allah di alam semesta ini. Jika manusia mampu mendalami ilmu dan dapat menemukan banyak rahasia-rahasianya maka pasti terbuka kesadarannya terhadap Kekuasaan Pencipta Yang Maha agung terhadap alam semesta yang diciptakan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya sebagai berikut :
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan: (Kami} dan sesungguhnya Kami benar-benar- berkuasa. (Ad-Dzariaat, 47).
Mengingat keterbatasan akal pikiran manusia dalam memahami dan mengungkap rahasia alam semesta, maka menjadilah kuat iman seorang hamba Allah kepada Tuhan Maha Pencipta langit dan bumi. Dalam hubungan ini Albert Mac Combe Wenchester mengatakan: “Jika kita ingin meniperteguli iman kita kepada Tuhan, maka kita hams meningkatkan upaya yang maksimal dalam mengungkapkan rahasia dari hakikat segala sesuatu’.
Jika Allah menghendaki Nabi-Nya mendapatkan kemuliaan maka Dia memberikan kepadanya sifat-sifat keutamaan akhlak, Firman-Nya:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung’.’ (Al-Qalam, 4).
Kemudian Allah berfirman tentang pentingnya pengamalan dengan :
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu ….” (At-Taubah, 105).
Yang dimaksud dengan “amal” (pekerjaan) di sini tidak saja amal keagamaan, melainkan semua amal perbuatan yang bermanfaat bagi agama dan keduniaan. Bekerja (beramal) mengandung dua makna yaitu penyegaran jasmani dan memperkuat ketahanan terhadap segala masalah (kesulitan), oleh karena itu orang mukmin yang kuat lebih baik dari pada orang mukmin yang lemah.
Dalam ajaran agama Islam terdapat perintah untuk lebih memperhatikan program perdidikan jasmaniah seperti yang diriwayatkan oleh Umar r.a. yang menyatakan: “Ajaklah anak-anakmu dengan berenang, dan memanah serta perintahkan mereka untuk melompat dengan menaiki kuda,”
Pada dasarnya sifat komprehensif dari pendidikan Islam tidak akan menimbulkan keraguan sebagai pendidikan yang unik yang berkembang atas pengaruh sistem pendidikan Persi dan Romawi di mana dalam kedua sistem pendidikan ini telah mengalami kerusakan dan tidak simpatik. Meskipun pendidikan Islam berwatak komprehensif, yang sejak. dini bertujuan kepada pendidikan keagamaan, yang lebih mementingkan kepada memelihara Qur’an dan Sunnah Nabi serta pengajaran shalat, sampai pada saat kaum muslimin mengadakan kontak (hubungan) dengan kebudayaan asing dari Yunani, Persia dan Hindu. Dan diterjemankannya ilmu-ilmu pengetahuan bangsa-bangsa ini ke dalam bahasa Arab, maka sejak itu pendidikan Islam diarahkan kepada studi ilmu-ilmu pengetahuan Yunani, Persia dan Hindu beserta filsafatnya. Al-Qur’an yang menjadi dasar pokok dan sumber asli pendidikan Islam, lebih mendorong kepada pemikiran dan perenungan terhadap ciptaan Allah beserta keidahannya dalam alam semesta ini. Dari sini muncullah tokoh-tokoh ulama muslim yang telah mencapai puncak perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka telah sampai kepada tingkat kreativitas (daya cipta) tinggi di bidang ilmu pengetahuan. Mereka mengkaitkan dengan peradaban lama sesudah mereka mengkorelasikannya dengan maksud menonjolkan dengan wajah baru yang kemudian dikenal sebagai “Kebudayaan Islam”.
Pada periode awal pendidikan Islam sangat memperhatikan kegiatan mendidik anak untuk hidup beragama yang benar sehingga mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang berakhlak mulia, dan melakukan kegiatan., hidupnya sesuai norma-norma agama yang benar. Orang-orang tua dan guru-guru mereka yang melaksanakan pendidikan anak memandang anak-anak mereka sebagai orang dewasa yang berbentuk kecil, yang mana pandangan demikian bertentangan dengan prinsip-prinsip pendidikan modern. Kecuali dalam hal menumbuhkan proses kedewasaan dalam pendidikan akhlak. Para orang tua membebani anaknya menurut hukum syara’ berdasarkan hadis Nabi : “Perintahlah anak-anak kalian untuk menjalankan shalat pada waktu usia tujuh tahun dan pukullah mereka untuk bershalat pada usia sepuluh tahun”
Hadis tersebut jelaslah bagi kita, bahwa menurut kebiasaan agama jika dengan perintah, nasihat dan bimbingan tidak berhasil dalam pembinaan sembahyang pada diri anak, maka diizinkan untuk menggunakan kekerasan, meskipun tidak sesuai dengan pendapat tokoh pendidikan modern, namun secara praktis hal itu dapat diterapkan, karena pengajaran bersembahyang adalah merupakan dasar pertama dalam pendidikan Islam. Sekarang kita bertanya kepada diri kita sendiri : Bagaimanakah pendidikan yang dilaksanakan di dalam sekolah-sekolah-kita saat ini. Apakah dilakukan pendidikan anak menurut sistem yang dilaksanakan pada periode awal perkembangan Islam dan periode sesudahnya. Secara insidentil tidaklah demikian, karena anak-anak masa lampau dididik untuk mencintai agama dan mengamalkannya menurut ajaran agama, sedangkan anak sekarang beserta pemuda-pemudanya, tidak berada pada masa lampau, sehingga diperlukan metode khusus untuk menghadapi masa sekarang. Pada masa kini para pemikir dan para ahli seharusnya mengajak kepada manusia untuk memetik atau mengambil prinsip-prinsip dan metoda pendidikan Islam masa lampau, sehingga anak-anak didik kita (masa mendatang) akan dapat menghiasi dirinya dengan keutamaan ajaran Islam. Oleh karena anak-anak masa lampau itu senantiasa mau mendengarkan nasihat dan pelajaran dan memahaminya dari guru-gurunya; dari para pendidiknya dan dari orang-orang tuanya tentang ajaran-ajaran nasihat yang membimbing mereka menjadi orang dewasa yang berkepribadian cemerlang dan bijaksana; serta mendidik mereka menjadi orang yang berkemampuan untuk berpikir kreatif, dan sanggup berdiri sendiri dan sebagainya. Salah satu ajaran pokok agama kita adalah firman Allah sebagai berikut :
“Allah akan meninggikan orang-orang mukmin dari padamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat” (Al. Mujadalah : 11)
Mengapa iman didahulukan daripada ilmu pengetahuan menurut ayat tersebut ; oleh karena iman merupakan syarat pertama yang harus dimiliki untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Allah berfirman sebagai berikut :
“Katakanlah : Apakah sama orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan” (Az-Zumar : 9)
“…Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (At Taubah : 122)
Dan firman Alloh :
“… Maka bertanyalah kamu sekalian kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (An Nahl : 43)
Rasulullah saw. Bersabda :
“Derajat manusia yang paling dengan kenabian ialah orang yang berilmu pengetahuan dan ahli jihad”.
Dan sabda beliau lagi :
“Pada hari kiamat akan ditimbang tintanya para ulama dengan darahnya para syuhada’ …”
sabda Nabi selanjutnya :
“Tidak ada kebaikan daripada umatku orang yang tidak berilmu dan tidak pula belajar”
Ajaran agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits tersebut akan menenangkan telinga yang mendengarkannya dan melunakkan hati serta akan menerobos masuk ke dalam dada. Hati anak-anak kita menjadi tenteram ketika para guru yang saleh yang memiliki keteladanan yang baik menyampaikan pelajaran agama tersebut di atas. (Prinsip guru itu harus menjadi teladan bagi murid-muridnya).
1. Para Pengajar (Guru)
Menurut Al-Djahiz, guru itu ada dua macam :
o Mereka yang diangkat dari pengajar orang awam menjadi pengajar anak-anak khusus.
o Mereka yang diangkat dari pengajar anak-anak khusus menjadi pengajar putra-putra raja/khalifah yang dicalonkan menjadi khalifah (raja).
Mengenai guru-guru Al-Kuttab yang dicemoohkan sebagai orang yang pandir, tolol, maka dapat kita katakan bahwa sangkaan buruk demikian itu tidaklah semestinya. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa guru-guru yang brillian seperti Ali Hamzah Al-Kissai, Mohammad bin Al-Mustanir (dianggap orang-orang yang pandir). Begitu pula mereka para guru yang baik-baik dapat dikatakan tolol (bodoh), bengal; olok-olokan terhadap mereka adalah tidak pantas, juga tidak boleh merendahkan golongan di bawah mereka. Jika mereka belajar pada guru-guru Al-Kuttab di daerah pedesaan, akan ditemukan adanya kenyataan bahwa setiap kaum ada yang tinggi dan rendah derajatnya, namun tidaklah sama halnya dengan guru-guru Al-Kuttab.
Ada beberapa orang yang berpendapat bagaimanapun sifat-sifat pandir diberikan kepada guru-guru Al-Kuttab; orang demikian memandang bahwa orang-Arab saat itu merendahkan pekerjaan yang bukan bersifat kepahlawanan yang pandai naik kuda dn berperang. Akan tetapi anggapan demikian itu tidak dapat dilekatkan pada orang Arab selama-lamanya. Jika dikatakan bahwa para guru yang mengajar anak-anak hidup dalam kondisi ekonomi yang pahit dan berada dalam status yang hinadina, maka anggapan demikian secara logis tak dapat dibenarkan, bertentangan dengan logika yang sehat, karena pekerjaan guru yang mengajar anak-anak merupakan pekerjaan yang paling dimuliakan. Pandangan yang merendahkan pekerjaan guru yang didasarkan atas kemampuan ekonomis yang payah, karena sedikit gajinya sehingga menempatkan mereka pada tempat yang lebih rendah daripada pekerjaan lainnya; maka menurut pendapat Al-Djahiz, pandangan demikian itu terpengaruh oleh cerita-cerita yang bersumber dari hikayat Yunani kuno. Berceles, seorang ahli hukum Yunani terkenal pada suatu hari berjalan-jalan menyusuri tepian sungai, maka ia melihat seorang hamba sahaya memanjat pohon lalu terjatuh ke bawah, patah lengannya, Berceles berkata : “Sekarang kamu menjadi paedagia”, yakni guru. Berdasarkan cerita ini apakah benar atau tidak, orang Yunani saat itu memandang pekerjaan mengajar anak-anak yang hanya diberikan kepada orang-orang yang lemah yang tidak mampu untuk berperang di medan pertempuran. Maka sejak itu timbullah pandangan yang merendahkan derajat guru yang mengajar anak-anak.
Pandangan demikian itu ditentang oleh Al-Djahiz dalam membela kedudukan guru Al-Kuttab.
Ada sebuah riwayat (tidak dapat dipertanggungjawabkan) yang menyatakan tentang kepandiran guru Al-Kuttab, dari setengah ahli filsafat (hukama) sebagai berikut : “Janganlah kamu minta pendapat kepada guru dan janganlah menjadi penggembala kambing dan duduk-duduk dengan wanita”. Juga ada riwayat yang menyatakan bahwa ia mendengar sebagian mereka mengatakan : “Kepandiran itu ada pada tukang tenun (penenun), dan para guru dan pemintal benang”, sedang ucapan-ucapan yang mengolok-olok guru Al-Kuttab diantara mereka ada yang mengatakan : “Pada suatu waktu seorang anak membaca Al-Qur’an dihadapan seorang guru, ketika sampai pada ayat” dan semoga engkau diberi laknat”, yang diulang-ulang di hadapan gurunya, maka menjadi marahlah sang guru, lalu guru itu mengatakan kepada anak itu : “Sesungguhnya atas kamu laknat dan atas kedua orang tuamu”. Kemudian anak itu mengatakan : “Di dalam batu tulisku tidak ada kalimat “dan atas orang tuamu” yang ada hanya kalimat “dan atas engkau laknat”, mengapa tuan guru menyuruh saya untuk mengatakan : “…’alaika wa’alaa walidaika” (atas engkau dan kedua orang tuamu laknat).Kemudian sang guru membaca ayat “Ghulibat ar-ruumfii adna al-ardhi” (ditaklukkan Romawi yang terletak di wilayah terdekat”), namun guru itu merobah bacaannya “Ghulibat at-Turkiyu …”, lalu orang-orang yang mendengarnya meluruskannya, akan tetapi sang guru itu mengatakan bahwa “tidak penting, karena Turki dan Romawi itu keduanya adalah musuh kita”. Ini terjadi suatu manipulasi ayat.
Namun demikian seperti telah diuraikan di atas, Al-Djahiz yang membela kedudukan guru Al-Kuttab yang diremehkan, mengharapkan agar mereka menyadari bahwa sangkaan semacam itu terhadap guru-guru Al-Kuttab tidak pantas. Oleh karena mereka sebenarnya banyak yang ahli fiqih, ahli syair, ahli pidato, seperti Kumait bin Zaed, Abdul Hamid Al-Katib, Qais bin Sa’ad, dan Husein Al-Mu’allim dan Abi Sa’id Al-Mu’allim. Di kota Basrah (Iraq) kita juga menemukan dua orang ilmuwan dalam berbagai bidang, yaitu Abul Wazir dan Abu Al-Adnan yang keduanya menjadi guru.Juga Al-Hajjaj bin Yusuf As-Tsaqafi, seorang ahli politik dan hakim yang brillian (yang menjadi tulang punggungnya daulah Umawiyyah adalah seorang guru Al-Kuttab). Hal ini tidak pantas tuduhan dan olok-olokan terhadap para guru dilontarkan dengan cara yang tidak manusiawi. Al-Djahiz dengan pendapatnya bahwa kedudukan guru itu adalah tinggi, dibuktikan kebenarannya oleh pendapat yang tersebut di atas, namun ia juga tidak mengingkari adanya sebagian guru yang hina dina yaitu guru yang selalu berbuat kesalahan. Berdasarkan alasan ini Al-Djahiz mengklasifikasikan guru menjadi dua macam golongan yaitu guru yang mulia dan guru yang hina.
Menurut pendapat Prof. Dr. Ahmad Syallabi, dalam kitab karyanya, “Tarikh At-Tarbiyyat Al-Islamiyyah” (Sejarah Pendidikan Islam) berbeda pendapat dengan Al-Djahiz, yang mengklasifikasikan guru menjadi tiga macam golongan yaitu guru Al-Kuttab, Muaddib (guru putra raja / khalifah) dan guru-guru yang mengajar di mesjid-mesjid dan madrasah-madrasah. Mesjid dan madrasah tersebut menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya yang relevan dan sejalan dengan aspek-aspek kependidikan.
Kaum muslimin saat itu memang membagi posisi guru sesuai dengan derajat mereka, dan hal ini memperkuat pendapat Al-Djahiz yang mengatakan : “Di tiap golongan terdapat orang yang dimuliakan dan direndahkan maka kenyataan demikian tidak menghalangi kita untuk menetapkan hukum terhadap suatu golongan dengan tawanan perangnya yang berakhlak buruk, berjiwa kerdil dan pondoh (pandir)”.
Di antara para guru ada yang mahsyur yang mendapat tempat / kedudukan ilmiah, ahli kesusastraan yang cemerlang (yang dihormati kedudukannya). Guru-guru pada masa khalifah Al-Mahdi Al-‘Abbasy mendapatkan posisi mahsyur, antara lain : Abdullah bin Al-Muqaffa’, yang mengajar putra-putra khalifah Ismail bin Ali. Al-Kissai yang mengajar putra-putra khalifah Al-Amin. Al-Farra menjadi guru dari putra-putra Al-Makmun, Ibnu Sikkit mengajar putra-putra khalifah Al-Mutawakkil, dan Al-Mubarrid mendidik Abdullah bin Al-Mu’taz.
2. Gaji Guru
Masalah pembayaran guru merupakan suatu hal yang banyak diperdebatkan karena merupakan problema yang menimbulkan perbedaan pendapat berabad-abad lamanya. Di antara para ahli filsafat, ahli pikir dan ahli fiqih dalam Islam berbeda pendapat tentang masalah pembayaran gaji guru ini.
Permasalahan tersebut berkisar pada pertanyaan : “Apakah boleh seorang guru menerima gaji atas pekerjaan mengajarnya?”. Masalah ini berpulang pada perbedaan pendapat tentang mengajarkan Al-Qur’an dan agama pada periode awal perkembangan pendidikan Islam yang merupakan tugas pekerjaan yang dilakukan secara sukarela dengan tanpa digaji.
Jika kita kembali kepada pendapat Abu Al-Hasan Al-Qabisi, salah seorang tokoh ulama fiqih dan ahli sunnah, maka mengajarkan Al-Qur’an dan agama pada periode perkembangan awal pendidikan Islam dilakukan secara sukarela, akan tetapi ketika agama Islam telah tersebar luas, maka sulit untuk mendapatkan orang yang mau mengajar kaum muslimin dan anak-anak mereka, karena pekerjaan mengajar memerlukan ketekunan dan harus meninggalkan kegiatan usaha memenuhi tuntutan kehidupannya, maka sebaiknya kaum muslimin memberikan gaji kepada orang yang mau membaktikan dirinya untuk mengajar anak-anak mereka secara rutin.
Dari pendapat di atas jelaslah bagi kita bahwa gaji guru merupakan suatu keharusan yang terpaksa harus dibayarkan kepada mereka (menurut pendapat Al-Qabisi). Lebih lanjut Al-Qabisi menguatkan pendapatnya sebagai berikut : “Oleh karena jika guru yang bekerja menyandarkan pada sukarela, maka banyak anak-anak yang mengalami kerugian. Ketika telah banyak orang giat mempelajari Al-Qur’an, maka jika tidak ada guru, akan timbul banyak yang mengakibatkan keruntuhan karena lenyapnya Al-Qur’an dari hati mereka dan menjadi faktor penyebab anak kaum muslimin terkungkung / terbelenggu dalam kebodohan”.
Kebanyakan para ahli fiqih sepakat untuk membolehkan guru menerima gaji dilihat dari hukum fiqih. Para guru masa itu yang diangkat menjadi pegawai pemerintah mendapatkan gaji paling kecil dan kondisi demikian berlangsung sampat saat ini, sampai waktu para pembaharu dalam abad ini menyadari pentingnya pekerjaan guru sehingga perlu disamakan kedudukannya dengan kelompok petugas lainnya.
Apalagi kaum muslimin secara perorangan memanfaatkan tenanga ahli dari luar Islam untuk mendorong kebangkitan ilmu pengetahuan dan menterjemahkan kitab-kitab yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, maka mereka diberi upah yang cukup besar sebagai balas budi. Kenyataan demikian menjadi sebab utama yang memperkuat pemikiran tentang pemberian gaji kepada para guru dan pengajar hendaknya sesuai dengan standar yang berlaku.
Gaji yang dibayarkan pada masa awal perkembangan Pendidikan Islam hanyalah diukur dengan kecukupan untuk makan saja, sehingga beredarlah kisah-kisah tentang gaji guru dengan ukuran dan buah roti yang berbeda besar-kecilnya. Perbedaan ukuran roti bergantung pada kondisi ekonomi anak-anak yang diajar, yang kaya atau miskin, yang dermawan dan yang bakhil.Dalam kaitan dengan roti Al-Djahiz melukiskan dengan syair-syair untuk seorang guru yang bernama Al-Raqasyi sebagai berikut : “Berbeda-beda rotinya dan ringan timbangannya, maka menyusutlah bekal dan makin jeleklah yang diceritakan”.
Selanjutnya ia menggambarkan dengan syairnya tentang seorang guru yang bernama Abi Syamqamaq :
“Roti untuk seorang guru dan pedagang bersepakat; warnanya, rasanya dan bentuknya berbeda-beda”.

Berbeda kondisi hidupnya dengan para guru yang mengajar di Al-Kuttab, guru yang mengajar di istana khalifah kondisinya paling baik. Al-Djahiz melukiskan kehidupan mereka : Orang yang ahli nakwu atau ‘arudh (syair) adalah orang yang disukai untuk mengajar anak kami dengan gaji enam puluh dirham, meskipun ada juga orang ahli ilmu bayan dan al-ma’ani tidak demikian halnya, dia meminta bayaran seribu dirham. Pada abad ke-3 H. Khalifah Abdullah bin Tahir memberikan gaji kepada guru yang mengajar putra-putranya setiap bulan dengan tujuh puluh dinar. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Tahir, orang yang paling dermawan pada waktu itu memilih Tahir bin Yahya (Tsa’lab) seorang ahli nahwu kenamaan dari Kuffah (Iraq) untuk mengajar putranya dengan memberikannya sebuah tempat tinggal khusus di rumahnya, sehingga dia dan muridnya tinggal bersamanya diberi layanan maka beserta muridnya; Khalifah itu mengangkat tujuh orang pegawai pembuat roti “hasykar” dan roti “samid” untuk melayaninya, memberikan tujuh kati (tail) daging dan otak kepala kambing, dan memberi gaji tiap bulan seribu dirham.
Oleh karena itu para muaddib (guru yang mengajar putra-putri khalifah) dalam sejarah Islam merupakan orang yang lebih banyak mendapatkan kemudahan dan kelimpahan rezqi serta kondisi hidup yang paling baik, karena mereka mendapatkan hadiah-hadiah yang melimpah dari para amir dan khalifah.
Sebagaimana Al-Djahiz sendiri yang semula sebagai penjual roti dan ikan di Saihan, yang hidup dalam keadaan fakir serba kekurangan. Akan tetapi setelah terkenal kepandaiannya dan tersebar ilmu dan keahlian mendidik di kalangan masyarakat luas, maka kemudian ia menjadi ulama ahli pendidikan dan tokoh ilmuwan paling besar dalam pendidikan lalu berubahlah keadaan hidupnya menjadi orang yang serba kecukupan rezqinya.
Diriwayatkan bahwa pada waktu ia masuk kota Basrah (Iraq) dan tinggal beberapa waktu di sana, kemudian meninggalkan kota itu dengan membawa harta kekayaan yang banyak, sehingga dikatakan dalam kata peribahasa bahwa ia tidak makan kecuali dengan piring emas. Pada suatu hari ia diterima beraudiensi oleh Maemun bin Harun, yang menegurnya : “Apakah kamu punya rumah di Basrah?”, maka tersenyumlah ia seraya mengatakan : “Bukankah hamba telah menghadiahkan kitab tentang hayawan kepada Mohammad bin Abdul Mulk, lalu hamba diberi hadiah uang lima ribu dinar, dan hamba telah menghadiahkan sebuah kitab “bayan wa tabyin” kepada Ibnu Abi Daud, kemudian beliau memberi saya lima ribu dinar. Dan hamba juga memberikan sebuah kitab tentang tanam-tanaman dan madu kepada Ibrahim bin Abbas As-Suwaly, kemudian beliau memberi saya uang lima ribu dinar, lalu saya tinggalkan kota Basrah. Saya punya tempat tinggal sederhana yang tidak memerlukan perbaikan atau penambahan apa pun”.
Cerita-cerita yang diriwayatkan tersebut di atas memberikan penekanan kepada kita tentang perlunya memberi gaji kepada para guru disesuaikan dengan bobot keilmiahan dan tingkat keahliannya. Para guru Al-Kuttab mendapatkan gaji yang berbeda-beda besarnya. Pada waktu ini gaji guru Al-Kuttab itu besar sehingga mereka dapat memperoleh kecukupan dari pekerjaan mereka sebagai pengajar/guru.
BAB III
LEMBAGA-LEMBAGA
PENDIDIKAN ISLAM
Lembaga-lembaga pendidikan Islam terdiri dari Masjid, Al Kuttab, Madraah, Zawiyyah , Al-Maristan.
1. Masjid
Kita kenal bahwa rumah Dar al-Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasullullah s.a.w. untuk belajar hukum-hukum dari dasar-dasar agama Islam. Sebenarnya rumah itu merupakan lembaga pendidikan pertama sekali dalam Islam. Guru yang mengajar di lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri ( Beliau sebagai penunjuk jalan kebenaran) Kemudian setelah itu masjid sebagai lembaga pendidikan Islam ; masjid dapat dikatakan sebagai madrasah yang berukuran besar yang pada masa permulaan sejarah Islam dan masa-masa selanjutnya adalah merupakan tempat menghimpun kekuatan umat Islam baik dari segi fisik maupun mentalnya.
Menurut sejarah Iskam masjid yang pertama-tama dibangun Nabi adalah masjid At- Taqwa di Quba pada jarak perjalanan kurang lebih 2 mil dari kota Madinah ketika Nabi berhijrah dari Mekah. Hal ini disebutkan di dalam kitab suci Al-Qur’an :
“… Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa ( masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. “ ( At-Taubah, 108 ).
Rasulullah membangun ruangan di sebelah utara masjid Madinah dan masjid Al- Haram yang disebut Al-Suffah “ Untuk tempat tinggal orang-orang fakir miskin yang tekun mempelajari ilmu. Mereka dikenal sebagai ahli suffah.”
Masjid di samping tempat untuk bersembahyang, dipergunakan pula untuk mendiskusikan dan mengkaji permasalahan dakwah Islamiyah pada permulaan perkembangan Islam, yang terdiri dari kegiatan bimbingan dan penyuluhan serta pemikiran secara mendalam tentang dalam menghadapi musuh-musuh Islam serta cara-cara menghancurkan kubu pertahanan mereka. Dengan demikian masjid menjadi tempat utama untuk bersembahyang dan merencanakan kegiatan dakwah Islamiyah , di mana agama Islam dapat berdiri tegak sejak awal periode perkembangannya melalui lembaga pendidikan agama Islam.
Kemudian berturut-turut dibangunlah banyak masjid mengikuti penyebaran Islam dan perluasan daerah/wilayah kekuasaan pemerintah Islam. Masjid yang pertama-tama dibangun di daerah kekuasaan Islam yang baru ialah masjid Al-Madain di Iraq, yang dipelopori oleh Sa’ad bin abi Waqqash . Di Mesir , Amru bin ‘ Ash membangun masjid Jami’ Al- Fustat , sedang di Damaskus didirikan pula masjid Umawiyah, yang sebelumnya merupakan gereja ( al-Qadis Yuhana ), akan tetapi atas kesepakatan bersama antara Khalifah Umawiyah dengan kaum Nasrani di Damaskus, masjid tersebut akhirnya disempurnakan pembangunannya.
Oleh karena itu masjid dalam sejarah Islam adalah sebenarnya merupakan madrasah pertama setelah rumah Dar al- Arqam bin al- Arqam . Di dalam masjid itulah terkumpul berbagai macam persoalan pokok kaum muslimin sejak mulai masalah politik , agama, kebudayaan sampai kemasyarakatan . Oleh karena itu kaum muslimin berkumpul di dalam masjid hendaknya senantiasa memusyawarahkan dan bertukar pendapat tentang segala masalah / urusan yang berkaitan dengan kehidupan sosal keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Dalam tempat mulia ini ( Masjid ) bertemulah segala jenis ilmu pengetahuan yang bermacam ragamnya di mana para pelajar mendiskusikan dan mengkaji ilmu-ilmu tersebut bersama-sama dengan guru-guru besar mereka yang terkenal pada zamanya. Juga di dalam masjid berkumpullah para ahli hukum dan pemimpin pemerintahan Islam untuk membahas tentang kewajiban mereka terhadap negara dan bangsanya; dalam rangka menyiarkan keputusan-keputusan Khalifah baik yang menyangkut masalah menunaikan ibadah sembahyang dan kegiatan dakwah yang harus mereka tunaikan.
Maka dari itu masjid adalah sebagai tempat sembahyang, madrasah, universitas, majelis nasional, dan pusat-pusat pemberian fatwa serta tempat penggemblengan para pejuang dan patriot-patriot bangsa dari zaman ke zaman. Dengan demikian maka masjid berperan besar dalam siklus kehidupan umat Islam, bahkan sampai sekarang masjid menjadi markas yang penting untuk penyebaran Islam.
Bahkan peranan masjid pada zaman pemerintahan Umawiyah adalah menyerupai gedung parlemen moderen yang lebih banyak mengembangkan kehidupan berpolitik dalam kaitanya dengan pemilihan calon hakim atau calon kepala pemerintahan baru yang dikukuhkan menjadi pemimpin, agar dapat diumumkan dari atas panggung ( mimbar ) tentang garis-garis kebijaksanaan yang luas dan terinci dalam politik kenegaraan dan dalam mengatur urusan kehidupan kaun muslmin secara keseluruhan.
Untuk itu para khalifah Umawiyah menempuh cara yang unik dengan mengumpulkan umat islam ke dalam masjid pada waktu-waktu yang ditentukan ; mereka menyampaikan seruan/mengumumkan di jalan-jalan, di lorong-lorong, di warung-warung dan di jalan raya seraya mengumumkan : “ Wahai kaum muslimin, khalifah mengundang anda sekalian untuk bersembahyang berjamaah-suatu hari yang bukan hari jum’at –beliau menghendaki agar kaum muslimin semuanya berkumpul untuk membicarakan bersama-sama khalifah mengenai urusan kenegaraan dan segala keputusan yang ditetapkan mengenai masalah-masalah yang penting”. Di antara orang yang ditugasi untuk memberikan pengumuman adalah ziyad bin Abi Sufyan yang mengumumkan di jalan-jalan Kuffah dengan seruan : “ Tidaklah terbebas orang-orang dhimmi dari kewajiban , persyaratan dan pengawasan jika ia tidak hadir di masjid.”
Masjid Basrah dan Kuffah, keduanya memegang peranan besar dalam pembinaan kesusastraan , ilmu pengetahuan, bahasa, dan agama pada periode awal perkembangan Islam; Di dalam masjid itulah di letakan dasar-dasar ilmu usul fiqih , lughah, dan nahwu. Ada seoarang ilmuwan yang bernama Nickolson mengatakan: Basrah adalah pusatnya kehidupan intelektual Islam ; kota ini menjadi salah satu pusat pengembangan kehidupan ilmiah dan kesusastraan di Iraq. Penduduk Iraq telah bertekat untuk membebaskan diri dari kehidupan politik, sehingga mereka tidak memberi perlawanan terhadap kekejaman para penguasa Umawiyyah, karena mereka lebih mencurahkan perhatiannya kepada tugas-tugas ilmu pengetahuan dan kesusastraan, sedangkan para penguasa pemerintahan menghendaki agar mereka selalu meningkatkan hubungan darah kebangsaan dan martabat Arab. Maka dari itu mereka harus bersedia menerima pelajaran bahasa Arab, sehingga jika mereka telah mampu berbahasa Arab baik, mereka dapat mengkaji sumber-sumber ilmu pengetahuan dan kesusastraannya.
Para pencari ilmu itu pergi ke masjid-masjid, dan hal ini berlangsung sepanjang sejarah Islam. Mesjid Kairo, misalnya senantiasa memimpin dan membina para pelajar Universitas Al-Azhar dengan menggunakan gaya dan metode pendidikan sebagai berikut : 1. Setiap guru besar atau syaeh Al-Kabir mengambil tempat di sudut mesjid, ia duduk di sana, dikelilingi oleh para pelajar atau muridnya, memberikan kuliah tentang Al-Qur’an, dan ilmu-ilmu bahasa Arab serta agama yang terdiri dari ilmu hadis, tafsir, fiqih, lughah dan usul-nahwu, balaghah, bayan dan adab. Bahkan fungsi mesjid tidak hanya terbatas pada masalah pendidikan saja, akan tetapi mesjid berfungsi menyerupai lembaga pusat kebudayaan yang dipergunakan sebagai tempat untuk mendiskusikan berbagai masalah dan mengkaji masalah sastra dan kebudayaan serta berbagai bahasa yang beraneka ragam. Demikian juga mesjid merupakan tempat di mana para ahli kisah duduk bercerita kepada orang banyak tentang kisah-kisah yang mengandung ibarat dan yang bergaya hiburan (lelucon).
Ada dua macam kisah yaitu 1. kisah untuk orang awam dan 2. kisah untuk orang khusus. Kisah untuk orang awam pada umumnya ditonjolkan arti pokoknya yang mengandung ajaran (pelajaran) atau peringatan dan penasihatan. Di antara ahli kisah yang terkenal pandai mengisahkan cerita-cerita yang mengandung pelajaran atau peringatan adalah Hasan Bashri yang suka duduk-duduk di mesjid Basrah, yang dikenal oleh seluruh orang yang bersembahyang di mesjid tersebut. Ketika mereka melihat Hasan Basri, maka mereka tertarik untuk mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh pakar ini.
Hasan Basri-lah orang yang ahli, yang ‘alim dan pandai memberi nasihat yang bermutu tinggi, dan beliau memiliki perasaan keagamaan yang kuat sekali; dari perasaan inilah keluar mengalir nasihat-nasihatnya yang jelas, didasarkan atas nas-nas yang dibawakannya dengan keterangan yang memukau pendengarnya. Beliau senantiasa mengarahkan penasihatannya kepada kehidupan di akhirat dan kepada segala yang Allah janjikan di akhirat yaitu kehidupan yang nikmat bagi orang yang bertakwa, di samping itu siksaan Allah bagi mereka yang berdosa dan maksiat.
Dikisahkan bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah salah seorang pencipta cerita-cerita khusus tentang peristiwa-peristiwa politik yang menggunakannya untuk media politis daulah umawiyah yang ditujukan untuk memperkuat kedudukan kerajaan atau kekhilafannya. Kisah-kisah demikian ia sampaikan di dalam halakah (pengajian) setelah sembahyang subuh di mesjid umawiyah.
Sedangkan Ali bin Abi Thalib Karramahullah wajhah pernah menentang kisah-kisah demikian sebagai suatu bid’ah. Sikap demikian mendapatkan dukungan dari para pengikutnya lebih lanjut.
Di samping itu masjid juga dipergunakan sebagai arena untuk menggelarkan syair-syair Arabiyah. Salah satu riwayat yang paling menarik ialah seorang ahli syair beragama Nasrani, bernama Al-Achtal orang ini akhirnya masuk Islam penuh kesadaran. Mendengarkan syair-syairnya di mesjid Basrah, yang didengarkan oleh kaum muslimin yang duduk berkeliling di sekitarnya, menyimak dan menghayatinya sebagai syair-syair yang penuh ketinggian nilai sastranya.
Mesjid juga dipergunakan untuk rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan merayakan hari-hari besar Agama Islam. Bahkan seperti yang telah saya uraikan sebelumnya, mesjid juga dijadikan Universitas di mana diajarkan ilmu agama dan kebudayaan secara terpadu, mengintegrasikan antara ilmu dan filsafat, dan antara politik dengan berbagai aspek sosial budaya.
Salah satu masjid yang paling terkenal di dunia Islam karena peranannya yang besar ialah masjid Al-Azhar di Kairo. Mesjid ini didirikan oleh Daulah Fatimiyah yang bermadzab Syi’ah (untuk menyebarkan mazhabnya). Mesjid ini merupakan lembaga keagamaan yang difungsikan oleh Bani Fatimiyah sebagai sarana untuk melayani seluruh kaum muslimin tanpa pandang bulu.
Diceritakan bahwa Yakkup bin Killis, salah seorang Menteri Sultan ‘Aziz billah al-Fatimi, adalah orang yang pertama-tama merobah fungsi masjid Al-Azhar menjadi sebuah universitas besar. Sedangkan Sultan ‘Aziz Billah sendiri dan pengganti-penggantinya memberikan dorongan semangat keagamaan para ulama dan mahasiswa Al-Azhar ini untuk mendalami mazhab Syi’ah. Ketika dinasti Ayubiyah memegang kekuasaan pemerintahan di Mesir, maka Al-Azhar dijadikan sarana untuk dakwah mazhab ahlus sunnah wal jama’ah berdasarkan mazhab Syafi’iyah dengan menghapus segala unsur amaliah dari mazhab Syi’ah tersebut. Namun bidang-bidang studi yang dipelajari dalam universitas ini tidak lagi terbatas pada aliran-aliran mazhab agama saja, melainkan meluas sampai kepada bidang-bidang studi ilmu-ilmu falak, matematika, ilmu alam dan geografi serta kedokteran
Pada masa pemerintahan Mamalik ( dari Turki ) Al-Azhar semakin cemerlang peranannya, karena dari universitas inilah berkembang berbagai ilmu-ilmu pengetahuan, sejak dari ilmu-ilmu agama sampai dengan pengembangan ilmu-ilmu kauniyah (ilmu kealaman). Ketenaran nama Al-Azhar demikian ini berpulang kepada sikap kedermawanan Sultan Mamalik yang sangat memperhatikan pembinaan para ulama dan mahasiswanya. Karena jasa – jasanya itulah maka semakin cemerlang cahaya universitas Al-Azhar sehingga menjadi sebuah universitas terbesar di dunia Islam, yang menjadi tempat perlindungan para ulama dan tempat berkumpulnya para pelajar dari seluruh penjuru dunia Islam.
Di samping mesjid Al-Azhar yang terkenal lainnya ialah mesjid al-Qurawiyah di Fez (Maroko), yang dibangun pada abad ketiga Hijriyah dan menjadi pusat penting bagi perkembangan kebudayaan Islam, lalu disusul mesjid Zaetunah di Tunis.
Mesjid jami’ Al-Qurawiyin merupakan salah satu sarana pengajaran Islam yang lebih menekankan pada asas-asas demokrasi pendidikan Islam dan dari sinilah muncul metoda-metoda baru dalam pengajaran dan langkah-langkah (teknik-teknik) mengajar, serta jabatan-jabatan guru besar, dan ijazah-ijazah doktor, majelis-majelis atau dewan pembina dan penyantun fakultas, serta tempat-tempat tinggal (pemukiman) bagi para dosen dan mahasiswa di kampus universitas Al-Qurawiyun inilah terdapat kelebihan-kelebihan dari universitas lainnya dalam hal penyediaan sarana-sarana universitas, di mana hampir seluruh universitas di dunia modern saat ini mengikuti pola mesjid Al-Qurawiyin. Misalkan, penyelenggaraan rapat senat terbuka pada setiap pembukaan tahun kuliah baru, rapat untuk pelepasan mahasiswa yang telah selesai studi, yang membuktikan bahwa kaum muslimin sebenarnya telah lebih dahulu melaksanakan kegiatan tradisional universiter semacam itu sebelum bangsa Eropa mewarisi tradisi-tradisi tersebut saat ini.
2. Lembaga Pendidikan Al-Kuttab
Munculnya lembaga Al-Kuttab dapat ditelusuri sampai kepada zaman Rasulullah sendiri, Al-Kuttab merupakan berperan besar pada permulaan sejarah Islam ketika Nabi s.a.w. memerintahkan para tawanan perang (Badar) yang dapat menulis dan membaca untuk mengajar sepuluh anak-anak Madinah (bagi setiap orang tawanan).
Menurut sejarah Islam, orang yang pertama-tama dari penduduk Mekkah yang belajar menulis adalah Sufyan bin Umayyah bin Abdus Syamsyi dan Abi Qais bin Abdi Manaf bin Zaheah bib Kilab, dan yang mengajarkan menulis kepada kedua orang ini adalah Basyar bin Abdul Malik yang pernah belajar menulis dari penduduk Hijrah. Setelah itu pengajaran membaca dan menulis tersebar ke seluruh penjuru jazirah Arabia. Dan yang lebih penting dari itu adalah karena ayat-ayat pertama Al-Qur’an yang Allah wahyukan kepada Nabi s.a.w. menganjurkan untuk mengajar membaca. Kemudian beliau memerintahkan para tawanan perang Badar untuk mengajar membaca dan menulis kepada anak-anak Madinah.
Membaca dan menulis menjadi sangat penting peranannya ketika zaman khalifah Abdul Malik bin Marwan membentuk kantor-kantor pemerintah Umawiyah. Maka sejak itu para pengajar atau guru pertama kali menjadikan rumah-rumahnya untuk tempat mengajar menulis dan membaca, kemudian setelah itu mereka secara darurat secara individual membangun kamar atau rumah-rumah sesuai dengan standar yang semakin bertambah meluas dalam mengajar membaca dan menulis. Dari sinilah timbul pola dan model pertama perkembangan Al-Kuttab, karena itu Al-Kuttab dilukiskan sebagai tempat yang khusus dan bebas bagi anak-anak belajar di bawah pengelolaan para guru yang mengajar membaca dan menulis.
Dalam hubungan ini Prof. Dr. Ahmad Syallabi mengatakan dalam kitab “Tarich At-Tarbiyah Al-Islamiyah, yang mengutip pendapat ahli orientalis Barat, Goldzihir, dalam bab pembahasan tentang daerah sumber pendidikan agama dan akhlak, bahwa : “Timbulnya Al-Kuttab yang bertugas pokok mengajarkan Al-Qur’an dan dasar-dasar agama Islam berpasal pada zaman permulaan sejarah Islam yaitu pada zaman pemerintahan khalifah Abu Bakar.” Dan pendapat ini diperkuat oleh beberapa sumber, sedangkan Dr. Ahmad Syallabi sendiri berpendapat lain. Dr. A. Syallabi berpendapat bahwa : Al-Kuttab yang berkembang lebih awal pada masa permulaan Islam adalah Al-Kuttab yang khusus mengajarkan membaca dan menulis sedangkan Al-Kuttab yang mengajarkan Al-Qur’an, tumbuh pada masa-masa selanjutnya.
Menurut pendapat saya Al-Kuttab itu berkembang pada abad kedua Hijriyah, pendapat ini saya dasarkan kepada alasan bahwa Ibnu Syahnun, seorang pendidik abad ketiga Hijriyah dan riwayat yang bersumber dari tokoh pendidik terkenal yakni Al-Qabisi pada abad keempat Hijriyah serta banyak para imam yang duduk di mesjid mengamati pelajaran Al-Kuttab atau ada yang duduk di sudut-sudut mesjid, karena banyak anak-anak yang semangat dalam membaca dan menulis di mesjid.
Sejak abad kedua dan abad berikutnya Al-Kuttab berkembang makin pesat. Dan Al-Kuttab yang terkenal di antaranya adalah Kuttab Abi Qasim Al-Balchi.
Yakup menceritakan bahwa ada Yayasan Pendidikan yang memberikan pelajaran nahwu mempunyai tiga ribu murid. Sedang kurikulumnya berbeda-beda menurut daerah masing-masing.
Peranan Al-Kuttab tetap besar dalam jiwa kita, dan besar pengaruhnya dalam system pendidikan Islam. Karena dalam Al-Kuttab itu berkumpullah anak – anak dari berbagai ragam lingkungan keluarga, baik yang kaya maupun yang miskin, sehingga tidak terjadi unsur – unsur pendidikan yang bersifat diskriminatif.
Bahkan sebaliknya, prinsip – prinsip kebebasan dan demokrasi tercermin di dalam system pendidikan itu para ahli fiqih tidak sama tingkat pengetahuannya tentang metode dasar dan langkah – langkah dalam mengajarkan Al-Qur’anul Karim.
Memang diantara guru Al-Kuttab ada yang kreatif dalam menciptakan metode yang menyerupai metode komperehensif sebagai standar pengajaran membaca dan menulis, yang mana metode ini paling baru dipakai dalam mengajar anak – anak yang baru belajar membaca dan menulis. Disamping itu ada pula guru yang mengajar dengan metode yang menghubungkan bahan – bahan pelajaran antara satu dengan lainnya.
3. Lembaga Pendidikan Madrasah
Madrasah sangat diperlukan keberadaanya sebagai tempat murid – murid menerima ilmu pengetahuan agama secara tetatur dan sistematis. Tetapi sebelum abad keempat Hijriyyah atau sepuluh Miladiyyah, madrasah tersebut belum tumbuh,dan baru didirikan pertama kalinya sebuah madrasah di kota Naisabur yaitu madrasah al – Baehaqiyyah. Sebab – sebab madrasah ini didirikan, adalah karena masjid – masjid telah dipenuhi oleh halakah – halakah ( pengajian ) dari para guru dan murid – murid yang berdesakan, sehingga mengganggu orang yang bersembahyang dari satu segi, dan segi lainnya ialah karena pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan setelah makin berkembangnya kegiatan penerjemahan buku – buku berbahasa asing ( non Arab ) kedalam bahasa Arab.]
Adapun yang menjadikan madrasah ini paling penting fungsi dan peranannya ialah kelengkapan ruangan untuk ( belajar ) yang dikenal dengan ruangan muhadlorohnya ( untuk berdiskusi ) beserta banhunan – bangunan yang berkaitan dengannya, pengamannan bagi murid – murid dan guru – gurunya.
Disamping itu juga ruangan – ruangan yang lain yang dibangun untuk dapur dan ruangan makan dan lain – lain. Madrasah ini tak ada perbedaan yang prinsip mengenai kurikulum dan silabus madrasah yang dikembangkan secara umum oleh Al-Kuttab. Ilmu – ilmu agama yang diajarkan di madrasah pada permulaannya dipusatkan pada suatu madzhab tertentu dari madzhab – madzhab yang ada. Sedangkan madzhab yang diajarkan itu tidak seragam menurut aqidah / keyakinan para ahli hokum dari mafzhab yang dianutnya.
Ketika gerakan perpecahan ummat Islam telah mereda, dan golongan ahli sunnah wal jama’ah menguasai keadaan, kita jumapi berbagai ilmu pengetahuan yang non agamis mendapatkan tanggapan – tanggapan di madrasah – madrasah. Al-Muntasir, salah seorang khalifah dari dinasti Mamalik mengangkat seorang dokter yang pandai di madrasah Al-Muntasiriyyah. Sedangkan pada masa sebelumnya, madrasah An-Nizamiyyah telah berdiri dan memakai nama pendirinya yaitu Nizam Al-Mulki, salah seorang menteri dari khalifah Al-Arselan. Madrasah ini terkenal akan ketinggian dan kebesaranya, yang mengajarkan bidang – bidang study ilmu – ilmu alam Kauniyyah disamping ilmu agama.
Ketika madzhab ahli sunnah wal jama’ah mengantikan kedudfukan madzhab syi’ah maka khalifah Al-Ayyubiyyah memperluas pembangunan madrasah untuk mendidik generasi muda Islam menjadi pengikutmadzhab ini, sejak pada masa itu penguasa – penguasa pemerintahan, dan para pembesar lainnya berlomba – lomba mendirikan madarsah.
Diantara madrasah yang terkenal adalah madrasah Nuriyah kubro di Damaskus, yang didirikan oleh Naruddin Zanki disamping banyak madrasah yang lainnya. Dan dilam madrsah tersebut tidak diajarkan ilmu kedokteran secara luas, karena hal itu menuntut adanya rumah – rumah sakit khusus. Akibatnya pendidikan kedokteran berpindah ke Bimaristan ( semacam rumah sakit ).
Mengenai mengapa madrasah Nizamiyyah mengungguli madrasah – madrasah yang lain Ibnu Atsir berpendapat sebagai berikut : ” Sesungguhnya Nizam Al-Mulki, seoparng Mentri Sultan dari Malik Syah Al-Syeljuki ( 465 s/d 485 H ) telah mendirikan dua buah madrasah yang masyhur yang terkenal dengan memakai namanya di Baghdad dan Naisabur masing – masing madrasah ini diberi nama dimana Imam Al-Ghozali memberikan perjalanan madrasah Nizamiyah di Baghdad ini kemudian berpindah ke madrasah Nizamiyah di Naisabur pada akhir abad ke – 5 Hijriyyah.
Nizam Al-Mulki berjasa besar dalam membangkitkan gerakan ilmu pengetahuan Islam yang banyak dipuji dan disanjung orang banyak. Beliau sendiri sering kali mengunjungi madrasah – madrasah itu dan bahkan sering pula memberikan kuliah ilmu hadits bahkan yang lebih dari itu ialah beliau memberi gaji kepada guru – gurunya. Beliaulah yang mendorong penyebaran dan pengembangan kebudayaan umum dan Islam dengan cirinya yang khas; seperti beliau mendirikan observatorium perbintangan. Diceritakan bahwa beliau mengangkat Umar Al-Khayam di salah satu observatoriumnya. Umar Khayam pada waktu itu terkenal di bidang matematika dan Falak di samping ahli syair, yang menciptkan rubu’ ( salah satu alat ilmu falak ) yang factual sampai sekarang.
Diantara madrasah yang terkenal dari dinasti Ayyubiyah ialah marasah Al-Nasiriyyah, Al-Qumhiyyah, dan As-Saefiyah. Kemudian madrasah Al-Fadhiliyyah yang dibangun oleh Sultan Al-Qodli al-Fadhil ( yang di kenal dengan nama Abdrrohim bin Ali Al-Bisani ) salah seorang pencipta metode terbaik dalam seni prosa.
Beliau juga membangun perpustakaan – perpustakaan pada tiap madrasah yang dilengkapi dengan beribu – ribu jilid buku, yang menunjukkan bukti bahwa perpustakaan berperan besar dalam pengembangan kebudayaan dan pendidikan. Setelah madrasah Al-Ayyubiyah yang termasyhur ini mengubah Dar Al-Hadits, dan madrasah yang di bangun di istana – istana di Kairo yang dikenal dengan madrasah Al-Kamiliyyah, oleh Sultan Al-Malik Al-Kamil Al-Ayyubi. Edangkan madrasah – madrasah yang terkenal di masa pemerintahan Sultan Mamalik ialah :
o Madrasah Az – Dzahiriyyah yang dibangun oleh Az –Dzahir Baibars Al – Bunduqda pada tahun 665 H. di dalam madrasah ini diajarakan fiqih As – Syafi’i, Hanafi dan Qiraat
o Madrasah Al – Mansuriyyah yang dibangun oleh Al – Mansur Qallwuni, yang di dalamnya diajarakan fiqih yang berdasarkan empat madzhab. Hadits dan Ilmu kedokteran.
o Madrasah An – Nasiriyah yang pendirinya katbugha, lalu sisempurnakan oleh Nasir pada 703 M. yang di dalamnya diajarkan fiqih menurut madzhab empat.
o Madrasah As – Sultan hasan : dibangun pada tahun 758 H. tentang madrasah tersebut diceritakan oleh Al – Maqrizi sebagai berikut :
” Tidak poernah dikenal di dunia Islam sebuah tempat ibadah dari lembaga – lembaga kaum muslimin yang dapat membandingi kebesaran bentuknya, dan keindahan arsitektur dan modelnya dari madrasah ini, yang berdiri tegak selama tiga tahun tak pernah kosong sehari juga di dalamnya terdapat empat madrasah yang mengajarkan madzhab – madzhab dalam Islam”.
Di samping usaha pembangunan terhadap madrsah – madrasah tersebut, Sultan Mamalik juga menaruh perhatian besar kepada pembangunan gedung – gedung Bimaristan untuk praktek kedokteran bagi mahasiswa yang berminat mempelajari ilmu kedokteran.
4. Zawiyah
Kata zawiyah berarti sudut masjid, yang digunakan untuk I’tikaf ( diam ) dan beribadah yang berasal dari kata ” inzawa, yanzawi ” ( اِنْزَوى يَنْزَوِى ) yang berarti ” mengambil tempat tertentu “, atau ” sudut tertentu ” dari sudut – sudut mesjid untuk menjalankan I’tikaf dan mensyi’arkan urusan agama. Kemudian pemahaman kata zawiyah itu berkembang, dari pengertian sempit ke pengeryian yang lebih luas. Pada waktu para khalifah memenuhi tuntutan kebutuhan orang – orang yang merelakan dirinya untuk bertempat tinggal di temoat tertentu yang khusus guna menjalankan ibadah maka khalifah memikirkan tempat tinggal tetap, dan cocok untuk mengajarkan agama Islam yaitu tempat khusus yang kita kenal Zawiyah.

Pada dasarnya masjid – masjid tersebut fungsi pokoknya adalah untuk mengerjakan sembahyang, dan juga dipergunakan untuk tempat pengajian – pengajian yang mempelajari dan membahas dalil –dalil naqliyah dan aqliyyah yang berkaita dengan aspek agama serta digunakan pada kaum sufi sebagai tempat untuk halakah berdzikir ( mengingat Tuhan ).
Pengertian zawiyah sering dikatakan perlu sebagai asrama atau pondok dimana beberapa tarikat tasawwuf dikembangkan seperti tarikat al-Qodiriyah, al-Tijaniyyah, as-Sanusiyyah, as-Syadziliyyah dan al-Khulwatiyah.

Di wilayah Al-Maghribi ” Zawiyah ” dibangun untuk kepentingan lain, yatu sebuah masjid khusus untuk sekelompok kaum sufi atau tempat pemakaman salah seorang wali. Tetapi di wilayah maghribi yang lain, ” zawiyah ” lebih dikenal sebagai madrasah diniyah dan sebagai tempat tinggal uintuk menjamu tamu – tamu asing. Pada abad ke – 8 Hijriyah zawiyah ini berkembang sebagai madrasah untuk mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits serta dasar – dasar ilmu pengetahuan. Ketika kota Fez dikuasai dinasti Murintoro, zawiyah berubah menjadi madrasah dan perguruan tinggi dengan maksud agar merekan dapat meningkatkan standar perkembangan ilmiyah seperti yang ditetapkan oleh Universitas Qairuan pada zamannya.

Ketika pemerintah Islam di Andalusia ( Spanyol ) telah mengalami kegoncangan dan kemunduran karena serangan dari musuh – musuh Islam, maka fungsi zawiyah merupakan tempat – tempat untuk melawan kaum nasrani di Andalusia dan tempat penggemblengan mereka. Oleh karena zawiyah merupakan tempat untuk menegakkan syi’ar agama dan menyebarkan ilmu pengetahuan dalam rang ka mempertahankan kaum muslimin di dunia.
5. Al – Maristan
Maristan dikenal sebagai lembaga ilmiyah yang paling penting dan sebagai tempat penyembuhan dan pengobatan pada zaman keemasan Islam didalamnya para dokter mengajar ilmu kedokteran dan mereka secara tekun mengadakan studi penelitian secara menyeluruh. Diantara dokter yang paling terkenal kemampuan dan kemasyhurannya di dunia Islam dan di Negara barat ialah Muhammad bin Zakariyah Ar-Razi, dimana beliau pernah dipercaya untuk memimpin Maristan di Baghdad pada masa khalifah 1-Muktafa pada tahun 311 Hijriyah. Dalam ilmu kedokteran telah dikenal suatu tradisi yang masyhur yang dipraktekan pleh Ar-Razi dalam mendidik murid – muridnya dengan cara membagi kelompok – kelompok sebagai berikut :
Halakah pertama mahasiswa ditugaskan untuk mendiagnosa dan meneliti penyakit pasien yang diserahkan kepada mereka, lalu memberika obat – obatan yang telah ditentukan.
Halakah kedua : bertugas mendiskusikan masalah yang timbul actual. Jika halakah ini tidak berhasilmenyelesaikan tugasnya, maka diserhkan kepada halakah mahasiswayang ketiga.
Pada halakah yang ketiga inilah, Ar-Razi turun tangan menyelesaikan pekerjaan itu sendiri dan menjelaskan kepada mahasiswanya yang ada pada halakah ketiga ini dengan hasil penelitiannya tentang kondisi pasien serta menentukan jenis penyakitnya dan obat penyembuhannya yang efektif. Bersaman dengan itu, Ar-Razi mengarahkan system observasi yang benar bagi mahasiswanya dalam kegiatan studinya.
Metode studi ilmu kedokteran yang demikian itu adalah merupakan metode yang paling modern, masa itu yang mengungguli metode lain. Maka dari itu system Maristan ini merupakan standar kedokteran yang progresif dan original Islami, dimana antara madrsah dan rumah sakit menjadi satu klesatuan, karena didalam Maristan ini dipelajari ilmu kedokteran secara ilmiyah dan praktek amaliyah yang kemudian tersebar ke seluruh dunua Islam Timur dan dibelahan barat. Ebagai bukti nahwa kemajuan masyarakat yang hebat dan telah modern saat itu telah terjadi di dalam Negara Islam.
Sultan ‘Adud Ad-Daulah bin Buwaihi ( 367 – 372 H ) membangun sejumlah besar Maristan, diantaranya yang paling penting ialah Maristan Al-Aduli di Baghdad dimana sebelumnya Muhammad bin Zakariya Ar-Razi bekerja disini, dank arena karyanya itu maka nama Maristan ini dinisbatkan dengan nama Al-’Adudi, yang kemudian mengadakan perluasan dan mestorasi. Begitu pula dinasti Ayyubiyin mendirikan di Mesir gedung – gedung Maristan, sedang di wilayah Al-Maghribi Ya’qub Al-Muwahhidi ini mengikuti tradisi hasan jamil yang selalu mengunjungi Maristan setiap hari Jum’at, mengobservasi para pasien, dan menanyakan tentang keadaan mereka serta memberikan berbagai hadiah kepada mereka.
BAB IV
TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Tujuan pendidikan Islam tidaklah selalu paten disepanjang periode perkembangan Islam. Pada abad pertama Hijriyah tujuan pendidikan Islam berbeda dengan tujuan pendidikan pada abad ke-4 H. Oleh karena itu kita lihat bahwa tujuan dan sasaran pendidikan Islam itu mengalami perkembangan pada abad-abad berikutnya. Pada hakikatnya tujuan pendidikan Islam itu selamanya bersumber dari aliran rasionalisme dan keagamaan, yang diikuti para pendidik muslim. Akibatnya pendirian atau pandangan mereka serta tujuan-tujuan pendidikan yang mereka ikuti dalam pengajaran dan pendidikan saling berbeda menurut aliran paham mereka.
Misalnya paham Al-Qabisi, berpendapat bahwa tujuan pendidikan atau pengajaran adalah mengetahui ajaran agama baik secara ilmiah maupun secara amaliah. Mengapa ia berpendapat demikian ? oleh karena dia termasuk ulama’ ahli fiqih dan tokoh dari ulama ahli sunnah wal jama’ah. Sedangkan Ibnu Maskawaih berpendapat bahwa tujuan pendidikan ialah tercapainya kebaikan, kebenaran dan keindahan. Ihkwan As-Safa, cenderung berpendapat bahwa tujuan pendidikan itu adalah mengembangkan paham filsafat dan akidah politik yang mereka anut. Al-Gazzaly, berpendapat bahwa tujuan pendidikan itu adalah melatih para pelajar untuk mencapai makrifat kepada Allah melalui jalan bertasawuf yaitu dengan mujahadah dan riyadhah.
Dari berbagai macam tujuan pendidikan dikemukakan di atas kita dapat mengambil kesimpulan kepada dua macam tujuan yang prinsipial,
1. Tujuan Keagamaan
Yang dimaksud dengan tujuan keagamaan ini adalah bahwa setiap pribadi orang muslim beramal untuk akhirat atas petunjuk dan ilham keagamaan yang benar, yang tumbuh dan dikembangkan dari ajaran-ajaran Islam yang bersih dan suci. Tujuan keagamaan mempertemukan diri pribadi terhadap Tuhannya melalui kitab-kitab suci yang menjelaskan tentang hak dan kewaiban, sunat dan yang fardlu bagi seorang mukallaf.
Tujuan ini menurut pandangan pendidikan Islam dan para pendidik muslim mengandung essensi yang amat penting dalam kaitannya dengan pembinaan kepribadian indivisual; diibaratkan sebagai anggota masyarakat yang harus hidup didalamnya dengan banyak berbuat dan bekerja untuk membina sebuah gedung yang kokoh dan kuat. Disini nampak jelas tentang pentingnya tujuan pendidikan ini, karena sebenarnya agama itu sendiri mempunyai hubungan yang erat dengan berbagai aspek pendidikan kejiwaan dan pendidikan kebudayaan secara ilmiah dan falsafiyah. Maka dari itu agama mengarahkan tujuannya kepada pencapaian makrifat tentang kebenaran yang haq, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.
Di samping itu tujuan keagamaan juga mengandung makna yang lebih luas yakni suatu petunjuk jalan yang benar di mana tiap pribadi muslim mengikutinya dengan jalan yang ihklas sepanjang hayatnya, dan juga masyarakat manusia berjalan secara manusiawi.
Dengan demikian agama sebenarnya memberikan berbagai topik-topik pembahasan, diantaranya yang paling essensial ialah pembahasan dari sudut falsafah, misalnya agama berusaha memberikan analisis yang benar terhadap permasalahan wujud alam semesta dan tujuannya, dan agama menetapkan garis dan menjelaskan kepada kita jalan-jalan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Tentang kehidupan kita di dunia dan di akhirat, filsafat juga berusaha menganalisis problem-problemnya.
Maka dari itu dapat dikatakan bahwa keduanya sejalan dalam hal tujuan akhir dan sasarannya, yang berbeda hanyalah pada cara atau metode yang digunakan dari masing-masing. Agama Islam dengan sifat khasnya mempertemukan kedua metode itu untuk digunakan sebagai cara mencapai hakikat segala sesuatu, karena itu kedua metode tersebut adalah cara untuk mencapai kepuasan dan keyakinan, dan sekaligus untuk mencari kebenaran dan pengalaman.
Jika kita mendalami makna dari tujuan keagamaan pendidikan Islam, maka kita jumpai bahwa tujuan itu menyingkapkan kepada kita sejauh mana kedekatan ilmu pengetahuan dengan agama. Kenyataan demikian memperkuat adanya bukti bahwa sesungguhnya agama kita mempergunakan ilmu pengetahuan dalam ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusannya, yang mengajak kepada penemuan kenyataan yang benar guna memuaskan akal pikiran (ratio).
Sebagaimana firman Allah yang berbunyi sebagai berikut :
                 
“Adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu benar sama denga orang buta ? Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”. (Ar-Ra’du. 19).
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa agama itu adalah haq (dogmatika dan rasional) dan ilmu pengetahuan itu juga haq (dengan cara penganalisaan secara agama antara keduanya tidak mungkin bertentangan atau berlawanan.

2. Tujuan Keduniaan
Tujuan ini seperti yang dinyatakan dalam tujuan pendidikan modern saat ini yang diarahkan kepada pekerjaan yang berguna (pragmatis), atau untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan masa depan. Tujuan ini diperkuat oleh aliran paham pgramatisme yang dipelopori oleh ahli filsafat John Dewey dan William Kilpartisme. Para ahli filsafat pendidikan pragmatisme lebih mengarahkan pendidikan anak kepada gerakan amaliah (ketrampilan) yang bermanfaat dalam pendidikan.
Adapun saat ini dan zaman teknologis, tujuan ini mengambil kebijakan baru, yang lebih menonjolkan kecekatan bekerja yang cepat di dalam setiap peristiwa kehidupan, dan juga memakai strategi pendidikan seumur hidup (life-long education).
Sedangkan pendidikan Islam melihat tujuan pendidikan ini dari aspek dan pandangan baru yaitu berdasarkan Al-Qur’anulkarim, yang sangat memusatkan perhatian kepada pengalaman di mana seluruh kegiatan hidup umat manusia harus bertumpu kepadanya. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an selalu berkaitan antara iman dengan amal perbuatan yang salah, sebagai landasan yang kokoh dalam mengarungi kehidupan manusia.
Dalam hubungan ini Allah berfirman sebagai berikut :
                 
“….dan katakanlah : “beramallah kamu maka Allah akan melihat amal perbuatannmu”. (At-Taubah, 105).
Dan firman-Nya lagi :
               
Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al-Jum’at 10).
“….maka ketika telah selesai mengerjakan sembahyang, bertebaran kamu diatas bumi…..”
Struktur pendidikan Islam dibangun di atas landasan yang kokoh, yang menggunakan kedua tujuan keagamaan dan tujuan keduniaan. Dengan demikian, terdapat perbedaan besar antara tujuan-tujuan pendidikan dari umat-umat terdahulu dengan masa kini. Misalnya, bangsa Cina dahulu mengutamakan pada pencapaian tujuan pendidikan yang mempersiapkan anak didik untuk hidup bekerja sama dalam tugas-tugas besar.
Sedangkan bangsa Hindu mengarahkan tujuan pendidikan pada pembiasaan (melatih) anak didik bersikap sabar dan menerima kenyataan yang ada serta mampu menahan nafsu.
Bangsa Sparta lebih mengutamakan kepada pembentukan sifat-sifat keberanian dan kesabaran serta sikap menghormati para pemimpin dan patriotisme (mencintai tanah air) serta taat kepada pemerintahannya.
Bangsa Athena (Yunani Kuno) mengarahkan tujuan pendidikan pada pembentukan pribadi yang berkesimbangan dalam aspek-aspek jasmaniah dan kecerdasan, moral dan keindahan budi. Sedangkan Aristoteles tidak setuju dengan tujuan pendidikan bangsa Sparta dan ia mengkritiknya dengan keras. Bangsa Sparta kemudian berkata : “Bahwa sifat keberanian suatu bangsa menjadi kuat apabila senantiasa dilakukan latihan perang-perangan secara kontinu untuk tujuan peperangan.”
Sedangkan Plato memandang pembinaan warga negara yang baik ialah yang dilakukan sesuai dengan sistem pendidikan Athena, yaitu pembinaan peribadi yang memiliki kemampuan seimbang dan tidak mengurangi keutamaannya sebagai warga negara yang baik; yaitu pemberani, adil dan selaras dan keseimbangan dalam hidupnya.
Kemudian Atistoteles menjelaskan arti warga negara yang baik dengan ucapannya: ”Orang laki-laki yang merdeka adalah seseorang kesatria yang mampu memanggul senjata dan bersuara lantang di medan perang dan mampu mengerjakan tugas-tugas pekerjaan bagi orang banyak; dan orang tersebut yang tidak mau mengerjakan pekerjaan yang hina.
Pendidikan Romawi ditunjukan ke arah ketrampilan berperang dan kepandaian berpidato serta mempersiapkan warga negara yang brilian. Sedang warga negara yang brilian itu menurut pendidikan Romawi ialah yang masa mudanya dihiasi dengan kehidupan yang memiliki berbagai kelebihan seperti ketabahan dan keberanian dan mengagungkan Tuhan serta menahan nafsu serta menghormati orang lain yang diaplikasikan dalam bentuk perbuatan yang adil dan bijaksana.
Perlu kita ketahui bahwa sistem pendidikan Yunani dan Romawi Kuno mengandung nilai pembentuk akhlak (moralitas). Namun kedua sistem pendidikan tersebut tidak berdiri di atas asas-asas keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hanya tujuan pendidikan keagamaan sajalah yang bernilai moral seperti pada pendidikan kaum Nasroni pada abad pertengahan.
Saint Thomas Aquinas (1225-1273 M pernah menyatakan bahwa sesungguhnya tujuan pendidikan dan tujuan hidup itu adalah merealisasikan kebahagiaan dengan cara menanamkan keutamaan akal dan akhlak (moralitas). Beliau berpendapat bahwa tujuan agama pada masa Isa Al-Masih mulai timbul pada masa-masa demokrasi moral. John Locke kemudian memperkuat pentingnya pendidikan akhlak. Katanya :“Sesungguhnya keutamaan itu adalah sesuatu yang paling wajib kita jadikan tujuan pendidikan.”Sedang Jeane Jaque Rousseau mengajak kepada kehidupan yang amaliah dan menganjurkan agar pendidikan berbuat untuk menyenangkan dan menghormati kegemaran anak-anak, disamping itu dalam waktu bersamaan ia mengajak agar memberikan kebebasan anak untuk bentumbuh sesuai dengan tabiatnya.
Pesralozzi dan Probel setuju membatasi tujuan pendidikan diarahkan kepada perbaikan masyarakat dengan cara menumbuhkan bakat individual anak.
Hegel. (1770-1831 M.) berpendapat bahwa sebaiknya pendidikan itu berusaha untuk mendorong perkembangan jiwa kelompok dan menghindari perbuatan yang membawa kepada dorongan kebendaan (Materialisme). Pendapat ini didukung oleh Herbart (1276-1841 M.) dengan pendapatnya :” Sesungguhnya prinsip dorongan kebendaan ini didasarkan atas analisa yang salah terhadap watak asli manusia. Kemudian ia mendukung pendapat yang menyatakan bahwa “tujuan pendidikan sangat berkaitan dengan pengaruh ingkungan sekitar.” Kemudian muncullah tujuan pendidikan yang diarahkan kepada pragmatisme dan pendidikan praktis seperti sebelumnya, dari Herbert Spencer (1820-1902 M). Ia berpendapat : “Sesungguhnya pendidikan bertujuan mempersiapkan anak-anak untuk mencapai kehidupan yang sempurna, dan seterusnya.” Thorndike seorang ahli pendidikan Amerika Serikat memberikan pengertian yang baru terhadap tujuan pendidikan yaitu :” Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia agar mencintai segala sesuatu yang benar dan mampu mengendalikan hukum alam dan lingkungan. “Dengan demikian maka ia memperkokoh sasaran-sasaran pendidikan yang berupa sasaran praktis yang seimbang antara individu dan lingkungannya.
John Dewey berpendapat :”Pendidikan itu adalah pertumbuhan yang terus menerus tanpa akhir ke arah apa yang terbaik, dan secara praktis tergantung pada kondisi yang ada, beserta problema-problema yang dihadapi, bagi pencapai tujuan masa depan yang lebih baik, sesuai dengan tuntutan hidup individual dan kelompok.”Baginya tidak ada tujuan yang statis dalam pendidikan.
Adapun pendidikan di Uni Soviet ditujukan kepada pembentukan manusia Soviet melalui cara meningkatkan standar kehidupan kultural bangsa, dan membangun negara industri baru. Sistem pendidikan di Uni Sovyet didasarkan atas ilmu dan teknologi serta pemahaman terhadap kekuatan alam (natural potention) untuk memajukan pembangunan negara dan warga negaranya, dengan memusatkan pada penanaman idiologi partai komunisme ke dalam lubuk hati generasi mudanya.
Dalam sistem pendidikan fascisme Italia, Mussolini mewajibkan semua sekolah untuk tunduk kepada politik negara, sehingga hal ini bagi generasi mudanya menjadi sumber inspirasi mereka. Oleh karena itu sistem pendidikan dalam berbagai tingkatanya mengarahkan generasi mudanya kepada pendalaman ideologi fascisme yang ditekan pada fanastisme untuk menciptakan timbulnya revolusi fascisme. Mussollini mengartikan fascisme sebagai sebagai negara yang mendidik generasi dalam rangka memperkokoh missi mereka untuk mencapai suatu tingkat kekuatan bangsa yang paling maksimal sehingga dengan kekuatan itu dapat dicapai ekspansi teritorial negara, dan kemampuan agresi.
Cita-cita demikian bertentangan dengan idiologi fascisme sebagai idiologi moralitas sehingga fascisme ini mengalami kegagalan total dalam merealisasi impiannya, dan gagal pula dalam kehidupan ekonomi yang diidam-idamkan.
Di Perancis kurikulum pendidikan diarahkan kepada pelatihan kreativitas, serta kemampuan anak didik untuk bersikap kritis, dan bersifat pragmatis. Sedang di Inggris, pendidikan ditujukan ke arah pembinaan kemampuan berusaha yang tangguh dalam mencapai sukses pribadi dalam minimal. Pendidikan anak senantiasa didasarkan atas kecenderungan minat dan bakat-bakatnya.
Tujuan pendididkan yang telah diuraikan di atas adalah berbeda-beda karena didasarkan atas kehidupan bangsa-bangsa dahulu dan sekarang, yang pada prinsinya tujuan-tujuan tersebut diarahkan untuk mencapai kehidupan duniawi yang baik, yang ditekankan pada kemampuan melakukan pekerjaan praktis yang bermnafaat.Tetapi tujuan deemikian itu juga dijadikan tujuan pendidikan agama sebagaimana berjalan dikalangan orang yahudi dan Maseehi serta masa-masa pemerintahan raja-raja yang diktator.
Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa pendidikan dalam masyarakat bangsa-bangsa di luar bangsa Arab yang Islami ;terdapat tujuan pendidikan yang berkaitan antara keduniaan dan keagamaan, yaitu tujuan praktis yang bermanfaat sebagaimana terjadi dikalangan bangsa-bangsa tertentu yang bercorak keduniaan semata, dan dalam masyarakat juga mengarahkan kepada tujuan keagamaan.
Adapun bangsa Arab yang Islami tujuan pendidikannya didasarkan atas dua asas yang kuat yaitu duniawi dan agama sekaligus bersamaan (simultan) kita mengetahui bahwa tujuaan agama dalam pendidikan Islam itu tidak terbatas pada segi-segi akidah, ibadat dan muamalah saja yang dapat mendekatkan diri kepada Tuhannya tetapi lebih dari itu pendidikan Islam menyangkut pemahaman tentang sumber-sumber makrifaat yang Islami baaik bersifat sufistik maupun pengetahuan material Islami sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Al-‘Alaq yang berbunyi ;
                        
“Bacalah dengan nama Tuhan-Mu yang telah menciptakan ; Dia menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah dan tuhanmu yang paling Mulia, yang telaah mengajarkan dengan kalam; Dia mengajar manusia tentang apa-apa yang tidak ia ketahui.”(Al-‘Alag, 1-5).
Kedudukan kalam dalam makrifat dan usaha pencapaian ilmu pengetahuan telah dijadikan sumpah oleh Allah yang disebutkan-Nya dalam surat yang bernama “Al-Qur’an”, sebagai berikut :
           
“Nuun, dan demi kalam dan apa-apa yang mereka tuliskan (dengannya).” (Al-Qalam, 1-2).

BAB IV
HUBUNGAN ANTARA SISTEM ISLAM
DAN SISTEM PENDIDIKAN
Telah saya jelaskan bahwa sistem pendidikan Islam melebihi daripada sistem pendidikan bangsa-bangsa zaman dahulu dan sekarang. Pendidikan Islam mendapatkan inspirasi dan semangat yang kuat dari ajaran Islam yang bersumberkan pada firman Allah yang berbunyi :
                         •     
“Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan jaganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi …” (Al-Qasas, 77).
Dan firman-Nya :
           
“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Ali-Imran, 148).
Rasulullah saw telah menjelaskan ayat-ayat tersebut dengan sabdanya :
اِعْمَلْ لِدُنْياَكَ كَاَنَّكَ تَعِيْشُ اَبَداً , وَاْعمَلْ ِلاَخِرَتِكَ كَاَنَّكَ تَمُوْتُ غَداً
“Bekerjalah kamu untuk hidup duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok pagi”.
Dan juga sabda lainnya :
لَيْسَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَرَكَ الدُّنْياَ لِلاَخِرَةِ وَلاَاْلاَخِرَةَ لِلدُّنْياَ وَلَكِنْ خَيْرُكُمْ مَنْ اَخَذَ هَذِهِ هَذِهِ
“Tidaklah lebih baik bagimu meninggalkan keduniaan untuk akhirat, dan tidaklah (juga) lebih bagimu meninggalkan keakhiratan untuk keduniaan, akan tetapi sebaik-baik kamu adalah orang yang mengambil ini dan ini.”
Hubungan antara Keduniaan dan Keakhiratan dapat direalisasikan secara harmonis apabila sistem pendidikan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan nasional dapat dilaksanakan secara proporsional dan efektif. Oleh karena itu pendidikan Islam menuntut kepada generasi muda untuk menjadi pemimpin utama yang berjiwa pemberani yang mampu menyelesaikan kepentingan bangsa dan negaranya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Ibnu Khaldun dalam pendapatnya bahwa pendidikan Islam ditujukan kepada mempersiapkan anak didik menjadi orang dewasa yang mampu mengarungi kehidupan yang baik untuk mencapai kehidupan yang ideal selaras dengan tujuan pendidikn modern dewasa ini.
Terjadinya perselisihan yang cukup panjang antara teori pendidikan dari berbagai bangsa tidak akan mampu merealisasikan tujuan pendidikan yang bersifat harmonis bagi bangsa di Barat. Tetapi sistem dan pola yang dikembangkan dalam pendidikan Islam, yang dengan membagi-bagi tingkat-tingkat yang tepat dapat membawa setiap anak didik kepada puncak hidup yang penuh kebahagiaan.

Al-Qur’an Menggariskan Pendidikan Yang Ideal.
Jika kita kembali mengkaji Al-Qur’an, maka akan kita jumpai gambaran jelas tentang jalan yang paling baik untuk menuju kepada politik pendidikan yang bijaksana dan ideal. Jika kia merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca berulangkali dalam lima waktu setiap hari, yang terdapat surat Al-Fatihah sebagai berikut “Segala puji bagi Allah Yang Maha Pendidik sekalian alam,” maka terpikirlah dalam lubuk hati kita kata “rubbun” maka sadarlah kita bahwa sesungguhnya Allah SWT tinggi kebijaksanaan-Nya. Dialah yang Maha Pendidik isi alam semesta ini. Nabi Muhammad saw sendiri telah menjelaskan hasil pendidikan dari Allah terhadap diri Beliau, seperti sabda Beliau yang menyatakan :
اَدَّبَنِى رَبِّى فَاَحْسَنَ تَأْدِيْبِى
“Allah telah mendidik aku, maka itu paling baiklah pendidikan terhadap diriku”.
Pribadi Rasulullah saw adalah menjadi contoh ideal dalam mengaplikasikan pendidikan itu. Isi Al-Qur’an bagi kita harus memahaminya secara sempurna bahwa Al-Qur’an telah menggariskan kebijaksanaan yang lebat dengan filsafat pendidikan yang berusaha merealisasikan kemajuan dan keberhasilan hidup kaum muslimin di dunia sepanjang zaman, serta kebahagiaan hidup di akhirat kelak.
Filsafat yang dapat menunjukkan ke jalan kemajuan dan keberhasilan adalah filsafat yang bersumber kitab suci Al-Qur’an yang menganalisa tentang pertumbuhan manusia dan tabiat (watak) pembentukannya, sistem kehidupan sosial dan tujuan tertinggi dari pendidikan yang membawa ke arah pembinaan manusia yang harmonis.
Sesuatu manakjubkan bagi kita ialah Al-Qur’an menunjukkan kepada kita tentang metoda-metoda yang terbaik dalam pendidikan, dan menjelaskan pula bagaimana cara atau terapi mendidik kaum remaja kita.
Semuanya itu adalah merupakan metoda yang praktis yang dapat membina kehidupan masyarakat yang ideal yang dapat dijadikan teladan. Dalam Al-Qur’an kita kita kenal ada beberapa metodologi pendidikan yaitu :
o Metodologi pembiasaan dan pengalaman
o Metodologi pengulangan (review)
o Metodologi pengaruh kejiwaan (mempengaruhi jiwa orang lain)
o Metodologi yang bersifat membangkitkan semangat (motivasi)
o Metodologi dengan logika (akal pikiran)
o Metodologi dengan cara tanya jawab
o Metodologi dengan cara penyajian cerita /sejarah
o Metodologi dengan cara guidance and conselling (bimbingan dan penyuluhan)
o Metodologi dengan cara pemberian contoh atau teladan yang baik (uswatun hasanah)
o Metodologi dengan cara pemberian peringatan yang keras dan pemberian motivasi dan penghargaan
o Metodologi dengan cara pengampuanan dan pemberian maaf bagi orang yang salah melanggar aturan.
Adapun Asas-Asas Filsafat Al-Qur’an Dalam Pendidikan Meliputi :
1. Asas Filsafat Pendidikan Menurut Al-Qur’an
o Al-Qur’an dan Pendidikan Akal
Al-Qur’an mengajak kepada pendidikan akal dan mengembangkan dengan menggunakan media pendidikan yang beraneka macam yang dapat meningkatkan cara berfikir yang benar dan matang. Orang yang dapat memahami ayat-ayat apapun (dalam Al-Qur’an) akan menemukan lebih dari 300 ayat yang mengajak kita untuk mempergunakan akal, dan mendorongnya kepada usaha memahami makna yang hak, baik dan proporsional.
Sebaliknya Al-Qur’an mengutuk orang-orang yang tidak mau menggunakan akal pikiran mereka, maka Allah mempersamakan mereka dengan binatang yang pekak-tuli, seperti firman-Nya :
 •          
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (Al-Anfaal, 22)
Al-Qur’an memandang rendah orang-orang yang statis (jumud) dan orang-orang yang mengajak kepada khurafat dan cerita-cerita takhayyul (mithos, legenda, dan sebagainya). Tetapi sebaliknya ia mengajak kepada jalan yang menuju ke arah kebenaran yang hak. Itulah sebabnya kebudayaan Islam mengungguli kebudayaan-kebudayaan lain sebelumnya, karena Islam menggunakan berbagai metode ilmiah dalam studi dan analisa yang bertujuan memahami hakikat kebenaran. Kenyataan ini kita temui dalam hasanah warisan dari Bangsa Arab Islam terdahulu yang berkaitan dengan beberapa jasa ahli pikir dan pakar muslim kenamaan seperti Jabir bin Hayyan, Ar-Razi, Al-Kindi, Abi Raihan Al-Biruni, dan Ibnu Haitsan, dan sebagainya.

o Al-Qur’an dan kebebasan Manusia.
Al-Qur’an mengakui hak-hak manusia dan mengajak agar hak-hak itu dinikmatinya sepanjang tidak membahayakan orang lain, baik bagi orang yang menikmatinya, maupun bagi agama dan tanah air, diantaranya di kenal sebagai kebebasan berkeyakinan (ber’akidah). Dalam hubungan ini Allah berfirman :
      ••                     
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Al-Baqarah, 256)
        •    ••    
“Dan jikalau Tuhan-Mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang dimuka bumi ini seluruhnya, maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya.”(Yunus, 99).
Disamping itu ada kebebasan berpendapat dan berbicara yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw sebagai berikut :
Pada suatu hari perang Khandaq para sahabat berkumpul untuk membicarakan tentang siasat menghadapi musuh; semua sahabat telah menyetujui secara aklamasi suatu keputusan yang telah diambil, akan tetapi sahabat yang bernama Salman Al-Farisi, berpendapat lain tentang apa yang sebaiknya dilakukan oleh kaum muslimin, Ia mengusulkan agar digali selokan disekeliling Madinah dan khususnya untuk menghadapi musuh dengan tanpa menggunakan pasukan berkuda. Akhirnya Rasulullah saw menyetujui pendapat Salman Al-Farisi dan beliau sendiri ikut serta menggalinya bersama para sahabat. Dan menurut riwayat Abu Hurairah :”Tidak seorang yang lebih banyak melakukan musyawarah dengan sahabatnya daripada Rasul-Allah sendiri”.
Dalam salah satu Hadis meriwayatkat bahwa Rasulullah bersabda :”Suatu kaum tidak bermusyawarah melainkan ditunjuki mereka kepada jalan yang menunjukkan kepada urusan mereka.”
Allah SWT berfirman tentang bagaimana sikap Nabi dalam menghadapi permasalahan pembinaan umatnya sebagai berikut :
                              •    
“Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarah dengan mereka dalam urusan itu,” (Ali-Imran : 159).
Jika Rasulullah tidak mendapatkan wahyu dalam memberikan keputusan terhadap sesuatu yang penting, maka beliau bermusyawarah dengan para sahabat dan demikian pula sesudah menerima wahyu. Pasa saat ini apa yang diperlukan oleh guru ialah mengambil langkah-langkah berdasarkan tersebut pada saat menghadapi murid-muridnya, yaitu dengan mnyajikan kepada mereka problema yang harus dipikirkan pemecahannya, dan mendorong mereka untuk saling memikirkan tentang sesuatu hakikat secara jelas yang melahirkan pengertian yang bersih dalam rangka mengkristalisasikan pendapat untuk mencapai tingkat kematangan dan kesempurnaan.
Dikaitkan dengan masalah kebebasan bertindak dan kebebasan membelanjakan harta miliknya, serta segala sesuatu yang berkaitkan antara hak dan manusia, maka berdasarkan pemahaman terhadap jiwa kitabullah tersebut di atas maka sesungguhnya tidak ada perbedaan antara hak bertindak dan berbicara bagi seseorang tentang keabsahannya, atau hak-haknya menurut hukum atau hak-haknya dalam kedekatannya dengan Allah.
Penafsiran demikian dimungkinkan oleh karena jika seseorang melampaui batas dalam memuaskan dirinya dengan harta kekayaan sampai pada tingkat yang membahayakan dirinya maka berubahlah hak yang dibolehkan itu menjadi haram. Demikian pula jika ia menggunakan haknya dengan salah; misalnya dengan berlebih-lebihan melakukan zuhud (menjauhkan diri dari keduniaan) dan menjauhi kenikmatan (seperti pertapa) serta berlebih-lebihan dalam beribadah dan memberikan sedekah sampai batas israf, yang tidak sesuai dengan tuntutan kebaikan bagi dirinya sendiri baik yang menyangkut tanggung jawab kepada istri dan anak-anak, atau masyarakatnya, maka ketika itu juga taqarrubnya dengan Allah berobah menjadi haram dan ia akan mendapat siksa/hukuman dari Allah. Dalam hal ini firman Allah berfirman sebagai berikut :
ياَاَيُّهاَ الَّذِيْنَ امَنُوْا لاَتُحَرِّمُوْاطَيِّباَتِ مَااَحَلَّ اللهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوْا اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ اْلمُعْتَدِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah mengharamkan rezeki-rezeki yang baik yang Allah telah menghalalkan bagimu, dan janganlah melampaui batas sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.”
Rasulullah saw bersabda :
”Makan dan minumlah dan bersedekah dengan tanpa berlebih-lebihan dan menghayatl.”
Diriwayatkan dari Rasullah saw bahwa pada suatu ketika datanglah seorang laki-laki menghadap beliau untuk meminta izin mendesahkan semua harta yang dimilikinya, kemudian Nabi mencegahnya, dan beliau hanya mengizinkan untuk mensedekahkan sepertiga dari hartanya. Lalu beliau mengatakan : sepertiga, sepertiga itu sudah banyak, kecuali apabila kamu ingih meninggalkan ahli warismu dalam keadaan miskin dan meminta-minta belas kasihan kepada orang lain”.
Sesungguhnya Al-Qur’an merupakan perjanjian yang besar, suatu kitab dokumen bagi hak-hak manusia yang sesuai dengan aspirasi orang-orang yang berkumpul pada hari peringatan hak-hak asasi manusia yang sepantasnya hari itu dijadikan kelahiran agama Islam (yang datang membawa suatu ajaran yang menjadikan manusia dapat menikmati hak-haknya dalam hidup di dunia ini).
Para ahli dan pemikir Islam tidak akan lupa bahwa Islam adalah paling pertama mengakui kebebasan berfikir dan melepaskanlah dari belengggunya yang kokoh, maka dengan kebebasan berfikir itulah timbul pengaruh besar terhadap tegaknya peradaban paling besar abad-abad pertengahan, yang memberikan sinar penjuru dunia dengan cahaya ilmu dan makrifat.

o Al-Qur’an dan Persamaan Derajat
Persamaan dalam hak dan kewajiban merupakan salah satu faktor yang membantu meletakkan fungsi masyarakat manusia secara proporsional, Kitab Al-Qur’an menyatakan dalam surat al-Hujarat ayat 13 sbb :
 ••           •      •    
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu…..”(Al-Hujurat : 13).
Pada waktu Rasulullah saw berkutbah wada’ beliau bersabda :”Hai manusia, ingatlah bahwa Tuhan kamu adalah Esa tidaklah lebih baik orang Arab dari pada orang Non-Arab (‘Ajam), juga orang non-Arab (‘ajam) tidak lebih baik dari orang Arab, dan tidaklah orang yang berkulit hitam lebih baik dari orang berkulit merah, dan yang berkulit merah di atas orang yang berkulit hitam kecuali taqwanya.
Persamaan yang dianjurkan oleh Al-Qur’an dan oleh Rasulullah saw adalah persamaan yang berdasarkan tabiat kemanusiaan, yaitu persamaan yang tidak membelenggu kemampuan kecerdasan, bakat dan kemampuan-kemampuan asli (fitriyah) serta perbedaan kemampuan umum dan khusus. Hal-hal itu berpengaruh terhadap produktivitas, berfikir pada umumnya dan ketrampilan dalam rangka meningkatkan standar hidupnya.
o Al-Qur’an dan keadilan
Adil adalah penghormatan kepada hak-hak manusia dan pemberian hak kepada orang yang berhak. Al-Qur’an mengajak kepada keadilan sebagai berikut :
“….Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap kaum semua kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah kamu adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Maidah )
Dan firman Allah
                                   •      
“Wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu, jika ia kaya atau pun miskin maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala yang kamu kerjakan.”(An-Nisa’ : 135).
Ayat tersebut diatas menunjukkan tentang larangan bersikap dholim dalam bentuk permusuhan dengan suatu kaum atau bersikap membenci. Oleh karena permusuhan, persahabatan, kecintaan dan kebencian, keakraban atau ketidakakraban, kaya dan miskin, kedudukan, kepangkatan, warna kulit dan suku bangsa hendaknya tidak mempengaruhi keputusan hakim, dalam memutuskan perkaranya.
Firman Allah tersebut diatas menunjukkan bahwa sesungguhnya keadilan yang bersifat mutlak adalah keadilan yang telah ditunjukkan oleh Allah. Pengertian pendidikan keadilan itu betingkat-tingkat sesuai dengan kesempatan yang tersedia, yaitu suatu keadilah yang memberikan hak-hak perorangan sesuai dengan kemampuan dan naluri kemanusiaannya.
o Al-Qur’an dan Ajakan untuk beramal
Al-Qur’an mengajak beramal / bekerja produktif bagi kepentingan hidup di dunia dan akhirat, serta mendorong untuk menguasai kekuatan industrial dan ekonomis melalui ilmu dan teknologi melalui daya cipta dan daya pengembangan. Kita sering menemukan firman Allah yang senantiasa memperkuat peranan iman dengan amal sholeh, seperti firman-Nya :
                 
“…. Dan katakanlah,” Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu berserta Rasul-Nya dan orang-orang mukmin semuanya…..” (At-Taubah : 105)
Beramal sholeh yang dianjurkan dalam nas Al-Qur’an tersebut tidaklah terbatas pada amal keagamaan saja, melainkan lebih bersifat umum; yaitu semua amal perbuatan yang didalamnya mengandung faedah untuk meninggikan dan memperkuat Islam. Hal ini diperkuat oleh Firman Allah SWT. Dalam surat al-jum’at yang berbunyi :
               
“……Maka jika telah selesai bersembahyang, bertebaranlah kamu di atas bumi dan carilah rezeki dari Allah ….” (al-Jum’at :10)
Dan firman-Nya :
•            
“Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang lebih baik amal perbuatannya….” (Al-Kahfi, 30)
Firman Allah yang lain :
  •         •  •                     
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang yang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya….”(al-Anfal : 60).
Rasulullah saw bersabda :
”Hendaklah salah seorang dari pada kamu membawa tali dan ia mencari kayu dengan tali itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain, bisa juga mereka memberi atau menolaknya, ….”Selanjutnya beliau bersabda: “Seseorang tidak memakan makanan yang lebih baik dari pada orang makan dari hasil tangannya sendiri, dan Nabi Daud makan dari tangannya.”
Al-Qur’an mengajak kepada amal perbuatan yang membawa kebaikan bagi manusia dan yang membawa ke arah pertambahan nilai, pengembangan hasil yang produktif secara individual dan kelompok masyarakat/bangsa.
Hasil produksi yang menambah kekayaan bagi kepentingan umum dan yang merangsang sifat kedermawanan serta hal-hal yang memungkinkan umat membangun dan mempertahankan harga dirinya kita wajib mengarahkan segala upaya untuk mendidik dan melatih kemampuan manusia dalam rangka meningkatkan standart kehidupan manusia secara intergal.
o Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan
Ajakan al-qur’an kepada ilmu pengetahuan tidak hanya terbatas pada ilmu agama dan syari’ah saja, namun Al-Qur’an juga mengajak mempelajari ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu duniawi lainnya, karena ilmu-ilmu ini menjadi salah satu media atau sarana yang kuat untuk membangun dan meningkatkan standart kehidupan sosial, politik, ekonomi budaya dan militer.
Dalam kaitan dengan hal ini Allah berfirman sebagai berikut :
  •                       ••                  

“Tidaklah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan diantara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”(Faatir, 27).”Dan demikian (pula) di antaranya manusia, bintang-bintang ternak ada bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama’…..” (Faatir, 28).
Nas Al-Qur’an tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya ulama’ itu bukan hanya ulama syari’ah saja, melainkan juga ulama ahli ilmu alam yang mengetahui rahasia dan watak-watak tumbuh-tumbuhan, hewan, rahasia (mega-mendung) hujan serta atmosfer bumi. Allah secara tegas membatasi bahwa yang mempunyai rasa takut kepada-Nya adalah para ulama termasuk ulama’ dalam agama. Karena watak asli dalam sistem alam semesta ini diketahui oleh para ulama terdapat di dalamnya kekuasaan yang kuat berdasarkan atas kebesaran, kekuasaan Allah.
Pada ulama agama menunjukkan manusia tentang hakikat dari wujud Allah adalah : Yang menciptakan wujud alam ini tanpa ada yang dapat menghalangi-Nya’ Dialah yang wajib disembah dengan hak tiada yang lain-Nya, maka demikian pula ulama ahli ilmu alam, ahli falak, ahli ilmu pasti dan ahli ilmu-ilmu kauniyah (alam) lainnya, mengungkapkan kepada manusia tentang rahasia-rahasia yang terkandung di belakang fenomena alamiah yang berupa watak asli atau sistem serta hukum-hukumnya yang tetap, beserta kekuatan yang hebat yang telah Allah tundukkan bagi kepentingan hidup umat manusia, dan bagi kelimpahan hidupnya, dan untuk mensejahterakan seluruh umat manusia.
Ayat-ayat Al-Qur’an mempererat posisi ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk makrifat kepada Allah dan untuk menimbulkan rasa takut kepadaNya.
Maka dari itu perlu di sini dibedakan antara teori ilmiah hakikat alam dihubungkan dengan pandangan Al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan sebagai berikut :
a) Teori ilmiah adalah teori yang baru dapat dicapai setelah tingkat keyakinan keilmiahan yang bersumberkan dari pengalaman yang benar yang tidak diragukannya.
b) Hakikat ilmiah adalah yang telah mencapai tingkat keyakinan ini, dan menetapkan kebenarannya yang diterima tanpa melalui pembahasan.
Merenungkan tentang makna ayat-ayat Al-Qur’an dimanapun, akan didapati banyak nas-nasnya yang mendorong akal pikiran yang menuntut kepada penganalisaan dan diskusi serta berfikir dan pertimbangan yang jauh, untuk mencapai hakikat yang pasti. Allah berfirman :
            •   •      
“Katakanlah,”berpalinglah kamu diatas bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya….”(al-Ankabut, 20).
Dan firman yang lainnya :
قُلْ انْظُرُوْا ماَفىِ السَّمواَتِ وَاْلاَرْضِ …… (يونس : 101)
“Katakanlah :“ perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi….”
Al-Qur’an membuka dimensi pikiran terhadap alam semesta yang luas kepada umat manusia utuk diselidiki dengan akalnya, supaya tidak terjadi ortodoks dalam pola pikir dan bertindak untuk mengambil keputusan hukum.

BAB V
KIRIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Kurikulum pendidikan Islam berbeda-beda isinya menurut kondisi perkembangan agama Islam, karena kaum muslimin berada di dalam lingkungan dan negeri yang berbeda-beda, walaupun mereka sepakat bahwa kitab suci Al-Qur’an dijadikan sumber pokok ilmu-ilmu agama dan ilmu umum, Al-Qur’an tetap menjadi sumber pedoman pendidikan di seluruh negara Arab yang Islam, dan juga dijadikan sumber studi lainnya.
Dalam kaitan ini, Ibnu Khaldun menjelaskan tentang kesepakatan negara-negara Islam terhadap tujuan pendidikan, yakni Al-Qur’an tetap sebagai sumber pedomannya, ia menyatakan : Sesungguhnya tujuan pendidikan yang bersumberkan Al-Qur’an adalah untuk mencapai tujuan pembentukan akidah / keimanan yang mendalam dan menumbuhkan dasar-dasar akhlak al-karimah melalui jalan agama yang diturunkan untuk mendidik jiwa manusia serta menegakkan akhlak yang membangkitkan kepada perbuatan yang baik”
Dalam pendidikan Islam ada dua macam kurikulum yaitu : kurikulum khusus untuk pengajaran permulaan (dasar) dan kurikulum untuk mengajar tingkat atas.

1. Kurikulum Ibtidai (Tingkat Dasar)
Secara umum telah dikenal diseluruh negara Islam bahwa ajaran Al-Qur’an dan Hadits Nabi merupakan dua materi pelajaran pokok, namun di negeri-negeri Islam tidak sama dalam memprogandakan kedua materi pokok tersebut ke dalam kurikulum, karena disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing- masing negara, yang pada umumnya berbeda-beda mazhab dan pandangan dari pada negara tersebut.
Tentang penyebutan nama kurikulum tingkat dasar (ibtidai) didasarkan atas dimulainya pendidikan terhadap anak-anak yang sedang bertumbuh, lalu berproses ke arah tingkat usia murahaqah (usia dimana anak telah mampu berfikir). Kurikulum ini mencakup pendidikan bagi tingkat kanak-kanak dan murahaqah.
Kaum muslimin di negara-negara Afrika Utara membatasi materi pendidikan anak pada menghapalkan Al-Qur’an dan tidak mencampur dengan mata pelajaran yang lain. Oleh karena itu mereka lebih kuat dan mampu membaca dan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dibanding dengan anak-anak di negara-negara Islam lainnya.
Penduduk Andalusia dalam mengajarkan Al-Qur’an dimasukkan pula mata pelajaran lainnya, seperti riwayat syair-syair, prosa, berhitung dan pembelaan negara, sehingga anak-anak di wilayah ini lebih menonjol kemampuan dalam tulis-menulis dan khat (tulisan indah) serta lebih unggul dalam kemampuan menemukan (discovery) dan kemampuan menghubungkan cabang-cabang ilmu dalam mengintergrasikan antara ilmu-ilmu naqly dan ‘agly.
Kaum muslimin belahan Timur negeri Arabia, seperti penduduk Bagdad dan sekitarnya yang memeluk agama Islam, aliran pahamnya dalam pendidikan anak sama dengan paham penduduk Andalusia yaitu disamping mengajarkan Al-Qur’an juga mata-mata pelajaran yang lain. Namun ada dua aspek yang berbeda antara mereka yaitu :
a) Kaum muslimin di belahan Timur mempunyai perhatian yang lebih besar dan kuat dari pada perhatian penduduk Andalusia.
b) Kaum muslimin di wilayah itu juga memasukkan bahan-bahan pelajaran khat secara terperinci ke dalam kurikulum dan membangun lembaga-lembaga pendidikan, dan mengangkat guru-gurunya secara terpisah (dalam suatu organisasi yang berdiri sendiri).
Pada umumnya anak-anak remaja yang belajar di sekolah-sekolah dasar di wilayah Timur tulisan khatnya tidak sebagus dengan anak-anak sebaya yang bersekolah di Andalusia. Jika mereka menginginkan kemampuan menulis setingkat keindahannya, maka ia harus tekun belajar kepada para ahli, di lembaga-lembaga khusus yang telah saya uraikan sebelumnya.
Kritik Ibnu Khaldum terhadap sistem kurikulum tingkat dasar
Ilmu khaldum berpendapat bahwa pembatasan penduduk al-Maghrabi (Afrika Utara) dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak menyebabkan anak-anak itu terhambat dalam proses pencapaian kreatifitas dalam jiwanya. Karena mereka hanya mengandalkan anak untuk menghafal saja tanpa memahami gaya dan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an berdasarkan kemampuan dan bakat mereka. Metoda ini telah dipakai dalam lembaga Kuttab di Mesir dahulu yang sebagian peninggalannya masih terdapat di daerah pedesaan sampai saat ini.
Sebaliknya dari tradisi penduduk wilayah Afrika Utara, penduduk Andalusia lainnya seperti bahasa Arab, kaidah-kaidah syair, prosa dan khat sehingga mereka pandai menulis khat. Disamping itu mereka memiliki peengetahuan kesusastraan yang tinggi, ucapan bahasa lisan yang fasih serta kemampuan /kreativitas yang meyakinkan.
Ibnu Khaldun setuju dengan pendapat tersebut diatas bahkan ia menyebutnya sebagai paham pendidikan yang benar, ia juga menambahkan pendapatnya bahwa tradisi penduduk Maghrabi tentang sistem pendidikan anak dengan cara hapalan Al-Qur’an saja, beliau menegaskan : Pendapat tersebut adalah paham yang bagus bagi seusia saya akan tetapi tradisi-tradisi ini tidak mendukung paham tersebut. Padahal tradisi tersebut amat mempengaruhi situasi, yang secara khsus ditujukan untuk memajukan studi Al-Qur’an dan mencari tabarruk (berkah), namun dikhawatirkan timbulnya penyakit kenakalan remaja, yang menghalangi dan menjauhkan anak dari ilmu pengetahuan, yang berakibat mereka tidak mau mempelajari Al-Qur’an.
Jika terjadi pelanggaran oleh kaum remaja (puber) tak boleh diselesaikan dengan cara kekerasan, karena hal itu merupakan perbuatan yang didorong oleh gejolak jiwa remaha (pubertas).
Ibnu Khaldum memandang paham Ibnul’Arabi meskipun dari aspek kependidikan pandangannya benar, namun pahamnya tidak sejalan dengan tradisi masyarakat Maghrabi di Afrika Utara. Kemudian ia menerangkan tentang aliran paham yang sejalan dengan tradisi masyarakat Maghrabi dengan pendapatnya :” Mereka berpendapat bahwa mengajar pada tingkat permulaan terhadap Al-Qur’an hanyalah untuk mencari barkah dan juga sekedar untuk mencari pahala yang besar dari Tuhan, begitu pula untuk menjaga keselamatan anak, serta menghindarkan mereka dari akhlak buruk, yang sekaligus dan menjauhkan dari perbuatan orang-orang yang berbuat kerusakan.”
2. Kurikulum Tingkat Atas
Kurikulum tingkat Atas ini berisi ilmu pengetahuan yang banyak jenisnya untuk dikembangkan dan didalami secara khusus. Dalam hal ini Ibnu Khaldum membagi jenis-jenis ilmu pengetahuan menjadi dua jenis ilmu yang dijadikan bahan pelajaran yaitu :
a) Ilmu Pengetahuan Yang Mengandung Nilai Instrinsik (Nilai Aslinya). Ilmu ini berupa ilmu syariah yang terdiri dari ilmu fiqih, tafsir, hadis, ilmu kalam, ilmu alam, ilmu ketuhanan, dan filsafat dan sebagainya.
b) Ilmu Pengetahuan Yang Tidak Bersifat Instrinsik (extrinsik; yang Nilainya Tergantung dari Luar) Ilmu-ilmu yang berfungsi sebagai alat untuk mendalami ilmu-ilmu mantiq (logika).
Dalam hal ini para ahli pikir dan ahli pendidikan berpendapat bahwa memperluas pengajaran ilmu-ilmu jenis pertama sampai pada penganalisaan problema-problemanya, dan merupakan kewajiban mutlak bagi mereka agar ilmu-ilmu tersebut betul-betul berfungsi di kalangan masyarakat luas.
Adapun jenis ilmu pengetahuan kedua para ahli berpendapat bahwa memperluas ilmu ini tidak membahayakan kecuali pada kadar tertentu yang menetapkan pemahaman maksud dan tujuannya. Karena itu para ahli ilmu pengetahuan yang memperluas ilmu alat tersebut dibebani tanggung jawab yang berat agar supaya ilmu tidak menyimpang dari tujuan dan tujuan tidak menyia-nyiakan waktu belajar.
Ibnu Khaldun mengikuti langkah satu-satunya dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab ilmu nahwu. Ilmu ini pada masa hidupnya merupakan ilmu yang penting sekali melebihi ilmu-ilmu lainnya dalam kuikulum pendidikan, karena ia merupakan salah satu ilmu yang dijadikan alat oleh ilmu yang lain dan alat untuk memperdalam ilmu lainnya. Sehingga ilmu ini banyak mendapat kritik yang yajam di satu pihak dan di lain pihak disepakati, seperti Ibnu Khaldun menegaskan bahwa :
“Para ulama (ahli ilmu pengetahuan) sangat berlebihan dalam membahas dan memperbanyak ungkapan-ungkapan kata yang dinyatakan berdasarkan tujuan dan mereka agak berbelit-belit dalam menetapkan aspek pandangannya.”
a. Mengajarkan Ilmu Nahwu dan Balaqhah
Selanjutnya Ibnu Khaldun menetapkan kedudukan ilmu nahwu pada posisi yang berkaitan dengan ilmu-ilmu lainnya. Ia berusaha mendiskripsikan metode yang paling efektif dalam mengajarkan bahwu dan balaghah tersebut. Menurut pendapatnya, bahwa mengajarkan ilmu nahwu sebaiknya tidak bersifat teoritis, namun anak-anak harus dilatih agar mampu mengungkapkan secara baik segala sesuatu yang ada dalam pikirannya agar mereka dapat membaca benar serta memahami apa yang mereka baca.
Sebagaimana dimaklumi bahwa i’rab itu merupakan bagian pengertian, maka mengerti tentang fungsi kalimat dalam suatu jumlah akan membantu memahami jumlah dan mentarkibkannya serta menghubungkan jumlah kalimat yang satu dengan lainnya.
Menurut pendapatnya ; sebaiknya anak tidak diajar ilmu nahwu dan balaghah sampai mencapai usia yang sepadan : pendapat Ibnu Khaldum ini tidak berdasarkan pada pandangan ilmu pendidikan modern yaitu dua aspek yang menonjol :
- Pendapat yang berkaitan dengan metoda mengajarkan ilmu nahwu dan tujuannya.
- Pendapat tentang usia yang sepadan untuk diajar ilmu nahwu dan balaghah.
Sebagian pendapat yang diakui baik ialah mengajarkan gawa’id atau balaghah berdasarkan atas kemampuan anak adalah merupakan metoda rational, istimbat (mengambil kesimpulan), membangkitkan kemampuan menetapkan keputusan dan mengambil manfaat secara umum; langkah ini di mulai pada periode usia murahaqah. Selanjutnya Ibnu Khaldum berpendapat sebagai berikut :
Nahwu dan balaghah itu adalah dua macam pengetahuan dari filsafat linguistik, yang sebaiknya tidak diajarkan kepada anak, kecuali setelah mencapai usia yang sepadan (ukuran dewasa).
Yang sangat mengherankan dari pandangan ahli pendidikan besar ini ialah bahwa dia menunjukkan beberapa asas yang wajib dipegangi dalam proses mencari bahan-bahan kurikulum. Beliau menegaskan bahwa sistem pendidikan anak harus mengarahkan pendidikan pula, yaitu :
a) Keharusan memperhatikan bakat-kemampuan pada anak
b) Mendahulukan pengalaman panca indra sebagai asas untuk mencapai pengalaman yang bukan pancaindra (non indrawi).
Pendapat di atas adalah sejalan dengan persyaratan pokok dalam penyusunan kurikulum modern saat ini.
b. Pendapat Ikhwan As-Safa tentang Kurikulum Pendidikan Tingkat Atas.
Ikhwan As-Safa berusaha mengkaitkan kurikulum dengan ilmu-ilmu kefilsafatan di sekolah-sekolah Islam, dan memang kelompok organisasi ini mempunyai paham terkenal dalam pendidikan yang dalam batas-batas tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan modern. Mereka mengajak ke arah penciptaan teori-teori dasar dalam pendidikan /pengajaran, dan di antara teori mereka adalah keharusan mengajar anak dimulai pada pengamatan melalui panca indera sebelum dipikirkan secara rational. Oleh karena itu mereka memandang pengamatan panca indera sebagai alat mempelajari bahan-bahan pengetahuan yang rational yang harus dikaitkan dengan ilmu ketuhanan (theologi).
Pandangan mereka tersebut di atas merupakan metoda baru yang mereka ciptakan pada masanya sehingga mereka mampu mengetengahkan akidah Islam secara ilmiah dan akurat. Pemikiran mendasar tentang kurikulum yang mereka inginkan adalah mengarahkan kepada integrasi antara agama dan akal pikiran.
Pandangan Ihkwan As-Safa tentang penyusunanm kurikulum pendidikan tingkat atas ini, Ibnu Khladun sangat mendukung dan sejalan.
c. Perbedaan Kurikulum Pendidikan Tingkat Atas Terjadi karena Perbedaan Wilayah-wilayah negara Islam
Menurut observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan Islam tidak sama di seluruh wilayah negara Islam; Tiap wilayah mempunyai kurikulum yang khas bagi pendidikan tingkas atas di wilayah masing-masing, namun murid tidak terikat untuk mempelajari bahan-bahan pelajaran yang ditentukan dalam kurikulumnya, begitu pula guru-gurunya tidak terikat dengan kurikulum yang telah ditentukan untuk dijadikan sumber pegangan dalam mengajarkannya, kecuali jika di sana terdapat bahan-bahan pelajaran yang sama dalam kurikulum-kurikulum tersebut. Bahan-bahan yang sama tersebut ialah mata pelajaran lughat dan agama. Bahan-bahan kurikulum ini dapat dibagi menjadi dua macam :
1. Kurikulum yang terdiri dari bahan-bahan pelajaran agama yang mengandung kesusastraan.
2. Kurikulum yang berisi bahan-bahan pelajaran akademis ilmiah yang bersifat kesusastraan.
Kurikulum yang berisi bahan pelajaran yang bersifat kesusastraan itu adalah pengajaran ilmu-ilmu agama yang mengandung aspek-aspek sastra, yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama yaitu terdiri dari ilmu lughah dan sejarah. Bagian dari ilmu lughah itu adalah nahwu, balaghah serta menggambar dan menulis.
Kurikulum demikian bersesuaian dengan zamannya dalam lingkungan Islam pada permulaan dari tarikh pemerintahan Arab Islam. Pada masa ini perhatian umat Islam dipusatkan kepada pengajaran memahami agama, menginstimbatkan hukum syari’ah, meletakkan ilmu-ilmu Al-Qur’an, memelihara dan menghindarkan dari permainan dan kerusakannya. Untuk itu didirikanlah sekolah-sekolah di Kufah dan Basrah (Iraq) untuk mengembangkan kegiatan ilmu pengetahuan dan bahasa (lughah).
Antara lain Kufah dan Basrah terjadi perselisihan dalam memikirkan, mediskusikan dan membahas ilmu pengetahuan dan agama. Semua faktor menyebabkan timbulnya perselisihan itu dapat dikembalikan kepada hal-hal sebagai berikut :
1) Perbedaan letak geografis antara kedua aliran mazhab tersebut tidak sama
2) Sifat dan tabiat penduduk, kecenderungan-kecenderungan serta pandangan politis mereka juga berbeda.
3) Tingkat kemurnian darah ke-araban mereka berbeda
4) Metoda pembahasan atau pengkajian lughah dan sastra.
Sebelum saya terangkan secara rinci tentang faktor-faktor tersebut diatas lebih baik dijelaskan terlebih dahulu tentang pentingnya kedua kota tersebut sebagai pusat-pusat ilmiah dan peradaban. Di tiap kota ini telah terbentuk banyak sumber-sumber kebudayaan (peradaban) Arab, yang diawali dengan ilmu-ilmu lughah (bahasa) Arab.
Kota basrah berada pada posisi salah atau satu sudut yang lebih menonjol dilihat dari segi nilai darah ke-Arabannya dan dari segi kemudahan para perawi untuk mencapai keunggulan dalam bahasa Arab murni dan menukil dari padanya. Keunggulan itu tetap terpelihara dari percampuran unsur-unsur nono-Arab pada masa itu, dan masa sesudahnya juga tidak dapat disusupi percampuran unsur non-Arab tersebut dalam bentuk gaya bahasa yang merusak gramaika Arab.
Penduduk Basrah terkenal dengan kemampuannya mengatasi kesulitan dan kebencian mereka terhadap sikap tunduk dan menyerah, bernafsu berlebih-lebihan serta sikap bersikeras memegangi gaya-gaya bahasa Arab murni.
Adapun kota Kufah adalah kota yang banyak terjadi pembauran bahasa Arab dengan non-Arab, maka dari itu mereka lebih dekat kepada kurikulum Persi.
Mengenai sifat / tabiat dan kecenderungan serta pandangan politis, kita lihat sebenarnya orang-orang Basrah itu adalah berdarah Arab yang lebih menonjol keasliannya, mereka mendukung politik Umawiyah, karena kaum Umawiyah terdiri dari bangsa Arab murni. Sedangkan orang-orang Kufah sebaliknya, berwatak diam dan tenang-tenang serta bersikap taat (patuh), dalam politiknya mereka memihak kepada golongan pengikut Ali sebagaimana mereka menjadi propagandist pemerintah Abbasiyah dan pendukungnya yang lebih cenderung kepada gaya-gaya peradaban Persia.
Maka dari itu golongan Abbasiyah menyambut mereka atas bantuan penduduk Kufah dengan memberi imbalan mengangkat ulama Kufah menjadi guru (muaddib) yang diberi tugas mendidik putra–putra kholifah diistanah.Sebagaimana Al-Kissai mengajar kholifah Ar–Rasyd dan putranya Al-Amin, serta mendiidik Al-Farra bin Al-Makmun, sedang Al-Sikkit mengajar putra-putra kholifah al-Mutawakkil ala Allah ‘abbasi.
Bila dilihat dari segi kemurnian bahasa Arab, dan ta’assub (fanatisme) kepada arab, mmak orang Basrah lebih murni bahasa Arabnya, karena wilayah itu menjadi sumber bahasa Arab yang murni yang mereka pelihara terus-menerus. Mereka berpengaruh besar terhadap gaya-gaya bahasa Arab yang murni yang terhindar dari faktor–faktor yang menyangsikan, dan faktor kelemahan, dalam saat itu orang Kufah tidak terpengaruh oleh faktor-faktor tersebut, maka dsarin itu bahasa Arab mereka kurang fasih dan perhhatian mereka terhadap ilmu Nahwu baru timbul pada waktu kemudian hari.
Jika kita pelajari kurikuluim ilmiah dan car-cara pembahasannya yang dikenal oleh kedua pusat ilmu pengetahuan (Kufah atau Basrah), maka orang–orang Basrah lebih-lebih memperhatikan saksi–saksi lebih banyak yang terpercaya; Jadi mereka tidak mencukupkan seorang saksi untuk satu macam kaidah ilmiah saja, sebagaiman yang dilakukan oleh orang-orang Kufah. Mereka mensyaratkan pensaksian lebih banyak orang untuk meresmikan sebuah kaidah ilmiah. Orang Basarah tidak mau mengembalikan kepada qiyas nadhari ketika tidak ada saksi, sebagaimana yang diperbuat oleh orang Kufah. Oleh karena itu banyaklah orang Basrah pada saat tertentu b ersikap menyimpang dari aturan yang oleh orang Kufah sangat jarang dilakukan. Akan tetapi orang Basrah lebih mendalam ilmu nahwunya dan lebih terpercaya dari pada orang Kufah dalam ilmu itu.
Kesibukan kedua aliran mazhab tersebut untuk meletakkan kaidah– kaidah ilmu nahwu bahasa Arab ( grammar bahasa Arab ) betul–betul dapat dibanggakan karena masuknya pengaruh gaya-gaya bahasa yang ingin merusak bahasa Arab sebagai akibat dari kontak-kontak Arab dengan bangsa–bangsa yang ditaklukkan. Maka dari itu perlu dibentuk kaidah-kaidah nahwu dan sharaf sebagai tameng untuk menghadapi pengaruh yang merusak kemurniaan bahasa Arab, dan juga untuk menjadikannya alat ampuh untuk memahami Al-Qur’an dan sunnah Nabi, disamping itu dijadikan sarana yang ingin memperbaiki study ilmu-ilmu agama beserta hasil-hasilnya yang kreatif. Khususnya bagi orang-orang non-Arab dan orang awam yang ingin mempelajari bahasa Al-Qur’an secara mantab.
Dalam kaitan ini Ibnu Khaldun berpendapat : “Barangsiapa menghendaki syari’ah maka wajiblah ia memiliki ilmu bahasa Arab yang terdiri dari ilmu lughah, nahwu, bayan dan adab.
Perhatian mereka kepada studi ilmu nahwu juga merupakan upaya sungguh-sungguh untuk mempelajari syair-syair lama dengan sifat-sifat khas yang dijadikan sarana untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan hukum syari’ah dari dalam ayat-ayat tersebut.
Selajutnya kita bahas segi-segi kesejarahan yang berkaitan dengan faktor keagamaan. Kitab-kitab yang paling pertama yang ditulis bangsa Arab adalah “Kutubus Sierah wan Nabbawiyah” (kitab-kitab tentang kisah para Nabi), kemudian pembahasannya dikembangkan dalam kitab-kitab yang menceritakan tentang penaklukan bangsa Arab ( Islam ).
Hubungan yang lestari yang kokoh antara ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu kesusastraan, kebudaayaan dan kemanusiaan pada abad pertama dan kedua hijriyah tetap berlangsung. Ilmu-ilmu agama bahkan menjadi bidang studi akademis yang luas dan dibuktikan dengan jelas bahwa corak keilmuan agama merupakan watak yang menonjol dari kurikulum tingkat atas ( aliyah ) sampai pada abad ketiga Hijriyah. Al-Chawarizmi dalam kitabnya “Mafaatih Al-‘Ulumi” (kunci-kunci ilmu perngetahuan) tentang materi-materi kurikulum tersebut yaitu meliputi ilmu fiqih, nahwu, kalam, ‘arudh, Al-Achbar dan ilmu hitung (matematika).
3. Kurikulum Yang Mengandung Ilmu Dan Adab ( Satra / Kebudayaan )
Kurikulum ini mulai diberlakukan semenjak pemikiran Islam dunia Arab berkembang pada masa Daulah Abbasiyah, akibat kontak bangsa Arab dengan sumber-sumber kebudayaan asing dari Persia, Yunani dan Hindu. Semenjak itu pemikiran Islam mengalami perkembangan bebas, terlepas dari ikatannya. Maka timbul gerakan ilmiah di bidang filsafat. Di Baghdad dan di Kairo dibangun Dar Al-Hikmah sebagai tempat-tempat kegiatan ilmiah studi ilmu pengetahuan.
Keinginan umat Islam dan bangsa Arab saat itu sangat besar sekali untuk menterjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan, yang sebelumnya telah dimulai dilakukan, di mana pengaruhnya besar sekali dalam pembangunan negara. Pada masa itu terdapat penerjemah-penerjemah yang terpercaya dalam berbagai ilmu pengetahuan.
Para ahli terjemahan setelah menyelesaikan tugas mengoreksi hasil terjemahannya beserta referensinya secara teliti maka dimulailah putaran berikutnya, yaitu pengkajian, penelitian tentang kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan, meringkaskan, dan memahami secara kritis. Bahkan mereka sampai kepada penemuan, penciptaan baru dan menghubung-hubungkan dengan peninggalan warisan ilmu dan peradaban yang amat tinggi nilainya dalam seluruh disiplin ilmu dan bidang-bidangnya seperti ilmu kedokteran, ilmu bedah, pengobatan, fisiologi, kimia, ilmu alam dan falak.
Kita dapati dalam sejarah peradaban Islam tokoh-tokoh terkenal seperti Ibnu Haitam, Ibnu Sina, Ar-Razi, Abu Raihan Al-Biruni, Abu Qasim Al-Zahrawi ahli bedah yang terkenal, Jabir bin Hayyan ahli ilmu kimia berbangsa Arab, Yaqut Al-Hamawi ahli geografi, Al-Gazzali, Ibnu Khaldun, dan ahli-ahli ilmu filsafat dan sejarah. Mereka adalah imuwan-ilmuwan yang genius yang ditonjolkan dalam tujuan dan kurikulum pendidikan Islam dunia Arab, yang mana sarjana Barat mengakui sebagai tokoh-tokoh genius yang meninggalkan warisan Islam yang berpengaruh terhadap kemajuan umat manusia. Sebagaimana pendapat orang-orang di luar Islam telah mengagumi kehebatan tokoh-tokoh Islam saat itu.

4. Pendapat Para Sarjana Orientalis
Nicalson, berpendapat bahwa,” ….. Penemuan-penemuan baru pada masa kini yang ada di hadapan kita yang menjadikan kita sebagai orang-orang beradab-budaya yang selalu disebut-sebut adalah ekplorasi bangsa Arab (Islam) yang menyinari abad-abad pertengahan, khususnya di Eropa.”
Baron Cardevo menyatakan : “Peninggalan warisan dari Yunani-kuno tidak akan dapat dikembangkan oleh bangsa Romawi-kuno. Bangsa Arab-lah yang memperkokoh dan memperbaiki serta menyempurnakannya, merekalah yang menyelamatkannya sampai abad-abad modern sekarang”. George berpendapat bahwa”Sesungguhnya bangsa Arab (Islam) secara praktis menjadi gurunya orang Eropa dalam semua cabang ilmu.”
Menurut Dr. Sarto “beberapa ahli sejarah berusaha untuk mengecilkan jasa baik bangsa Timur dan mereka menjeaskan bahwa sesungguhnya bangsa Arab (Islam) dan kaum muslimin hanya memindahkan (menukil) ilmu-Ilmu masa lampau, dan mereka sama sekali tidak menambahkan sesuatu pun ke dalamnya.”.
Pendapat tersebut adalah salah, karena merupakan pekerjaan besar dan sulit jika bangsa Arab mentransfer sumber-sumber ilmu dan filsafat Yunani-kuno kepada kita serta memeliharanya. Seandainya tidak terjadi transfer itu, maka terjadilah kemunduran perkembangan peradaban beberapa abad lamanya.
Clairyon , berpendapat : “Jika wajah kita, menghadap ke arah ilmu dan filsafat maka kita akan menemukan warisan peninggalan Islam telah membudayakan kita bangsa Barat secara sangat positif, maka pada pertengahan awal dari abad pertengahan usaha-usaha Islam di bidang ilmiah adalah seperti pola pertamanya, teritama dibidang ilmu kedokteran, falak dan matematika. Orang Islam tidak membatasi pengalihan ilmu Yunani ke dunia Barat, melainkan juga menambahkan dengan segi-segi praktis dengan sifat yang khas. Mereka jugamendapatkan ilmu ini melalui orang-orang Siria yang beragama Kristen, terutama orang Kristen Nestorian yang pusat pemerintahannya berada di kota Jundisapur di bagian barat dari Persia yang diperintah dinasti Sassany.”
Emest Renan, salah seorang sarjana yang sangat fanatik menentang bangsa Arab dan kaum muslimin mempuai teori (Samiyah dan Arya) yang menyatakan tentang keunggulan bangsa Ariayaatas bangsa Samiyah. Bangsa yang pertama adalah yang menciptakan peradaban manusia (yaitu Bangsa Arya).
Ahli filsafat Perancis ini yang fanatik tak akan dapat menemukan jalan (karena fanatisme yang kuat) untuk mengenal hakikat kebenaran yang ada, sehingga nafsunya dipaksa oleh logika yang sehat untuk mengatakan tentang keunggulan bangsa Arab dalam ilmu dan peradaban manusia. Katanya :”Sesungguhnya ilmu dan kebudayaan serta kesusastraan adalah peradaban yang dikembangkan dan disebarkan oleh orang Arab sendiri selama 6 abad lamanya, dan kaum muslimin itu tidak mengenal fanatisme agama, kecuali sesudah pemerintahan Arab berdaulat.”
Yang amat mengherankan lagi ketika kita mendapatkan orang yang sangat fanatik dan selalu membenci kepada bangsa Arab dan umat Islam, mereka merasakan kekecewaan dan penyesalannya karena tidak menjadi seorang muslim. Ia mengatakan :”Saya tidak masuk masjid kecuali pada saat emosi yang menguasai saya berkobar hingga saya mengucapkan semacam perasaan putus asa karena saya tidak menjadi orang Islam.
Seorang ahli sejarah Perancis. Lorgue menyatakan dalam bukunya (Seni dan Sejarah) :”Sesugguhnya orang Arab yang telah meletakkan langkah-langkah dalam sejarah kemanusiaan secara tetap dan mereka utulah yang merubah ilmu pengetahuan dunia secara lebih mantap dan menyakinkan. Mereka itulah termasuk bangsa yang maju pemikirannya yang sekaligus menjadi pewaris bumi dengan dibangunnya kekuasaan pemerintahan yang wilayahnya dari sungai Indus sampai samudera Atlantik, Zanzibar sampai Perancis.”
Ahli sejarah Perancis Rene Gibon yang telah masuk Islam yang manamakan dirinya Adbul Wahid Yahya, menyatakan :”Sesungguhnya kebanyakan orang Barat tidak mengerti nilai-nilai kebudayaan orang Islam yang petik atau tidak mengerti nilai-nilai yang hakiki dari peradaban Arab yang mereka ambil pada abad-abad yang lalu, bahkan tidak memahami apapun daripadanya secara mutlak (sama sekali). Karena hakikat kebenaran yang sampai kepada mereka itu adalah hakikat kebenaran yang menghasilkan pelajaran yang bersumber dari akal yang sehat.”
Gibon dalam hal ini menunjukkan bukti bahwa kebanyakan pemikiran orang Barat itu merusak pemahaman kebudayaan Islam dan mencampuradukkan ke dalam peradaban Arab yang mereka ambil itu sebagai peradaban campuran yang disengaja untuk menimbulkan kegoncangan dan kekaburan, sehingga jauh dari kebenaran. Dengan cara demikian. Gibon menilai kebudayaan Arab yang Islami. Dia menyangka kebanyakan orang Barat tidak memahami secara benar, sehingga mereka meletakkan nilai kebudayaan itu pada tempatnya yang kurang proporsional.
Jika kita perhatikan berbagai pendapat tersebut diatas yang melebihi pendapat Gibon, maka kita temukan di dalamnya penilaian yang adil terhadap peradaban Arab Islam, yang membantu memajukan gerakan ilmiah dan memikiran di kebanyakan wilayah Islam; Hasil dari gerakan tersebut ialah meluasnya dimensi kurikulum tingkat pendidikan tinggi dalam masa keemasan kehidupan umat Islam. Maka di dalam kurikulum itu tercakup ilmu-ilmu alam, termasuk ilmu kedokteran beserta cabang-cabangnya, ilmu anatomi, dan ilmu diagnostik penyakit, ilmu obat-obatan, ilmu pengobatan, ilmu gizi, pertambangan, ilmu perbintangan, ilmu tumbuh-tumbuhan dan hewan serta ilmu kimia, juga ilmu matematika sampai kepada ilmu hitung, aljabar, ilmu ukur, musik dan mekanika, serta ilmu alat dan mantiq (logika). Apabila kita renungkan secara mendalam tentang materi-materi pelajaran yang harus kita ajarkan dalam lembaga pendidikan tingkat atas dan tinggi pada masa kini dan masa lampau, kita ambil sebagai contoh Uni Soviet, maka kita dapati bahan-bahan pelajaran yang berdekatan meskipun dalam periode-periode waktu yang panjang antara abad-abad pertengahan dan abad atom dan abad perang dingin saat ini. Kenyataan universitas-universitas di Uni Soviet mengharuskan orang-orang yang berkeahlian spesialisasi dalam ilmu-ilmu khusus, memiliki juga pengetahuan yang luas dalam disiplin ilmu yang ada, antara lain ilmu fisiologi, kimia, matematika, sejarah, filsafat, ekonomi dan hukum.
Jika mempelajari kurikulum pendidikan tingkat tinggi, di Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dsb. Akan kita dapati juga kurikulum yang polanya tidak berbeda dari kurikulum di Uni Soviet. Kurikulum yang disajikan paling tidak mendekati kepala dalil yang kuat tentang kemajuan kurikulum pendidikan tingkat tinggi terutama dalam pendidikan Islam pada masa-masa lampau.
5. Corak Khusus Kurikulum Pendidikan Islam
Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kurikulum tingkat tinggi pendidikan Islam memiliki keunggulan yakni :
a) Aspek perhatian kepada ilmu-ilmu agama, dan dengan perhatian menyebabkan penciptaan ilmu-ilmu pembantu untuk memahami ajaran agama dan untuk mengistimbatkan hukum-hukumnya, karena itu agama menjadi faktor yang penentu dalam semua kurikulum, sehingga para ahli filsafat pendidikan Islam berpendapat bahwa kesempurnaan manusia tidak mungkin dicapai kecuali dengan mempertemukan antara agama dan ilmu pengetahuan atau antara pengetahuan Islam dengan filsafat Greek (Yunani Kuno).
b) Kedudukan pelajaran kesusastraan berada pada tingkat di bawah ilmu agama, dan pelajaran ini tidak bisa berdiri sendiri, melainkan sebagai alat memahami agama.
c) Perhatian orang Arab kepada studi ilmiah semakin bertambah sehingga kurikulum pendidikan Islam mencakup ilmu alam, falaq, dan matematika, karena mereka merasakan dampaknya yang mendalam terhadap kemajuan berfikir dan peradaban.
d) Didasari bahwa pemikiran yang mengkhususkan pada cabang-cabang ilmu tidak dikenal dalam Islam, maka itu para pelajar harus mendalami semua ilmu, sehingga orang yang mengajarkan ilmu kedokteran juga harus mengajarkan ilmu mantiq, matematika, dan ilmu-ilmu alam, dan bahasa Arab seperti nahwu, syair-syair, dan sebagainya.
e) Sifat umum yang ada pada kurikulum pendidikan tingkat tinggi ialah semakin meluas dan beraneka ragam bahan-bahannya lebih yang menonjol pada upaya pendalaman, ke arah kesadaran hati nurani yang memberikan peran rasio secara lebih mantap.
Dengan demikian maka pendidikan Islam pada tingkat tinggi tetap terpelihara pada prinsip keseimbangan dan kesatuan watak asli yang Islam. Dalam kaitan ini pertumbuhan akal akan menentukan pertumbugan rohaniah.
Pendidikan Islam unggul dengan prinsip-prinsip yang sesuai dengan kemanusiaan yang hebat, yang dapat merealisasikan ketentraman hidup seluruh uman manusia dan dapat memelihara perdamaian dunia, karena pendidikan akan dapat mengintegrasikan antara pertumbuhan akal dan rohaniah yang kedua-duanya berjalan searah dalam waktu bersamaan
f) Kurikulum pendidikan tinggi Islam keberadaannya bergantung pada lingkungan sosial islami; yang perkembangannya sangat berkaitan dengan kebutuhan masyarakat. Tuntutan inilah yang di kehendaki oleh pendidikan modern untuk diaplikasikan di dalam kurikulum-kurikulum berikutnya. Lingkungan masyarakat merupakan faktor yang menjadi asas-asas dari tujuan pendidikan secara integral.
BAB VI
ALIRAN AL-QABISI DALAM PENDIDIKAN

Al-Qabisi adalah salah seorang tokoh ulama ahli hadis dan seorang pendidik yang ahli, yang hidup pada 324-403 H. di kota Qaeruan, Tunisia. Kehidupan Al-Qabisi, Karel Brockelman menyatakan bahwa menurut Ibnu Khalikan dan As-Susyuti dalam kitab “Thabaqat al-Huffaz”, juga mengutip dari Ibnu ‘Ammad dalam kitabnya “Syadzarat al-Dzahab”, menyatakan :” Nama lengkap Al-Qabisi itu adalah Abu Hasan Ali bin Mohammad bin Khalaf Al-Qabisi, lahir Rajab, 224 H. atau 13 Mei 1936 M. di kota Qaeruan. Ia pernah merantau ke negara-negara Timur pada 353 H. atau 963 M. selama 5 tahun, kemudian kembali ke negeri asalnya dan meninggal dunia pada tanggal 3 Rabiul Awal 403 H. atau tanggal 23 Oktober 1012 M.”
Al-Qadhi’iyah pernah mengatakan bahwa Abu Hasan ini bukanlah berasal dari kafilah Al-Qabisi, tetapi karena pamannya mengenakan surban ke kepalanya rapat-rapat yang bertentangan dengan kebiasaan orang Qabisi, maka ia diberi nama Al-Qabisi. Sebenarnya ia adalah penduduk Qaeruan. Pendapat ini sesuai dengan keterangan As-Shafdi yang menyatakan bahwa nama Al-Qabisi itu diberikan kepadanya karena pamannya mengenakan surban terlalu ketat dikepalanya.
Dengan tanpa memperhatikan apakah ia bersuku Qabisi atau pun Qaeruan, yang jelas bahwa ia dikenal sebagai orang yang tinggal hidup di Qaeruan. Dan ia pernah pergi haji ke tanah suci lalu kembali pulang ke negerinya. Dia juga pernah tinggal di Mesir beberapa waktu lamanya, dan bergurau pada salah seorang ulama di Iskandariyah. Dia memperdalam ilmu agama, dan Al-Hadis dari ulama-ulama terkenal di Afrika Utara, seperti Abul Abbas Al-Ibyani dan Abul Hasan bin Masrur Ad-Dibaghi, dan Abu Abdillah bin Masrur Al-Assali dan sebagainya.
Para pengamat aliran Al-Qabisi sepakat bahwa ia adalah ulama yang hafal hadis yang terkemuka dalam ilmu ini, dan ‘alim dalam matan-matan dan sanad-sanad Al-Hadis sehingga dikenal sebagai ulama yang saleh, taqwa dan wira’i.
Ia mengintegrasikan antara ilmu dan ibadah, yang takut kepada Allah, berbudi halus, bersih jiwanya dan pecinta orang fakir. Pada zamannya ia terkenal sebagai ulama yang menonjol, dimana dia gemar berpuasa, sembahyang tahajjud waktu malam, berwatak qana’ah (menerima apa adanya), berhati halu terhadap orang-orang menderita musibah dan ia sendiri tahan / sabar tergadap segala penyakit yang menimpa dirinya.
Pada waktu ia tinggal di Qaeruan, mazhab Maliki berkembang pesat di wilayah Afrika Utara, maka dari itu al-Qabisi belajar kepada guru-guru yang bermazhab Maliki, sampai ia menjadi orang yang ahli fiqi, ahli hadis bermazhab Maliki ini, dan salah satu karya tulisnya yang berkaitan dengan topik yang kita bahas di sini adalah kitab “Ahwalul al-Muta’allimin wa ahkam Al-Mu’allimin wal Muta’alimin”.
Dengan hubungannya dengan nama kitab tersebut, Dr. Al-Ahwani membenarkannya, bahwa kitab ini adalah merupakan rincian perilaku murid dan hukum-hukum yang mengatur para guru dan murid, “maka jelaslah bahwa dengan menyebutkan nama kitab tersebut, memburktikan bahwa kitab tersebut merupakan salah satu kitab terkenal di bidang ilmu pendidikan Islam pada abad 4 dan sesudahnya.
Usia Al-Qabisi 80 tahun ia wafat pada tahun 403 H di kota Qaeruan.
1. Kondisi lingkungan dan Perkembangan Ilmiah pada Masa Al-Qabisi
Al-Qabisi adalah merupakan cermin yang tepat bagi masanya. Ia menjadi seorang ahli hadis di mana pengaruhnya besar sekali dalam lingkungan kehidupan masyarakat Islam yang utuh. Seorang yang ‘alim berbeda pengaruhnya terhadap lingkungannya daripada seorang Bidayawan. Seorang ahli budaya lebih besar pengaruhnya kepada lingkungannya, apabila orang yang ‘alim hanya mengikuti mazhab tertentu dalam pendidikan dan pengajaran.
Idealnya bagi seorang ulama dalam bidang pendidikan harus banyak mengintegrasikan antara ilmu dan sastra budaya.
Al-Qabisi, meskipun menganut mazhab tertentu namun ia besar pengaruhnya kepada lingkungan masyarakatnya. Pada masa itu ada dua mazhab yang berpengaruh terhadap cara berfikir Islam terutama setelah kaum muslimin menetap benar-benar di negara-negara Maghribi atau Afrika Utara, dengan kota Qaeruan menjadi pusat perkembangan ilmu di wilayah itu.
Masyarakat Afrika Utara pada umumnya menganut mazhab Maliki, karena mazhab ini berkembang pesat sekali, disamping itu pendapat mazhab Maliki cukup cocok di daerah itu; sehingga akar-akar mazhab ini menancap kuat di bumi Maghribi dan mempunyai cabang-cabang yang subur pada pertengahan abad 3 H. orang Arab Afrika ini benar-benar telah menemukan mazhab yang cocok dengan pola pikir mereka, sehingga mereka berpegang kuat-kuat pada nas-nas agama dan tidak ingin melanggarnya.
Dengan sikap demikian, mereka lebih dekat dengan langkah-langkah para ulama fiqih yang ahli hadis, dan mazhab ini sebanding dengan mazhab dari para ahli pikir dan qiyas. Ibnu Qutaibah menyatakan dalam kitabnya “Kitab al-Ma’arif”, bahwa pada abad pertama Hijriyah, tidak ada seorang pun di kalangan kaum muslimin yang berbeda pendapat tentanh hukum-hukum mu’amalah dan ibadah, karena terjauhnya dari kebudayaan dan sederhananya kehidupan. Sebagaimana pandangan orang Arab bahwa pada masa itu mengenai masalah ibadat tidak banyak terjadi perbedaan, yang terjdi karena dekatnya masa hidup Nabi, karena pada itu ucapan Rasulullah saw para sahabat Nabi yang berilmu dapat mendengar langsung dari mereka sendiri menyaksikan sendiri atas perbuatan Rasul dalam kaitannya dengan berbagai masalah. Mereka merasakan pengaruh dan pola hidupnya Rasul yang telah diperlihatkan sebagai suatu pola hidup muslim yang paripurna.
Akan tetapi setelah kaum muslimin terpengaruh oleh kebudayaan dan berbagai macam tuntutan hidupnya, maka muncullah berbagai macam cara pergaulan (mua’amalat) atau hubungan dengan orang lain, yang tak pernah dikenal pada zaman Nabi. Pemimpin umat berusaha keras untuk mengendalikan hukum kepada sumber asli syari’ah yang sejalan dengan agama di mana petunjuk Rasulullah saw telah mereka terima dalam kehidupan mereka.
Usaha demikian itu kita sebut ijtihad : berusaha menggali hukum-hukum yang baru berdasarkan analisis pikiran, dan pada ahli yang melakukan ijtihad ini disebut dengan “Al-Mujtahidin”.
Dalam kitab “Al-Milal wan-Nihal” karya Al-Syahrastani disebutkan : para mujtahidin dari tokoh-tokoh umat Islam dapat dibagi menjadi dua macam kategori yakni : a) Para ahli hadis dan Fiqh b). Para ahli ra’yu (ahli pikir analitis).
Diantara ahli hadis dapat disebut pengikut : ahlu Hijaz yang terdiri dari pengikut Malik bin Anas, dan Mohammad bin Idris Ad-Syafi’I, Sufyan As-Tsuri, Ahmad bin Hambal, Daud bin Ali bin Mohammad Al-Asfahani. Mereka itulah yang disebut ahli hadits, karena ketentuan mereka mengkaji hadis-hadis dan menukil berita-berita serta membina hukum-hukum berdasarkan nas-nas Al-Qur’an. Mereka tidak memakai qiyas jaly atau pun khuffy (qiyas yang jelas dan yang samar-samar) pada waktu menerima berita ataupun riwayat-riwayat.
Iman As-Syafi’I berkata :”Jika kamu menemukan dalam mazhabku suatu paham dan menemukan berita yang bertentangan dengan mazhabku, maka ketahuilah bahwa mazhabku itu adalah suatu berita saja, artinya kalau pendapatku itu sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits maka dapat diikuti, namun kalau pendapatku bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits hendaknya tinggalkanlah.” Di antara pengikut-pengikutnya ialah Abu Ibrahim isma’il bin Yahya al-Mazani, Ar-Rabi’ bin Sulaeman Al-Jozi, mereka hanya melaksanakan sesuai dengan tujuan dan istimbatnya, mereka hanya menjadikan sumber pegangan secara umum, serta tidak sedikitpun mereka berpendapat lain yang berbeda dengannya.
Adapun golongan ahli ra’yi adalah para ulama Iraq, pengikut mazhab Hanafi an-Nukmani. Mereka disebut ahli ra’yi karena menitikberatkan cara pengambilan keputusan hukum berdasarkan pada qiyas dan istimbat serta hadis-hadis dikembangkan berdasarkan qiyas dan istimbat ini. Mereka mempergunakan qiyas jaly terhadap hadis ahad. Dalam hubungan ini Abu Hanifah menyatakan : “Ilmu kita ialah ra’yu, artinya merupakan pendapat kita yang paling baik terhadap sesuatu hal, dan barangsiapa mempunyai pendapat lain maka itu pendapat dia, bagi kami adalah pendapat kami tentang sesuatu itu. Mereka mungkin menambahkan ijtihadnya dengan suatu ijtihad lain yang berbeda hukum yang ijtihadkannya atas pendpatnya. “ diantara golongan ini dalam hal furu’iyah banyak berbeda pendapat, yang telah mereka seleksi dan elah didiskusikan secara matang sehingga sampai pada paham yang dianggap benar.
Telah dibahas terdahulu bahwa As-Syahratsani pengarang kitab “Al-Milal wan Nihali” membatasi dua golongan mazhab saja yakni Ahli hadis dan fiqih di satu pihak dan hali ra’yi dan qiyas dilain pihak. Kedua golongan ini berpegang pada kitab suci Al-Qur’an sebagai sumber asli yang pertama bagi fiqih Islam. Tentang sumber asli ini kedua golongan tidak berbeda pendapat, karena Al-Qur’an yang diwahyukan Rasulullah adalah merupakan maraji’ (sumber referensi) dan tempat kembalinya segala pertikaian pendapat.
Adapun Sunnah Rasul adalah terdiri dari hadis-hadis Rasulullah saw terdiri dari : sabda-sabda dan perbuatannya. Diantara keduanya terjadilah perbedaan tentang masalah keabsahan riwayat hadis. Para ahli ra’yi tidak terlalu mempercayai hadis disebabkan karena diperbolehkannya meriwayatkan hadis dengan makna saja, yang banyak menimbulkan perbedaan dalam mengambil istimbat hukum.
Sedangkan para ahli hadis pengikut Imam Malik, mempercayai kebenaran hadis dan tak akan meninggalkan untuk mendapatkan yang lainnya. Bagi mereka Al-Qur’an adalah sumber perama, kemudian Sunnah Nabi untuk diambil in’tibar dan perkiraan.
Sunnah Nabi sebenarnya merupakan sumber penjelasan yang menginterprestasikan terhadap perundangan yang ada di dalam ayat suci Al-Qur’an.
Jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya mazhab Maliki telah tersebar luas dikawasan sebelah utara benua Afrika. Dengan demikian maka penduduk negara-negara Islam di kawasan tersebut terdiri dari penganut mazhab Maliki dalam fiqih dan hadits, mazhab ini yang akhitnya berpengaruh terhadap aliran al-Qabisi yang mereka pilih untuk diikuti, dan disebarkan di kawasan Afrika Utara ini.
Ketika aliran paham pendidikan berlawanan dengan aliran paham filsafat, akal dan agama yang dikuiti oleh para pemimpin umat dan filosof saat itu, maka mazhab Al-Qabisi dalam paham pendidikan menjadi cermin yang terpercaya dari kehidupan lingkungan sekitar dengan menunjukkan jalan yang jelas tentang dasar-dasar yang dipedomaninya pada zamannya diwilayah Afrika Utara.
2. Kurikulum Menurut Mazhab Al-Qabisi dan Pengaruhnya Terhadap Mazhab Agama.
Al-Qabisi sebagai ahli fiqih dan hadis mempunyai pendapat tentang pendidikan yaitu mengenai pengajaran anak-anak di kuttab-kuttab. Barangkali pendapatnya tentang pendidikan anak-anak ini merupakan tiang yang pertama dalam pendidikan Islam dan juga bagi pendidikan umat yang lainnya. Dengan lebih memperhatikan dan lebih menekuni, maka mengajar anak-anak sebagai tuntunan bangsa adalah merupakan tiangnya bangsa itu yang harus dilaksankan dengan penuh kesungguhan dan ketekunan ibarat seperti membangun piramida pendidikan (institusi pendidikan, pen). Berdasarkan fondasi yang kokoh dan kuat, oleh karena itu ia tidak menjelaskan kepada kita dalam kitabnya “Al-Mufasshalat” tentang metoda pengajaran yang lain, hanya mencukupkan dengan metoda pengajaran yang penting-penting.
Al-Qabisi tidak menentukan usia tertentu untuk menyekolahkan anak di lembaga Al-Kuttab. Oleh karena pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tuanya semenjak mulai anak dapat berbicara fasih yakni pada usia mukallaf yang wajib diajar bersembahyang (menurut hadis Nabi). Rasulullah saw bersabda :” Perintahlah anak-anak kalian untuk mengerjakan sholat pada waktu usia tujuh tahun dan pukullah mereka pada waktu usia sepuluh tahun.” Dari sabda Nabi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam dimulai pertama-tama di rumah. Pendidikan anak di lembaga Al-Kuttanb hanyalah kelanjutan daripada tugas pendidikan yang wajib ditunaikan oleh kedua orang tua di rumah.
Anak-anak yang belajar di kuttab mula-mula diajar menghafal Al-Qur’an, lalu diajar menulis, dan pada waktu dzuhur mereka puang ke rumah masing-masing untuk makan siang, kemudian kembali lagi ke kuttab untuk belajar lagi sampai sore.
Anak-anak yang belajar di kuttab berlangsung sampai akl baligh, yang mempelajari berbagai ilmu seperti Al-Qur’an, tulis menulis, nahwu dan bahasa Arab, juga seringkali belajar ilmu hitung dan syair serta kisah-kiah Arab.
Akan tetapi yang terpenting adalah mempelajari Al-Qur’an yang dimulai dengan menghafal secara individual ataupun kelompok dimana guru membaca berulang kali ayat-ayat pada langkah pertamanya, kemudian anak-anak membacanya beruang-ulang mengikuti gurunya. Masing-masing anak diberi batu tulis untuk menuliskan apa yang telah dihafal setiap harinya. Dengan cara ini jelaslah bahwa kemampuan menulis dan membaca menjadi syarat mutlak untuk memahami Al-Qur’an. Kemudian anak diharuskan menunjukkan apa yang ditulis di dalam batu tulisanya pada hari berikutnya, lalu apa yang dituliskan di batu tulis (pada hari kemarin) dihapus untuk ditulisi lagi dengan ayat-ayat berikutnya pada hari selanjutnya.
Metoda pengajaran dengan mengerjakan tugas berulang kali demikian disertai dengan hafalan, tolong menolong antara satu dengan yang lain untuk memantapkan hafalan, antara lain dengan menggerakkan tangan untuk menuliskan apa yang dihafal, memfungsikan mata untuk mengamati dan membaca, serta penggunaan daya menghafal dan mengingat, kemudian anak disuruh menunjukkan hasilnya dihadapan guru. Jika anak berbuat kesalahan tulisan atau lalai tidak menghafal atau karena pergi bermain-main, maka guru memberi hukuman kepadanya. Metoda ini sangat efektif kita jalankan sebagai metoda modern.
Mula-mula anak diberi nasihat, lalu diasingkan dan diberi peringatan keras lalu diberi pukulan, sebagai hukuman tahap akhir, jika dengan melalui nasihat, petunjuk dan peringatan tidak mempan, maka perlu diberi hukuman yang setimpal sebagai ujian bagi mereka, pada waktu anak dapat menyelesaikan tugas menhafalkan Al-Qur’an dengan sukses sepanjang tahun menekuninya sampai khatam, maka guru hendaknya dapat memberikan hadiah penghargaan dan pujian untuk mereka. Setelah selesai menghafalkan Al-Qur’an diberi pelajaran tambahan yang meliputi tahap ketrampilan seperti industri rumah dan perdagangan (berdagang) untuk mencari nahfkah hidupnya, dan lain sebagainya dari bidang-bidang ketrampilan, atau merea tetap belajar ditingkat yang lebih tinggi.
Lingkungan sosial pada zaman Al-Qabisi adalah lingkungan religius yang bersih. Karena tinjauan kurikulum pengajaran dari sudut keagamaan memang sesuai dengan kurikulum yang dituntut oleh para ahli agama. Karena ciri khas kurikulum yang baik adalah jika tidak keluar dari tuntutan lingkungan masyarakat. Di antara pendapat Al-Qabisi ialah bahwa agama itu mempersiapkan anak untuk kehidupan yang seba baik, dan baginya kurikulum pendidikan dapat dibagi menjadi dua kategori yakni kurikulum Ijbari (wajib) da kurikulum ichtiyari (tidak wajib) sebagai berikut :
a. Kurikulum Ilbari (wajib)
Kurikulum yang terdiri daripada kandungan ayat-ayat Al-Qur’an seperti sembahyang dan do’a-do’a. sebagian para ahli mengatakan bahwa ilmu nahwu dan bahasa Arab, keduanya merupakan persyaratan mutlak memantapkan baca Al-Qur’an, tilawah, menulis dan hapalan.
b. Kurikulum Ikhtiyari (tidak wajib)
Kurikulum ini berisi ilmu hitung, dan seluruh ilmu nahwu, bahasa Arab, syair, kisah-kisah Arab.
Menurut pandangan Ibnu Khaldun bahwa kurikulum yang berkembang dikawasan Afrika Utara dan di negara Islam lain, mengalami perbedaan karena perbedaan geografis, yang kadang-kadang berkisar pada permasalahan bentuk dan sistemnya.
Metoda yang pertama diatas jika ditinjau dari segi pendidikan modern adalah lebih baik dan berdaya guna, karena seluruh kawasan negara Islam dengan tanpa syarat menyetujui cara mendidik dengan mendahulukan pengajaran Al-Qur’an beserta dengan keharusan mengajarkan baca tulis, nahwu dan bahasa Arab.
Jika memperbandingkan kurikulum yang ditetapkan untuk Al-Kuttab pada abad ketiga Hijriyah dengan yang diajarkan di Al-Kuttab pada abad-abad kemudian, maka tidak menemukan adanya perbedaan, esensi keberhasilannya terletak pada sikap taat dengan taklid (mengikuti tanpa kritik) dan semangat melestarikan peninggalan dari pendahulunya; Al-Hafiz bin Rajab Al-baghdadi, pada abad ke 8 memberikan gambaran tentang kurikulum itu sebagai berikut : “Ilmu yang diandang bermanfaat dari ilmu-ilmu yang ada, diukur atas dasar nas-nas dari kitab suci dan sunnah Nabi, beserta pemahaman pengertian yang dikaitkan kepada riwayat para sahabat dan tabiin tentang pengertian dari kedua sumber tersebut beserta ketetapan hukum-hukum halal dan haram, zuhud dan berbudi halus, serta bijaksana dan sebagainya.”
Al-Qabisi tidak mau menerima prilaku yang merendahkan Al-Qur’an dan ia mohon perlindungan kepada Tuhan dari perilaku seperti itu, Al-Qabisi memberikan garis agar orang Islam meninggalkan jauh perilaku yang hina, karena jika sampai terjadi penghinaan terhadap Al-Qur’an maka pasti terjadi kerusakan yang merajalela. Allah akan mencabut al-qur’an dari lubuk hati kaum muslimin apabila mereka tidak menghina dan menginjak-injak Al-Qur’an.
Adapun kondisi lingkungan hidup sosial-budaya pada masa Al-Qur’an adalah bersifat keagamaan yang mantap sehingga tidak memungkinkan timbulnya faham atheisme atau materialisme (seperti sekarang yang kita saksikan. Maka dari iu Al-Qur’an dan sholat beserta segenap ilmu yang berkaitan dengan pemahamannya dikenal oleh setiap orang Islam, mulai dari usaha memotivasi sampai kegiatan mempelajari ilmu-ilmu itu.
Al-Qabisi memperkuat dan mengabadikan sistem yang sedemikian itu karena menjadi gambaran yang benar dari semangat zamannya.
Al-Qabisi bersama-sama ulama ahli fiqih dan ahli hadits pada maa itu telah berusaha menerangkan kepada kita sikap / pandangan mereka tentang kurikulum ijbary (wajib) yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah dan menjadi sumber hukum dan tasyri’. Ia menjadi referensi (tempat kembali) kaum muslimin dalam masalah ibadat dan mu’amalat. Allah mendorong semangat untuk beribadah dengan membaca Al-Qur’an sebagai berikut :
•                
“Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah dan mendirikan sembahyang dan membelanjakan hartanya ke jalan Allah setengah dari apa yang kami rezekikan kepada mereka baik dengan cara diam-diam (rahasia) maupun dengan cara terang-terangan mereka mengharapkan usaha dangannnya tidak menderita kerugian.” (Fathir : 29).
Firman Allah di atas menetapkan bahwa Al-Qur’an telah memerintahkan agar tilawah, mendirikan sholat, berbuat ihsan, dilakukan bersamaan, tidak terpisah satu sama lain.
Maka dari itu sembahyang adalah merupakan rukun poko dari semua rukun agama dan di dalam bersembahyang harus dibaca beberapa ayat al-Qur’an. Itulah sebabnya mengerti dan memahami Al-Qur’an merupakan persyaratan untuk melaksanakan kewajiban sembahyang lima waktu. Di samping itu dalam Al-Qur’an terdapat banyak fadhilah yang tak boleh dijauhi seperti Rasulullah saw telah memerintahkan agar kita mempelajari Al-Qur’an dengan segala seluk-beluk sebagaimana sabda beliau : “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an beserta ilmunya.”
Al-Qabisi sebagai ahli fiqih dan hadis memandang bahwa lebih baik diajarkan Al-Qur’an lebih dahulu pada anak sejak dini. Sedang ada pendapat lain dikalangan ahli pendidikan Islam yang berbeda pendapat pendapat dalam hal mendahulukan pengajaran Al-Qur’an kepada anak usia dini, misalnya Abu Bakar bin Al-Arabi. Dia berpendapat bahwa.” Hendaknya kita mengajarkan anak usia dini dengan syair dan bahasa Arab serta ilmu berhitung.” Walau demikian Ibnu Khaldun menyetujui pandangan ini, kecuali bila hal itu tidak mendatangkan keselamatan, maka pengajaran al-Qur’an harus didahulukan.
Al-Qabisi mensyaratkan pengajaran Al-Qur’an dengan tartil baik dan tajwidnya, waqaf yang tepat, mengambil contoh dari pembaca yang bagus. Ia memberi nasihat agar bacaannya bermanfaat di waktu mengerjakan sembahyang fardlu bagi seluruh kaum muslimin, demikian juga kewajiban mengajarkan anak sembahyang kepada anak usia tujuh tahun, jika anak tidak mau sembahyang pada usia sepuluh tahun, ia harus dipukul dan sebagainya.
Al-Qabisi tidak mentolerir anak yang tinggal sembahyang, karena tinggal sembahyang merupakan batas yang memisahkan antara kekufuran dan ke-Islaman, ia mengajak agar mendalami makna do’a dalam sembahyang.
(Hanya kepada-Mu-lah kami beribadah (menyembah) dan hanya kepadaMu jualah kami memohon pertolongan)
Kita melihat bahwa dengan mengintegrasikan antara kewajiban mempelajari Al-Qur’an dengan sembahyang dan berdo’a, berarti kita mengintegrasikan antara hakikat berfikir, merasa dan berbuat (beramal). Pandangan ini sesuai dengan ilmu jiwa yang diterapkan oleh Al-Qabisi ke dalam tiga prinsip yang logis yaitu : 1) Menumpahkan perhatian kepada pengajaran Al-Qur’an, karena ia adalah jalan yang ditempuh untuk menambah makrifat kepada Allah serta mendekatkan kepadaNya. 2) Pentingnya mengetahui ilmu nahwu (grammar) bagi anak agar dapat memahami kitab suc i Al-Qur’an secara benar.
3. Mengajarkan bahasa Arab sebagai alat memahami makna ayat Al-Qur’an beserta huruf hijaiyahnya agar anak dapat menuliskan ayat-ayatnya dan mengucapkannya dengan benar.
Dilihat dari segi praktisnya maka tidak diragukan lagi bahwa ikrab membantu menganalisa pengertian sedangkan nahwu, bahasa, chatt, menjadi penguat halafan dan memperbagus tilawah serta penguasaan pengertian yang selengkapnya.
Al-Qabisi mengutip pendapat Ibnu Sachnun bahwa sebaiknya kita mengajar anak-anak bagaimana menginkrabkan Al-Qur’an, anak harus dibiasakan dengan menaruh syakal, menghafalkan alfabet Arab, dan belajar tulisan indah.
Di kalangan negara Maghribi telah dikenal sebagai negara yang lebih banyak perhatiannya kepada tulisan chatt indah yang dipandangnya sebagai suatu seni indah sehingga dinding-dinding masjid dihiasi dengan tulisan chatt ayat-ayat Al-Qur’an yang indah yang mengekspresikan ketinggian perasaan ke dalam lukisan, dan daya cipta dalam seni dekorasi yang tinggi. Oleh karena itu maka masalah ketrampilan menulis chatt yang indah itu ditempatkan pada posisi resmi dalam kurikulum kuttab-kuttab yang islamiyah.
Dalam kurikulum Al-Ijbari menurut pandangan Al-Qabisi, bahan pelajaran yang wajib terdiri dari : Al-Qur’an al-Karim, sholat, do’a-do’a, menulis dan nahwu, dan sebagian bahasa Arab, karena ilmu-ilmu ini mendidik budi pekerti anak-mencintai agama serta mengajar anak hidup di jalan yang terpuji.
- Ilmu-ilmu yang ditetapkan dalam kurikulum ichtiyar (tidak wajib dipelajari)
Uraian tentang kurikulum menurut pandangan Al-Qabisi yang telah disebabkan terdahulu adalah untuk jenjang pendidikan dasar atau pradasar yakni Al-Kuttab, sesuai dengan jenjang yang dikenal pada masa itu. Sekarang kurikulum tersebut dipakai di jenjang pendidikan dasar (ibtidai).
Ilmu-ilmu yang ichtyaru (selektif) pada jenjang pendidikan dasar ini terdiri dari ilmu hitung, syair, sejarah dan kisah-kisah bangsa Arab, (sejarah Islam), ilmu nahwu (grammar) dan bahasa Arab lengkap, dan ilmu yang menelaskan tentang perbedaan antara ilmu-ilmu ichtiyari ini dengan ilmu-ilmu ijbary dari segi jarak jauh-dekatnya untuk pembinaan rasa keagamaan yang kuat, yang mana ilmu-ilmu ijbaryah lebih dekat jaraknya dengan pembinaan keagamaan.
Kita perlu mengingat benar bahwa kurikulum itu harus tunduk kepada tujuan pendidikan pada zamannya dan memenuhi tuntutan masyarakatnya, juga harus sesuai dengan jenjang-jenjang pendidikan, mengikuti politik pendidikan yang telah digariskan oleh pemerintah zamannya
Al-Qabisi menghendaki agar pendidikan dan pengajaran dapat menumbuh-kembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar. Untuk itu maka kurikulum harus mampu merealisasikan yang disesuaikan dengan kemampuan anak dari masa ke masa (yag tidak lain adalah kurikulum yang bercorak ijbariyah dan ictiariyah itu). Dan setelah anak menyelesaikan studi sesuai dengan kurikulum tersebut hendaknya diajarkan dengan pelajaran ketrampilan yang berproduksi atau keterampilan bekerja agar mampu membiayai hidupnya.
Jadi dengan demikian, menurut pandangan al-Qabisi bahwa memberikan pelajaran keterampilan kerja untuk mencari nafkah hidupnya sesudah selesainya tiap jenjang pendidikan yang ditempuhnya dengan dasar pengetahuan Al-Qur’an, sembahyang dan do’a yang kokoh kuat, benar-benar merupakan suatu pandangan yang menyatukan antara tujuan pendidikan keagamaan dengan tujuan pragmatis. Pada hakikatnya pendidikan ketrampilan kerja setelah memperoleh pendidikan agama dan akhlak, akan menolong anak itu trampil bekerja, menari nafkah dengan didasari rasa takut kepada Allah (dalam bekerja)
Sebagian ulama ahli fiqih menentang pelajaran berhitung, akan tetapi ada beberapa diantara yang memberi hukum fardlu kifayah dengan alasan bahwa berhitung merupakan persyaratan untuk mendapatkan kemanfaatan dalam mu’amalah dan dalam pembagian harta warisan (faroidh) dan sebagainya. Menurut pendapat para ahli pendidikan, berhitung itu memberikan faedah praktis dalam kehidupan manusia, oleh karena itu harus diajarkan kepada anak sebagai latihan berfikir yang benar.
Manurut pendapat Al-Gazzaly, pengajaran berhitung itu dapat merealisasikan kemaslahatan agama, karena itu harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan anak-anak. Al-Djahiz memandang pentingnya ilmu hitung dan kegunaannya disamakan dengan kata-kata dalam sebuah kontrak (perjanjian) yang essensinya bukan terletak dalam lafadh atau tulisannya, (tetapi dalam hitungan).
Dalil yang menunjukkan bahwa ilmu hitung itu penting dan banyak faedahnya, serta tinggi kadar kemanfaatannya ialah berdasarkan firman Allah sebagai berikut :
                         
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya terang dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu) ……..” (Yunus,5)
Dalam ilmu hitung itu terkandung makna besar dan kemanfaatan yang tinggi maka dengan mengetahui hitungan dan sebagainya orang akan mendapatkan kemudahan dalam perkiraan.
Al-Qabisi menyetujui pengajaran berhitung itu tidaklah bersifat multak, karena hal itu disesuaikan dengan kemanfaatannya bagi masyarakat, atau sejauh mana imu hitung itu diajarkan untuk mempertinggi kehidupan beragama. Ia menyatakan bahwa mengajarkan berhitung kepada mereka bukanlah suatu yang wajib kecuali bila guru mempersyaratkannya.
Sebaiknya mengajarkan berhitung itu didasarkan atas izin orang tua anak, sehingga persetujuan orang tua menjadi persyaratan bagi pengajaran berhitung itu. Dengan demikian maka jelaslah bahwa pengajaran berhitung tersebut tidak terlepas dari pendapat orang-orang tua mereka.
Al-Qabisi dalam pengajaran syair tidak menentang, karena didasarkan atas sebuah hadis Nabi yang menyatakan bahwa syair itu merupakan kalimat (perkataan) ia menjadi baik jika yang mempergunakan itu baik, dan menjadi jelek jika orang yang mengucapkannya itu buruk. Kemudian dikuatkan lagi pendapatnya itu dalam kitab Risalah Muffasshalah bahwa syair itu dapat meluruskan lisan, dan membuat orang fasih dalam berkata, serta menghaluskan hatinya dalam suatu waktu tertentu dan akan dapat memperoleh kesaksian terhadap apa yang ingin ia jelaskan.
Ketika banyak orang mengkritik Al-Qabisi bahwa ia tidak memperhatikan masalah pendidikan kesenian, maka ia menjawab bahwa pelajaran syair itu sesungguhnya adalah pndidikan seni keindahan, yang jika diajarkan maka tidaklah hilang seni tersebut. Pelajaran ini dikaitkan dengan pelajaran khatt (tulisan indah) yang merupakan seni keindahan luas di wilayah negara maghribi. Khatt adalah juga termasuk pendidikan seni keindahan.
Tidak diragukan lagi bahwa pandangan tersebut diatas mendorong perhatian kita kepada pentingnya pendidikan seni keindahan itu yang tidak bertentangan dengan agma. Alasan ini sesuai dengan pendapat para ahli pendidikan modern yang menyatakan bahwa mendidik anak dengan seni-budaya membuat mereka dapat mengetahui / mengenal kebaikan. Dan mengajarkan sejarah bangsa Arab tidak ada seorang pun yang melarang atau menentangnya, karena sejarah ini mengandung pengetahuan tentang tokoh-tokoh, pemimpin-pemimpin yang berjiwa pahlawan dan kesatria, yang bagi anak-anak dapat mendidik rasa mencintai kepahlawanan dan dapat mendorongnya ke arah berbuat baik seperti para pahlawan.
Maka dari itu jelaslah pendapat A-Qabisi tersebut bahwa ia memilih dengan teliti bahan-bahan kurikulum pendidikan anak-anak yang benar-benar sesuai dengan kemampuan mereka. Pandangan mazhab ahli sunnah tentang bahan-bahan kurikulum anak-anak selalu disesuaikan dengan kondisi anak tersebut. Oleh karena tujuan umum yang dipegangi oleh beliau adalah bertujuan mengembangkan kekuatan akhlaq anak, menumbuhkan rasa cinta agama, berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, serta berprilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama yang murni.
4. Kritik-Kritik Terhadap Kurikulum Al-Qabisi
Para ahli hadis dan fiqih dalam kaitannya dengan pandangan Al-Qabisi berpegang teguh pada nas, tidak mau menggunakan ra’yu (pikiran) yang tidak berdasarkan dalil yang jelas dari al-Qur’an dan Sunnah, atau dalil yang sesuai dengan amalah ahli Madinah. Oleh karena itu pendapat mereka hanya didasarkan pada nas dan tekstual, mereka juga tidak mau melakukan pembaharuan pemikiran dengan menggunakan ra’yu dan qiyas (sebagai metoda berfikir). Pandangan demikian menimbulkan kesimpulan bahwa kurikulum Al-Qabisi untuk mendidik anak adalah statis (jumud) tidak terbuka kepada perkembangan.
Secara pribadi Al-Qabisi tidak tercela karena keterbatasan berfikirnya karena kurikulum pengajaran yang telah diterangkan di atas, hanyalah merupakan gambaran yang sebenarnya dari apa yang berlaku pada masa itu. Ia merupakan respons terhadap tuntutan kebutuhan lingkungan dan kondisi masyarakatnya di mana saat itu pendapat-pendapat para ahli fiqih dan hadits berkembang luas, dimana segala keputusan hukum harus berdasarkan nas. Dengan demikian pendapat Al-Qabisi tersebut tidak dapat dipersalahkan pada abad ke-4 sesuai dengan standar kehidupan yang ada. Jika kita dibenarkan untuk mengkritik pendapat yang telah diajukan oleh Al-Qabisi di atas maka kita dapat mengemukakan kritikannya sebagai berikut :
1. Al-Qabisi mengabaikan segi kehidupan kejiwaan anak-anak; ia tidak memperhitungkan tentang kecenderungan mereka, dan tingkat-tingkat perkembangannya. Maka dari itu sikap demikian tidak sesuai dengan konsepsi pendidikan modern sekarang, yang menghargai kecenderungan dan dorongan-dorongan psikologis anak didik. Kecenderungan dan dorongan psikologis inilah yang dijadikan pertimbangan dalam penyusunan kurikulum pendidikan modern, sehingga kecenderungan yang berbeda-beda dan dorongan kegiatan mereka dapat digerakkan dan diarahkan melalui kurikulum itu.
Al-Qabisi mengeluarkan gagasan kurikulum seperti itu, karena tuntutan kebutuhan masyarakat tentang keputusan kurikulum yang harus disusun sesuai dengan zamannya itu. Pada masa hidup Al-Qabisi, para orang tua anak menghendaki agar anak mereka diajar Al-Qur’an, menghapalkannya dan diajarkan pula mengenai pengetahuan yang berkaitan dengan Al-Qur’an.
Ibnu Sina tentang masalah tersebut berpendapat : “Bilamana anak telah memiliki kemampuan berpikir analitis, dan lurus ucapan lisannya (bahasanya) dan siap untuk diajar, ajarlah dengan pelajaran Al-Qur’an, dan tunjukkanlah huruf hijaiyah, serta ajarlah ilmu-ilmu agama. Jika anak telah selesai belajar dan menghafal usul fiqih, amatilah mereka tentang apa yang sesuai dengan ketrampilan dan kemampuan mereka. Kemudian setelah itu mereka diarahkan ke jalan yang pasti.”
Ibnu Khaldun menceritakan tentang perjalanan hidupnya sendiri sebagai contoh, orang yang hafal Al-Qur’an, dan mampu mempelajari kesusastraan dan kebudayaan, padahal dia belum berusia 10 tahun. Hal ini sebagai bukti bawa filsafat pendidikan yang berkembang dikalangan kaum muslimin sama dengan pandangan ahli sunnah wal jama’ah tentang perlunya memberikan pelajaran permulaan dengan membaca Al-Qur’an disamping menulis dan membaca huruf Arab. Pendapat demikian berasal dari Abu Bakar Al-Arabi yang didukung oleh Ibnu Khaldun.
Pandangan yang lain ialah bahwa Al-Qur’an itu sendiri menguraikan tentang ilmu alam dan menganjurkan untuk mempelajarinya, serta mendorong manusia untuk mempergunakan akal pikiran terhadap keindahan ciptaan Allah di langit dan bumi. Dalam hubungan ini Dr. Al-Ahwani mempersoalkan alasan mengapa Al-Qabisi tidak manaruh perhatian terhadap ilmu-ilmu alam. Karena anak-anak Al-Kuttab tidak punya waktu yang cukup untuk mempelajari ilmu-ilmu ini. Seluruh waktu yang tersedia diserap oleh kegiatan menghapalkan Al-Qur’an, pelajaran menulis, ilmu nahwu dan bahasa (lebih-lebih lagi para ahli Fiqih sendiri memandang tidak penting ilmu-ilmu alam tersebut).
Jika dihubungkan dengan pendapat Dr. Al-Ahwani tersebut maka kemungkinan besar guru-guru di lembaga Al-Kuttab itu tidak mempunyai keahlian mengajarkan ilmu alam kepada murid-muridnya, dan nampakya hal itu di luar kemampuan mereka. Oleh karena itu mengajarkan ilmu alam ini tidak mudah bagi guru-guru meskipun Al-Qur’an mendorong untuk mempelajarinya.
2. Ada beberapa hal yang melemahkan pandangan Al-Qabisi yaitu tidak adanya konsep kurikulum tentang pendidikan jasmani, padahal umat Islam dianjurkan untuk mengajarkan jasmani tersebut, sebagaimana sabda Nabi yang memperingatkan,”Ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu adalah terletak paa membidiknya panah.” Dan menurut riwayat yang datang dari Umar, bahwa Nabi saw pernah bersabda :
“Ajarilah anak-anak kalian dengan berenang, memanah dan naik kuda”.
Dengan demikian maka kita tidak dapat menyalahkan sama sekali terhadap Al-Qabisi, karena Al-Kuttab pada masa itu tidak mungkin mengajarkan latihan jasmani kepada murid-muridnya disebabkan karena Al-Kuttab mengambil tempat di kamar-kamar yang berada disamping masjid-masjid atau di rumah-rumah biasa, yang tidak menyediakan ruangan untuk mengajarkan gerak badan atau latihan jasmani, memanah dan naik kuda.
Karena itu kita perlu menyadari bahwa pandangan Al-Qabisi tentang kurikulum yang kita kritik itu sesungguhnya hanya membahas tentang kurikulum pendidikan agama Islam, yang menegakkan pelajaran bersembahyang, berdo’a dan berbuat ihsan. Nas-nas agama telah menunjukkan bahwa jiwa manusia itu mempunyai dorongan ke arah nafsu amarah yang cenderung ke arah perbuatan keji. Itulah sebabnya maka situasi yang mendorong pelaksanaan pendidikan agama tidak ternilai harganya untuk menjaga atau mengendalikan kecenderungan dan dorongan-dorongan nafsu amarah tersebut, sedangkan nas-nas agama yang mengandung perintah dan pengarahan itu wajib kita hormati dan kita laksanakan sebaik mungkin.
a) Sistem Belajar di Yayasan Pendidikan Islami
Anak-anak belajar dengan kelompok di hadapan guru diwaktu ‘isya malam Rabu dan hari Kamis pagi sampai waktu mereka belajar menulis Al-Kuttab dan secara sadar mereka sampai waktu tengah hari, kemudian belajar lagi setelah sembahyang dzuhur ke Al-Kuttab sampai waktu Ashar, lalu belajar lagi pada hari Sabtu pagi kepada guru-guru mereka. Bagitu terus menerus sampai mereka memahami betul-betul tentang ajaran-ajaran Islam.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pembagian waktu kerja bagi guru dan waktu libur mingguan bagi murid-murid batul diatur secara sistematis dan progmatis, dalam hal ini Dr. Al-Ahwani berpendapat bahwa ilmu-ilmu yang diajarkan itu dibagi menurut urutan waktu sebagai berikut (time schedule) :
1. Mengajarkan Al-Qur’an terhadap anak-anak pada waktu pagi-pagi benar sampai waktu dhuha.
2. Anak-anak belajar menulis dari waktu dhuha sampai waktu dhuhur.
3. Kemudian anak-anak pulang ke rumah untuk makan siang, dan kembali lagi belajar setelah sembahyang dhuhur.
4. Ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu nahwu, bahasa Arab, syair-syair, sejarah hidup bangsa Arab (Islam) dan ilmu hitung diajarkan setelah waktu dhuhur sampai sore hari.
Langkah-langkah penting dalam menghapalkan Al-Qur’an dan belajar menulis ditetapkan berdasarkan pada pemilihan waktu-waktu yang terbaik yang dapat mendorong mereka meningkatkan kecerdasan akalnya, yaitu pada waktu pagi-pagi selama seminggu terus menerus dan baru beristirahat (libur) sejak waktu setelah dhuhur hari kamis sampai dengan hari jum’at. Kemudian belajar lagi pada hari sabtu pagi minggu berikutnya.
Al-Qabisi menganjurkan tentang kaharusan anak pulang ke rumah masing-masing di waktu siang hari untuk makan siang dan harus kembali ke Kuttab setelah sembahyang dhuhur tepat pada waktunya. Ketentuan demikian itu mengandung arti bahwa terdapat waktu-waktu istirahat antara dua waktu belajar dalam satu hari. Mengapa Al-Qabisi memperhatikan waktu istirahat; karena hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip ilmu pendidikan modern yang memberikan waktu istirahat sebagai waktu yang amat penting untuk menyegarkan kemampuan berfikir mereka.
b) Percampuran Antara Murid Laki-laki dan Perempuan (Co-Educational Classes).
Al-Qabisi tidak setuju bila murid laki-laki dicampur dengan murid perempuan dalam Al-Kuttab, sehingga anak itu harus tetap belajar sampai usia baligh (dewasa). Menurut pendapat Al-Qabisi bahwa tidak baik anak laki-laki bercampur dengan anak perempuan seusia di Al-Kuttab. Pendapat ini memang kuno yang dianggap kurang sesuai dengan zamannya. Namun jika kita kaji dan jelaskan dengan seksama maka sebenarnya pendapat kuno itu sesuai dengan garis ajaran agama kita, sebab anak yang berusia murahiqah (masa pubertas) tidak memiliki ketenangan jiwa dan timbul dorongan kuat untuk mempertahankan jenis kelaminnya hingga sampai waktu dewasa.
Sachnun, seorang ahli pendidikan Islam abad ke 3 Hijriyah berpendapat (yang juga dinukil oleh Al-Qabisi) bahwa :”Guru yang paling tidak disukai ialah guru yang mengajar anak-anak perempuan remaja, kemudian mereka bercampur dengan anak lelaki remaja, maka hal ini akan mendatangkan kerusakan terutama bagi anak perempuan remaja”.
Salah satu alasan mengapa Al-Qabisi berpegang teguh pada pendapatnya; karena ia khawatir kalau anak-anak itu sendiri menjadi rusak moralnya. Ia memperingatkan agar tidak mencampurkan anak kecil dengan remaja yang telah dewasa (sudah bermimpi caitus) kecuali bila anak remaja yang telah baligh tidak akan merusak anak kecil (belum dewasa).
Namun Al-Qabisi tidak menjelaskan pendapatnya tentang kerendahan derajat jenis kelamin. Ia memberikan arahan kepada guru tentang kebebasan melaksanakan pola berdasarkan kebijaksanaanya, dan sesuai dengan metoda yang ia gunakan dalam menangani pergaulan antara anak kecil dengan yang sudah baligh itu namun ditinjau dari segi lain apakah menimbulkan degradasi atau tidak. Jika tidak mengalami kerusakan moral maka percampuran itu tidak berlangsung di Al-Kuttab, maka keharusan mengajar anak perempuan sangat dianjurkan, karena anak perempuan harus mengerti agama dan pelaksanaan ibadah. Keadaan demikian itu juga termasuk tugas pendidikan di rumah-rumah (pendidikan keluarga).
Jelaslah pendapat Al-Qabisi bahwa sesungguhnya dorongan jiwa anak terhadap jenis kelamin lain dapat merubah sikap akhlak dan agamanya, sebab pemenuhan dorongan jenis kelamin merupakan tenaga yang kuat dalam jiwa remaja, bahkan mungkin menindas dorongan ini dengan menggunakan kekuatan dorongan yang lain dalam diri remaja (dapat juga dilakukan) akan tetapi ilmu jiwa pendidikan pada masa itu belum mencapai tingkat kemajuan seperti sekarang.
Ada permasalahan lain yang memberatkan Al-Qabisi yakni ia tidak mempunyai pandangan tentang bagaimana mengajar anak orang Kristen di Al-Kuttab yang memeluk Islam dan juga mengajar anak muslim di rumah-rumah orang Kristen.
Kita berbeda pendapat dengan Al-Qabisi yang mengatakan bahwa pada masa permulaan Islam timbul kesulitan sehingga anak-anak Kristen terpaksa belajar di Kuttab Islami yang sebenarnya memberi manfaat besar untuk merubah prilaku anak Kristen itu mengikuti prinsip-prinsip ajaran Islam yang serba halus dan bernilai tinggi.
Dalam hal ini kebanyakan para ahli pendidikan yang berjiwa Islam (muslim) tidak memperbolehkan orang Kristen mengajar aak-anak Islam tentang Al-Qur’an. Pendapat ini dapat diterima oleh akal, karena orang Kristen tidak menggali missi kerasulan Muhammad saw bagaimana mereka bisa mengajarkan kitab dakwah Islam yang mereka ingkari ini kepada anak-anak Islam. Al-Qabisi memperkuat pendapatnya dengan menyebutkan firman Allah dalam surat Al-Waqi’ah yang artinya sebagai berikut :
      •      
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia pada kitab yang terpelihara (lauhil Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”, (Al-Waqiah : 77-79)
Di antara alasan yang memperkuat pendapatnya ialah bahwa orang kafir itu adalah najis, sehingga mereka dilarang mengajarkan tulisan Arab dan huruf hijaiyah sampai mereka dilarang menyentuh Al-Qur’an. Para ulama ahli fiqih menyetujui kaidah fiqih ini dan memperkuatnya sesuai pendapat Al-Qabisi.
Sebaiknya kita tidak melupakan bahwa Rasulullah saw memperbolehkan orang musyrik mengajarkan membaca dan menulis kepada anak-anak di Madinah, tapi para ulama’ ahli fiqih melihat ‘llat (sebab-sebab) diperbolehkannya mereka mengajar hanya terbatas pada permulaan sejarah Islam saja, yang angat membutuhkan sekali pengajaran membaca dan menulis. Pemikiran tentang permulaan kapan harus mengajarkan Al-Qur’an tidaklah muncul dalam dunia pendidikan Islam.
Para ulama ahli fiqih berargumentasi antara lain Al-Qabisi sendiri bahwa golongan Yahudi dan Nasrani dan lain-lainnya telah masuk Islam dan mempelajari Al-Qur’an dan belajar menulis Arab, akan tetapi mereka dalam hati kecilnya tetap tidak terlepas dari agama mereka; oleh karena itu mereka diharuskan untuk memilih antara : berkeyakinan agama sendiri ataukah mereka harus mengajar anak-anak Islam, dan bila memilih mengajar, mereka harus berusaha merubah jiwanya sehingga bersih dari sikap munafik (ilhad). Hal demikian itu terjadi juga dalam periode pendidikan / pengajaran kita saat ini yang menjadi kebiasaan, bahkan kebiasaan orang yang non-Islam mengajar anak-anak Islam tentang tulisan chatt dan huruf hijaiyah pada jenjang pendidikan dasar (ibtidaiyah) terjadi juga, kenyataan demikian disebabkan karena untuk memudahkan dan karena sikap tasamuh (toleran) telah meluas begitu hebatnya di dalam masyarakat.
c) Metode Belajar yang Efektif
a. Menghafal dan melakukan latihan-latihan
b. Demonstrasi
Belajar dengan menghafal adalah cara pengajaran yang amat diperhatikan oleh pendidikan modern sekarang. Di antara ketetapannya adalah pemahaman terhadap pelajaran dengan baik akan mmbantu hapalan yang baik. Pendidikan modern sekarang ini menganjurkan agar mengajar anak dengan cara menghafalkan pelajaran agar mereka memahami maksudnya secara jelas.
Salah satu bukti yang jelas bahwa kurikulum di Al-Kuttab Islam berisi bahan-bahan ilmu pengetahuan yang wajib dihapal dan diingat. Di dalam Al-Kuttab itu hanya diajarkan ilmu-ilmu Al-Qur’an tulis menulis nahwu, bahasa Arab, syair, dan sejarah bangsa Arab (Islam) yang termasuk ilmu-ilmu lafdziyah. Ilmu-ilmu itu harus dibaca,dipahami dan diingat-ingat. Maka jelaslah bahwa kurikulum Al- Kuttab itu mementingkan penggunaan metoda hapalan. Karena menurut Al-Qabisi menghafal merupakan salah satu metoda yang paling baik dan sesuai dengan pendapat modern yang menyatakan bahwa metode hapalan didasarkan atas pengulangan, kecenderungan dan pemahaman terhadap bahan pelajaran.
Adapun pentingnya pengulangan itu didasarkan kepada sebuah hadis Nabi saw tentang menghapalkan Al-Qur’an, yang diumpamakan untuk yang diikat dengan tali, jika pemiliknya mengokohkan ikatannya, unta itu akan terikat erat, dan jika ia melepaskan tali ikatannya, maka ia akan pergi.” Jika orang yang hafal Al-Qur’an di waktu malam dan siang hari mengulanginya, maka ia akan mengingatnya, dan jika ia tidak pernah membacanya, maka ia akan melupakannya (hilang hapalannya).
Berkaitan denga hadits itu, Al-Qabisi menyatakan ; “sesungguhnya Rasulullah menjelaskan dalam hadisnya yang tersebut diatas tentang cara-cara mengingat yang dapat memantapkan hapalan Al-Qur’an, sehingga ia tak perlu belajar lagi secara berulang-ulang”.
Ucapan Al-Qabisi tersebut menunjukkan secara jelas tahap-tahap mengingat yaitu mula-mula menghapal, lalu memahami artinya, kemudian mengulangi lagi.
Adapun yang dimaksud dengan “kecenderungan” (al-mailu) di atas ialah rasa mencintai Al-Qur’anulkarim yakni anak tertarik kepada membacanya.
Menurut Al-Qabisi yang dimaksud dengan “pemahaman” (al-fahmu) diatas adalah tartil (mengerti bacaan) dalam membaca dan pemahamannya secara serius. Adapun pembacaan yang dengan cara tartil itu membantu kemampuan untuk merenungkan isi Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah.
Untuk memperjelas maksud kata”tartil” itu, setengah ulama menerangkannya sebagai berikut : dengan tartil berarti mendalami makna lafal, dan bentuk-bantuk huruf serta tidak menggabungkan antara huruf sah dengan huruf lainnya dan membaca Al-Qur’an sesuai dengan manazilnya (tempat urutannya). Maka jika ia membaca ayat yang mengandung ancaman, ia ucapkan dengan nada ancaman, dan jika membaca yang bernada mengagungkan,maka ia baca dengan lafal yang bernada mengagungkan.
As-Sayuti dalam kitabnya “Al-Itqan” menerangkan bahwa “bacaan tadabbur” (mengajak merenungkan) dan memahami adalah mengandung maksud yang besar dan tujuannya amat penting yakni memberikan dorongan hati untuk berfikir tentang arti yang terkandung dalam lafal yang dibaca, sehingga ia memahami ayat-ayat, dan merenungkannya perintah dan larangannya, lalu bertekad untuk melaksanakannya.
Sampai saat ini kita masih mempertanyakan, apakah anak-anak kita sekarang ini memahami makna Al-Qur’an, mengenai apa-apa yang diperintahkan dan yang dilarangnya; dan tentang janji dan sanksi-sanksi, do’a, permohonan, taawwudhz dan istighfar. Hal ini memang masih ada para ahli yang meragukan tentang kemampuan anak-anak dalam memahami Al-Qur’an, sebagaimana keraguan Abu Bakar terhadap hal ini, sehingga dari pandangan lain penegasan bahwa menghafal Al-Qur’an itu merupakan suatu keharusan.
Sebagaimana yang telah dijelaskan kepada kita sebelumnya bahwa Ibnu Khaldun memandang baik pendapat Ibnu Al-Arabi itu dan menyetujuinya, akan tetapi ia berpendapat bahwa hal itu tidak sesuai dengan kebiasaan, khususnya di negara Maghrabi, Penduduk Maghrabi tidak mendukung terhadap pendapat tersebut, karena sejak dahulu bangsa Arab Islam telah membiasakan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak sejak dini.
Al-Qabisi yang telah mengetahui pendapat Ibnu Khaldun sebelumya, bersikap teguh tentang perlunya mulai anak dididik dengan belajar Al-Qur’an, dengan pendapatnya : “Setengah dari pendapat tentang anak, hendaknya seorang guru tidak beralih dari suatu surat yang diajarkannya kepada surat lain sebelum ia menghapalkan dengan meng-irabkan dan menuliskannya.
Sudah pasti pekerjaan menghapal itu menuntut banyak kesibukan yang memerlukan kepada kekuatan menghapal yang memadai, akan tetapi Al-Qabisi, membebani anak menghapal Al-Qur’an melampaui kemampuannya yaitu menghapal harus disertai dengan meng-irabkannya dengan menuliskannya. Padahal semestinya untuk memudahkan mereka cukup dengan menuliskannya saja, sedangkan tentang meng-irabkan ayat-ayat adalah sulit, yang tidak akan mendorong anak bersemangat mempelajari Al-Qur’an lagi.
Jika memang cara-cara belajar yang menyusahkan itu berkembang pada masa itu, maka tak ada pilihan lain anak harus mengikutinya. Al-Qabisi mengatakan,”Hendaknya anak mendemonstrasikan hapalan ayat-ayat Al-Qur’an dari permulaan sampai akhir sesuai dengan norma-norma syakli’rab. Pemahaman dan kebagusan menuliskannya. Bila anak telah dapat mencapai tingkat ini maka ia menjadi orang yang beruntung dan memperoleh derajat cum-laude, tetapi jarang sekali anak-anak dapat mencapai tingkat excelence demikian”.
Kita sekarang beralih dari membahas tentang hapalan kepada masalah kemampuan memahami menurut pendidikan akal. Menurut al-Qabisi, pendidikan akal tidak terkecuali dari usaha menuntut ilmu, dari pada tahap pertamanya adalah mengingat-ingat secara verbalisme. Kebanyakan para ahli pendidikan memandang metoda hapalan dengan ingatan itu sebagai suatu yang bernilai baik, akan tetapi pada akhirnya tidak timbul keraguan lagi bahwa memperkuat ingatan (memory) dengan cara menghapal itu menjadi faktor yang amat penting, dengan dalil (bukti) bahwa jika tidak mempunyai ingatan, orang akan mengalami kekacauan hidup berpikir yang serius.
Kemampuan mengingat adalah merupakan persyaratan mutlak bagi para ahli ilmu pengetahua alam kimia, tumbuh-tumbuhan dan matematika, karena pekerjaan ilmiah itulah menurut mereka untuk menghafalkan rumus-rumus dan dalil-dalil atau asas-asasnya.
BAB XIII
PANDANGAN IBNU KHALDUN
TENTANG PENDIDIKAN
1. Tinjuan secara umum
a. Mengetahui teknik mengajar adalah suatu keharusan yang di terapkan dalam praktik
kependidikan , yang mencakup :
a) Mengaitkan antara medote dengan materi pelajaran .
b) Metode bukanlah bagian dari ilmu atau materi pelajaran yang telah di tetapkan .
c) Mempelajari kejiwaan anak dan tingkat- tingkat kematangan dan bakat- bakat anak .
Ibnu khaldun berpendapat bahwa tidak cukup seorang guru hanya membekali anak dengan ilmu pengehatuan saja agar mereka menjadi orang yang berilmu pengetahuan yang menambah kemampuannya dalam belajar . akan tetapi juga guru wajib memperbaiki medote dalam penyajian ilmu kepada anak didiknya ; dan hal itu tidak akan sempurna kecuali dengan lebih dahulu mempelajari hidup kejiwaan anak dan mengetahui tingkat –tingkat kematanganya serta bakat – bakat ilmiahnya , sehingga mampu menerapkan sesuai dengan tingkat pikiran meraka . dengan cara demikian maka terjalinlah hubungan antara guru dengan anak muridnya . dalam kaitan ini beliau mengatakan ; di antara dalil yang menunjukkan bahwa mempelajari satu ilmu itu adlah suatu kegiatan yang mengandung pengertian istilah yang berbeda – beda , karna tiap pepimpin umat yang termasyhur, memiliki istilah teknis pengajaran yang di sesuaikan dengan kegiatan – kegiatannya ; maka dari itu istilah demikian bukanlah berasal dari ilmu pengetahuan dan jika tidak demikian , maka pasti hanya satu istilah saja untuk seluruh umat [ bangsa] .
Ibnu khaldun menerapkan bahwa medote mengajar , sebaiknya , harus di terapkan dalam proses mengajarkan materi ilmu pengetahuan atau mengikutinya [ Guidance ancausile] , karena di pandang ; pengajaran yang sempurna kecuali harus dengan medote itu . maka seolah – olah medote dan materi merupakan satu kesatuan , padahal ia bukanlah bagian dari materi pelajaran , yang bukit- bukitnya di tunjukkan dengan adanya kenyataan bahwa di kalangan tokoh pendidikan terdapat metoda – metoda yang berbeda – beda .
Ilmu jika yang baru telah menetapka [ dalam bidang ini] bahwa medote adalah merupaka sarana untuk merealisasikan pengajar sesuai dengan langkah – langkah yang di terapkan , tetapi bukanlah langkh itu sendiri yang menjadi sarana . meskipun langkah – langkah itu sendiri mungkin dapat merealisasikan pengajaran tersebut lebih banyak dari metodenya sendiri .dengan demikian maka ilmu jiwa modern memperkuat paham ibnu khaldun tersebut.
Dapat dikatakn bahwa ibnu khaldun sebagai pendidk yang berkemampuan mengajar berpendapat bahwa kedayagunaan metoda yang dapat di gunakan untuk menyampaikan pengetahuan kepada murid bergantung pada sejauh mana kematangan persiapan guru dalam mempelajari hidup kejiwaan anank- anak didiknya . ilmiahnya .
Maka jelaslah bahwa pendapat di atas sampai batas- batas tertentu sesuai dengan pandangan ilmu pendidikan modern .
2. Ibu khaldun menyetujui mengajr dengan cara verbalistis [ Teks Books Croten]
Ibu khaldun menentang metoda verbalisme dalam pengajaran , dan menghindari dari hapalan yang tidak memahami sesuatu yang dapat di buktikan melalui panca indera dari bahan pelajaran yang di hafalkan anak . karena menghapal dengan cara demikian ini akan menghambat kemampuan memahami , beliau menghimbau agar guru menggunakan metoda ilmiah yang modern dalam membahas ploblem ilmu pengetahuan , dengan pendapatnya beliau ; ‘’…dan cara yang paling gampang dalam menumbuhkan kemapuan memahami ilmu adalah kelancaran berbicara dalam diskusi dan pembahasan tentang probema ilmiayah, maka ia akan dapat mendekati seluk beluk yang terkandung dalam prolema dan dapat memperoleh pengetahuan tentang maksud tujuan yang sebenarya .
Beliau mencela guru- guru yang terlalu berpegang metoda verbalistis dan metoda mendengar , karena mengajar dengan metoda ini tak akn memberikan kesan ke dalam pikiran murid ; beliau menunjukkan bukti di negeri Maghrabi di man belajar anak memakan waktu 16 tahun , namun anak belum berhasil mendapatkan kemahiran dalam ilmu da n belum mampu menguasainya , di sebabkan karena guru hanya terpaku pada metoda verbalistis ini . beliau mengajak kita untuk memperhatikan bahwasanya ilmu yang dalam itu tergantung pada hubungan yang erat antara lafat [ kata ] yang di ucapkan atau di tulis dengan pembuktian melalui panca indera .
Simsem yang terdapat di maghrabi berlainan denga ‘’sistem piramidal’’pengajaran yang berlalu di Tunisia. Karena pada umumnya belajar di sekolah Tunisia tak lebih dari 15 tahun dan dalam periode wktu tersebut anak telah dapat memperoleh kemampuan memahami ilmu pengetahuan , di sebabkan karena guru – gurunya menggunakan metoda diskusi dan pengkajian dalam proses belajar – mengajar .

3. Pandangan ibnu khaldun terhadap perkembagan akal pikiran anak didik
Beliau mengajukan agar guru – guru mempelajari sungguh- sungguh perkembangan akal pikiranmurid – muridnya, karena pada awal hidupnya belum memiliki kematangan pertumbuhan . kata beliau; ‘’kita telah menyaksikan kebanyakan guru pada masa itu tidak mengetahui metoda pengajaran dan cara penggunaannya , sehingga mereka hadir di depan murid – muridnya dengan mengajarkan permasalahan yang sulit di hadami , dan mereka menyuruh agar memecahkannya [ Menganalisanya] dan mereka menduga bahwa cara demikian akan memperkembang pengajaran dan mengandung kebenaran , padahal kemampuan menerima pengetahuan di kalangan murid dan kematangan , berkembang secara bertahap . itulah sebabnya murid mula- mula lemah pemahamannya terhadap keseluruhan ilmu , kecuali dengan jalan mendekati dan memperbaiki dengan menggunakan contoh – contoh yang dapat di amati denga paca indera . kesilapan dan kematangan murid tersebut berkembang setingkat demi setingakat , bertentangan dengan problema ilmu yang dihadapkan kepadanya . Dan proses pengalihan ilmu untuk mendekati , dengan cara menganalisa problema tersebut , sehingga kemampuaan untuk menyiapkan diri mereka ilmu itu benar – benar sempurna , kemudiaan baru mendapatkan hasilnya .’’
Belau sekali lagi menentang para guru yang tidak mengetahui metode pengajaraan yang bersifat guindance and conselling yang dengan metode itu pertumbuhan anak dapat mencapai kesempurnaan , dan pendidikan yang dilaksanakanya ada lah pendidikan yang didasarkan atas kecerdasan mereka yang essensial . Kemudiaan beliau menguraikan kejelekan sikap para guru pada waktu berhadapan denga murid –muridnya dengan menyodorkan permasalah ilmu pengetahuaan yang sulit-sulit pada momentum yang pertama; sedang kemampuaan berpikir muridnya belum mampu untuk memahami dan menganalisanya , walaupun mereka mengatakan bahwa cara demikiaan itu demi untuk melatih kemampuaan memahami dalam memperoleh pengetahuaan dari permasalahan ilmu tersebut .
Sesungguhnya ibnu khaldun menghendaki penerapan suatu metode seperti yang terdapat dalam pendidikan modern sekarang, yang berdasarkan pada prinsip bahwa kemampuaan menerima ilmu pengetahuaan pada anak itu berproses secara setingkat demi setingkat sejalan dengan periode –periode perkembangnya . seorang anak berkembang setingkat demi setingkat dalam seluruh aspek –aspek jasmaniaah dan agliyah secara menyeluruh . Dari tingkat –tingkat perkembangan tersebut dapat diketahui secara jelas pada awal periode belajarnya yang nampak lemah dalam menerima dan memahami pengetahuaan yang diajarkan kepadanya ,terutama bila yang diajarkan masalah yang itu sulit dipahami; oleh karena hendaknya guru mendekatkan anak kepada pelajaran dengan menggunakan alat-alat peraga.
Jelaslah bahwa Ibnu Khuldum memang benar-benar memahamai kaidah-kaidah yang prinsipal dalam mengajar, maka dari itu beliaumenganjurkan agar merealisasikan metoda yang memberikan faedah kepada anak dengan cara mengajar yang berproses dari bahan pelajaran yang mudah terhadap yang sulit, dan dari yang dapat diamati dengan panca indra kepada yang dapat dipikirkan dengana akal, dan dari yang diketahui, kepada hal-hal yang belum diketahui.metode efektif adalah semakin meningkat ilmunya dengan cara mengulang-ulangi pelajaran , menganalisanya. Dengan demikian anak akan dapat memeliki kemampuan mempersiapkan diri, dan dari sanalah ia akan menjadi orang yang memeiliki kemampuan menggali ilmu pengetahuan secara mendalam, dan mampu memahami tugas berdasarkan metoda-metoda kependidikan yang benar. Dalam hubungan ini, benar-benar Ibnu Khuldum seorang ahli yang menyajikan pandangan pada masanya mendahului orang lain, suatu pandangan yang sesuai dengan teori baru atau ( modern ) dalam pendidikan masa kini.
4. Metode mengajar dan Gaya yang Harus Dipelihara Oleh Guru
a) Metoda Pentahapan dan Pengulangan ( Tadarruj Wat Tikraari )
Menurut Ibnu Khuldum, mengajar anak-anak / remaja hendaknya didasarkan atas prinsip-prisip pandangan bahwa tahap permulaaan pengetahuan adalah bersifat total ( keseluruhan ), kemudian secara bertahap, baru terperinci, sehingga anak dapat menerima dan memahami permsalahan pada tiap bagaian dari ilmu yang diajarkan, lalu guru mendekatkan ilmu itu kepada pikirannya dengan penjelasan dan uraiuan-uraian sesuai dengan tingkat kemampuan menerima apa yang diajarkan.
Kemudian guru mengualani lagi ilmu yang diajarkan itu agar anak –anak meningkat daya pemahamannya sampai kepada taraf yang tertinggi melalui uraian dan pembuktian yang jelas, setelah itu beralih dari uraian yang global kepada uraian yang hinggga tercapai tujuan akhirnya yang terakhir, kemudian diulangi sekali lagi pelajaran tersebu, sehingga tidak lagi terdapat kesulitan murid/ anak untuk memahaminya dan tak lagi bagian-bagian yang diragukan.
Pengulangan secara bertingkat ini , menurut pendapat beliau, sangat besar faedah dalam menjelaskan dan memantapkan ilmu kedalam jiwa anak serta memperkuat kemampuan jiwanya untuk memahami ilmu. Tujuan mempelajari ilmu tersebut adalah kemahiran anak dalam mengamalkannya, sertamengambil manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Alas an mengulang-ulang sampai beberapa kali ( tiga kali ) adalah karena kesiapan anak memahami ilmu pengetahuan atau seni berlangsung secara bertahap.
Metode tersebut benar-benar sejalan dengan teori mengajar yang terbaru yang menyatakan bahwa pertahapan pemahaman anak memerlukan pemahaman tentang perkembangan jiwa yang berlangsung secara berbeda-beda bagi masing masing anak. Dengan caramengulang- ulangi akan membawa anak kepada ketelitian yang menjadi salah satu factor dari system belajar praktis. Memang benar jika dikatakan bahwa mengulang-ulangi berbuat sesuatu akan menimbulkan kesimbangan dan memeudahkan pemantapan ingatan dan menumbuhkan system berpikir yang teratur dalam jiwa anak.
Metoda pengulangan yang diuraikan oleh ibnu khaldun tersebut adalah sesuai dengan metoda atau langkah – langkah belajar murid dalam pendidikan modern yang merupakan persyaratan dalam proses penyususan pengalaman murid yang membentuk secara berurutan . hal ini berarti bahwa pengulangan pengalaman yang berkali – kali bebeda – beda ke dalam intensitasnya dalam kemajuan belajar anak .
Psikologi modern memandang bahwa pengulangan itu merupakan salah satu modern belajar yang baik , karena dapat memperbaiki pengetahuan pada tahap permulaannya yang sesuai/ benar dengan teori – kemampuan menangkap pengertian manusia terhadap obyek pengamatan [ seperti telah diuraikan dalam teori Gestalt] .
Teori pertama menetapkan bahwa manusia mengamati benda – benda dengan secara keseluruha pada permulaannya , kemudian semakin nampak rinciannya . teori demikian telah diungkap oleh ibnu khaldun sebelum teori gestalt , maka menjadilah totalitas pengetahuan anak pada permulaan pengamatannya , baru kemudia nampak rinci- rinciannya memang berlangsung menurut tabiat akal pikiran dalam proses pengamtan idrawiterhadpap benda- benda .
b) Menggunakan sarana tertentu untuk menjabarkan pelajar
Ibnu khaldun mendorong kepada penggunaan alat- alat peraga, karena anak pada waktu mulai belajar permulaannya lemah dalam memahami dan kurang daya pengamatannya . alat –alat peraga itu membantu kemampuan memahami ilmu yang diajarkan kepadanya , dan hal inilah yang ditekankan oleh beliau, karena memang anak bergantung pada pancainranya dalam proses penyusunan pengamalan . dalam pekerja mengajar alat –alat peraga tersebut merupakan sarana pembuka cakrawala yang lebih luas , yang berlawanan dengan kebiasaan merumuskan kalimat – kalimat yang di tulis atau diucapkan , disamping itu juga alat peraga ini menjadika pengetahuan anak bersentuhan dengan pengamalan idrawi yang hakiki . amka dari itu makna yang terkandung di dalam metoda ini adalah lebih memudahkan anak memahami pelajar dan mengurangi kesalahan daya pemerimaan ilmu yang di ajarkan serta memperkecil pemahaman yang buruk , dan sebagainya . jadi dengan demikian ibnu khaldun mendahului zamannya dengan pendapat – pendapat beliau yang terbukti sesuai dengan pandangan ilmu pendidikan modern .
c) Widya – wisata meruapakan alat untuk mendapatkan pengamalan yang langsung
Ibu khaldun mendorong agar melakukan perlawanan untuk menuntut ilmu karena dengan cara ini murid – murid akan mudah mendapat sumber – sumber pengetahuan yang banyak sesuai dengan tabiat eksploratif anak , dan pengetahuan mereka berdasarkan observasi langsung itu berpengaruh besar dalam memperjelas pemahamannya terhapad pengetahuan lewat pengamatan indrawinya
Pendidikan modern sekarang memperkuat pandangan ibnu khaldun tentang perlunya widyawisata sebagai sarana yang besar artinya dalam upaya mendapatkan pengetahuan secara langsung di lapangan ; dan pengaruhnya kuat sekali dalam hati anak . sehingga beliau mengatakan ; ‘’sesungguhnya melakukan perlawanan untuk menuntut ilmu dan menjumpai para ahli ilmu pengetahuan dan tokoh – tokoh ilmu dan tokoh pendidikan , menambah kesempurnaan ilmu mereka , sebab orang banyak menimba pengetahuan dan akhak serta aliran paham yang dianut serta keutamaan – keutamaan mereka ,; kadangkal dengan cara menukil ilmu , mempelajari atau menerima kuliah , dan kadangkala dengan cara meniru dan belajar melalui pergaulan dengan mereka . sedangkan keberhasilan mendapatkan pengetahuan dengan bergaul dan menerima pelajaran akan lebih mendalam dan lebih kuat kesannya dari pada cara lain , apabila melalui banyak guru yang ilmunya bermacam – macam .]
Yang dimaksud dengan ‘’ perlawanan ‘’[ rihlah ] menurut beliau ialah perjalanan untuk menemui guru guru – guru yang mempinyai keahlian khusus , dan belajar kepada para tokoh ulama dan ilmuwan terkenal .
Menuntut ilmu pada masa beliau berjalan melalui 2 cara :
1. Belajar mendapatkan ilmu dari kitab – kitab [ buku – buku ] yang dibacakan oleh guru –
guru yang mengajar , lalu mereka mengistimbatkan permasalan ilmu pengetahuan kepada
murid – muridnya dan
2. Dengan jalan mengikuti para ulama terkenal yang mengarang kitab – kitab tersebut serta
mendengarkan secara langsung pelajaran yang mereka berikan .
Ibnu khaldun lebih menyukai cara yang kedua karena perlawanan dengan cara ini tidak lain adalah perjalanaan yang bertujuan untuk mengobservasi pengetahuan secara langsung pada sumbernya , serta mendiskripkan apa yang diamati secara langsung . tujuan dari perlawanan ini ialah memperoleh pengamalan dan pengetahuan langsung dari sumbernya yang asli , meskipun caranya berlain – lainan , namun tak ragukan lagi bahw sesungguhnya menerima pelajaran dari para ulama yang mempunyai keahlian khusus di rumah mereka memberikan kepada pelajar suatu pandangan dan observasi khusus. Kita dapati firman allah dalam kitab suci al-qur’an yang berkaitan dengan widyawisata ini sebagai berikut ;
               
‘’Katakanlah ; Adakanlah perjalaan kamu di atas bumi , maka lihatlah , bagaimana akibatnya orang – orang yang [ hidup ] sebelumnya ….’’[ Arrum , 42 ].
d) Tidak memberikan presentasi yang rumit kepada anak yang baru belajar permulaan
Ibnu khaldun mengajarkan hendaklah jangan mengajarkan anank – anak dengan definisi – definisi , dan kaidah – kaidah ilmu pengetahuan , khususnya pada permulaan belajar akan tetapi seharusnya guru memulia dengan memberikan contoh – contoh yang mudah dan membahas nas – nas serta mengistimbatkan [ mengambil kesimpulan ] yang khusus . pemahaman anak terhadap pengertian kaidah dan norma – norma serta definisi – definisi berati menghadapkan kepada anak permasalahan [ ploblema ] ilmu seraca sekaligus , hal ini jelas belum dapat dimengerti oleh anak karena usiannya yang belum matang , dan juga karena itu hal ini akan menyebabkan akal pikiranyan dibebani dengan kesulitan dan rasa malas , bahkan memperkecil days pikirnya yang akan berakhir pada apa yang di namakan ‘’ kelumpuhan akademis ‘’. Hal demikian akan mengakibatkan anak lari dari ilmu dan membencinya .
Bukan ilmu yang salah , tetapi metodanya yang buruk , karena tidak memperhatikan kecenderugan anak dan kesiapan kemampuannya .
Pendapat beliau tentang metoda di atas dan tujuan penggunaannya , adalah sejalan denag psikologi modern saat ini , yang mengajak untuk memperhatikan pengamalan yang telah di peroleh anan sebelumnya , yang berkaitan dengan pengetahuan empiris, untuk di kembangkan kea arah pengamalan barunya .
Dari segi pandangan ini , dapat di simpulkan bahwa metoda pengajaran yang di tetapkan berdasarkan atas prinsip – prinsip mengajar murid dengan kaidah – kaidah atau norma-norma pada permulaannya disertai dengan contoh – contohnya , lalu meminta mereka agar membuat contoh – contoh yang telah ia saksikan sendiri , maka metoda tersebut dinamakan metoda analogi yang simultan seperti mengajarkan pengertian kalimat .
Zaed telah memukul Amir
Metoda demikian tidak sesuai dengan pendapat ibnu khldun , karena beliau berpendapat bahwa contoh – contoh lebih dahulu di berikan disertai denga nas- nas kesaksian untuk di ambiltakrif [ definisi] dan kaidah – kaidah secara umum , maka metoda demikian ini sejalan dengan metoda ilmiah . dalam hubungan inin , bahan pelajaran yang bersifat lughawi dan gaya – gaya bahasanya adlah merupakan bahan pengetahuan yang masih kasar tapi bagus dan khusus sifatnya , yang disajikan oleh guru sesuai dengan kemampuan murid . kemudian didiskusikan dari segi sastranya agar dipahami dan dirasakan arti yang terkandung didalamnya . setelah itu mengalihkan pandangan murid kepada dasar- dasar gramatika yang terkandung dalam nas al- qur’an , atau ibarat – ibarat bahasanya yang dapat diambil dari padanya . dengan menggunakan metoda diskusi dan Tanya jawab , maka dapat dilakukan istibat untuk dirumuskan definisi dan kesimpulan dari pada apa yang telah di bicarakan .
e) Harus ada keterkaitan dalam disiplin ilmu
Ibnu khaldun mendorong agar guru dalam mengajarkan ilmu kepada muridnya mengaitkan dengan ilmu lain , [ Jangan terpisah – pisah ] . karena memisah – misahkan ilmu satu sama lain menyebabkan kelupaan ; hal ini diperkuat dengan araian terdahulu tentang perlunya mengajar dengan pengulangan sampai tiga kali tampa terpisah – pisah atua terputus – putus , agar memudahkan orang tidak lupa . sebenarnya masalah waktu itu sendiri yang memegang peranan apakah mempelancar atau menghambat kemampuan memperoleh ilmu .
Dalam hal ini ibnu khldun tidak setuju memisah – misah dan memotong ilmu demi untuk memberikan waktu istirahat dan memperbarui semangat belajar . akan tetapi beliau mengartikan bahwa akan menimbulkan kelupaan yang berkepanjangan terhadap ilmu yang telah dipelajari . jika terjadi pemutuskan hubungan antara ilmu – ilmu yang dipelajari dalam jangka waktu lama , akhirnya ia tidak dapat mengaitkan lagi dengan berbagai ilmu yang telah dipelajari.
Sejalan dengan pandangan beliau adlah tentang pembahas mengenai bahasa arab pada masa sekarang , dianjurkan agar diajarkan kitab- kitab mutolaah yang menyajikan topik pembahasan satu macam dalam beberapa pertemuaan yang berturut – turut dengan menggalakkan keinginan untuk menserasikan dan menganalisa isi kitab dengan mengkaitkan antara satu sama lain ke dalam jiwa anak . menurut ibnu khaldun ilmu adlah penguasa dan penguasa ilmu itu tidaklah tetap keadaannya kecuai dengan mempraktikkan terus menerus atau mengulang – ulanginya . jika dalam waktu lama tidak di praktekka maka penalaran akan terlupakan dan guru juga melupakannya , serta kemampuan murid untuk menguasai mata pelajaran tersebut juga mengalami kepunahan [ lenyap]
f) Tidak mencampuradukkan antara dua ilmu pengetahuan dalam satu waktu
Ibnu khaldun mengajurkan agar guru tidak mengajarkan dua ilmu dalam satu waktu kepada muridnya karena sebelum memperoleh salah satu ilmu , akan mengakibatkan terpecahnya konsentrasi pikiran dan melepaskan ilmu yang lainnya untuk memahami problematikanya yang lain . hal ini mengakibatkan kerugian dan kesulitan . jika ia telah menyelesaikan satu ilmu , maka ilmu itu menjadi sarana yang dapat menciptakan keberhasilan memecahkan dan memahami problema – problemanya .
Pandangan beliau tersebut menunjukkan bahwa takhassus ilmu itu penting ; karena tak mungkin orang menguasai seluruh rahasia ilmu dari sekian banyak ilmu memahami detail – detailnya tanpa mentuntaskan studi ilmu itu . begitu juga pendapat beliau , bahwatak mungkin mengajar anak dengan problema- prolema dari dua macam ilmu yang berbeda[ dalam satu waktu berdasarkan alasan yang telah diaraikan diatas] .
Kita perbendapat bahwa ibnu khaldun yang menyatakan agar tidak mengajarkan anak kecuali ilmu yang satu macam saja , dan jika telah dapat menguasainya baru beralih kepada ilmu yang lainnya dan seterusnya . pola pendidikan modern tidak membenarkan hal tersebut , bahkan sebaiknya pola modern mengajukan agar memberikan pengetahuan yang bervariasi dalam pelbagai kurikulum .
Dalam hal ini prikologi modern berbendapat bahwa manusia dalam proses belajarnya dapat mempelajari berbagi ilmu yang berlain – lainnya , dan ia bertambah kemampuannya melalui belajar seperti halnya ilmu ukur , teknik bangunan , aljabar , kimia , ilmu alam , dan lain – lain . bukanlah ilmu – ilmu itu memiliki sifat – sifat khusus , karena masing – masingnya dapat dipelajari secara logis; akan tetapi semuanya itu diperoleh melalui pengalaman , yang membiasakan anak berpikir secara komprehensif tentang ilmu pengetahuan yang bermacam – macam , kemudian di ubah menjadi pengetahuan yang terpadu sebagai ilmu yang bulat dan menyeluruh.
g) Hendaknya jangan mengajarkan Al-qur’an kepada anak keculai setelah sampai pada tingkat kemampuaan berfikir tertentu .
Ibnu khaldumencela keras kebiasaan yang berlaku pada zamanyan, dimana anak tidak didasarkan atas metode yang benar. Karena anak diwajibkan mengafal al-qur’an pada permulaan belajar berdasarkan alsan bahwa al-qur’an harus diajarkan kepada anak sejak dini agar ia dapat menulis berbicara dengan bahasa yang benar , dan al-qur’an dipandang mempunyai kelebihan yang dapat mencaga anak dari perbuatan yang rendah ; itulah kepercayaan para pendidik masa itu; mereka menerapkan cara –cara mengajarkan al-qur’an denga anak mewajibkan anak untuk menghapalkan tanpa mengetahui makna yang terkandung didalam ayat –ayat tersebut . Mereka beramsumsi bahwa pada waktu bersamaan mengapalkan al-qur’an pada masa kanak –kanak secara dini akan mengembangkan kemampuaan belajar bahasa mereka .
Dalam hal ini beliau mengatakan yang bernada membantah pendapat para pendidik masa itu denga argumentasinya sebagai berikut ;’’ Al-qur’an adalah kalam Allah yang ditirunakan yang tidak ada pengaruhnya terdapat bahasa , sebelum anak memahami artinya , dan merasakan gaya –gaya bahasanya ; juga al-qur’an tidak punya pengaruh lughawi dan maknawi kecuali setelah anak mencapai tingat tertentu dari kematangan berfikir [yang memungkinkan ia memahami anaknya ].’’
Dalam hal ini pikiran Jean Jacgue Reausseau terpengaruh oleh pendapat ibnu khaldu , pada hal Reausseau hidup pada abad 18 M. Dia mengharapkan agar mengakhirkan pendidikan agama sampai umur 15 Tahun . Namun ibnu khaldu tidak persis sama dengan pendapat Reausseau tersebut , atu sependapat dengan pandangan para filosuf muslim lainya . Karena beliaumenghendaki agar anak tidak dibebani denga pelajaran yang belum dapat di mengerti, sebab pengertiaan adalah syarat utama bagi kebaikan hapalan . Sedang pengaruh al-qur’an terhadap pelajaran bahasa arab tidak mengerti makna nas-nas dari al-qur’an , makna hal itu karena anak masih lemah kemampuan-dasarnya untuk memahami secara mendetail tentang maksud dan makna ayat –ayat al-qur’an . oleh karena itu Ibnu Khuldum menga njurkan untuk mengakhirkan menghafal Al qur’an sampai umur lalayk. Sedangkan pendidikan aklak beliau tidak menganjurkan untuk mengakhirkannya.; dari sinilah tampak jelas bagi kita perbedaan pendapat antara I bnu Khldum dengan Reausseau, (seorang pendidk prancis terkenal dari ahli sosiologi dan filusuf )
h) Menghindari dri mengajarkan ilmu dengan ikhtisarnya
Ibnu Khuldum berpendapat bahwa di antara factor yang berakibat buruk dari metoda pengajaran adalah mengikhtisarkan isi buku teks; kebanyakan para ulama’ mutaakhirin senang menggunakan metoda ini, maka berkembanglah pada masa itu buku ( kitab-kitab) yang berisi ikhtisar dan matan-matannya saja.
Di anatara ulama’ yang disebutkan oleh Ibnu Khludum ialah Ibnu Al Hajib yang meringkaskan fiqih dan ushul fiqih sedangkan Ibnu Malik yang mengikhtisarkan ilmu nahwu yang merusak pengajaran dalam memepelajari ilmu dengan membuang-buang waktu bagi murid karena harus mengikuti ringkasan kata0kata yang sulit dimengerti, dan sukar untuk diambil permasalahan dari dalamnya. Hal ini menghambat jalan keberhasilan dari proses mengajar.
Mengapa ulama’ mutakhirin mau menerima kitab-kitab yang berisi ikhtisar itu; karena dengan kitab mukhtashar tersebut memudahkan murid-murid mereka untuk mengahafalkannya, akan banyak kesulitan, yang mna menghalangi usaha meningkatkan kemampuan-kemampuan kreativitas mereka.
Banyak para ulama’ mutaakhir mengarang kitab-kitab yang berisi ringkasan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepda para penguasa Turki, dan juga untuk memantapkan hapalan ilmu anak –anak mereka. Kemudian cara ini menjadi model yang dianggap baik maka cara ini diberlakuakan sebagai metooda pengajaran di Al Azhar, yaitu para mahasiswa diharuskan menghapalkan matan lebih dahulu, baru disusul dengan uraian-uraian terperinci; akhirnya kitab-kitab yang wajib di Al Azhar ditulis berdasarkan standar ini, sehingga semua kitab berisi matan-matan, syarah-syarah dan hepotesa-hepotesa . cara dan gaya –gaya demikian berlangsung sampai batas teori tentang kemampuan menangkap penegretian, teruitama meneurut gestalt ( teori pertama ) ; yang menetapkan bahwa manusia pada permulaannya menangkap penegrtian secara global, kemudia baru secara rinci.
Efek sampaingan yang pasti ialah bahwa dengan mengarahkan perhatain kepada kitab-kitab yang berisi keringkasan ilmu itu dan adanya anjuran kepada murid-murid untuk menghapal matan-matan dan ikhtisar –ikhtisar ilmu semata-mata, serta memehamai ilmu sampai batas ini , maka metode ini menjadilah sebab utama timbulnya kebekuan ( statisme ) kebudayaan pada masa itu.
Jika para tokoh pendidik sekarang menetang ikhtisar ilmu yang ditulis dalam buku-buku dan melarang untuk dipakai di sekolah-sekolah, maka tantangan demikian itu bukanlah baru, karena jauh sebelumnya Ibnu Khludum pernah menetangnya; sebab bulku-buku ikhtisar yang mnerangkan ilmu pengetahuan dengan segala seginya, meneurut beliau, dapat melemahkan akal pikiran, dan mengacaukan system berpikir serta membuang-buang waktu belajar murid. Pendidkan modern bersikap menetang ( sebagaimana sikap Ibnu Khuldum) terhadap pola dan metoda pendidikan dengan system ikhtisar ( ringkasan )

i) Sangsi terhadap murid merupakan salah satu motivasi dorongan semangat belajar ( bagi murid yang tidak disiplin )
Ibnu khaldum menganjurkan agar bersikap kasih sayang kepada anak dan tidak menggunakan kekerasan terhadap mererka, karena sikap kasar atau kekerasan dalam mengajar membahayakan jasmani anak ( atau murid ). Jika anak diperlukan secara kasar dan keras, menjadi sempit hatinya, dan hilang keerdasannya, bahkan ia akan terdorong untuk berdusta , malas, dan berbuat kotor, dan saat itu anak tidak dapat menyatakan apa yang tergetar dalam hati kecilnya, akhirnya rusaklah makna kemanusiaan dalam dirinya sejak masa kanak-kanak.
Dalam hubungan dengan pendapat beliau tenatang metoda hukum itu, beliau menyatakan : “ lihatlah kepada bangsa yahudi bagiamana mereka berakhlak buruk, sehingga mereka diberi sifat yang dikenal di sembarang ufuk ( arah) dan zaman dengan watak “ sempit dada “ yang artinya menurut istilah terkenal ialah berbuat busuk dan tipu daya “
Ibnu khaldum menunjukkan bukti-bukti menurut pandanganya yang teliti dan pemikirannya yang dalam. Bukti- bukti yang diambil dari kejadian yang terjadi di anatara kita dan bangsa tahudi tentang perbuatan yang banyak dikenal orang banyak, adalah benar-benar memperkuat waktu orang yahudi terutama yang berpolitik zionisme; mereka berwatak keji, berkhianat, dan bertipu daya. Sifat-sifat demikian melahirkan sikap dan perbuatan kekerasan, kerendahan dan kekejaman.
Beliau menganjurkan agar guru-guru, dan orang tua anak, tidak berlaku kejam dalam mengajar dan mendidik anaknya. Kata ( beliau : “ di antara madzab yang paling baik dalam pendidikan / pengajaran ialah seperti dilukiskan oleh harun Al Rasyid dalam wasiatnya kepada pendidikan putranya Al Amin, yang bernama Abul Hasan Ali bin HamzahAl kissai. Dan wasiatnya berdasarkan atas 2 macam prinsip. Prinsip pertama : langkah-langkah mengar\jar yang dianjurkan oleh Harun Al Rasyid untuk anaknya Al Amin, dan prinsip kedua ialah metoda praktis yang harus dipergunakan dalam prosedur mengajar dan mendidik anaknya “
Apa yang diwasiatkan oleh Al Rasyid menjelaskan tentang prinsip hukuman sebagai alat mendidik yang penting, akan tetapi jangan dilakukan oleh pendidik atau guru kecuali dalam keadaan terpaksa karena tak ada jalan lain, ( sesudah semua cara yang lemah-lembut tak berhasil ). Hukuman menjadi salah satu alat pendidikan islam yang terkenal di kalangan umat islam. Perlu dijelaskan ucapan harun Al Rasyid sebagai berikut :
4. Alat yang Dipergunakan Dalam Pendidikan
Harun al Rasyid berkata ( memberi wasiat ) kepada Al Kissai, pendidik putranya Amin : “ hai Ahmar, sesungguhnya amirul mukminin telah menyrahkan kepadamu putranya sebagai buah hatinya, maka terimalah dia dengan senang hati dan wajibkan ia mematuhimu, maka berbuatlah untuknya sesuai dengan yang telah digariskan oleh amirul mukmini yaitu : bacakanlah kitab sucu Al qur’an , ajarlah ia dengan kisah-kisah , ceritakanlah kepada syair-syair , tajamkanlah pandanganya dan ketepatan berbicara dan permulaan ucapanya, laranglah ia tertawa kecuali pada waktu yang ditentukan, didiklah ia untuk berta’dhim ( menghormati ) tokoh pimpinan dari Bani hasyim ketika mereka bertemu dengannya, dan tinggikanlah mejelis-majelis pemimpin ketika mereka hadir di majelis. Janganlah ia berlatih diri bersamamu sesaat pun kecuali kemu memberikan kesmepatan yang berfaedah baginya. Jika hal itu membuatnya ia bersedih hati, maka akan tumpullah iwanya, dan janganlh memberuikan kelonggaran kepadanya sehinggaia merasakan nikmatnya waktu senggang lalu ia terpikat hati kepadanya, dan didiklah ia sedapat mungkin dengan keakraban dan kelemah-lembuatan, dan jika ia menolaknya, maka wajiblah kamu berlaku keras terhadapnya.

5. Pandanagan Ibnu Khaldum tentang penerjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa Non Arab
Ibnu Khaldum dengan pandangan yang bernilai religius, memberikan komentar tentang para ahli piker pada masa kini yang beranggapan bahwa menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa asing ( Non Arb) itu dibolehkan, untuk menarik minat orang-orang islam yang tidak berbicara dalam bahasa Arab. Sehingga mereka dapat mengambil ajaran dan nilai-nilainya, dan kemungkinan pengaruhnya yang besar dalam penyebaran isalam serta perluasan lingkungan yang isalam di berbagai negara di dunia, maka beliau membantah pandangan demikian berdasarkan atas dalil yang syarih :
“ Sesungguhnya Al Quran dan Sunnah Nabi dalam bahasa Arab, maka tidak boleh diterjemahkannya terutama Al Qur’anul Akarim ( ke dalam bahasa Altin ) “
Dan menurut hemat kita bangsa-bangsa yang Non Arb tidak boleh menerjemahkan Al Qur’an berdasarkan nas ayat Al Qur’an :
“…..Kami turunkan ( Al Quran ) sebagai bacaan dalam bahasa Arab “
Jika pendapat Ibnu Khladum dipegangi, sedang bangsa-bangsa yang memeluk agama islam perlu digalakkan minatnya sepanjang masa terhadap Al Qur’an , bila dialarang menerjemahkan Al Qur’an, maka kita mengambil dalil dari sebuah ayat yang menyatakan bahwa Allah Yang Maha Esa akan menjamain kitabNya dari oaring – oaring yang ingin merusaknya. Firmannya :
“Sesungguhnya kami yang menurunkan peringatan ( Alqur’an ) dan Kami yang menjadi penjaganya “
jadi kitab suci Al Quran akan terjamin keasliannya sesuai yang diturunkan Allah. Bila kita ikut pendapat Ibnu Khaldum yang menentang penerjemahan Al Quran maka yang Non Arab tidak mendapatkan dororngan mempeelajari Al Quran; dan jika diterjemahkan ke dalam bahasa latin, akan diragukan kebenarannya karena ada kemungkinan urusan kaum muslimin bercampur aduk dengan kitab suci mereka. Pendapat Ibnu Khaldum yang melarang menerjemahkan Al Quran itu adalah pendapat mayoritas kaum muslimin yang didasrkan atas agamanya.
Beberapa ahli piker muslim saat ini yang mengikuti paham tengah tengah ( yang moderat ) membolehkan terjemahan maknanya saja, untuk menyebarkan ajaran islam di kalangan bangsa-bangsa dengan alasan adanya kekhawatiran akan terjadi penyelewengan oleh orang-orang yang sakit hati; maka dari itu terjemahan maknanya sudah berarti terjemahan kitab suci Al Quran itu sendiri. Tetapi juga tidak tertutup kemungkinan adanya orang-orang israil dan lainnya bersedia mencetak dalam bahasa Arab tetapi merusak bahsa Al Qur’an itu endiri. Maka atas dasar kemungkinan itu, penerjemahan nas-nas Al Qur’an ditolak, tidak diterima.
Bangsa –bangsa yang beragama islam hendaknya menjadikan bahsa Arab itu bahasa Internasional yang harus dipelajari oleh anak/ remaja di sekolah-sekolah dan bagi orang selain yang muslim ada di antaranya yang senang mempelajari Al Quran, maka mereka harus mau mengikuti langkah-langkah kaum orientalis yang mempelajari bahasa Arab sebagai prasyaratnya.
Itulah sebabnya kewajiban kaum muslimin seluruhnya, menjaga agar supaya musuh-musuh islam tidak mungkin berbuat keruskan yakni menyimpangkan Al Quran dan ajaran agama dengan cara berpegang teguh pada pendapat ulama’ salaf yang tidak membolehkan menerjemah Al qur;an tapi hanya boleh menerjemahkan maknannya saj yang berupa penafsiran makna terlebih dahulu dengan bahsa Arab, baru diikuti dengan bahasa penerjemahnaya, maka itu sebaiknya disebutkan pada tiap lembaran , kalimat “ Tafsir ma’aniyil Qur’an ( Tafisr makna Al Qur’an )., sekali waktu dengan bahasa Arab, dan kalimat yang lain dengan bahasa asing ( non Arab )
BAB XIV
PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN
ANAK YANG TERKANDUNG
DALAM WASIAT AL RASYID
Wasiat Harun Al rasyid yang disampaikan kepada pendidik putranya Al Amin tersebut di atas adalah merupakan gambaran jelas bagi langkah-langkah pendidikan yang secara umum diikuti masyarakat pada masa pemerintahan khalifah ini sampai pada segi-segi pendidikan khusus yang dialkukan oleh mereka yang diberi tugas mendidik calon khalifah. Langkah-langkah tersebut meliputi bahan-bahan pelajaran sebagai berikut :
1. Mengajarkan Al qur’anul karim
2. Mengajarkan kisah-kisah dan sejarah
3. Mengajarkan riwayat syair dan kritik-kritik kesustraan yang memberikan kemampuan merasakn ungkapan-ungkapan kalimat yang baik
4. Mendidik akhlak dengan mengguinakan metoda praktik ( pembiasaan ) sehingga anak dalam sebagian besar waktunya berbuat kebajikan dan memperbolehkan bergembira dan santai pada waktu-waktu tertentu.
5. Di dalam pendidikan tersebut terdapat jenis pendidikan yang khusus bagi para khalifah sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam wasiat al; rasyid , dan hal itu dijadikan bagian dari kurikulum, antara lain : menghiormati bani Hasyim , menghormati kedudukan pemimpin militer dan menghargai kedudukan mereka dan perjuangan mereka dalam menjaga wibawa khalifah dan sebagainya
6. Wasiat tersebut menunjukkan tentang apa yang dinamakan “ hari hari kegiatan para guru “ yaitu hari-hari di mana para murid harus menghormati guru di luar kelas sebagai kelanjutan dari kegiatan guru dalam kelas, seperti yang dikatakan oleh harun alrasyid : “ janganlah melatih dia bersama kamu sesaat pun kecuali memberi waktu yang ada sesudah selesainya pelajaran atau di antara satu pelajaran dengan pelajaran lainnya unttuk memberikan beberapa pengalaman baru dengan memberikan waktu santai kepada anak.
Wasiat tersebut juga mensyaratkan agar pengetahuan yang disajikan kepada anak semudah mungkin sesuai dengan usia dan kesiapan mentalnya, sehingga tidak akan sulit dipahami. Karena bahan pengetahuan yang sukar tak akan dapa t dimengerti oleh anak anantinya akan menimbulkan kesedihan hati anak, lalu jiwanya menjadi bebal. Tetapi dalam waktu bersamaan dipergunakan prinsip ketat dalam pergaulan dengan mereka dengan sikap lemah lembut , namun tidak sampai batas yang meremehkan yang menghilangkan kedisplinan pada nak. Hal ini yang mnegakibatkan sikap lebih mneyukai kekosongan waktu ; agar supaya mereka tidak mneinggalkan ilmu dan kegiatan belajarnya. Begitu juga tentang pesan agar memberikan hukuman ata sprinsip untuk mendorong kegiatan belajar. Hukuman tersbut diberikan jika tidak ada jalan lain sama sekali bagi guru setelah dipergunakan cara-cara jika tidak ada jalan lain sama sekali bagi guru setelah dipergunakan cara-cara yang lemah lembut tidak mempan, dan tidak mungkin lagi diguinakannya peringatan secara lisan yang menjelaskan tujuan dan prinsip –prinsip yang mengandung nilai pendidikan. Hal itu merupakan salah satu pesan penting yang memerlukan studi terperinci berdasrkan atas prinsip-prinsip pendangan pedagogis yang berlaku pada zamnnya Al Rasyid atau sebelum dan seudahnya. Wasiat ( pesan ) Al Rasyid itu merupakan bidang studi yang luas yang memerlukan pembahsan tersendiri.
1. Contoh teladan yang baik dalam pendidikan akhlak
Sistem pendidikan modern tidak dapat mencapai prinsip yang benar yang melebihi kebaikannya dari pada mengambil metoda’’ uswatun hasanah ‘’[ Contoh tauladan yang baik ] sebagai alat untuk merealisasikan tujuan pendidikan akhlak dan menumbuhkan sumber- sumber keutamaan dalam jiwa anak . menurut pandangan ibnu khaldun anak hendaknya di suruh mengikuti dan menirukan hal- hal yang di nasehatkan dan di bimbingkan kepadanya . tentang hal ini beliau menguntip apa yang di tulis oleh Amru bin ‘Utbah kepada pendidikan anaknya yang berpesan sebagai berikut ;
‘’Agar supaya anak saya menjadi baik , terlebih dahulu hendaklnya anda memperbaiki diri anda sendiri , karena pandangan mata mereka terpaku pada pandan mataanda ; jika pandangan mereka baik , karena sesuai dengan apa yang mereka perbuat , dan jika jelek , itu karena anda meninggalkannya ; maka ajarlah mereka kitab allah dan jangan mendiktekannya ; karena mereka akan membencinya . janganlah anda tingalkan mereka dalam kebencian itu , karena akan menjauhinya . ceritakan kepada salah satu hadis yang paling berharga dan syair yang paling banyak mengandung nilai satria. Janganlah menglihkan mereka dari satu ilmu ke ilmu itu . sesungguhnya kekacauan dalam hati , akan menimbulkan ucapan yang sulit di pahami ; ajarlah mereka tradisipara ahli hikmah ; jauhkanlah mereka dari membicarakan tentang watita ; dan janganlah mengantungkan dirinya atas keizian saya , karena saya telah mempercakan atas kecukupan kemampuan anda .
jika wasiat [ pesan ] tersebut dianalisa , maka akn nampak suatu keharusan mengikuti prinsip keteladanan yang baik , dan segal hal yang mengandung pengaruh pendidikan akhlak , serta garis – garis kebijakan yang sempurna bagi langkah guru agar tidak keluar dari kurikulum , yang telah ditetapkan oleh al- Rasyid dalam wasiatnya tersebut di atas . dan ada apayang di kutip oleh ibnu khaldun dari wasiatn tersebut adlah pendapat yang melarang mengalihkan anak dari mempelajari satu macam ilmu ke ilmu lainnya kecuali bila ia telah mantap pemahamannya pada ilmu yang pertama . hal ini telah di jelaskan sebelum,nya bahwa pendidikan modern saat ini ,tidak menyetujui pandangan ini kecuali yang menyangkut studi spesialisasi keilmuan [ tahassus ] .
Salah satu wasiat tersebut mencakup permasalahan yang tidak tercakup dalam wasiat yang lain . kita perlu memperhatikan wasiat yang kedua secara khusus yaitu melarang anak membirakan tentang wanita , karena hal itu akan menimbulkan kebiasaan mereka bernikmat – nikmat sejak masa kanak – kanak , dan dalam hati mereka akan terbentuk kelemahan dan lunak [ Kenaifan ] dan secara berangsur angsur mereka akan kehilangan sifat –sifat kecerdasan ,keberanian dan sifat – sifat lainnya yang memperkokoh sifat kepahlawaannya . oleh karena itu factor keteladanan yang baik adalah merupakan satu – satunya yang penting dalam wasiat [ pesan ] yang kedua itu. Sedangkan keteladanan yang baik dalam lingkungan sekolah menjadi salah satu factor yang menimbulkan situasi yang baik di mana keutaman dalam menyebar luas, sehingga anak akan memiliki sifat – sifat baik , yang melusurkan perilakunya dan pemperkuat jiwanya .
Ibnu khldun menganjurkan agar murid mengikuti jejak para pendidiknya . dan karena itu guru –guru dan orang – orang tua anak di tuntut untuk bertingkak laku sesuai dengan ajaran agama, sehingga antara perkataan dan perbuatan tidak bertentangan , antara imam dan tingkah lakunya sejalan . karena terbukti bahwa dalam suatu lingkungan terdapat banyak cerita – cerita tentang agama tetapi tidak cocok dengan pengalaman hukum dan ajarannya , hal ini akan banyak mendorong berkembangnya benih – benih pertikaian dan keracuan hidup keagamaan .
Pesan yang kedua dari Harun al- Rasyid menunjukkan adanya dua persyataan yang prinsipil dalam mengajarkan al- qur’an yang dalam pesan pertama tidak di singgung . syarat yang pertama ialah hendaknya para pendidik terdorong hatinya untuk berusaha menghilangkan kebosanan murni terhadap al- qur’ an , karena mereka disuruh menghapal ayat – ayat al- qur’an yang panjang .
Ayat – ayat yang demikian tidak sesuai dengan tingkat kematangan usia mereka dan tak cocok dengan perasaan keagamaan mereka . dan syarat kedua ialah hendaknya para pendidik berusaha memberikan penjelasan kepada anak tentang makna apa yang mereka hapalkan , agar hati mereka dapat berhubungan dengan Allah SWT melalui kitab sucinya , dan makna tersebut meresap di dalam hati mereka .
Supaya para pendidik menjadi suri – teladan anak didiknya, maka mereka wajib membina hubungan kemanusiaan dengan anak didiknya , didasari atas rasa kasih sayang dan kelemah dan lembutan hati dan pergaulan yang baik serta dialog seraca spiritual dan psikologis. Para pendidik harus menjadi idola dalam perbuatan yang terpuji di dalam lingkungan sekolah dan lur sekolah .
2. Mengajar praktik kemasyarakatan
Kata Ibnu Khaldun ; ‘’ sesungguhnya ilmu dan ajarannya itu merupakan amal sosial yang khusus di tujukan kepada manusia , karena memang keduannya berada di dalam kehidupan keberadapan umat manusia , yang dalam kehidupan primitif tidak terwujud sebab itu kedau hal tersebut sangat dihajatkan oleh manusia maka ia mengalami kehidupan yang makmur .
Secara lahiriyah pendapat ibnu khaldun itu menunjukkan tentang perbuatan yang menjadi kebiasaan hidup manusia, akan tetpi jika kita renungkan secara mendalam, kita menyadari bahwa pendapat beliau itu merupakan cerminan dari pikiran yang ideal di man pendidikan modern pada masa sekarang mengajurkannya , yaitu praktik kemasyarakatan . karena pada manusia berkumpul dalam suatu tempat dan menghendaki menetap di tempat tersebut timbullah hajat yang kuat dengan system pendidikan dan pengajar ; sedangkan kehidupan yang selalu berpindah – pindah [ no- modern ] tidak selalu mendapat yang tetap, maka tidak timbul hajat kepada pendidikan , karena kehidupan nomaden tidak mendapatkan kesempatan yang mendorong timbulnya pemikiran terhadap ilmu dan sumber- sumber ilmu ; sebaiknya kehidupan masyarakat beradab sangat berkait erat dengan pendidikan dan pengajaran , karena tipe kehidupan demikian mendapat kesempatan untuk menekuni ilmu pengetahuan dan maju – mundurnya kehidupan masyarat sangtat bergantung pada pendidikan dan pengajaran itu ,; keduanya sangat penting untuk menjelaskan tujuan dan sasaran – sasaran pendidikan yang harus direalisasikan demi kemajuan masyarakat yang beradab ;dan karena kehidupan beradap memungkinkan seseorang untuk menguasai lingkungan alam di mana mereka barada.
Pengajaran yang diartikan sebagai produk sosial tidak sesuai lagi dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang maju sangat cepat pada abad kita sekarang , maka produk sosial tersebut diartikan sebagai kebaktian sosial yang membawa ke arh penemuan pola hidup yang harmonis dengan ilmu dan teknologi itu . mas kini adalah zaman atom dan perang dingin , yang merupakan hasil produksi teknologi yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan income perita nasional [ gross national product atau GNP].
3. Hubungan intim antara murid dan para ahli pendidikan [ Ulama] merupakan metode yang
Efektif
Metoda ini merupakan salah satu sarana yang lebih banyak faedahnya disbanding dengan membaca kitab – kitab dalam majelis – majelis pengajian , karena anak lebih cenderung untuk bertakliddan menirukan orang lain . maka dari itu menjadi suatu kehasuran untuk mengarahkan kecenderugan anak ke arah peningkatan kegiatan belajar . banyak ilmu yang dapat dipahami kecuali dengan cara bertaklid dan meniru .
Ibnu khaldun menganggap baik tentang hubungan pribadi dengan para ulama dan dengan tokoh – tokoh pendidik serta guru – guru . hubungan semacam itu akan menjadi akrab bila di lakukan di dalam klas atau pengajian – pengajian , karena di dalamnya tercipta rasa kebersamaan yangmendalam antara guru dan murid , disusul dengan hubungan di luar pengajian atau klas.jika rasa kebersamaan inin berlangsung dalam batas – batas tertentu , Maka terjadilah pertemuan antara hati para guru dengan hati para murid , maka terciptalah peluang yang baik untuk berdiskusi atau Tanya jawab serta bertukar pikiran antara mereka. Hal ini menjadi faktor yang memperlancar proses pengembangan akal pikiran murid; dalam hal ini terdapat petunjuk yang sejalan dengan prinsip – prinsip baru dalam pendidikan modern yaitu prinsip demoksari dalam kegiatan belajar .
4. Mengajar ilmu pengetahuan dengan bahasa aslinya
Pemikiran semacam ini merupakan suatu yang amat penting dalam bidang pendidikan , di mana ibnu khaldun telah menjelaskannya ; yaitu mengajarkan ilmu pengetahuan hendaknya dalam bahasa aslinya [ yang di maksud adalah bahasa arab ]. Karena pelajaran dalam bahasa asing [ non – Arab ] hanya berbobot separohnya pelajaran , dan mengajar dalam bahasa asing dianggap hanya berbobot separoh pelajaran .
Alasannya karena para tokoh kebudayaan arab terkemuka yang meninggalkan warisan kebudayaan islam , seperti Al- Kindi, Al – Gazzaly, Ibnu sina dan Ar- Razi , serta Ibnu Haitam dan lain – lain , menonjol kepandaian dan ilmunya , meraka mewasitkan kepada kita peninggalan kebudayaan , keagamaan dan ide- ide , pikiran – pikiran yang seluruh umat manusia memperhatikan dan menyaksikan pada abad pertengahan pada umumnya orang – orang tidak mengenal mereka sebagai orang yang belajar sumber- sumber pengetahuan bangsa asing . para khalifah Dinasti Umawiyah saat itu menghadapi kenyataan bahwa untuk menegakkan pemerintahan islam harus berdasarkan atas prinsip –prinsip yang kuat dari ilmu pengetahuan duniawi di samping ilmu agama . tetapi mereka tidak menemukan jalan untuk mencapai ilmu duniawi tersebut . keadaan demikian juga di alami pada masa – masa permulaan pemerintahan Abbasiyah .
Untuk itu satu – satunya jalan adalah menerjemahkan kebudayaan asing dari Yunani , persi dan Hindu , sistem penerjemahannya di ulang – ulang untuk menyakinkan kesahihan terjemahannya , dan untuk pengecekan agar benar – benar sesuai dengan sumber aslinya . kemudian dipelajari oleh bangsa Arab sehingga dari pengaruh studi mereka muncullah , ilmunya yang menonjolkan dalam bidang –bidang kebudayaan , filsafat ilmu alam , ilmu kimia dan falak , dan lain –lain .
Dalam bidang – bidang tersebut saudara – saudara kita dari bangsa siria lebih dulu telah memberikan contoh sebagian salah satu negara dari negara arab yang mengajarkan ilmu –ilmu tersebut di perguran tinggi , dan di beberapa fakultas –fakultasnya , khususnya di fakultas kedokteran dengan menunggunakan bahasa arab
Penggunakan bahasa arab sebagai bahasa nasional tersebut adalah bukti tentang adanya perhatian nasional dalam negeri mereka , dan sebagai bukti atas sikap bangga diri mereka terhadap jiwa kearaban yang asli , maka tersebar luaslah penggunaan bahasa arab pada masa itu untuk memahami kebudayan asing dari persi, Yunani dan Hindu . dalam periode ini merupakan masa yang paling melegakan hati dan paling banyak memberikan kemampuan untuk meyerap sumber – sumber kebudayan modern secara menyeluruh . .
Kondisi demikian itu disebabkan karena bahasa arab adalah bahasa yang lentur [ fleksible] dan elastis yang tampak menonjol kelenturannya dalam pengungkap analogi , majaz dan kontektualis . hal ini sangat membantu bagi para penerjemah , para ulama dan para pengarang untuk menerapkan peristitahan , dan juga untuk membandingkan pengertian baru yang di ungkap dari pikiran yang belum dikenal dalam waktu pendek dengan langgkah – langgkah pasti dalam rangka merumuskan peristiwa teknis ilmiah .
Di lidanon misalnya , terdengar suara – suara keras yang menghimbau kepada kita tentang kehasuan membahasa arabkan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi dan Universitas arab . kita tidak mengetahui bagaimana caranya merealisasikan tujuan tersebut , oleh karena bahasa arab memang bahasa yang berwatak ilmiah
Di antara yang dapat memperkuat kedudukan bahasa Arab mengandung nilai ilmiah ialah apa yang diceritahkan oleh sejarah dunia menegenai kata-kata Arab yang masuk ke dalam perbendaharaan bahasa Spanyol, yang perkirakan sekitar seperempat isi kampus bahasa spanyol berisi kata-kata yang bersalal dari bahasa Arab yang sebagian besar kata-kata atau kalimat-kalimat ilmiah. Sedangkan bahasa Portugis memimnjam tiga ribu kata Arab, demikian pula bahasa Malta hampir seluruhnya terdiri dari kata-kata Arab. Bukti lainnya adalah ejaan lafal “ Dha “ yang banyak berpengaruh terhadap berbagai bahasa laiannya seperti bahasa Prancis, dan Urdo. Yang sampai sekarang tetap ditulis masih ditulis dengan huruf Arab dalam kedua bahasa terakhir ini.begitu juga halnya berpengaruh terhadap bahasa Turki lebih jelas lagi yang ditulis dengan huruf Arab sampai revolusi Kemal Atarturk. Bahasa Arab pernah menjadi bahasa Internasional dalam ilmu pengetahuan dan perdagangan pada abd pertengahan, sedangkan bahasa Romawi juga berpengaruh oleh bahasa Arab.
Dalam hubngan ini Baron Cardivo, pengarang buku “ Mufahkir Wal Islam “ { ahli Fikr dan Islam } yang beragama Nashrani, terpaksa mengatakan : “ Islam mengajarkan orang Nashranai metode berpikir filosofis, yang merupakan produk dari cirri-ciri ketyidakaslian pemikiran generasi islam yang alami. Memikiran muslim telah mensistematisasikan ilmu kalam ( scahilatik Islam ) yang dipakai oleh nashrani maka orang Nashrani dengan demikian baru mampu menyempunakan akidahnya baik dari seni esensinya maupun segi ungkapannya”.
Tentang penyususnan ini ilmu kalam sebagai salah satu cabang filsafat islam, prof. Louis Masignon mengatakan : sesungguhnya pembuka jalan ilmiah itu beranjak dari bahasa Arab dan di dalam peradaban eropa terdapat tanda-tandanaya. Lebih lanjut ia mengatakan : ……..dan Bahsa arab dengan nilainya yang bersifat Psikologis dan Mistik serta dialogis, mampu menghidangkan bahan-bahan fragmentaris bagi pemikiran barat, sebagaimana halnya dengan kisah seribu satu malam pada Abad tujuh belas M. menghidupkan kembali hati nurani eropa yang telah lama terkungkung oleh cerita-cerita Yunani dan Romawi Kuno. Selanjutnya ia mnegatakan : “sesungguhnya Bahasa Arab adalah alat komuinikasi untuk memindahkan pemikiran kreatif ke dalam kancah kehidupan internasional , sungguh ia menjadi penolong yang hakiki bagi terciptanya perdamaian antar bangsa-bangsa di masa depan.”
Ungkapan ilmuwan tersebut di atas sudah pasti dengan tanpa dipersoalkan lagi, akan memperkuat posisinya sebagai bahasa ilmiah dan pada masa lampau bahasa ini pernah menjadi bahasa Internasional di dunia ini,” bahwa dapat menjamin kemurnian ilmu pengetahuan klasik secara keseluruhan. Maka pada maktu ini lebih tepat dan lebuh kuat jika bahasa Arab ini diberi tempat yang tinggi sejajar dengan bahasa Arab dengan bahasa-bahasa internasional lainnya dalam abad ini.
Namun ada berapa ahli bahasa yang tertarik pada bahasa –bahasa asing non – Arab berpendapat, sebaiknya bahasa ini tetap berada pada tempat yang ada pada saat ini, dengan alasan jika seluruh bidang kehidupan di bahasa- arabkan, maka akan menimblkan kelemahan ilmiah di Universitas-Universitas , di samping itu menyebabkan juga bahasa Asing ( non- arab ) tak terpakai lagi.
Kenyataan dapat kita buktikan bahwa bahasa-bahasa barat dan beberapa bangsa timur seperti cina dan jepang mengajarkan semua ilmu di Universitas melalui cara spesialisasi dengaqn bahasa alinya , dan tak ada seorang pun yang mengatakan bahwa standar ilmiahnya berkurang di negara-negara tersebut.
Adapun mengenai tak terpakainya bahasa Arab asing tersebut, dalam kehidupan kita sekarang, maka untuk merealisasikan ajakan pembahasa arabkan lmu pengetahuan pada khususnya menuntut kepada upaya untuk menyakinkan akan kebenarannya terlebih dahulu. Sehingga pembasa arabkan ilmu di perguruan-perguruan tinggi harus berdasrkan atas prinsip memindahan dari bahsa asing itu ke dalam bahasa Arab, tidak boleh diartikan bahwa pembahasa arabkan ilmu pengetahuan membebaskan perguruan tinggi dari referensi buku-buku yang berbasa asing ha. Jadi ayang dimaksud adalah keharusan yang mnerjemahkan referensi kepustakaan dalam bahasa asing ke dalam bahasa arab untuk selanjutnya dijadikan buku sumber.
Seharusnya metode penmgajaran dalam studi tingkat tinggi dan spsialisasi ilmu tingkat universitas harus mengetahui banyak bahasa. Namun demikian, selama kita membatasi diri pada tujuan-tujuan politis, kita harus menggunakan bahasa nasional sebagai monumen ( syiar ) dan sebagai media untuk mencapai tuijuan tersebuit. Sedangkan kewajiban nasional kita ( bangsa arab ) membahsa arabkan ilmu pengetahuan dalam waktu dekat ini adalah mungkin dapat direalisasikan, di mana merealisasikan pola itu berarrti kita melaksanakn tuntutan nasional sekaligus memenuhi himbauan Ibnu Khaldum.
Di antara alasan yang dijadikan sandaran oleh mereka yang memegangi akibat buruk dari membahasa arabkan ilmu pengetahuan di universitas, adalah karena bahasa arab itu lemah disebabkan banyaknya istilah-istilah yang sulit dipahami dan kemungkinan ditolak jika direalisasikan, sepeerti pernah terjadi pada tahap awal pembangunan kita sekarang ini.seperti ketika Muhammad Ali mendirikan sekolah kedokteran di mana terdapat dokter yangt mengajarkan dengan menggunakan bahasa arab. Sekolah ini menghasilkan dokter-dokter terkenal dan pada waktu itu banyak buku-buklu ilmu kedokteran ditulis. Pada waktu itu sayyid Muihammad ‘ Amru at – Tunisi , menjadi terkenal karena menerjemahkan buku-buku ilmu kedokteran dan ia menduduki peringkat tertinggi dan dalam pengetahuannya mengenai peristilahan teknis ilmu ilmu kedokteran ; di antara bukunya ialah “ as- syudzuru – dhahaiyatu fil- al faadhit-tibbiyati ( Buktri-butir emas dalam istilah ilmu kedokteran ) , juga seorang berkebangsaan perancis yang bernama Clodbey,dokter terkemuka di mesir waktu itu, mengarang buku ilmu kedokteran dalam bahasa Arab.
Para ulama’ pendahulu kita telah menunjukkan rahasia ilmu pengetahuan dan seluk beluknya secara terbuka dihadapanguru-guru yang ingin mendalaminya dengan syarat mereka akan mengajrkan dalam bahasa aslinya yang mereka pahami benar-benar sejak kecilnya melalui proses belajar-mengajar. Oleh sebab itu muncul dari para ulama’ Arab, orang-orang Genius dari kalangan ulama’ Arab di sepanjang zaman perkembangan islam.
Bukanlah suatu kegila-gilaan jika Ibnu Khaldum mengatakan bahwa : pelajaran dengan menggunakan bahasa asing bernilai separuhnya dari pelajaran yang berbahasa arab, dikarenakan kita wwajib menghadapi peristiwa yang mengharuskan perasaan nasionalitas. Kita berani mengambil langkah-langkah mengikuti jejak nenek moyang kita, membangun Darul Hikmah (perpustakaan beasr) yang dipenuhi dengan kitab-kitab berbahasa arab, yang diterjemahkan dan dinukil dari kitab-kitab berbahasa arab sehingga perpustakaan dapat dipenuhi dengan kitab-kitab ilmiah yang meyakinkan untuk menraik perhatian kitab-kitab terjemahan tersebut yang berisi ilmu – ilmu penngetahuan yang baru.
5. Mentransfer ilmu, berpengaruh terhadap latihan
Ibnu Khaldum mengatakan bahwa mendalami suatu teknik pertukangan ( Shana’I ) tidak akan menjadikan seseorang mahir hanya dalam pertukangan itu saja. Tetapi kemahiran tentang tehnik pertukangan akan memberi pengaruh kemahiran pada teknik yang lain yang ia pelajarai, karena dekat hubungannya dengan ilmu yang lain ; umpanya , jika seseorang mahir dalam menulis indah ( chatt ) maka pengaruh kemahirannya akan beralih pada ilmu pengukir didnding ( jika ia mempelajarinya ). Demikan pula jika seseorang mahir dalam ilmu hitung, maka ia akan mudah mendalami al jabar dan ilmu pasti.
Pemberian attensi kepada masalah tersebut di atas oleh Ibnu Khaldum adalah sangat mengherankan kita. Sebab perhatain beliau kepada metoda belajar yang efektif ( sebelum para filosofus pendidikan di eropa memperhatikan hal tersebut ) beliau sangat mendukung teori tentang “ kemampuan akal-pikiran “ dan “ teori pegaruh pelatihan . “ kedua teori ini mengarahkan kepada pembentukan pada tingkah laku tabi’iyah manusia sampai datangnya eksperimen-eksperimen dari ahli-ahli psikologi . mereka menemukan kesalahan kedua teori ini dalam waktu yang bersamaan, sampai mereka mengatakan bahwa cara menteori ini dalam waktu bersamaan, sampai mereka mengataka bhwa cara mentansfer pengaruh itu saja, seseorang akan mendapatkan kemudahan mempelajari ilmu yang lain; pendapat para ahli psikologi tersbut sejalan dengan pendapat Filosuf Ibnu Khuldum .
Yang mengerankan lagi ialah bahwa pendapat beliau itu ada hubungannya denga pandangan pendidikan modern yang memperkuat pendapat bahwa seseorang ketika telah mahir dalam suatu ilmu atau teknik tersebut maka antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya yang serupa, dimungkinkan adanya tranformasi kemahiran dikuasinya kepada ilmu yang berikutnya.

6. Metoda memahirkan berbahasa melalui proses belajar – mengajar
Ini adalah pendapat baru dari Ibnu Khladum yang oleh ilmu pendidikan modern
diungkapkan kemudian hari.
Pendapat ini berhubungan erat dengan bidang sosiologi dan pedagogic. Pendapat beliau yang baru ini mengandung sasaran dan tujuan yang sehat yaitu menganjurkan agar metoda yang digunakan untuk menumbuhkan kemampuan anak dalam mempelajari bahasa untuk memperoleh kemahiran berbahasa. Hal ini dapat memperbaiki pemakainya dalam kehidupan praktis sehari-hari yaitu dengan jalan memperbanyak hafalan ungkapan kata ahli bahasa dan sastra : katanya : “ ….bagi anak-anak setelah \hafal alalu mudah melupakan apa yang telah dihafalkan. “
Ucapan tersebut dapat di interpretasi bahwa hakekat dari apa yang telah dihafalkan anak dan pengetahuan yang telah diajarkan adalah bersifat umum, tidak ditunjukkan kepada essensinya. Maksudnya tidak membentuk minat dan kebiasaan serta pengertian di balik ilmu yang dihafalkan itu.
Demikian sekilas pintas pendapat Ibnu Khaldum tentang pendidikan dan pengajaran. Pendapat tersebut meruipakan pandangan yang kokoh untuk dipegangi dalam teori-teori pendidikan yang paling modern, yang telah lama dianjurkan oleh ahli piker islam pada abad-abad jauh sebelum tokoh-tokoh pendidikan saat ini. Tokoh-tokoh ahli piker muslimi telah berusaha mengungkapkaqn rahasia-rahasia pengetahuanh ini, yang telah melupakan, khususnya pada waktu kita menyadari kebutuhan misi kita yang berkaitan dengan pembangunan negara modern yang harus berdiri tegak di atas landasan kuat yakni ilmu dan iman.
BAB XV
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PENDAPAT

Di kalangan para ahli pendidikan dan tokoh-tokoh pemikir di bidang pengajaran terdapat persamaan dan perbedaan pandangan sesuai dengan aliran paham mereka.
Misalnya Al- Qabisi adalah seorang ulama fiqih yang bermazhab maliki dan ahli sunnah wal jama’ah yang mengikuti pikiran ulama madinah. Sedang Ibnu Sina, ahli filsafat dan ahli kedokteran yang mengetahui ilmu jiwa yang berfaham bebas, tidak mengikuti mazhab Imam Al- Gazzaly adalah seorang ulama sufi yang banyak terpengaruh oleh pemikiran tasawwuf, dan beliau memusuhi filsafat. Kadang-kadang berpandangan tidak realistis sesuai dengan kenyataan hidup lingkungan sekitarnya. Sedang Ibnu Khaldun seorang ahli ilmu pengetahuan dan pendidikan serta pendidikan yang original yang menciptakan pembaharuan-pembaharuan pemikiran pada zamannya.
Oleh sebab itu kita melihat pandangan antara Al-Qabisi sebagai ahli fiqih dan pandangan Ibnu Sina sebagai filosuf yang bebas berpikir, adanya perbedaan dan segi-segi persamaannya, misalnya: Ibnu Sina berpendapat bahwa permulaan mendidik dan melatih akhlak al- karimah anak dimulai sejak ia disapih dari susuan agar tidak terpengaruh oleh tingkah laku orang lain yang tercela, maka sulit untuk diperbaiki lagi. Demikian pula halnya dengan pembentukan kebiasaan yang baik, harus dilakukan secara dini, karena jika di waktu kecil anak telah terlibat dalam kebiasaan buruk, akan sulit untuk dihilangkan atau diperbaiki. Pendapat tersebut di atas para ahli pendidikan Islam sepakat seluruhnya karena itu pepatah yang di waktu kecil, bagaikan mengukir di atas batu.” Meskipun ada juga yang menentang pendapat ini.
Dalam pembiasaan anak, antara Al- Qabisi dengan Ibnu Khaldun terdapat kesamaan pandangan, yaitu proses pembentukan kebiasaan baik, harus dilakukan terhadap anak sejak dini, untuk mencegah masuknya pengaruh kebiasaan buruk ke dalam jiwanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Ibnu Sina, yang mendahului teori pendidikan modern. Di antara kebiasaan baik yang harus dididikan terhadap anak sejak dini menurut pendidikan Islam ialah melaksanakan untuk membiasakan sembahyang. Sedang Ibnu Sina berpandagan lain, yakni pendidikan anak sejak usia dini sampai usia 10 tahun adalah menghafal Al- Qur’an.
Al- Qabisi dan Ibnu Sina setuju (sependapat) tentang keharusan mengajarkan Al- Qur’an beserta huruf-huruf hijaiyahnya dan pengetahuan agama kepada anak pada periode awal pendidikannya. Yang tidak sependapat antara kedua pendidik tersebut ialah tentang mengajarkan syair kepada anak. Ibnu Sina berpendapat bahwa mengajarkan syair kepada anak dimulai dengan syair-syair yang menceritakan tentang anak-anak yang kotor, lalu syair yang mengandung dorongan semangat belajar. Sebab Ibnu Sina memandang syair sebagai salah satu seni, yang dianggap berpengaruh kepada jiwa anak, dan juga karena beliau sendiri adalah seorang penyair. Tetapi Al- Qabisi memandang syair yang diajarkan kepada anak-anak, harus mengandung hal-hal yang indah (dalam kata-katanya). Ia memasukkan syair ke dalam katagori kurikulum pilihan (selektif). Sedang Ibnu Sina memasukkannya ke dalam kurikulum wajib (ijbary). Beliau mengutamakan pandangannya pada tujuan logis dan syair-syair yang mengandung pengertian kedokteran daripada yang berpengaruh pada perasaan.
Dalam kitabnya “Jawami’ ‘ilm al-Musiqa” diceritakan bagaimana beliau membawakan syair ke dalam irama yang harmonis dalam musiknya. Namun demikian, kita melihat adanya kesamaan pandangan antara Ibnu Sina dan Al-Qabisi tentang pendidikan masa kanak-kanak, meskipun kedua tokoh ini berbeda paham atau aliran berpikirnya, terutama yang paling penting ialah pandangan mereka tentang demokrasi dalam pendidikan; yang buktinya antara lain ialah pendidikan anak di maktab-maktab (kuttab-kuttab) yang menerima murid dari berbagai lapisan masyarakat Islam, tanpa membeda-bedakan status sosial-ekonomi atau kepangkatan keluarga.. Begitu pula kesamaan pendapat mereka tentang penerapan hukuman terhadap anak, yang dilaksanakan setelah anak diberi nasihat, didorong atau diancam secara halus dan sebagainya atau dicela perbuatannya. Hukuman dengan pukulan baru diberikan setelah diberi peringatan keras.

Ibnu Sina berbeda pendapat dengan Al-Qabisi tentang pendidikan yang disesuaikan dengan bakat dan kecenderungan murid yang harus diarahkan kepada hal-hal yang baik, sejalan dengan tahap perkembangannya. Sedang Al-Qabisi tidak mempunyai pendapat tentang masalah tersebut, padahal psikologi dan ilmu pendidikan sangat memperhatikannya.
Antara Al-Qabisi dan Al-Gazzaly terdapat perbedaan dan persamaan pandangan tentang berbagai masalah pendidikan. Misalnya, antara keduanya tidak sependapat dalam hal pemberian gaji guru. Al-Gazzaly menganjurkan agar guru tidak mengharapkan upah dari pekerjaannya demi mengikuti jejak para ahli syari’ah atau para ulam fuqoha’. Tetapi Al-Qabisi sebaliknya menganjurkan agar diberi gaji sebagai ganti dari hasil pekerjaan yang ditinggalkan karena bertugas mengajar. Dan juga membolehkan guru menerima hadiah pada hari-hari raya.
Tentang kurikulum pendidikan, antara kedua beliau terdapat kesamaan pandangan. Hanya saja Al-Gazzaly lebih memerinci ilmu-ilmu pengetahuan untuk tujuan pendalaman, misalnya beliau membagi ilmu menjadi 2 jenis. Pertama ilmu-ilmu yang fardlu’ain (wajib bagi orang-perorang) dan kedua adalah ilmu yang fardlu kifayah (wajib bagi masyarakat). Ilmu kategori pertama, menurut Al-Qabisi tergolong ilmu yang dharuriyyah (yang wajib) untuk diajarkan kepada anak, di mana pelajaran Al-Qur’an dijadikan pendahuluannya, baru pelajaran shalat, ilmu nahwu dan chatt (menulis halus). Ilmu hitung, bukanlah ilmu yang wajib dipelajari, yang oleh Ibnu Sina dipandang sebagai ilmu yang boleh diajarkan kepada anak jika dijadikan persyaratan. Al-Qabisi memandang ilmu hisab (ilmu hitung) termasuk ilmu yang ikhtiari (ilmu selektif-pilihan).
Al-Gazzaly adalah seorang ahli tasawwuf yang mendalam pengetahuannya, membahas tentang kurikulum pada semua jenjang pendidikan dari segi pandangan tasawwufnya. Beliau tidak berpegang pada ilmu-ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari akal pikiran, melainkan ilmu yang berdasarkan mujahadah (telaahan yang mendalam) sebagai cara yang paling baik untuk sampai pada tingkat kemampuan menolak ilmu yang dipelajari, dan ilmu yang menyucikan jiwa dari akhlak buruk; al-Gazzly berpendapat bahwa ilmu-ilmu itu diperoleh melalui suatu cara belajar sebagai berikut:
1. Proses belajar-mengajar secara manusiawi (ta’limul insany) yaitu belajar memperoleh ilmu dari pengaruh eksternal (dari luar) seperti dari guru, masyarakat dan lingkungan alam sekitar.Pendapat ini sejalan dengan pandangan beliau tentang metode mengajar anak yang sejalan dengan Al-Qabisi.
2. Proses belajar mengajar secara rabbany (ta’limul rabbany); yaitu kegiatan berpikir yang timbul dari dalam diri anak. Pandangan ini menunjukkan jika filsafat tasawwufnya diarahkan pada proses belajar atau usaha mendapatkan makrifat (ilmu) dengan melalui perasaan pancaindra, kemudian melalui intuisi (ilham). Adapun yang disebut dengan ta’lim ar-rabbany adalah proses belajar timbul dari dalam jiwa manusia dan dari riyadhah shadiqah (latihan yang benar) dan ilham. Sedangkan Al-Qabisi tidak berpaham demikian karena beliau seorang ulama ahli fiqih dan hadis.
Permasalahan yang pantas dibahas ialah yang menyangkut pendidikan anak seperti diuraikan dalam kitab “Al- Mufasshalah”. Al- Gazzaly, sependapat dengan Al- Qabisi mengenai perincian kurikulum, kemampuan belajar, tugas-tugas harian dari para guru, pencampuran murid dalam kelas dan memberikan kebebasan murid untuk saling belajar antara satu sama lain, serta mengadakan kontak dengan orang lain, membina kebersamaan dalam kehidupan mereka dengan jalan menulis surat (berkirim surat).
Al- Gazzaly sependapat dengan para ulama ahli sunnah wal jama’ah dan Al- Qabisi dalam hal mencari makrifat kepada Allah dan kegiatan ibadah untuk mencapai makrifat, serta perbuatan-perbuatan yang terlarang, namun mereka berbeda pendapat tentang masalah metodanya, yang menurut Al- Gazzaly metoda pendidikannya adalah mujahadatun nafsy (mengkonsentrasikan jiwa), dan melatihnya untuk mencapai taqaarub kepada Allah.
Pendapat Al-Qabisi dan Ibnu Khaldun berbeda dalam beberapa hal. Ibnu Khaldun adalah seorang penelitih dan ahli sejarah dan tokoh sejarah dan ahli sosiologi di mana beliau memandang manusia sebagai makhluk beradab, karena ia adalah makhluk berpikir dan social dan pendidikan merupakan suatu keharusan (yang dharury) bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan yang tidak mungkin dicapai kecuali dengan kemampuan memahami melalui pikirannya sebagai kemampuan khusus.
Ibnu Khaldun mengatakan: “keberhasilan dari kemampuan memperoleh ilmu dan seni adalah dengan pengajaran. Oleh karena itu sandaran dalam mengajarkan setiap ilmu dan teknologi adalah pada guru-guru yang terkenal kemasyhurannya ditiap daerah dan generasi manusia”.
Di samping itu Ibnu Khaldun juga mempunyai pendapat lainnya dalam pembagian jenis-jenis ilmu yang berbeda dengan sistem kategorisasi Al- Gazzaly, yaitu:
1. Ilmu-ilmu yang mengandung tujuan pada zatnya seperti ilmu syariah, alam dan theology (ilahiyah).
2. Ilmu-ilmu yang tak mengandung tujuan pada zatnya seperti ilmu alat yang dipergunakan untuk mencapai ilmu-ilmu tersebut di atas, yaitu bahasa, matematika atau ilmu hisab untuk kepentingan ilmu syariah dan ilmu mantiq untuk mencapai filsafat.
Menurut beliau sebaiknya usaha pendidikan kita diarahkan kepada ilmu-ilmu maqasid tersebut di atas, dan dalam hal ini sependapat dengan Al- Qabisi bahwa Al- Qur’an merupakan sumber dari segala ilmu yang harus diajarkan kepada anak. Karena mengajarkan Al- Qur’an kepada anak merupakan syi’arnya agama yang harus dikembangkan oleh ahli ilmu yang semakin meluas ke seluruh pelosok dunia.

Ibnu Khaldun sependapat dengan Al- Qabisi tentang larangan penggunaan kekerasan atau sikap kasar terhadap anak. Beliau menguraikan pendapatnya dalam salah satu pasal dari mukaddimahnya bahwa penggunaan kekerasan terhadap murid oleh guru adalah bersifat darurat (terpaksa). Pendapat beliau demikian menunjukkan bukti bahwa beliau ketahui. Kata beliau:”………Dan barang siapa dididik dengan kekerasan dan perlakuan tak adil, maka ia akan menyerang orang yang memiliki kekuasaan, melenyapkan gairah untuk semangat bekerja, mendorong kepada kemalasan dan berbuat dusta dan keji yang berlawanan dengan hati nurani.”
Pendapat Ibnu Khaldun yang diuraikan di atas sejalan dengan pandangan ahli psiko-analisa bahwa penggunaan kekerasan dan sikap kasar dalam pendidikan anak menyebabkan timbulnya keruwetan yang tersembunyi dalam emosi dan kekalutan emosi yang berpengaruh buruk terhadap tingkah laku seseorang.
Beliau berpendapat bahwa jika mereka memang sudah pantas dipukul, maka sebaiknya dipukul tidak lebih dari tiga kali. Pendapat sesuai dengan pendapat kebanyakan ahli fiqih dan ahli sunnah di antaranya Al- Qabisi sendiri.
Pada hakikatnya, para ulama pendidikan Islam yang ahli fiqi’h, filsafat dan sufi sependapat tentang sumber-sumber pendidikan Islam seperti telah diuraikan di atas. Salah satunya adalah keharusan memulai mendidik dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak sejak usia dini karena akan lebih kuat berkesan dalam jiwa dan lebih cepat kedayagunaannya dalam pembinaan kepribadian mereka. Seluruh ulama setuju dengan pendapat ini, kecuali Abu Bakar Ibnu al- ‘Arabi, yang menghendaki penundaan pengajaran Al-Qur’an kepada anak sampai tingkat kematangan usia, dalam memahami makna Al-Qur’an. Dan anak sejak dini harus dapat meyakini kebenaran ilmu-ilmu yang dapat mempermudah memahami Al-Qur’an sebelum menghafalkannya.

Mayoritas para pendidik Islam tidak menolak pendapat tentang perpaduan (integrasi) antara pengajaran Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu yang dapat mempermudah memahami Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mempunyai pengaruh besar dalam mempengaruhi dan mengarahkan tingkah laku anak sejak usia dini.
BAB XVI
KEISTIMEWAAN SISTEM
PENDIDIKAN ISLAM

Jelas kiranya studi kita tentang pendapat para ahli dan tokoh pendidikan Islam seperti telah diuraikan dalam bab-bab di atas. Pendapat mereka ternyata menonjol sekali dibandingkan dengan pendidikan yang dikenal oleh bangsa-bangsa lain pada abad pertengahan yang satu sama lain dapat dipergunakan untuk saling menyempurnakan.
Keistimewaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Adanya Korelasi Antara Bahan-bahan Pelajaran Dengan Agama
Orang-orang yang mengikuti dan memperhatikan para pakar filsafat pendidikan Islam akan menemukan bahwa pengajaran pelajaran membaca dan menulis merupakan suatu daya pendorong yang menumbuhkan kemampuan membaca kitab suci Al-Qur’an dan menghapalkannya. Sedang ilmu-ilmu bahasa yang diajarkan bertujuan untuk memahami al-Qur’an dan mengungkapkan gaya sastra serta ayat-ayat yang jelas artinya. Sebagai salah satu bukti ialah orang-orang Arab sejak pagi-pagi menyusun gramatika bahasa Arab untuk menghindarkan kerusakan pemahaman Al-Qur’an, kemudian disusun pula balaghah yang bertujuan untuk dijadikan alat memperkuat daya mukjizat Al-Qur’an.
2. Sementara pendapat menganggap bahwa mengkaitkan bahan-bahan pelajaran dengan agama sebagai suatu yang mempersulit pendalaman studi ilmu alam dan lainnya; padahal agama dan Al-Qur’an jika kita pelajari secara mendalam dapat kita temukan petunjuk-petunjuk tentang ilmu pengetahuan dan juga motivasi untuk mencari ilmu serta studi tentang gejala alam. Di samping itu motivasi untuk menggali kekuatan yang terdapat di bedakang gejala alam untuk dimanfaatkan bagi kepentingan kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia.Di dalam Al-Qur’an disebutkan tidak kurang dari 500 ayat tentang anjuran menstudi gejala alam ini sementara ayat-ayat tentang syari’at lebih sedikit dari itu.
3. Mewujudkan Prinsip dan Sistem Desentralisasi Dalam Belajar
Lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan sekolah-sekolah dikembangkan dalam masyarakat untuk mempelajari Al-Qur’an, sedang tokoh-tokoh umat Islam dan orang-orang kaya yang dermawan banyak yang membantu pengembangannya dengan sumbangan dana di samping pemerintah ikut campur dalam urusan pengajarannya, walaupun prinsip wajib mengajar dalam pendidikan Islam belum dikenal mereka. Pada umumnya lembaga “yang mengembangkan dan membangun sekolah di sepanjang masa adalah pemerintah-pemeriniah Islam; Namun yang mengherankan lagi adalah para guru sendirilah yang menyusun kurikulumnya, dan merumuskan program-program serta metoda yang sesuai untuk dilaksanakan di lembaga-lembaga pendidikan tersebut, sehingga tidak ada seorang yang berhak mencampuri kegiatan guru-guru yang bertanggung jawab dalam tugas kewajiban mereka. Maka dari itu mereka bebas memilih metoda dan bahan pelajaran. Sistem demikian itu yang kita sebut dengan sistem desentralisasi dalam pengajaran yang dilaksanakan di sekolah-sekolah di berbagai negara Islam. Ada satu hal yang selalu mereka perhatikan, yaitu mereka memilih bahan pelajaran yang dapat menarik minat murid yang datang dari berbagai pelosok dunia Islam. Di dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam tidak lerdapat pembatasan atau ketentuan dan syarat-syarat penerimaan murid, yang didasarkan atas latar belakang kebudayaan calon murid. Semua orang yang mencintai ilmu diterima menjadi murid di lembaga ini tanpa memandang usia dan kebudayaannya. Satu-satunya syarat bagi murid adalah rasa simpati dan senang untuk belajar, menuntut ilmu dan kemampuan menghafal. Beberapa pengkaji dan pembahas berusaha mengungkapkan sampai di mana pendidikan Islam membatasi bahan-bahan pelajaran. Terbukti bahwa kurikulum pengajaran/pendidikan Islam adalah berdasarkan pada Al-Qur’an di samping memperhatikan “uruf (kebiasaan yang berlaku) ,yang . dihubungkan dengan bahan pelajaran yang lain.
4. Asas Persamaan Dalam Pengajaran dan Demokratisasi Dalam Pendidikan Islam
Dalam pelaksanaan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan Islam tidak terdapat tingkat-tingkat yang diistimewakan bagi sesuatu suku bangsa apa pun, tetapi terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat dan bangsa, baik dan lapisan orang kaya ataupun yang miskin. Tak ada lembaga khusus disediakan untuk anak orang kaya atau untuk golongan tertentu, seperti halnya dengan pelaksanaan pendidikan di negara-negara merdeka. Jika masih ada yang masih mempraktikkan prinsip diskriminasi kesukuan (rasialistic discrimination) dalam pendidikan, maka mereka pasti dikutuk oleh bangsa lain.Pintu lembaga-lembaga pendidikan Islam selalu terbuka kepada siapa saja yang mencintai pendidikan formal yang bersifat social communicative, tak akan menyia-nyiakan keberadaannya, karena mereka pasti memberikan sumbangan dana yang melimpah, sehingga para murid akan memperoleh honorarium (uang saku) dari sekolah-sekolah Islam sebagai imbalan dari kegiatan belajar mereka. Al-Maqrizi, mengatakan bahwa Salahuddin al-Ayyubi mewakafkan 33 buah tokonya kepada sekolah As-Suyufiyyah. Diceritakan oleh Ibnu Jubaer bahwa di Bagdad terdapat 30 buah madrasah yang tidak terpakai karena kekurangah dana, dan dibiayai oleh guru-guru dan murid-muridnya sendiri. Jelaslah bahwa pendidikan Islam telah melaksanakan prinsip-prinsip demokrasi dalam pengajaran, dan mendorong kepada pengajaran nasional sehingga menjadi pendidikan yang bersistem demokratis di mana setiap orang akan dapat menikmatinya, berdasarkan atas kesempatan yang sama sehingga pendidikan dapat mengembangkan anak sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
5. Mengkaitkan Ajaran Agama Dengan Kehidupan Agama. Pendidikan Islam mempunyai sasaran yang ingin dicapai dengan cara menghubungkan pelajaran agama dengan kehidupan manusia. Misalkan di masjid, sebagai pusat pendidikan dan pcngajaran ilmu pengetahuan merupakan tempat perdebatan atau diskusi lentang berbagai permasalahan, antara lain politik dan problema kehidupan yang menjadi pemikiran manusia yang menuntut kepada pemecahan sebaik mungkin di samping masjid sebagai tempat ibadat, digunakan juga untuk mengajarkan ilmu, mendiskusikan urusan umum sampai politik pemerintahan; yang kesemuanya itu menunjukkan bukti bahwa pendidikan Islam bertujuan mencerahkan akal pikiran. Karena pada dasarnya agama tidak hanya mengurusi masalah akhirat saja melainkan juga keduniaan, di mana agama juga mempunyai hubungan erat dengan kehidupan umat manusia. Dengan pertimbangan ini maka kita dapat menginterprtasikan bahwa pendidikan Islam berdiri di atas dua prinsip yaitu : Pertama mengamalkan ajaran agama dan yang kedua memperhatikan kepentingan hidup duniawi. Keduanya tidak terpisahkan, seperti juga tidak dipisahkan antara urusan pemerintahan dengan agama. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa para ahli pikir muslim berkeyakinan bahwa agama adalah merupakan ajaran yang tidak hanya memberikan motivasi kepada umat Islam pergi ke masjid untuk beribadah saja, melainkan juga memberikan motivasi untuk mencari kesejahteraan hidup duniawi dan ukhrawi, karena agama mengandung ajaran yang serba sempurna mencakup urusan hidup dunia dan akhirat.
Agama mengatur hubungan antara hamba dengan Khaliknya. Antara individu dengan individu lainnya, serta mendorong untuk berpikir dan merenungkan serta bekerja mencari kehidupan melalui cara-cara yang diatur oleh syara’. Agama juga mengharuskan kita untuk menggali kekayaan alamiah untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan hidup masyarakat dan juga untuk membangun negara yang kuat yang memelihara kehidupan agama serta menjaga dan mempertahankan negara dari ancaman musuh-musuh dari luar maupun dari dalam.
Sesungguhnya agama adalah membawa ke arah kehidupan yang ideal di mana keadilan dapat ditegakkan dengan agama itu, dan kedamaian serta ketenteraman dapat dijamin sehingga manusia dengan agamanya dapat memperoleh kebahagiaan, ketenteraman dan jaminan atas jiwa, harta dan harga dirinya.
6. Asas Kewajiban Mengajar. Kewajiban mengajar adalah merupakan prinsip pokok yang baru dalam pendidikan Islam. Pendirian ini dipegang teguh oleh Al-Qabisi, Menurut beliau negara harus menetapkan kewajiban mengajar terhadap seluruh generasi muda Islam tanpa membedakan status hidup social ekonomi mereka. Hal ini adalah hak asasi umat Islam yang telah ada sebelum pemerintah mewajibkannya. Tak ada seorang pun atau alasan apa pun yang dapat melarang orang-orang kaya ikut berpartisipasi dalam kewajiban ini, dan melarang memberikan wakaf kepada sekolah-sekolah demi untuk mengembangkan kegiatan belajar-mengajar. Permasalahan pendidikan Islam telah terlebih dahulu menetapkan hak tersebut sebelum pendidikan lain menetapkannya.
BAB XVII
PENUTUP
Orang yang mengabdikan diri di bidang pendidikan demi kepentingan hidup umat sekarang dan masa datang dari waktu ke waktu, memerlukan sumber rujukan yang memberikan tuntunan yang jelas, dan megenal problema-problema dan sumber-sumber serta cara-cara pemecahannya. Begitu pula diperlukan studi ilmiah yang mendalam, karena tujuan pengajaran itu merupakan bagian dari politik negara yang bersumber dari masyarakat yang didasarkan atas kebutuhan-kebutuhannya yang selalu berkembang terus menerus. Faktor-faktor tersebut memerlukan studi dan penelitian dari mereka yang membaktikan dirinya di bidang pendidikan dan pengajaran, di samping sumber-sumber rujukan yang dinamis, yang terus menerus berkembang. Tetapi kita harus menyadari bahwa perubahan-perubahan yang kita inginkan bukanlah asal berubah, melainkan perubahan yang memang kita perlukan sesuai dengan studi lapangan yang didasarkan atas metode-metode ilmiah. Dalam studi dan penelitan tersebut mungkin terpengaruh oleh faktor-faktor khusus yang bersifat mengganggu akibat dari tidak adanya pendidikan tingkat dasar yang diteliti secara khusus.
Untuk memperlancar pelaksanaan penelitian dan pengembangan diperlukan penyelenggaraan konferensi tingkat nasional atau daerah yang menetapkan keputusan-keputusan tentang sumber-sumber sebab kemunduran/kemerosotan prestasi belajamya murid-murid dan bagaimana cara meningkatkannya, yang tujuan tersebut memerlukan studi yang banyak di antaranya analisis kebutuhan pendidikan tingkat dasar (di mana tujuan-tujuan tersebut seharusnya dicapai agar tidak statis).
Jika kita menghendaki pengajaran pendidikan yang modern dengan sistem baru, maka negara perlu segera mengikuti kemajuan ilmu dan teknologi yang dikaitkan dengan sistem pendidikan sekarang. Dan pemerintah harus memelopori atau mengambil inisiatif untuk mengadakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam rangka menyukseskan program-programnya. Salah satu keputusan yang amat penting ialah mendorong pembangunn bidang pendidikan yang mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan bernegara di masa mendatang.
Pembangunan tersebut harus didasarkan pada studi secara ilmiah dibarengi dengan’metode yang benar yang bersifat mengembangkan. Hal ini mengharuskan kita mengambil keputusan-keputusan baru, dan melestarikan proses pendidikan yang mendorong kearah masa depan yang dapat memajukan pemikiran para ahli pikir sampai pada pengambilan kebijakan khusus untuk membangun pusat penelitian nasional dalam bidang pendidikan. Kita menghendaki adanya majelis-majelis nasional atau lembaga ilmu pengetahuan nasional yang bertugas meneliti masalah pendidikan, seperti yang sudah lampau, karena masalahnya telah kita ketahui bersama, begitu pula tentang tujuannya.
Kita sungguh menginginkan adanya pusat pemikiran yang baru yang dapat memberikan pemecahan terhadap pennasalahan besar di setiap keadaan. Untuk itu sangat diperlukan peningkatan kepemimpinan yang efektif dan kemampuan ilmiah sumber daya manusia yang kreatif tinggi mutunya serta kemampuan material yang memungkinkan terselenggaranya sistem penelitian (research) dan studi yang terorganisasikan secara menyeluruh (komprehensif).
Untuk tujuan tersebut kita memerlukan pemimpin dan para ilmuwan yang dapat kita jadikan tempat bersandar dalam kegiatan studi tentang kasus pendidikan. Di mana para ilmuwan tersebut mampu mengkombinasikan antara kebutuhan pembangunan dengan tujuan pendidikan dan pengajaran yang disertai dengan kurikulum dan silabus yang mantap.
Kesemuanya itu merupakan faktor penting yang tak boleh dilupakan, namun demikian ada faktor yang lebih penting lagi yang juga tak boleh kita lupakan yaitu petunjuk yang menegaskan bahwa syi’ar bagi negara kita pada zaman modem ini adalah ilmu dan iman, yang dapat meninggikan martabat dan derajat yang kita cita-citakan. Untuk merealisasikan keimanan dan meningkatkan kemampuan berilmu pengetahuan, kita harus kembali kepada sumber-sumber pokok pendidikan Islam ialah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Di dalam kitab suci Al-Qur’an telah diletakkan dasar-dasar pandangan yang luas bagi keunggulan nilai pendidikan Islam, serta kebijakan-kebijakan yang harus kita pedomani.
Saat ini kita sangat membutuhkan ilmuwan-ilmuwan ahli penelitian pendidikan pada pusat riset nasional pendidikan untuk melakukan studi mendalam tentang gaya-gaya atau metode-metode yang terdapat di dalam Al-Qar’an serta pandangan prinsipalnya tentang pendidikan. Saya yakin bahwa petunjuk Al-Qur’ an adalah sebaik-baiknya pedoman bagi kita dalam pembinaan iman dan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia.
Kitab yang kecil ini saya akhiri dengan kalimat penegasan bahwa sebagian besar ilmuwan dalam bidang pendidikan Islam telah merumuskan permasalahan pendidikan secara rinci sejalan dengan pendidikan modern dan relevan dengan realitas pendidikan kita masa sekarang yang kita kehendaki, Saat ini kita sangat mendambakan kepada hasil pemikiran dari tokoh-tokoh ulama yang duduk di tingkat “Pusat Riset Pendidikan Tingkat Nasional” yang selalu memikirkan sumber-sumber pendidikan yang mendorong kepada perkembangan dan mengetahui benar-benar tentang tuntutan kebutuhan yang mendesak dalam bidang pendidikan yang kita cita-citakan. Semoga Allah SWT melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
1. Sarhan, Dr. Damradasy. Allah ya-tajalla fii ‘Ashril ‘Alami, Yayasan Franklin.
2. Syalaby, Dr. Ahmad. Tarichut-Tarbiyyatil Islamiyyah. Daar Al-Kasy Syaaf Bairut.
3. Al-Jahizd. Al-Bayaan Wat-Tabayyun, Juz Awwal.
4. Al-Ahwani, Dr. Fuad Ahmad. At-Tarbiyyah Fil Islam. Dar Al-Ma’aarif Mesir.
5. Al-Hiry. Al-Hadlaraatul-Islamiyyah Fil Qarnir-Raabi’. (Penerjemah Abdul Hadi Abu Raidah).
6. Latnah Taklif Wa Tarjamah Wan Nasr).
7. Al-Hamawi, Yaqut. Al-Irsyad, Juz As-Tsaani.
8. Al-Hamawy, Yaqut. Ma’jamul Udabai, Juz As-Sadisi.
9. Al-Charbutaly, Dr. Ali Husna. Al-’Arabu Wal Hadlaarah. Al-Maktabh Ingelo Al-Mishriyyah.
10. Hasan, Dr. Hasan Ibrahim. Taricgul Islamis-Siyasi Wad-DienyWas-Tsaqafy Wal Ijtimaa’y.
11. Maktabah An-Nahdhiyyah Al-Mishriyyah.
12. Al-Adyaani. Ad-Dienu Buhutsu/Mumhidatin Lidiraasati Tarich.Dr. Mohammad Abdullah Daraz.
13. Aziz, Ustadz Salih ‘Abdul. At-TarbiyyatuI Haditsah, Maddatuha Wabadi’uha Watathhiqaatuhal
14. Ilmiyyah. Dar-Al-ThaUbLinasynl Tsaqqafati Bi Iskandariyyah.
15. Deweey, John. Ad-Dimoqraatiyyah Wat-Tarbiyyah. (Penerjemah Mata ‘Aqraawy dkk,). Lajnah Ta’lif Wat-Tarjamah Wan-Nashri.
16. Sam’aani, Dr. Wahib. Diraasat Fit-Tarbiyyatil Muqaaranati. (Penerjemah Maktabah Ingelo Mesir).
17. Al-Fandi, Dr. Jamaluddin. An-NadhariyyatuI ‘Ilmiyyatu.
18. Mustafa Amin, Ustazd. Tarichut Tarbiyati. Daar Al-Ma’aarif Bi Misra.
19. Fahmi, Ustazd Asma.Ar-TarbiyyatuUsIaamiyyatM.LajnahutTalif Wat-Tanamah Wan-Nashri.
20. Khaldun, Ibnu. Muqaddamah.
21. Al-Usuidul Haditsah Fii Tadrisil Lughatil ‘Arabiyyati Wat-Tarbiyyati’., Diniyyati. Daarun Nahdhah Mesir.
22. Hasan Ustadz ‘Abdul Hamid. Al-Qawwa’idun Nahwiyyah, Maaduatuha Wa Tariqqatuha.
23. Khathir, Dr. Rusydi. Muhaadlaratu’ilmil Manaahiji, Al-Bi’tsah Ad-Daachiliyyati.
24. Brockelman, Tarichul Adabil ‘Araby. Juz III.
25. As-Syahstrany, Al-Milalu Wan-Nihalu. Juz I.
26. Al-Bagdady, Ibnu Rajab Al-Hamabaly. Fardhlu IlmisSalafi ‘Alal Khalafl. Al-Matba’ah Al-Muniriyyat Bil Al-Azhaar.
27. Al-Qabisi. Ar-Risaalatul-Mufassiliyyat Li Ahwaalil Muta’allimin Wa Ahkaamil Mu’allimin Wal Muta’allimin. (Dikoreksi Dr. Al-Ahwaani.
28. Sina, Ibnu. Kitabus Siyaasati Wa Qanuni.
29. Al-Jahiz, Al-Bayaanu Wat-Tabyiinu. Juz 11.
30. Gharrabah, Dr. Hamudah. Ibnu Sina Bainad Diini Wal Falsafati. Majma’ul Buhutsul Islamiyyah.
31. Khalikan, Ibnu. Wafaatui A’yaani. Juz V. Daarul Makmun.
32. Al-Muqfithi. Tarichul Hukama, Daar Al-Ma’aarif Al-Islamiyyati.
33. Daarirah Ma’aanil Bustani.
34. Al-Gazzaly, Imam. Al-Munqiz Minal Dhalal.
35. Shahiefatut Tarbiyyati. ‘Adadi Mayu.1960.
36. Sulaeman, Ustaz Rathiyyah. Al-Mazahibut-Tarbawiyyu ‘Indal Gazaaty. Daar An-Nahdhah Mesir.
37. Tuqan, Dr. Qudry Hafidz. Al-Khaalidunal ‘Arabi. Daarul ‘Ilmi LilMalaayini Bi Bairut.
38. Boer, J. De. Tarichul Falsafati Fil Islami. Latnah Wat Ta’lif Wan Nashri.
39. Al-Gazzaly. Ihyaa ‘Ulumuddin. Juz Awwal Was Tsalitsi: Kitabur , Riyaadhatun Nafsi Watahdhiebil
40. Akhlaqi Wa Kitabul ‘Ilmi.
41. Farruch, Dr. Umar. ‘Abqariyyatui ‘Araby Fil ‘Ilmi Wal Falsafati.
42. Al-Gazzaly. Risalah Ayyuhal Walahu.
43. Turaatsul Islami, Juz Awwal.
44. Salim, Dr. Mahmud Razzaq. ‘Ashru Salatinil Mamaalild.
45. Waafi, Dr. Ali Abdul Wahid. ‘Abqariyyatu Ibnu Khaldun. Daarul ‘Alamil Kutubi.
46. Khaldun. Ibnu. Tarich Ibnu Khaldun Wat Ta’riefy Bihi’.
47. ‘Annaani, Ustaz Mohammad Abdullah. Ibnu Khaldun Hayatuhu Wa Turaatsuhu Al-Fikriyyu.
48. Salim, Dr. Sayyid Abdul’Aziz. Al-Maghrabul Kabir, Al ‘Ashril Islamy. Daarul Qaumiyyati.
49. Husein, Dr. Thaha. Falsafatu Ibnu Khaldun Al-Ijtimaa’lyyati.
50. As-Sukandari, Ustaz Syech Ahmad dan kawan-kawan. Al-Wasith Fil Adabil ‘Arabi Wa Taarichuhu.
51. Wajdi, Ustaz Mohammad Farid. Ibnu Khaldun Fil Mizani.


4 Responses

  • idrus86_tarbiyah

    KATA PENGANTAR
    Masalah pendidikan merupakan kepentingan yang memeperoleh prioritas utama sejak awal kehidupan manusia. Bahkan Rasulullah sendiri telah mengisyaratkan bahwa proses belajar bagi setiap insan adalah sejak ia masih dalam kandungan ibunya sampai si insane sudah mendekati liang kuburnya, dan sejak dari rumah tangga orang tuanya sampai jauh ke lain negara. Sebagai agama yang mengutamakan pendidikan, maka sepanjang kurun kehidupan Islam hingga kini telah muncul banyak ahli piker menyumbangkan buah pikirannya dalam bidang pendidikan khususnya, maupun dalam berbagai bidang lainya. Tokoh- tokoh pemikir yang termasyhur, antara lain Al- Qobisi, Al- Gazzaly, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, yang telah menyumbangkan buah pikirannya untuk kesempurnaan dan kemajuan bidang pendidikan Islam yang berlandaskan pada Alquran dan Sunah Nabi.
    Dalam buku ini pandangan-pandangan para pemikir/ pakar pendidikan Islam tersebut diketengahkan kembali untuk kita kaji bersama, sehingga bisa kita jadikan pedoman atau pengangan serta penelaahan lebih jauh mengenai sistem-sistem atau metode-metode pendidikan yang berdasarkan pada Alquran dan sunahsemoga buku ini akan memberikan tambahan ilmu kepada para pembaca. Apabila ada saran-saran dari para pembaca demi

    BAB I
    PENDAHULUAN
    PERBANDINGAN PENDIDIKAN PERSPEKTIF ISLAM

    Alhamdulillah Wasshalatu Wassalaamu ‘Alaa Rasulillah S.A.W. Ammaa Ba’du:
    A. Latar Belakang
    Sejak awal perkembangan pendidikan Islam telah berdiri tegak di atas dua sumber pokok yang amat penting yaitu Al-Quran dan sunnah Nabi. Di dalam kitab suci ini terkandung ayat-ayat mufasshalaat (terinci) dan ayat-ayat mubayyinat (yang memberikan bukti-bukti kebenaran) yang mendorong kepada orang untuk belajar membaca dan menulis serta untuk menuntut ilmu, memikirkan, merenungkan dan menganalisis ciptaan langit dan bumi. Oleh karena itu maka tujuan da’wah Islamiyah adalah untuk memberi cahaya terang kepada hati nurani dan pikiran serta menambah kemampuan umat Islam dalam melakukan proses pengajaran dan pendidikan. Karena Rasulullah s.a.w. sendiri diutus pertama-tama untuk menjadi pendidik dan beliau adalah guru yang pertama dalam Islam.
    Walaupun sasaran, metode dan tujuan-tujuan pendidikan Islam sangat berbeda dengan apa yang terdapat dalam pendidikan umum, karena pendidikan Islam berlandaskan pada Al- Qur’an dan sunnah Rasul- Nya, tetapi system pendidikan Islam selalu mengkaitkan pola dan system pendidikan umum. Dalam hubungan ini Al- Qur’an telah memberikan penjelasan tentang ketentuan-ketentuan hukkum yang memperhatikan kepentingan umat manusia, yaitu antara lain: mengkaitkan antara ketentuan agama dengan norma-norma akhlak; meletakkan kaidah-kaidah yang mengatur kehidupan manusia sehari-hari; menciptakaan kondisi kehidupan yang ideal bagi manusia dalam mencapai kesatuan hidup social. Di sampig itu dijelaskan pula tentang akidah atau kepercayaan, ibadah dan mu’amalah, dan lain-lian.
    Pada dasarnya pola pelaksanaan pendidikasn Islam dapat menggabungkan dalam waktu bersamaan antara pendidikan kejiwaan dengan pembersihan ruh (jiwa), menumbuhkan kecerdasan pikiran, memperkuat jasmani (kesemuanya ini akan dijelaskan dalam bab demi bab).
    Pendidikan Islam dimulai dari keluarga (rumah) di mana anak-anak menerima pengaruh dari apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dengan cara meniru dan menerima pelajaran. Sembahyang merupakan pelajaran yang pertama-tama diberikan kepada anak sejak masa kecil, karena sembahyang itu merupakan salah satu rukun Islam yang kedua ( yang menjadi tiangnya agama ).
    Kemudian disusul dengan berdirinya pengajian anak-anak dan yang menjadi gurunya di sebut al-faqih yang pada umumnya mereka hapal Al-Qur’an, mengerti dasar-dasar pendidikan agama. Pada saat itu kaum muslimin amat memperhatikan pengajaran Al-Qur’an bagi anak-anaknya yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar huruf-huruf hijaiyah, nahwu sorof, bahasa arab dan dasar-dasarilmu hitung. Kemudian setelah itu berkembanglah system pengajaran Islam dengan cepatnya di negara-negara Islam yang membuka hubungan kebudayaan Islam dengan bangsa-bangsa lain di dunia, seperti yunani-kuno, dan lain-lainnya. Bentuk hubungan-hubungan tersebut anntara lain dengan cara menerjemahkan dan menukil ilmu pengetahuan daribuku-buku mereka. Maka dengan cara ini berkembanglah pengajaran dan pendidikan yang akhirnya melahirkan Madrasah Nizamiyyah, perpustakaan-perpustakaan Islam (Daar al- kuttub), balai-balai ilmu dan hikma, serta muncullah ilmuwan-ilmuwan muslim dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
    Pada hakikatnya agama Islam adalah agama yang mendasarkan kepada persamaan dan tasammuh (toleransi), kebebasan, kasih saying antara sesama manusia, mengajarkan amar-ma’ruf dan nahi-mungkar. Dari aspek-aspek inilah pendidikan Islam berkembang dengan jiwa agama yang didasarkan pada rasa takut kepada Allah SWT; seorang muslim tidak ada yang ditakuti kecuali Allah SWT, dan ia berani menghadapi hak orang lain, yang telah ditetapkan berdasarkan sunnah Nabi dalam bentuk serta melaksanakan kewajiban menurut ajaran agamnya.
    Dalam pendidikan Islam tidak dikenal pengertian interaksi seperti yang dikenal oleh para pemikir aliran empirisme- eksteralisme, akan tetapi pendidikan Islam mengenal adanya interaksi yang tidak mempertentangkan antara perbuatan seseorang yang berkaitan dengan hak-hak asasi terhadap kebebasan berkehendak (free will).
    Jika kita ingin mendapatkan ruh agama yang kuat dalam pendidikan Islam , maka kita akan menemukan dalam eksistensinya yang meliputi ruh Al-Qur’an dan kemudian dari ruh yang terkandung di dalam peradaban Islam yang bersumber pada Al-Qur’an (yang menolak faham individualisme yang egoistic), menciptakan dan mendorong manusia yang berwatak sosialistik serta memberikan kepada setiap orang kebebasan atau kemerdekaan berfikir, sereta membebaskan masyarakat dari kasta-kasta. Di samping itu tujuan pendeknya adalah merealisasikan prinsip-prinsip keadilan, menghormati segi-segi kemanusian dan tolong-menolong antara sesama manusia.
    Peradaban Islam berdiri di atas landasan ilmu dan iman yang kokoh yaitu ilmu yang manfaat yang memberikan kebajikan kepada manusia seluruhnya dan iman yang kuat kepada Allah SWT sebagai pencipta langit dan bumi. Ilmu dan iman itu merupakan landasan kuat bagi pembangunan masyarakat yang sejahtera di dunia dan di akhirat kelak.Ilmu dan iman menjadi sumber orisinal pendidikan Islam yang sejalan degan tuntutan kehidupan modern sekarang ini. Modernitas kehidupan manusia jaman sekarang harus membuka diri kepada cita-cita hidup yang berkembang, yang membawa ketinggian martabat hidup di dunia yang membuka pintu yang luas untuk persiapan kehidupan akhirat.
    Jika system pendidikan tidak berlandaskan pada iman dan ilmu, maka tak akan mampu merealisasikan kebahagiaan hidup manusia dengan sempurna. Oleh karna dengan sistem ini, pendidikan akan mampui merealisasikan ketenangan dan kemantapan jiwa anak serta menghormati kepribadian individual. Islam mengajak kepada ketentraman, penghormatan kepada orang lain dalam melaksanakan pendidkan Islam yang lebih mementingkan pada pembentukan kebebasan hakiki yang menghayati essensinya kebebasa itu sendiri. Oleh karena itu Islam mendorong pertumbuhan dan perkembangan serta memberikan kebebasan berpikir supaya mampu menganalisis dan melakuakan upaya pengambilan hukum serta menetapkan hukum melelui kecerdasan pikirannya. Dalam kitab ini saya berusaha mengungkapkan ciri-ciri pendidikan Islam dan pandangan-pandangan khusus yang diambil dari hasil studi yang di lakukan oleh 4 orang pakar pendidikan Islam yang cukup terkenal, yatitu Al Qabisi, Ibnu sina, Al Gazzaly dan Ibnu Khaldun.
    Adapun tujuan pokoknya kami bermaksud menyajikan di hadapan para yang menekuni masalah-masalah pendidikan Islam baik di Mesir, Arab maupun di negara Islam lainnya agar mengetahui tentang tujuan-tujuan, kurikulum, metodik, dan didaktik yang terdapat dalam pendidikan Islam (dalam bentuk proses belajar mengajar secara efektif dan efisien).
    Uraian yang di sajikan dalam kitab ini lebih menitikberatkan pada perbandingan antara berbagai pendapat di kalangan tokoh-tokoh dan para ahli pendidikan Islam, yang dengan teori-teori pendidikan modern sekarang ini. Di samping itu di uraikan pula pendapat-pendapat baru dari tokoh-tokoh pemikir masa lalu, agar supaya kita dapat memastikan bahwa para ulama dan ilmuwan bangsa Arab Islam mempunyai pandangan yang luas sesuai dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, dan teknologi pendidikan.
    Kami tidak berpretensi bahwa kitab yang kecil ini telah mencakup segalah aspek yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Namun karena ada beberapa aspek pendidikan Islam yang memerlukan tambahan pelajaran dan studi banding, maka perlu kita jelaskan tentag metodologisnya, sehingga memberikan kejelasan kepada kita, bahwa : 1. Usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara Islam, seperti di Arab, Mesir dan di negara-negara Islam lainnya, agar status dan pedidikan kita menjadi modern sebagaimana telah terjadi pada zaman keemasan Islam (abad 12 dan 13 M). 2. Semua usaha tersebut tak akan tercapai melainkan harus kembali kepada filsafat pendidikan yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul. Kedua prinsip pendidikan yang telah di uraikan sebelumnya yaitu iman dan ilmu, mampu merealisasikan modernisasi yang kita cita-citakan, dengan syarat apabila kedua prinsip pendidikan Islam ini menjadi pola panutan dalam kehidupan kita masing-masing.
    Dalam uraian tersebut jelaslah bagi kita bahwa sikap dan pandangan kaum muslimin yang paling penting dalam pendidikan Islam, adalah pandangan yang bersumberkan kepada Al-Qur’an dan hadist rasulullah s.a.w.
    Tujuan pendidikan Islam pada dasarnya ialah mempersiapkan perkembangan anak agar mampu berperan serta secara berkesinambungan dalam pembangunan manusia yang berkembang terus dan mampu beramal kebajikan selama dalam upaya mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhiratnya. Inilah yang merupakan jalan Islami yang diajarkan dalam kitab suci Al- Qur’an sebagai berikut :
    “ Dan carilah segala sesuatu yang telah menganugerahkan kepadamu mengenai kampung akhiratmu, dan janganlah kamu melupakan nasib hidupmu di dunia”. (Al- Qasas, 77)
    Kitab ini terbagi ke dalam beberapa bab, yaitu bab pertama tentang ciri-ciri dan tujuan pendidikan Islam; lembaga-lembaga pendidikan dalam Islam; tujuan-tujuan pendidikan Islam, tujuan-tujuan pendidikan zaman dulu dan masa sekarang. Hubungan antara Islam dan pendidikan, Al- Qur’an menetapkan kebijaksanaan pendidikan yang paling baik, beberapa prinsip filsafat pendidikan menurut Al- Qur’an, kurikulum pendidikan Islam, pandangan orientalist. Dan bab II menjelaskan tentang pandangan Al- Qabisi, seorang ulama ahli fiqih dan hadits yang menyoroti masalah pendidikan. Bab berikutnya tentang pendapat Ibnu Sina sebagai filosuf, pendidik, ahli kedokteran dan ahli ilmu jiwa, dan tentang keistimewaan pendidikan Islam, kemudian perbandingan antara pendapat Al- Qabisi, Ibnu Sina dan Al- Gazzaly serta Ilmu Khaldun. Akhirnya penutup, yang berisi uraian tentang pentingnya riset dalam pendidikan nasional. Dalam tiap bab, saya uraikan tentang kedudukan pendidikan Islam yang berkaitan dengan pandangan atau hipotesa dari pendidikan modern masa kini. Akhirnya kepada Allah kita memohon petunjuk agar dapat berhasil dalam melaksanakan sistem dan pola pendidikan Islam.
    BAB II
    CIRI-CIRI DAN TUJUAN
    PENDIDIKAN ISLAM
    Pendidikan Islam mulai dilaksanakan oleh Rasulullah s.a.w. sebagai Mubalug yang agung di tengah masyarakat di rumah Arqam bin Al- Arqam di Mekah. Beliau mengajarkan tentang ajaran Islam dan semua ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, dengan membacakan secara berurutan dan bertahap. Pada waktu itu bangsa Arab berada pada puncaknya bahasa Arab yang fasih dan tinggi mutu balaghahnya (nilai kesusastraannya). Oleh karena itu ketinggian bahasa Al-Qur’an dapat menerangi hati mereka dan menembus lubuk hati mereka, sehingga mereka dapat memahami maksud dari hukum-hukum yang terkandung di dalam kitab suci ini.Ayat-ayat yang mutasyabihat (yang belum jelas maksudnya) dalam Al-Qur’an dapat mereka pahami melalui penjelasan Rasulullah. s.a.w. Sistem pengajaran Islam semacam ini berlangsung terus sampai pada waktu Rasulullah memerintahkan para tawanan perang Badar (dari kaum musyrik) untuk mengajarkan membaca dan menulis kepada sepuluh anak di madinah. Maka sejak itu mulailah sistem mengajar membaca dan menulis mengikuti metode yang baru. Pada waktu itu membaca dan menulis dipandang sebagai alat yang wajib dimiliki untuk mempelajari Alquran dalam bentuk menulis, menghafal dan membacanya secara benar.
    Dalam hubungan ini kita dapati didalam Alqur’an sendiri penjelasan pada awal surat yang diturunkan kepada Nabi yang mengajak
    (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah Ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir, 28).
    Firman Allah lainnya adalah seperti dalam surat Ibrahim, 32-33 sebagai berikut:
    “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (Ibrahim, 32).
    “Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim, 33).
    Kitab suci Al-Qur’an yang penuh dengan segala kemuliaannya yang menunjukkan kepada ketinggian ciptaan Allah itu mendorong manusia muslim untuk memikirkan tentang segala yang diciptakan-Nya dalam alam semesta yang penuh dengan keajaiban tanda-tanda kebesaran-Nya- Bahkan orang-orang yang memikirkan tentang makna dan tujuan dari ayat-ayat Al-Qur’an itu tidak hanya terdorong untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, membahasnya dan mendidik akal saja, melainkan karena agama Islam yang berdiri tegak di atas landasan dan kaidah-kaidah yang telah ditunjukkan oleh Rasulollah s.a.w. di dalam hadisnya yang mulia bahwa: “Islam dibangun di atas lima manusia untuk belajar membaca dan menulis Juga menjelaskan tentang penggunaan pena tersebut untuk mempelajari, menggali dan menemukan hakikat kebenaran. Maka tidak mengherankan jika Allah SWT sendiri bersumpah dengan “KALAM” (PENA) seperti tercantum pada surat Al-Qalam sebagai berikut :
    “Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tuliskan’.’ (Al-Qalam,:1)
    Sudah selayaknya jika kita berkeyakinan bahwa ilmu pengetahuan yang dianjurkan oleh Al-Qur’an tidak terbatas pada ilmu pengetahuan agama saja, melainkan juga ilmu-ilmu lain yaitu ilmu-ilmu pengetahuan yang bersifat komprehensif yang dihasilkan dari proses diskusi, penelitian, telaahan dan istimbat (pengambilan hukum). Hal ini sejalan dengan maksud ayat Al-Qur’an dan Surat Al-Fathir 27-28) sebagai berikut :
    “Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkaii dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka -warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat’ (Fathir, 27).
    “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah Ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir, 28).
    Firman Allah lainnya adalah seperti dalam surat Ibrahim, 32-33 sebagai berikut:
    “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bwni dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (Ibrahim, 32).
    “Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim, 33).
    Kitab suci Al-Qur’an yang penuh dengan segala kemuliaannya yang menunjukkan kepada ketinggian ciptaan Allah itu mendorong manusia muslim untuk memikirkan tentang segala yang diciptakan-Nya dalam alam semesta yang penuh dengan keajaiban tanda-tanda kebesaran-Nya. Bahkan orang-orang yang memikirkan tentang makna dan tujuan dan ayat-ayat Al-Qur’an itu tidak hanya terdorong untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, membahasnya dan mendidik akal saja, melainkan karena agama Islam yang berdiri tegak di atas landasan dan kaidah-kaidah yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. di dalam haditsnya yang mulia bahwa: “Islam dibangun di atas lima landasan ….” maka yang dimaksud dengan dua kalimah syahadah adalah mengesakan Allah dan beriman kepada Rasul-Nya; yang keduanya merupakan landasan pokok dari Islam dan iman. Sedangkan shalat adalah menjadi tiangnya agama yang mengandung pendidikan jasmani dan rohani, Membayar zakat adalah mensucikan jiwa dan harta; Menunaikan ibadah haji ke Baitul-Haram adalah menuntut kekuatan fisik menempuh perjalanan yang mendidik manusia untuk tahan terhadap kesulitan serta melatih jasmaniahnya. Mengerjakan puasa menuntut kesabaran, membersihkan jiwa serta mencegah anggota-anggota badan dari segala kerusakan, juga melatih nafsu terhadap segala sesuatu yang tidakdisukai dan terhadap segala yang melelahkan-nya. Di dalam kondisi demikian itu terdapat unsur-unsur kependidikan yang saling menyempurnakan antara akhlak, latihan mental dan fisik manusia.
    Oleh karena itu pendidikan Islam mulai sejak periode awal perkembangannya mengandung keunggulan karena pendidikan Islam adalah pendidikan yang bercorak komprehensif (menyeluruh) yang mendorong ke arah mendidik seorang muslim dan segala aspek kemampuannya.
    Oleh karena itu semua hal yang telah kami jelaskan mengenai komprehensivitas pendidikan Islam itu diperkuat dengan bukti-bukti bahwa Allah SWT ketika mengangkat derajat Nabi Muhammad s.a.w. yang mulia melebihi Nabi-nabi dan para ahli kebenaran lain memerintahkan Nabi untuk menyeru kepada jalan Allah dengan lemah lembut dengan firman-Nya :
    “Dan katakanlah : Wahai Tuhan-ku. tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan…..”
    Oleh karena itu Islam menjadikan ilmu pengetahuan sebagai salah satu sarana untuk meneguhkan keimanan dan memperkuatnya rasa kebersamaan manusia dalam menangani pendidikan.
    Hampir seluruh ayat-ayat Al-Quran mengandung ajakan ke arah berpikir dan merenungkan terhadap segala ciptaan Allah di alam semesta ini. Jika manusia mampu mendalami ilmu dan dapat menemukan banyak rahasia-rahasianya maka pasti terbuka kesadarannya terhadap Kekuasaan Pencipta Yang Maha agung terhadap alam semesta yang diciptakan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya sebagai berikut :
    “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan: (Kami} dan sesungguhnya Kami benar-benar- berkuasa. (Ad-Dzariaat, 47).
    Mengingat keterbatasan akal pikiran manusia dalam memahami dan mengungkap rahasia alam semesta, maka menjadilah kuat iman seorang hamba Allah kepada Tuhan Maha Pencipta langit dan bumi. Dalam hubungan ini Albert Mac Combe Wenchester mengatakan: “Jika kita ingin meniperteguli iman kita kepada Tuhan, maka kita hams meningkatkan upaya yang maksimal dalam mengungkapkan rahasia dari hakikat segala sesuatu’.
    Jika Allah menghendaki Nabi-Nya mendapatkan kemuliaan maka Dia memberikan kepadanya sifat-sifat keutamaan akhlak, Firman-Nya:
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung’.’ (Al-Qalam, 4).
    Kemudian Allah berfirman tentang pentingnya pengamalan dengan :
    “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu ….” (At-Taubah, 105).
    Yang dimaksud dengan “amal” (pekerjaan) di sini tidak saja amal keagamaan, melainkan semua amal perbuatan yang bermanfaat bagi agama dan keduniaan. Bekerja (beramal) mengandung dua makna yaitu penyegaran jasmani dan memperkuat ketahanan terhadap segala masalah (kesulitan), oleh karena itu orang mukmin yang kuat lebih baik dari pada orang mukmin yang lemah.
    Dalam ajaran agama Islam terdapat perintah untuk lebih memperhatikan program perdidikan jasmaniah seperti yang diriwayatkan oleh Umar r.a. yang menyatakan: “Ajaklah anak-anakmu dengan berenang, dan memanah serta perintahkan mereka untuk melompat dengan menaiki kuda,”
    Pada dasarnya sifat komprehensif dari pendidikan Islam tidak akan menimbulkan keraguan sebagai pendidikan yang unik yang berkembang atas pengaruh sistem pendidikan Persi dan Romawi di mana dalam kedua sistem pendidikan ini telah mengalami kerusakan dan tidak simpatik. Meskipun pendidikan Islam berwatak komprehensif, yang sejak. dini bertujuan kepada pendidikan keagamaan, yang lebih mementingkan kepada memelihara Qur’an dan Sunnah Nabi serta pengajaran shalat, sampai pada saat kaum muslimin mengadakan kontak (hubungan) dengan kebudayaan asing dari Yunani, Persia dan Hindu. Dan diterjemankannya ilmu-ilmu pengetahuan bangsa-bangsa ini ke dalam bahasa Arab, maka sejak itu pendidikan Islam diarahkan kepada studi ilmu-ilmu pengetahuan Yunani, Persia dan Hindu beserta filsafatnya. Al-Qur’an yang menjadi dasar pokok dan sumber asli pendidikan Islam, lebih mendorong kepada pemikiran dan perenungan terhadap ciptaan Allah beserta keidahannya dalam alam semesta ini. Dari sini muncullah tokoh-tokoh ulama muslim yang telah mencapai puncak perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka telah sampai kepada tingkat kreativitas (daya cipta) tinggi di bidang ilmu pengetahuan. Mereka mengkaitkan dengan peradaban lama sesudah mereka mengkorelasikannya dengan maksud menonjolkan dengan wajah baru yang kemudian dikenal sebagai “Kebudayaan Islam”.
    Pada periode awal pendidikan Islam sangat memperhatikan kegiatan mendidik anak untuk hidup beragama yang benar sehingga mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang berakhlak mulia, dan melakukan kegiatan., hidupnya sesuai norma-norma agama yang benar. Orang-orang tua dan guru-guru mereka yang melaksanakan pendidikan anak memandang anak-anak mereka sebagai orang dewasa yang berbentuk kecil, yang mana pandangan demikian bertentangan dengan prinsip-prinsip pendidikan modern. Kecuali dalam hal menumbuhkan proses kedewasaan dalam pendidikan akhlak. Para orang tua membebani anaknya menurut hukum syara’ berdasarkan hadis Nabi : “Perintahlah anak-anak kalian untuk menjalankan shalat pada waktu usia tujuh tahun dan pukullah mereka untuk bershalat pada usia sepuluh tahun”
    Hadis tersebut jelaslah bagi kita, bahwa menurut kebiasaan agama jika dengan perintah, nasihat dan bimbingan tidak berhasil dalam pembinaan sembahyang pada diri anak, maka diizinkan untuk menggunakan kekerasan, meskipun tidak sesuai dengan pendapat tokoh pendidikan modern, namun secara praktis hal itu dapat diterapkan, karena pengajaran bersembahyang adalah merupakan dasar pertama dalam pendidikan Islam. Sekarang kita bertanya kepada diri kita sendiri : Bagaimanakah pendidikan yang dilaksanakan di dalam sekolah-sekolah-kita saat ini. Apakah dilakukan pendidikan anak menurut sistem yang dilaksanakan pada periode awal perkembangan Islam dan periode sesudahnya. Secara insidentil tidaklah demikian, karena anak-anak masa lampau dididik untuk mencintai agama dan mengamalkannya menurut ajaran agama, sedangkan anak sekarang beserta pemuda-pemudanya, tidak berada pada masa lampau, sehingga diperlukan metode khusus untuk menghadapi masa sekarang. Pada masa kini para pemikir dan para ahli seharusnya mengajak kepada manusia untuk memetik atau mengambil prinsip-prinsip dan metoda pendidikan Islam masa lampau, sehingga anak-anak didik kita (masa mendatang) akan dapat menghiasi dirinya dengan keutamaan ajaran Islam. Oleh karena anak-anak masa lampau itu senantiasa mau mendengarkan nasihat dan pelajaran dan memahaminya dari guru-gurunya; dari para pendidiknya dan dari orang-orang tuanya tentang ajaran-ajaran nasihat yang membimbing mereka menjadi orang dewasa yang berkepribadian cemerlang dan bijaksana; serta mendidik mereka menjadi orang yang berkemampuan untuk berpikir kreatif, dan sanggup berdiri sendiri dan sebagainya. Salah satu ajaran pokok agama kita adalah firman Allah sebagai berikut :
    “Allah akan meninggikan orang-orang mukmin dari padamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat” (Al. Mujadalah : 11)
    Mengapa iman didahulukan daripada ilmu pengetahuan menurut ayat tersebut ; oleh karena iman merupakan syarat pertama yang harus dimiliki untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Allah berfirman sebagai berikut :
    “Katakanlah : Apakah sama orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan” (Az-Zumar : 9)
    “…Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (At Taubah : 122)
    Dan firman Alloh :
    “… Maka bertanyalah kamu sekalian kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (An Nahl : 43)
    Rasulullah saw. Bersabda :
    “Derajat manusia yang paling dengan kenabian ialah orang yang berilmu pengetahuan dan ahli jihad”.
    Dan sabda beliau lagi :
    “Pada hari kiamat akan ditimbang tintanya para ulama dengan darahnya para syuhada’ …”
    sabda Nabi selanjutnya :
    “Tidak ada kebaikan daripada umatku orang yang tidak berilmu dan tidak pula belajar”
    Ajaran agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits tersebut akan menenangkan telinga yang mendengarkannya dan melunakkan hati serta akan menerobos masuk ke dalam dada. Hati anak-anak kita menjadi tenteram ketika para guru yang saleh yang memiliki keteladanan yang baik menyampaikan pelajaran agama tersebut di atas. (Prinsip guru itu harus menjadi teladan bagi murid-muridnya).
    1. Para Pengajar (Guru)
    Menurut Al-Djahiz, guru itu ada dua macam :
    o Mereka yang diangkat dari pengajar orang awam menjadi pengajar anak-anak khusus.
    o Mereka yang diangkat dari pengajar anak-anak khusus menjadi pengajar putra-putra raja/khalifah yang dicalonkan menjadi khalifah (raja).
    Mengenai guru-guru Al-Kuttab yang dicemoohkan sebagai orang yang pandir, tolol, maka dapat kita katakan bahwa sangkaan buruk demikian itu tidaklah semestinya. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa guru-guru yang brillian seperti Ali Hamzah Al-Kissai, Mohammad bin Al-Mustanir (dianggap orang-orang yang pandir). Begitu pula mereka para guru yang baik-baik dapat dikatakan tolol (bodoh), bengal; olok-olokan terhadap mereka adalah tidak pantas, juga tidak boleh merendahkan golongan di bawah mereka. Jika mereka belajar pada guru-guru Al-Kuttab di daerah pedesaan, akan ditemukan adanya kenyataan bahwa setiap kaum ada yang tinggi dan rendah derajatnya, namun tidaklah sama halnya dengan guru-guru Al-Kuttab.
    Ada beberapa orang yang berpendapat bagaimanapun sifat-sifat pandir diberikan kepada guru-guru Al-Kuttab; orang demikian memandang bahwa orang-Arab saat itu merendahkan pekerjaan yang bukan bersifat kepahlawanan yang pandai naik kuda dn berperang. Akan tetapi anggapan demikian itu tidak dapat dilekatkan pada orang Arab selama-lamanya. Jika dikatakan bahwa para guru yang mengajar anak-anak hidup dalam kondisi ekonomi yang pahit dan berada dalam status yang hinadina, maka anggapan demikian secara logis tak dapat dibenarkan, bertentangan dengan logika yang sehat, karena pekerjaan guru yang mengajar anak-anak merupakan pekerjaan yang paling dimuliakan. Pandangan yang merendahkan pekerjaan guru yang didasarkan atas kemampuan ekonomis yang payah, karena sedikit gajinya sehingga menempatkan mereka pada tempat yang lebih rendah daripada pekerjaan lainnya; maka menurut pendapat Al-Djahiz, pandangan demikian itu terpengaruh oleh cerita-cerita yang bersumber dari hikayat Yunani kuno. Berceles, seorang ahli hukum Yunani terkenal pada suatu hari berjalan-jalan menyusuri tepian sungai, maka ia melihat seorang hamba sahaya memanjat pohon lalu terjatuh ke bawah, patah lengannya, Berceles berkata : “Sekarang kamu menjadi paedagia”, yakni guru. Berdasarkan cerita ini apakah benar atau tidak, orang Yunani saat itu memandang pekerjaan mengajar anak-anak yang hanya diberikan kepada orang-orang yang lemah yang tidak mampu untuk berperang di medan pertempuran. Maka sejak itu timbullah pandangan yang merendahkan derajat guru yang mengajar anak-anak.
    Pandangan demikian itu ditentang oleh Al-Djahiz dalam membela kedudukan guru Al-Kuttab.
    Ada sebuah riwayat (tidak dapat dipertanggungjawabkan) yang menyatakan tentang kepandiran guru Al-Kuttab, dari setengah ahli filsafat (hukama) sebagai berikut : “Janganlah kamu minta pendapat kepada guru dan janganlah menjadi penggembala kambing dan duduk-duduk dengan wanita”. Juga ada riwayat yang menyatakan bahwa ia mendengar sebagian mereka mengatakan : “Kepandiran itu ada pada tukang tenun (penenun), dan para guru dan pemintal benang”, sedang ucapan-ucapan yang mengolok-olok guru Al-Kuttab diantara mereka ada yang mengatakan : “Pada suatu waktu seorang anak membaca Al-Qur’an dihadapan seorang guru, ketika sampai pada ayat” dan semoga engkau diberi laknat”, yang diulang-ulang di hadapan gurunya, maka menjadi marahlah sang guru, lalu guru itu mengatakan kepada anak itu : “Sesungguhnya atas kamu laknat dan atas kedua orang tuamu”. Kemudian anak itu mengatakan : “Di dalam batu tulisku tidak ada kalimat “dan atas orang tuamu” yang ada hanya kalimat “dan atas engkau laknat”, mengapa tuan guru menyuruh saya untuk mengatakan : “…’alaika wa’alaa walidaika” (atas engkau dan kedua orang tuamu laknat).Kemudian sang guru membaca ayat “Ghulibat ar-ruumfii adna al-ardhi” (ditaklukkan Romawi yang terletak di wilayah terdekat”), namun guru itu merobah bacaannya “Ghulibat at-Turkiyu …”, lalu orang-orang yang mendengarnya meluruskannya, akan tetapi sang guru itu mengatakan bahwa “tidak penting, karena Turki dan Romawi itu keduanya adalah musuh kita”. Ini terjadi suatu manipulasi ayat.
    Namun demikian seperti telah diuraikan di atas, Al-Djahiz yang membela kedudukan guru Al-Kuttab yang diremehkan, mengharapkan agar mereka menyadari bahwa sangkaan semacam itu terhadap guru-guru Al-Kuttab tidak pantas. Oleh karena mereka sebenarnya banyak yang ahli fiqih, ahli syair, ahli pidato, seperti Kumait bin Zaed, Abdul Hamid Al-Katib, Qais bin Sa’ad, dan Husein Al-Mu’allim dan Abi Sa’id Al-Mu’allim. Di kota Basrah (Iraq) kita juga menemukan dua orang ilmuwan dalam berbagai bidang, yaitu Abul Wazir dan Abu Al-Adnan yang keduanya menjadi guru.Juga Al-Hajjaj bin Yusuf As-Tsaqafi, seorang ahli politik dan hakim yang brillian (yang menjadi tulang punggungnya daulah Umawiyyah adalah seorang guru Al-Kuttab). Hal ini tidak pantas tuduhan dan olok-olokan terhadap para guru dilontarkan dengan cara yang tidak manusiawi. Al-Djahiz dengan pendapatnya bahwa kedudukan guru itu adalah tinggi, dibuktikan kebenarannya oleh pendapat yang tersebut di atas, namun ia juga tidak mengingkari adanya sebagian guru yang hina dina yaitu guru yang selalu berbuat kesalahan. Berdasarkan alasan ini Al-Djahiz mengklasifikasikan guru menjadi dua macam golongan yaitu guru yang mulia dan guru yang hina.
    Menurut pendapat Prof. Dr. Ahmad Syallabi, dalam kitab karyanya, “Tarikh At-Tarbiyyat Al-Islamiyyah” (Sejarah Pendidikan Islam) berbeda pendapat dengan Al-Djahiz, yang mengklasifikasikan guru menjadi tiga macam golongan yaitu guru Al-Kuttab, Muaddib (guru putra raja / khalifah) dan guru-guru yang mengajar di mesjid-mesjid dan madrasah-madrasah. Mesjid dan madrasah tersebut menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya yang relevan dan sejalan dengan aspek-aspek kependidikan.
    Kaum muslimin saat itu memang membagi posisi guru sesuai dengan derajat mereka, dan hal ini memperkuat pendapat Al-Djahiz yang mengatakan : “Di tiap golongan terdapat orang yang dimuliakan dan direndahkan maka kenyataan demikian tidak menghalangi kita untuk menetapkan hukum terhadap suatu golongan dengan tawanan perangnya yang berakhlak buruk, berjiwa kerdil dan pondoh (pandir)”.
    Di antara para guru ada yang mahsyur yang mendapat tempat / kedudukan ilmiah, ahli kesusastraan yang cemerlang (yang dihormati kedudukannya). Guru-guru pada masa khalifah Al-Mahdi Al-‘Abbasy mendapatkan posisi mahsyur, antara lain : Abdullah bin Al-Muqaffa’, yang mengajar putra-putra khalifah Ismail bin Ali. Al-Kissai yang mengajar putra-putra khalifah Al-Amin. Al-Farra menjadi guru dari putra-putra Al-Makmun, Ibnu Sikkit mengajar putra-putra khalifah Al-Mutawakkil, dan Al-Mubarrid mendidik Abdullah bin Al-Mu’taz.
    2. Gaji Guru
    Masalah pembayaran guru merupakan suatu hal yang banyak diperdebatkan karena merupakan problema yang menimbulkan perbedaan pendapat berabad-abad lamanya. Di antara para ahli filsafat, ahli pikir dan ahli fiqih dalam Islam berbeda pendapat tentang masalah pembayaran gaji guru ini.
    Permasalahan tersebut berkisar pada pertanyaan : “Apakah boleh seorang guru menerima gaji atas pekerjaan mengajarnya?”. Masalah ini berpulang pada perbedaan pendapat tentang mengajarkan Al-Qur’an dan agama pada periode awal perkembangan pendidikan Islam yang merupakan tugas pekerjaan yang dilakukan secara sukarela dengan tanpa digaji.
    Jika kita kembali kepada pendapat Abu Al-Hasan Al-Qabisi, salah seorang tokoh ulama fiqih dan ahli sunnah, maka mengajarkan Al-Qur’an dan agama pada periode perkembangan awal pendidikan Islam dilakukan secara sukarela, akan tetapi ketika agama Islam telah tersebar luas, maka sulit untuk mendapatkan orang yang mau mengajar kaum muslimin dan anak-anak mereka, karena pekerjaan mengajar memerlukan ketekunan dan harus meninggalkan kegiatan usaha memenuhi tuntutan kehidupannya, maka sebaiknya kaum muslimin memberikan gaji kepada orang yang mau membaktikan dirinya untuk mengajar anak-anak mereka secara rutin.
    Dari pendapat di atas jelaslah bagi kita bahwa gaji guru merupakan suatu keharusan yang terpaksa harus dibayarkan kepada mereka (menurut pendapat Al-Qabisi). Lebih lanjut Al-Qabisi menguatkan pendapatnya sebagai berikut : “Oleh karena jika guru yang bekerja menyandarkan pada sukarela, maka banyak anak-anak yang mengalami kerugian. Ketika telah banyak orang giat mempelajari Al-Qur’an, maka jika tidak ada guru, akan timbul banyak yang mengakibatkan keruntuhan karena lenyapnya Al-Qur’an dari hati mereka dan menjadi faktor penyebab anak kaum muslimin terkungkung / terbelenggu dalam kebodohan”.
    Kebanyakan para ahli fiqih sepakat untuk membolehkan guru menerima gaji dilihat dari hukum fiqih. Para guru masa itu yang diangkat menjadi pegawai pemerintah mendapatkan gaji paling kecil dan kondisi demikian berlangsung sampat saat ini, sampai waktu para pembaharu dalam abad ini menyadari pentingnya pekerjaan guru sehingga perlu disamakan kedudukannya dengan kelompok petugas lainnya.
    Apalagi kaum muslimin secara perorangan memanfaatkan tenanga ahli dari luar Islam untuk mendorong kebangkitan ilmu pengetahuan dan menterjemahkan kitab-kitab yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, maka mereka diberi upah yang cukup besar sebagai balas budi. Kenyataan demikian menjadi sebab utama yang memperkuat pemikiran tentang pemberian gaji kepada para guru dan pengajar hendaknya sesuai dengan standar yang berlaku.
    Gaji yang dibayarkan pada masa awal perkembangan Pendidikan Islam hanyalah diukur dengan kecukupan untuk makan saja, sehingga beredarlah kisah-kisah tentang gaji guru dengan ukuran dan buah roti yang berbeda besar-kecilnya. Perbedaan ukuran roti bergantung pada kondisi ekonomi anak-anak yang diajar, yang kaya atau miskin, yang dermawan dan yang bakhil.Dalam kaitan dengan roti Al-Djahiz melukiskan dengan syair-syair untuk seorang guru yang bernama Al-Raqasyi sebagai berikut : “Berbeda-beda rotinya dan ringan timbangannya, maka menyusutlah bekal dan makin jeleklah yang diceritakan”.
    Selanjutnya ia menggambarkan dengan syairnya tentang seorang guru yang bernama Abi Syamqamaq :
    “Roti untuk seorang guru dan pedagang bersepakat; warnanya, rasanya dan bentuknya berbeda-beda”.

    Berbeda kondisi hidupnya dengan para guru yang mengajar di Al-Kuttab, guru yang mengajar di istana khalifah kondisinya paling baik. Al-Djahiz melukiskan kehidupan mereka : Orang yang ahli nakwu atau ‘arudh (syair) adalah orang yang disukai untuk mengajar anak kami dengan gaji enam puluh dirham, meskipun ada juga orang ahli ilmu bayan dan al-ma’ani tidak demikian halnya, dia meminta bayaran seribu dirham. Pada abad ke-3 H. Khalifah Abdullah bin Tahir memberikan gaji kepada guru yang mengajar putra-putranya setiap bulan dengan tujuh puluh dinar. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Tahir, orang yang paling dermawan pada waktu itu memilih Tahir bin Yahya (Tsa’lab) seorang ahli nahwu kenamaan dari Kuffah (Iraq) untuk mengajar putranya dengan memberikannya sebuah tempat tinggal khusus di rumahnya, sehingga dia dan muridnya tinggal bersamanya diberi layanan maka beserta muridnya; Khalifah itu mengangkat tujuh orang pegawai pembuat roti “hasykar” dan roti “samid” untuk melayaninya, memberikan tujuh kati (tail) daging dan otak kepala kambing, dan memberi gaji tiap bulan seribu dirham.
    Oleh karena itu para muaddib (guru yang mengajar putra-putri khalifah) dalam sejarah Islam merupakan orang yang lebih banyak mendapatkan kemudahan dan kelimpahan rezqi serta kondisi hidup yang paling baik, karena mereka mendapatkan hadiah-hadiah yang melimpah dari para amir dan khalifah.
    Sebagaimana Al-Djahiz sendiri yang semula sebagai penjual roti dan ikan di Saihan, yang hidup dalam keadaan fakir serba kekurangan. Akan tetapi setelah terkenal kepandaiannya dan tersebar ilmu dan keahlian mendidik di kalangan masyarakat luas, maka kemudian ia menjadi ulama ahli pendidikan dan tokoh ilmuwan paling besar dalam pendidikan lalu berubahlah keadaan hidupnya menjadi orang yang serba kecukupan rezqinya.
    Diriwayatkan bahwa pada waktu ia masuk kota Basrah (Iraq) dan tinggal beberapa waktu di sana, kemudian meninggalkan kota itu dengan membawa harta kekayaan yang banyak, sehingga dikatakan dalam kata peribahasa bahwa ia tidak makan kecuali dengan piring emas. Pada suatu hari ia diterima beraudiensi oleh Maemun bin Harun, yang menegurnya : “Apakah kamu punya rumah di Basrah?”, maka tersenyumlah ia seraya mengatakan : “Bukankah hamba telah menghadiahkan kitab tentang hayawan kepada Mohammad bin Abdul Mulk, lalu hamba diberi hadiah uang lima ribu dinar, dan hamba telah menghadiahkan sebuah kitab “bayan wa tabyin” kepada Ibnu Abi Daud, kemudian beliau memberi saya lima ribu dinar. Dan hamba juga memberikan sebuah kitab tentang tanam-tanaman dan madu kepada Ibrahim bin Abbas As-Suwaly, kemudian beliau memberi saya uang lima ribu dinar, lalu saya tinggalkan kota Basrah. Saya punya tempat tinggal sederhana yang tidak memerlukan perbaikan atau penambahan apa pun”.
    Cerita-cerita yang diriwayatkan tersebut di atas memberikan penekanan kepada kita tentang perlunya memberi gaji kepada para guru disesuaikan dengan bobot keilmiahan dan tingkat keahliannya. Para guru Al-Kuttab mendapatkan gaji yang berbeda-beda besarnya. Pada waktu ini gaji guru Al-Kuttab itu besar sehingga mereka dapat memperoleh kecukupan dari pekerjaan mereka sebagai pengajar/guru.
    BAB III
    LEMBAGA-LEMBAGA
    PENDIDIKAN ISLAM
    Lembaga-lembaga pendidikan Islam terdiri dari Masjid, Al Kuttab, Madraah, Zawiyyah , Al-Maristan.
    1. Masjid
    Kita kenal bahwa rumah Dar al-Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasullullah s.a.w. untuk belajar hukum-hukum dari dasar-dasar agama Islam. Sebenarnya rumah itu merupakan lembaga pendidikan pertama sekali dalam Islam. Guru yang mengajar di lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri ( Beliau sebagai penunjuk jalan kebenaran) Kemudian setelah itu masjid sebagai lembaga pendidikan Islam ; masjid dapat dikatakan sebagai madrasah yang berukuran besar yang pada masa permulaan sejarah Islam dan masa-masa selanjutnya adalah merupakan tempat menghimpun kekuatan umat Islam baik dari segi fisik maupun mentalnya.
    Menurut sejarah Iskam masjid yang pertama-tama dibangun Nabi adalah masjid At- Taqwa di Quba pada jarak perjalanan kurang lebih 2 mil dari kota Madinah ketika Nabi berhijrah dari Mekah. Hal ini disebutkan di dalam kitab suci Al-Qur’an :
    “… Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa ( masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. “ ( At-Taubah, 108 ).
    Rasulullah membangun ruangan di sebelah utara masjid Madinah dan masjid Al- Haram yang disebut Al-Suffah “ Untuk tempat tinggal orang-orang fakir miskin yang tekun mempelajari ilmu. Mereka dikenal sebagai ahli suffah.”
    Masjid di samping tempat untuk bersembahyang, dipergunakan pula untuk mendiskusikan dan mengkaji permasalahan dakwah Islamiyah pada permulaan perkembangan Islam, yang terdiri dari kegiatan bimbingan dan penyuluhan serta pemikiran secara mendalam tentang dalam menghadapi musuh-musuh Islam serta cara-cara menghancurkan kubu pertahanan mereka. Dengan demikian masjid menjadi tempat utama untuk bersembahyang dan merencanakan kegiatan dakwah Islamiyah , di mana agama Islam dapat berdiri tegak sejak awal periode perkembangannya melalui lembaga pendidikan agama Islam.
    Kemudian berturut-turut dibangunlah banyak masjid mengikuti penyebaran Islam dan perluasan daerah/wilayah kekuasaan pemerintah Islam. Masjid yang pertama-tama dibangun di daerah kekuasaan Islam yang baru ialah masjid Al-Madain di Iraq, yang dipelopori oleh Sa’ad bin abi Waqqash . Di Mesir , Amru bin ‘ Ash membangun masjid Jami’ Al- Fustat , sedang di Damaskus didirikan pula masjid Umawiyah, yang sebelumnya merupakan gereja ( al-Qadis Yuhana ), akan tetapi atas kesepakatan bersama antara Khalifah Umawiyah dengan kaum Nasrani di Damaskus, masjid tersebut akhirnya disempurnakan pembangunannya.
    Oleh karena itu masjid dalam sejarah Islam adalah sebenarnya merupakan madrasah pertama setelah rumah Dar al- Arqam bin al- Arqam . Di dalam masjid itulah terkumpul berbagai macam persoalan pokok kaum muslimin sejak mulai masalah politik , agama, kebudayaan sampai kemasyarakatan . Oleh karena itu kaum muslimin berkumpul di dalam masjid hendaknya senantiasa memusyawarahkan dan bertukar pendapat tentang segala masalah / urusan yang berkaitan dengan kehidupan sosal keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
    Dalam tempat mulia ini ( Masjid ) bertemulah segala jenis ilmu pengetahuan yang bermacam ragamnya di mana para pelajar mendiskusikan dan mengkaji ilmu-ilmu tersebut bersama-sama dengan guru-guru besar mereka yang terkenal pada zamanya. Juga di dalam masjid berkumpullah para ahli hukum dan pemimpin pemerintahan Islam untuk membahas tentang kewajiban mereka terhadap negara dan bangsanya; dalam rangka menyiarkan keputusan-keputusan Khalifah baik yang menyangkut masalah menunaikan ibadah sembahyang dan kegiatan dakwah yang harus mereka tunaikan.
    Maka dari itu masjid adalah sebagai tempat sembahyang, madrasah, universitas, majelis nasional, dan pusat-pusat pemberian fatwa serta tempat penggemblengan para pejuang dan patriot-patriot bangsa dari zaman ke zaman. Dengan demikian maka masjid berperan besar dalam siklus kehidupan umat Islam, bahkan sampai sekarang masjid menjadi markas yang penting untuk penyebaran Islam.
    Bahkan peranan masjid pada zaman pemerintahan Umawiyah adalah menyerupai gedung parlemen moderen yang lebih banyak mengembangkan kehidupan berpolitik dalam kaitanya dengan pemilihan calon hakim atau calon kepala pemerintahan baru yang dikukuhkan menjadi pemimpin, agar dapat diumumkan dari atas panggung ( mimbar ) tentang garis-garis kebijaksanaan yang luas dan terinci dalam politik kenegaraan dan dalam mengatur urusan kehidupan kaun muslmin secara keseluruhan.
    Untuk itu para khalifah Umawiyah menempuh cara yang unik dengan mengumpulkan umat islam ke dalam masjid pada waktu-waktu yang ditentukan ; mereka menyampaikan seruan/mengumumkan di jalan-jalan, di lorong-lorong, di warung-warung dan di jalan raya seraya mengumumkan : “ Wahai kaum muslimin, khalifah mengundang anda sekalian untuk bersembahyang berjamaah-suatu hari yang bukan hari jum’at –beliau menghendaki agar kaum muslimin semuanya berkumpul untuk membicarakan bersama-sama khalifah mengenai urusan kenegaraan dan segala keputusan yang ditetapkan mengenai masalah-masalah yang penting”. Di antara orang yang ditugasi untuk memberikan pengumuman adalah ziyad bin Abi Sufyan yang mengumumkan di jalan-jalan Kuffah dengan seruan : “ Tidaklah terbebas orang-orang dhimmi dari kewajiban , persyaratan dan pengawasan jika ia tidak hadir di masjid.”
    Masjid Basrah dan Kuffah, keduanya memegang peranan besar dalam pembinaan kesusastraan , ilmu pengetahuan, bahasa, dan agama pada periode awal perkembangan Islam; Di dalam masjid itulah di letakan dasar-dasar ilmu usul fiqih , lughah, dan nahwu. Ada seoarang ilmuwan yang bernama Nickolson mengatakan: Basrah adalah pusatnya kehidupan intelektual Islam ; kota ini menjadi salah satu pusat pengembangan kehidupan ilmiah dan kesusastraan di Iraq. Penduduk Iraq telah bertekat untuk membebaskan diri dari kehidupan politik, sehingga mereka tidak memberi perlawanan terhadap kekejaman para penguasa Umawiyyah, karena mereka lebih mencurahkan perhatiannya kepada tugas-tugas ilmu pengetahuan dan kesusastraan, sedangkan para penguasa pemerintahan menghendaki agar mereka selalu meningkatkan hubungan darah kebangsaan dan martabat Arab. Maka dari itu mereka harus bersedia menerima pelajaran bahasa Arab, sehingga jika mereka telah mampu berbahasa Arab baik, mereka dapat mengkaji sumber-sumber ilmu pengetahuan dan kesusastraannya.
    Para pencari ilmu itu pergi ke masjid-masjid, dan hal ini berlangsung sepanjang sejarah Islam. Mesjid Kairo, misalnya senantiasa memimpin dan membina para pelajar Universitas Al-Azhar dengan menggunakan gaya dan metode pendidikan sebagai berikut : 1. Setiap guru besar atau syaeh Al-Kabir mengambil tempat di sudut mesjid, ia duduk di sana, dikelilingi oleh para pelajar atau muridnya, memberikan kuliah tentang Al-Qur’an, dan ilmu-ilmu bahasa Arab serta agama yang terdiri dari ilmu hadis, tafsir, fiqih, lughah dan usul-nahwu, balaghah, bayan dan adab. Bahkan fungsi mesjid tidak hanya terbatas pada masalah pendidikan saja, akan tetapi mesjid berfungsi menyerupai lembaga pusat kebudayaan yang dipergunakan sebagai tempat untuk mendiskusikan berbagai masalah dan mengkaji masalah sastra dan kebudayaan serta berbagai bahasa yang beraneka ragam. Demikian juga mesjid merupakan tempat di mana para ahli kisah duduk bercerita kepada orang banyak tentang kisah-kisah yang mengandung ibarat dan yang bergaya hiburan (lelucon).
    Ada dua macam kisah yaitu 1. kisah untuk orang awam dan 2. kisah untuk orang khusus. Kisah untuk orang awam pada umumnya ditonjolkan arti pokoknya yang mengandung ajaran (pelajaran) atau peringatan dan penasihatan. Di antara ahli kisah yang terkenal pandai mengisahkan cerita-cerita yang mengandung pelajaran atau peringatan adalah Hasan Bashri yang suka duduk-duduk di mesjid Basrah, yang dikenal oleh seluruh orang yang bersembahyang di mesjid tersebut. Ketika mereka melihat Hasan Basri, maka mereka tertarik untuk mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh pakar ini.
    Hasan Basri-lah orang yang ahli, yang ‘alim dan pandai memberi nasihat yang bermutu tinggi, dan beliau memiliki perasaan keagamaan yang kuat sekali; dari perasaan inilah keluar mengalir nasihat-nasihatnya yang jelas, didasarkan atas nas-nas yang dibawakannya dengan keterangan yang memukau pendengarnya. Beliau senantiasa mengarahkan penasihatannya kepada kehidupan di akhirat dan kepada segala yang Allah janjikan di akhirat yaitu kehidupan yang nikmat bagi orang yang bertakwa, di samping itu siksaan Allah bagi mereka yang berdosa dan maksiat.
    Dikisahkan bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah salah seorang pencipta cerita-cerita khusus tentang peristiwa-peristiwa politik yang menggunakannya untuk media politis daulah umawiyah yang ditujukan untuk memperkuat kedudukan kerajaan atau kekhilafannya. Kisah-kisah demikian ia sampaikan di dalam halakah (pengajian) setelah sembahyang subuh di mesjid umawiyah.
    Sedangkan Ali bin Abi Thalib Karramahullah wajhah pernah menentang kisah-kisah demikian sebagai suatu bid’ah. Sikap demikian mendapatkan dukungan dari para pengikutnya lebih lanjut.
    Di samping itu masjid juga dipergunakan sebagai arena untuk menggelarkan syair-syair Arabiyah. Salah satu riwayat yang paling menarik ialah seorang ahli syair beragama Nasrani, bernama Al-Achtal orang ini akhirnya masuk Islam penuh kesadaran. Mendengarkan syair-syairnya di mesjid Basrah, yang didengarkan oleh kaum muslimin yang duduk berkeliling di sekitarnya, menyimak dan menghayatinya sebagai syair-syair yang penuh ketinggian nilai sastranya.
    Mesjid juga dipergunakan untuk rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan merayakan hari-hari besar Agama Islam. Bahkan seperti yang telah saya uraikan sebelumnya, mesjid juga dijadikan Universitas di mana diajarkan ilmu agama dan kebudayaan secara terpadu, mengintegrasikan antara ilmu dan filsafat, dan antara politik dengan berbagai aspek sosial budaya.
    Salah satu masjid yang paling terkenal di dunia Islam karena peranannya yang besar ialah masjid Al-Azhar di Kairo. Mesjid ini didirikan oleh Daulah Fatimiyah yang bermadzab Syi’ah (untuk menyebarkan mazhabnya). Mesjid ini merupakan lembaga keagamaan yang difungsikan oleh Bani Fatimiyah sebagai sarana untuk melayani seluruh kaum muslimin tanpa pandang bulu.
    Diceritakan bahwa Yakkup bin Killis, salah seorang Menteri Sultan ‘Aziz billah al-Fatimi, adalah orang yang pertama-tama merobah fungsi masjid Al-Azhar menjadi sebuah universitas besar. Sedangkan Sultan ‘Aziz Billah sendiri dan pengganti-penggantinya memberikan dorongan semangat keagamaan para ulama dan mahasiswa Al-Azhar ini untuk mendalami mazhab Syi’ah. Ketika dinasti Ayubiyah memegang kekuasaan pemerintahan di Mesir, maka Al-Azhar dijadikan sarana untuk dakwah mazhab ahlus sunnah wal jama’ah berdasarkan mazhab Syafi’iyah dengan menghapus segala unsur amaliah dari mazhab Syi’ah tersebut. Namun bidang-bidang studi yang dipelajari dalam universitas ini tidak lagi terbatas pada aliran-aliran mazhab agama saja, melainkan meluas sampai kepada bidang-bidang studi ilmu-ilmu falak, matematika, ilmu alam dan geografi serta kedokteran
    Pada masa pemerintahan Mamalik ( dari Turki ) Al-Azhar semakin cemerlang peranannya, karena dari universitas inilah berkembang berbagai ilmu-ilmu pengetahuan, sejak dari ilmu-ilmu agama sampai dengan pengembangan ilmu-ilmu kauniyah (ilmu kealaman). Ketenaran nama Al-Azhar demikian ini berpulang kepada sikap kedermawanan Sultan Mamalik yang sangat memperhatikan pembinaan para ulama dan mahasiswanya. Karena jasa – jasanya itulah maka semakin cemerlang cahaya universitas Al-Azhar sehingga menjadi sebuah universitas terbesar di dunia Islam, yang menjadi tempat perlindungan para ulama dan tempat berkumpulnya para pelajar dari seluruh penjuru dunia Islam.
    Di samping mesjid Al-Azhar yang terkenal lainnya ialah mesjid al-Qurawiyah di Fez (Maroko), yang dibangun pada abad ketiga Hijriyah dan menjadi pusat penting bagi perkembangan kebudayaan Islam, lalu disusul mesjid Zaetunah di Tunis.
    Mesjid jami’ Al-Qurawiyin merupakan salah satu sarana pengajaran Islam yang lebih menekankan pada asas-asas demokrasi pendidikan Islam dan dari sinilah muncul metoda-metoda baru dalam pengajaran dan langkah-langkah (teknik-teknik) mengajar, serta jabatan-jabatan guru besar, dan ijazah-ijazah doktor, majelis-majelis atau dewan pembina dan penyantun fakultas, serta tempat-tempat tinggal (pemukiman) bagi para dosen dan mahasiswa di kampus universitas Al-Qurawiyun inilah terdapat kelebihan-kelebihan dari universitas lainnya dalam hal penyediaan sarana-sarana universitas, di mana hampir seluruh universitas di dunia modern saat ini mengikuti pola mesjid Al-Qurawiyin. Misalkan, penyelenggaraan rapat senat terbuka pada setiap pembukaan tahun kuliah baru, rapat untuk pelepasan mahasiswa yang telah selesai studi, yang membuktikan bahwa kaum muslimin sebenarnya telah lebih dahulu melaksanakan kegiatan tradisional universiter semacam itu sebelum bangsa Eropa mewarisi tradisi-tradisi tersebut saat ini.
    2. Lembaga Pendidikan Al-Kuttab
    Munculnya lembaga Al-Kuttab dapat ditelusuri sampai kepada zaman Rasulullah sendiri, Al-Kuttab merupakan berperan besar pada permulaan sejarah Islam ketika Nabi s.a.w. memerintahkan para tawanan perang (Badar) yang dapat menulis dan membaca untuk mengajar sepuluh anak-anak Madinah (bagi setiap orang tawanan).
    Menurut sejarah Islam, orang yang pertama-tama dari penduduk Mekkah yang belajar menulis adalah Sufyan bin Umayyah bin Abdus Syamsyi dan Abi Qais bin Abdi Manaf bin Zaheah bib Kilab, dan yang mengajarkan menulis kepada kedua orang ini adalah Basyar bin Abdul Malik yang pernah belajar menulis dari penduduk Hijrah. Setelah itu pengajaran membaca dan menulis tersebar ke seluruh penjuru jazirah Arabia. Dan yang lebih penting dari itu adalah karena ayat-ayat pertama Al-Qur’an yang Allah wahyukan kepada Nabi s.a.w. menganjurkan untuk mengajar membaca. Kemudian beliau memerintahkan para tawanan perang Badar untuk mengajar membaca dan menulis kepada anak-anak Madinah.
    Membaca dan menulis menjadi sangat penting peranannya ketika zaman khalifah Abdul Malik bin Marwan membentuk kantor-kantor pemerintah Umawiyah. Maka sejak itu para pengajar atau guru pertama kali menjadikan rumah-rumahnya untuk tempat mengajar menulis dan membaca, kemudian setelah itu mereka secara darurat secara individual membangun kamar atau rumah-rumah sesuai dengan standar yang semakin bertambah meluas dalam mengajar membaca dan menulis. Dari sinilah timbul pola dan model pertama perkembangan Al-Kuttab, karena itu Al-Kuttab dilukiskan sebagai tempat yang khusus dan bebas bagi anak-anak belajar di bawah pengelolaan para guru yang mengajar membaca dan menulis.
    Dalam hubungan ini Prof. Dr. Ahmad Syallabi mengatakan dalam kitab “Tarich At-Tarbiyah Al-Islamiyah, yang mengutip pendapat ahli orientalis Barat, Goldzihir, dalam bab pembahasan tentang daerah sumber pendidikan agama dan akhlak, bahwa : “Timbulnya Al-Kuttab yang bertugas pokok mengajarkan Al-Qur’an dan dasar-dasar agama Islam berpasal pada zaman permulaan sejarah Islam yaitu pada zaman pemerintahan khalifah Abu Bakar.” Dan pendapat ini diperkuat oleh beberapa sumber, sedangkan Dr. Ahmad Syallabi sendiri berpendapat lain. Dr. A. Syallabi berpendapat bahwa : Al-Kuttab yang berkembang lebih awal pada masa permulaan Islam adalah Al-Kuttab yang khusus mengajarkan membaca dan menulis sedangkan Al-Kuttab yang mengajarkan Al-Qur’an, tumbuh pada masa-masa selanjutnya.
    Menurut pendapat saya Al-Kuttab itu berkembang pada abad kedua Hijriyah, pendapat ini saya dasarkan kepada alasan bahwa Ibnu Syahnun, seorang pendidik abad ketiga Hijriyah dan riwayat yang bersumber dari tokoh pendidik terkenal yakni Al-Qabisi pada abad keempat Hijriyah serta banyak para imam yang duduk di mesjid mengamati pelajaran Al-Kuttab atau ada yang duduk di sudut-sudut mesjid, karena banyak anak-anak yang semangat dalam membaca dan menulis di mesjid.
    Sejak abad kedua dan abad berikutnya Al-Kuttab berkembang makin pesat. Dan Al-Kuttab yang terkenal di antaranya adalah Kuttab Abi Qasim Al-Balchi.
    Yakup menceritakan bahwa ada Yayasan Pendidikan yang memberikan pelajaran nahwu mempunyai tiga ribu murid. Sedang kurikulumnya berbeda-beda menurut daerah masing-masing.
    Peranan Al-Kuttab tetap besar dalam jiwa kita, dan besar pengaruhnya dalam system pendidikan Islam. Karena dalam Al-Kuttab itu berkumpullah anak – anak dari berbagai ragam lingkungan keluarga, baik yang kaya maupun yang miskin, sehingga tidak terjadi unsur – unsur pendidikan yang bersifat diskriminatif.
    Bahkan sebaliknya, prinsip – prinsip kebebasan dan demokrasi tercermin di dalam system pendidikan itu para ahli fiqih tidak sama tingkat pengetahuannya tentang metode dasar dan langkah – langkah dalam mengajarkan Al-Qur’anul Karim.
    Memang diantara guru Al-Kuttab ada yang kreatif dalam menciptakan metode yang menyerupai metode komperehensif sebagai standar pengajaran membaca dan menulis, yang mana metode ini paling baru dipakai dalam mengajar anak – anak yang baru belajar membaca dan menulis. Disamping itu ada pula guru yang mengajar dengan metode yang menghubungkan bahan – bahan pelajaran antara satu dengan lainnya.
    3. Lembaga Pendidikan Madrasah
    Madrasah sangat diperlukan keberadaanya sebagai tempat murid – murid menerima ilmu pengetahuan agama secara tetatur dan sistematis. Tetapi sebelum abad keempat Hijriyyah atau sepuluh Miladiyyah, madrasah tersebut belum tumbuh,dan baru didirikan pertama kalinya sebuah madrasah di kota Naisabur yaitu madrasah al – Baehaqiyyah. Sebab – sebab madrasah ini didirikan, adalah karena masjid – masjid telah dipenuhi oleh halakah – halakah ( pengajian ) dari para guru dan murid – murid yang berdesakan, sehingga mengganggu orang yang bersembahyang dari satu segi, dan segi lainnya ialah karena pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan setelah makin berkembangnya kegiatan penerjemahan buku – buku berbahasa asing ( non Arab ) kedalam bahasa Arab.]
    Adapun yang menjadikan madrasah ini paling penting fungsi dan peranannya ialah kelengkapan ruangan untuk ( belajar ) yang dikenal dengan ruangan muhadlorohnya ( untuk berdiskusi ) beserta banhunan – bangunan yang berkaitan dengannya, pengamannan bagi murid – murid dan guru – gurunya.
    Disamping itu juga ruangan – ruangan yang lain yang dibangun untuk dapur dan ruangan makan dan lain – lain. Madrasah ini tak ada perbedaan yang prinsip mengenai kurikulum dan silabus madrasah yang dikembangkan secara umum oleh Al-Kuttab. Ilmu – ilmu agama yang diajarkan di madrasah pada permulaannya dipusatkan pada suatu madzhab tertentu dari madzhab – madzhab yang ada. Sedangkan madzhab yang diajarkan itu tidak seragam menurut aqidah / keyakinan para ahli hokum dari mafzhab yang dianutnya.
    Ketika gerakan perpecahan ummat Islam telah mereda, dan golongan ahli sunnah wal jama’ah menguasai keadaan, kita jumapi berbagai ilmu pengetahuan yang non agamis mendapatkan tanggapan – tanggapan di madrasah – madrasah. Al-Muntasir, salah seorang khalifah dari dinasti Mamalik mengangkat seorang dokter yang pandai di madrasah Al-Muntasiriyyah. Sedangkan pada masa sebelumnya, madrasah An-Nizamiyyah telah berdiri dan memakai nama pendirinya yaitu Nizam Al-Mulki, salah seorang menteri dari khalifah Al-Arselan. Madrasah ini terkenal akan ketinggian dan kebesaranya, yang mengajarkan bidang – bidang study ilmu – ilmu alam Kauniyyah disamping ilmu agama.
    Ketika madzhab ahli sunnah wal jama’ah mengantikan kedudfukan madzhab syi’ah maka khalifah Al-Ayyubiyyah memperluas pembangunan madrasah untuk mendidik generasi muda Islam menjadi pengikutmadzhab ini, sejak pada masa itu penguasa – penguasa pemerintahan, dan para pembesar lainnya berlomba – lomba mendirikan madarsah.
    Diantara madrasah yang terkenal adalah madrasah Nuriyah kubro di Damaskus, yang didirikan oleh Naruddin Zanki disamping banyak madrasah yang lainnya. Dan dilam madrsah tersebut tidak diajarkan ilmu kedokteran secara luas, karena hal itu menuntut adanya rumah – rumah sakit khusus. Akibatnya pendidikan kedokteran berpindah ke Bimaristan ( semacam rumah sakit ).
    Mengenai mengapa madrasah Nizamiyyah mengungguli madrasah – madrasah yang lain Ibnu Atsir berpendapat sebagai berikut : ” Sesungguhnya Nizam Al-Mulki, seoparng Mentri Sultan dari Malik Syah Al-Syeljuki ( 465 s/d 485 H ) telah mendirikan dua buah madrasah yang masyhur yang terkenal dengan memakai namanya di Baghdad dan Naisabur masing – masing madrasah ini diberi nama dimana Imam Al-Ghozali memberikan perjalanan madrasah Nizamiyah di Baghdad ini kemudian berpindah ke madrasah Nizamiyah di Naisabur pada akhir abad ke – 5 Hijriyyah.
    Nizam Al-Mulki berjasa besar dalam membangkitkan gerakan ilmu pengetahuan Islam yang banyak dipuji dan disanjung orang banyak. Beliau sendiri sering kali mengunjungi madrasah – madrasah itu dan bahkan sering pula memberikan kuliah ilmu hadits bahkan yang lebih dari itu ialah beliau memberi gaji kepada guru – gurunya. Beliaulah yang mendorong penyebaran dan pengembangan kebudayaan umum dan Islam dengan cirinya yang khas; seperti beliau mendirikan observatorium perbintangan. Diceritakan bahwa beliau mengangkat Umar Al-Khayam di salah satu observatoriumnya. Umar Khayam pada waktu itu terkenal di bidang matematika dan Falak di samping ahli syair, yang menciptkan rubu’ ( salah satu alat ilmu falak ) yang factual sampai sekarang.
    Diantara madrasah yang terkenal dari dinasti Ayyubiyah ialah marasah Al-Nasiriyyah, Al-Qumhiyyah, dan As-Saefiyah. Kemudian madrasah Al-Fadhiliyyah yang dibangun oleh Sultan Al-Qodli al-Fadhil ( yang di kenal dengan nama Abdrrohim bin Ali Al-Bisani ) salah seorang pencipta metode terbaik dalam seni prosa.
    Beliau juga membangun perpustakaan – perpustakaan pada tiap madrasah yang dilengkapi dengan beribu – ribu jilid buku, yang menunjukkan bukti bahwa perpustakaan berperan besar dalam pengembangan kebudayaan dan pendidikan. Setelah madrasah Al-Ayyubiyah yang termasyhur ini mengubah Dar Al-Hadits, dan madrasah yang di bangun di istana – istana di Kairo yang dikenal dengan madrasah Al-Kamiliyyah, oleh Sultan Al-Malik Al-Kamil Al-Ayyubi. Edangkan madrasah – madrasah yang terkenal di masa pemerintahan Sultan Mamalik ialah :
    o Madrasah Az – Dzahiriyyah yang dibangun oleh Az –Dzahir Baibars Al – Bunduqda pada tahun 665 H. di dalam madrasah ini diajarakan fiqih As – Syafi’i, Hanafi dan Qiraat
    o Madrasah Al – Mansuriyyah yang dibangun oleh Al – Mansur Qallwuni, yang di dalamnya diajarakan fiqih yang berdasarkan empat madzhab. Hadits dan Ilmu kedokteran.
    o Madrasah An – Nasiriyah yang pendirinya katbugha, lalu sisempurnakan oleh Nasir pada 703 M. yang di dalamnya diajarkan fiqih menurut madzhab empat.
    o Madrasah As – Sultan hasan : dibangun pada tahun 758 H. tentang madrasah tersebut diceritakan oleh Al – Maqrizi sebagai berikut :
    ” Tidak poernah dikenal di dunia Islam sebuah tempat ibadah dari lembaga – lembaga kaum muslimin yang dapat membandingi kebesaran bentuknya, dan keindahan arsitektur dan modelnya dari madrasah ini, yang berdiri tegak selama tiga tahun tak pernah kosong sehari juga di dalamnya terdapat empat madrasah yang mengajarkan madzhab – madzhab dalam Islam”.
    Di samping usaha pembangunan terhadap madrsah – madrasah tersebut, Sultan Mamalik juga menaruh perhatian besar kepada pembangunan gedung – gedung Bimaristan untuk praktek kedokteran bagi mahasiswa yang berminat mempelajari ilmu kedokteran.
    4. Zawiyah
    Kata zawiyah berarti sudut masjid, yang digunakan untuk I’tikaf ( diam ) dan beribadah yang berasal dari kata ” inzawa, yanzawi ” ( اِنْزَوى يَنْزَوِى ) yang berarti ” mengambil tempat tertentu “, atau ” sudut tertentu ” dari sudut – sudut mesjid untuk menjalankan I’tikaf dan mensyi’arkan urusan agama. Kemudian pemahaman kata zawiyah itu berkembang, dari pengertian sempit ke pengeryian yang lebih luas. Pada waktu para khalifah memenuhi tuntutan kebutuhan orang – orang yang merelakan dirinya untuk bertempat tinggal di temoat tertentu yang khusus guna menjalankan ibadah maka khalifah memikirkan tempat tinggal tetap, dan cocok untuk mengajarkan agama Islam yaitu tempat khusus yang kita kenal Zawiyah.

    Pada dasarnya masjid – masjid tersebut fungsi pokoknya adalah untuk mengerjakan sembahyang, dan juga dipergunakan untuk tempat pengajian – pengajian yang mempelajari dan membahas dalil –dalil naqliyah dan aqliyyah yang berkaita dengan aspek agama serta digunakan pada kaum sufi sebagai tempat untuk halakah berdzikir ( mengingat Tuhan ).
    Pengertian zawiyah sering dikatakan perlu sebagai asrama atau pondok dimana beberapa tarikat tasawwuf dikembangkan seperti tarikat al-Qodiriyah, al-Tijaniyyah, as-Sanusiyyah, as-Syadziliyyah dan al-Khulwatiyah.

    Di wilayah Al-Maghribi ” Zawiyah ” dibangun untuk kepentingan lain, yatu sebuah masjid khusus untuk sekelompok kaum sufi atau tempat pemakaman salah seorang wali. Tetapi di wilayah maghribi yang lain, ” zawiyah ” lebih dikenal sebagai madrasah diniyah dan sebagai tempat tinggal uintuk menjamu tamu – tamu asing. Pada abad ke – 8 Hijriyah zawiyah ini berkembang sebagai madrasah untuk mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits serta dasar – dasar ilmu pengetahuan. Ketika kota Fez dikuasai dinasti Murintoro, zawiyah berubah menjadi madrasah dan perguruan tinggi dengan maksud agar merekan dapat meningkatkan standar perkembangan ilmiyah seperti yang ditetapkan oleh Universitas Qairuan pada zamannya.

    Ketika pemerintah Islam di Andalusia ( Spanyol ) telah mengalami kegoncangan dan kemunduran karena serangan dari musuh – musuh Islam, maka fungsi zawiyah merupakan tempat – tempat untuk melawan kaum nasrani di Andalusia dan tempat penggemblengan mereka. Oleh karena zawiyah merupakan tempat untuk men

  • idrus86_tarbiyah

    PROPOSAL
    KULIAH KERJA NYATA
    (KKN)
    ANGKATAN XII TAHUN 2010
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA
    TENGGARONG
    2010

    KELOMPOK MAHASISWA PELAKSANA
    KULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XII TAHUN 2010
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

    A. Pendahuluan

    Hakekat pembangun Indonesia pada dasarnya adalah manusia seutuhnya, sedangkan arah dari pembangunan nasional Indonesia bertitik tolak pada manusia sebagai pribadi yang harus dibangun serta dikembangkan kemampuan yang dimilikinya sebagai bekal dalam melakukan aktivitas untuk mengatur arah kehidupannya.
    Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa yang dituntut untuk mampu meningkatkan SDM yang dimilikinya dan senantiasa meningkatkan keterampilan dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga dipandang perlu diadakannya kegiatan yang nyata dan terencana untuk melatih dan mendidik mahasiswa yang berkualitas dan tanggap terhadap segala persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat. Mahasiswa dituntut untuk dapat berperan aktif dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara.
    Dalam mencapai tujuan tersebut maka program kegiatan Kuliah Kerja Nyata merupakan salah satu sistem yang tepat untuk mendidik mahasiswa dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang terjadi dimasyarakat sekitar.
    Berdasarkan hasil pemikiran tujuan serta cita-cita yang ingin dicapai maka kami sebagai peserta kegiatan Kuliah Kerja Nyata Angkatan XI tahun 2009 bertempat di Desa Liang Ulu Kec. Kota Bangun Kab. Kutai Kartanegara, bermaksud untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah melalui kerja sama antar mahasiswa, masyarakat dan instansi-instansi yang terkait baik di pemerintahan maupun swasta.

    A. Dasar Kegiatan
    Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mulawarman Angkatan XI tahun 2009 berdasarkan atas:
    1. Program KKN tahun 2010
    2. Tri Dharma Perguruan Tinggi
    3. UU No. 8 tentang Organisasi Masyarakat
    4. Instruksi Menteri tahun 1991, tentang Pedoman Peningkatan dan Kemampuan Organisasi Masyarakat
    5. GBHN Tap MPR No. IV/MPR/1978 BAB V mengenai berhasilnya Pembangunan Nasional tergantung pada partisipasi seluruh rakyat.

    B. Tujuan Kegiatan
    Adapun tujuan dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata ini adalah sebagai berikut:
    1. Memperluas wawasan dan pengetahuan diluar kampus sesuai dengan disiplin ilmu yang diperoleh.
    2. Belajar untuk dapat mengambil keputusan secara tepat dan cepat terhadap permasalahan yang ditemui di suatu masyarakat.
    3. Dapat menjadikan pengalaman sebagai tolak ukur untuk mengetahui sejauh mana teori-teori yang di dapat di bangku kuliah mampu diterapkan dilapangan.
    4. Membantu pemerintah setempat dalam melaksanakan pembangunan di daerah yang dituju.

    C. Waktu dan Tempat Kegiatan
    1. Kegiatan KKN Angkatan XI tahun 2009 Universitas Kutai Kartanegara dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus – 31 Agustus 2009
    2. Bertempat di Desa Liang Ulu Kec. Kota Bangun Kab. Kutai Kartanegara

    D. Tema Kegiatan
    Kegiatan KKN ini dengan tema : “Meningkatkan peran serta mahasiswa dalam mengaflikasikan keilmuan di masyarakat dan peningkatan SDM daerah”.

    E. Peserta Kegiatan
    Peserta Kegiatan yaitu mahasiswa-mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara yang mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan XII. (Nama-nama Terlampir)

    F. Sumber Dana
    Sumber dana kegiatan ini diharapkan berasal dari:
    1. Swadaya peserta KKN angkatan 2010.
    2. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.
    3. Instansi-instansi dan perusahaan-perusahaan yang bersifat tidak mengikat.

    G. Penutup
    Keberadaan dan suksesnya program KKN ini tentunya tidak terlepas dari partisipasi dan kerja sama masyarakat, selain itu kerja sama yang baik dan niat yang tulus dapat dijadikan sebagai kerja nyata dalam membangun Kab. Kutai Kartanegara dan Pemerataan kesejahteraan diseluruh wilayah Indonesia.
    Akhirnya dengan segala kerendahan hati dan memohon ridho ALLAH SWT, semoga program ini dapat berjalan dengan baik, sukses dan bermanfaat.

    Tenggarong, 29 Juli 2009

    KELOMPOK MAHASISWA
    PELAKSANAKULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XII TAHUN 2010
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA
    Ketua

    Arifin
    NPM : 05.11.108.170207.000169 Sekretaris

    M.Ansari
    NPM : 06.11.108.601101.000306

    KELOMPOK MAHASISWA PELAKSANA
    KULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XII TAHUN 2010
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

    Bentuk-Bentuk Kegiatan Kuliah Kerja Nyata
    Angkatan XII Tahun 2010
    Universitas Kutai Kartanegara

    1. Bidang Pemerintahan Kampung:
    a. Pembenahan dalam struktur kampung
    b. Pembenahan dalam lembaga kampung
    c. Inventarisasi Struktur Kampung
    2. Kegiatan PKK
    a. Pembenahan dalam struktur PKK
    b. Membantu Kegiatan Posyandu Dan Puskesmas
    c. Keterampilan
    3. Fasilitas Umum
    a. Pembenahan plang-plang
    4. Kegiatan Kepemudaan
    a. Study Banding (Silahturahmi)
    b. Pengembangan Minat dan Bakat (Olahraga)
    c. Mengaktifkan kegiatan kepemudaan
    5. Bidang Kependidikan
    a. Melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah
    b. Membantu pengadaan buku-buku pelajaran
    6. Penyuluhan-Penyuluhan
    a. Pentingnya menjaga kesehatan
    b. Pentingnya pendidikan
    c. Pertanian/perkebunan
    d. Sosialisasi
    e. Bahaya Narkoba
    7. Berpatisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan
    a. Kegiatan Kerohanian
    b. Kerja Bakti
    c. Ikut Siskamling
    d. Kegiatan HUT RI ke-64 (17-an)

    KELOMPOK MAHASISWA PELAKSANA
    KULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XII TAHUN 2010
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

    RANCANGAN RINCIAN ANGGARAN DANA

    A. SEKRETARIATAN
    1. Anvelope Rp. 20.000,-
    2. Stempel + Bantalan + Tinta Stempel Rp. 50.000,-
    3. Kertas HVS F4 1 Rim Rp. 40.000,-
    4. Spidol Besar 1 Kotak Rp. 60.000,-
    5. Pengadaan Proposal 10 Jilid @ Rp. 10.000,- Rp. 100.000,-
    6. Foto Copy Materi Penyuluhan Rp. 50.000,-
    1. Tinta Printer Hitam 1 Botol Rp. 25.000,-
    2. Tinta Printer Warna 1 Botol Rp. 25.000,-
    3. 10 Stop Map @ Rp. 1.000,- Rp. 10.000,-
    4. 1 Stafles + Isi Rp. 10.000,-
    5. 10 Kertas Karton Besar @ Rp. 2.000,- Rp. 20.000,-
    6. 2 Buah Lakban @ Rp. 5.000,- Rp. 10.000,- +
    Jumlah Rp. 420.000,-

    B. PERLENGKAPAN
    1. Pembuatan Spanduk 2 Lembar @ Rp. 200.000,- Rp. 400.000,-
    2. Pembuatan Baju Kaos 15 Orang @ Rp. 75.000,- Rp. 1.125.000,-+
    Jumlah Rp. 1.525.000,-

    C. DOKUMENTASI DAN TRANSPORTASI
    1. Cuci Cetak Fhoto Rp. 200.000,-
    2. Transportasi Pulang-Pergi @ Rp. 100.000,- x 15 Orang Rp. 1.500.000,-+
    Jumlah Rp. 1.700.000,-

    D. KONSUMSI
    1. Makan Selama 1 Bulan Untuk 15 Orang Rp. 5.000.000,-
    2. Air Mineral 50 Dos @x Rp. 15.000,- Rp. 750.000,-
    3. Snack + Kopi + Teh + Gula Selama 1 Bulan Rp. 500.000,-
    Jumlah Rp. 6.250.000,-

    E. KESEHATAN
    1. Perlengkapan P3K 1 Paket Rp. 100.000,-
    2. Obat – Obatan 1 Paket Rp. 100.000,-
    Jumlah Rp. 200.000,-

    REKAPITULASI

    A. SEKRETARIATAN RP. 420.000,-
    B. PERLENGKAPAN RP. 1.525.000,-
    C. DOKUMENTASI DAN TRANSPORTASI RP. 1.700.000,-
    D. KONSUMSI RP. 6.250.000,-
    E. KESEHATAN RP. 200.000,-
    F. BIAYA INSIDENTIL RP. 1.000.000,-
    Jumlah Rp.11.095.000,-

    Terbilang : “Sebelas Juta Sembilan Puluh Lima Ribu Rupiah”.

    KELOMPOK MAHASISWA
    PELAKSANA KULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XII TAHUN 2010
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA
    Ketua

    Arifin
    NPM : 05.11.108.170207.000169 Bendahara

    Nita Sispianti
    NPM : 05.11.108.170207.000198

    KELOMPOK MAHASISWA PELAKSANA
    KULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XII TAHUN 2010
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

    No Hari/Tanggal Nama/ Intansi Nominal Paraf
    01 Rp……………………. 1………..
    02 Rp……………………. 2…………
    03 Rp……………………. 3………..
    04 Rp……………………. 4…………
    05 Rp……………………. 5………..
    06 Rp……………………. 6…………
    07 Rp……………………. 7………..
    08 Rp……………………. 8…………
    09 Rp……………………. 9………..
    10 Rp……………………. 10………..
    11 Rp……………………. 11………
    12 Rp……………………. 12………..
    13 Rp……………………. 13………
    14 Rp……………………. 14……….
    15 Rp……………………. 15………
    16 Rp……………………. 16……….
    17 Rp……………………. 17………
    18 Rp……………………. 18………..
    19 Rp……………………. 19………
    20 Rp……………………. 20……….
    21 Rp……………………. 21………
    22 Rp……………………. 22………..
    23 Rp……………………. 23………
    24 Rp……………………. 24………..
    25 Rp……………………. 25………

    DAFTAR DONATUR

    Tenggarong, 29 Juli 2009

    KELOMPOK MAHASISWA
    PELAKSANAKULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XI TAHUN 2009
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

    Nita Sispianti
    Bendahara

    KELOMPOK MAHASISWA PELAKSANA
    KULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XII TAHUN 2010
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

    SUSUNAN KELOMPOK MAHASISWA PELAKSANA
    KULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XII TAHUN 2010
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

    Pelindung : Rektor Unikarata
    Pengarah : – Yayasan Unikarta
    - BAAK Unikarta
    - Fakultas – Fakultas Unikarta
    - Suvervisor

    Ketua : Arifin (FAI : 05.11.108.170207.000169)
    Wakil Ketua : M. Firmansyah (Fakultas Hukum : 06.11.108.301101.800317)
    Sekretaris : M. Ansari (Fakultas Pertanian : 06.11.108.601101.000306)
    Wakil Sekretaris : Elisabeth (FKIP : 06.11.108.201202.000687)
    Bendahara : Nita Sispianti (FAI : 05.11.108.170207.000198)

    Anggota : – Anggi Erina (FKIP : 06.11.108.201202.000666)
    - David Bungaran (Fakultas Hukum)
    - Deniafidah (FAI : 07.11.108.170207.800457)
    - Dewi Fahriyani (FKIP : 06.11.108.201202.000678)
    - Dwi Kusuma Sari (FKIP : 06.11.108.201202.000682)
    - Dwi Ramdhanawati (FKIP : 06.11.108.201202.000684)
    - Erniwati (FKIP : 06.11.108.201202.000692)
    - Hairil Anwar (Fakultas Hukum)
    - Ida Ayu Putu Eka.W (FKIP : 06.11.108.201202.000701)
    - Suwardi (FAI)

    Tenggarong, 29 Juli 2009

    KELOMPOK MAHASISWA
    PELAKSANAKULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XI TAHUN 2009
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA
    Ketua

    Arifin
    NPM : 05.11.108.170207.000169 Sekretaris

    M.Ansari
    NPM : 06.11.108.601101.000306

    KELOMPOK MAHASISWA PELAKSANA
    KULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XI TAHUN 2009
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA
    DESA LIANG ULU KEC. KOTA BANGUN KAB. KUTAI KARTANEGARA

    Nomor : 001/KEL-MA-PEL/KKN/ANGKTN XII/UKT.VII.2010
    Lampiran : 1 (Satu) Berkas
    Perihal : Mohon Bantuan Dana

    Kepada Yth,
    Bapak/ Ibu Donatur
    Di-
    Tenggarong

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.

    Salam silaturahmi kami haturkan kepada Bapak/Ibu semoga dalam menjalankan aktivitasnya selalu mendapat Ridho dan Hidayah dari Allah SWT. Amin.

    Sehubungan akan dilaksanakannya Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan XII Itahun 2010 Unikarta. Pada tanggal 01-31 Agustus 2010 bertempat di Desa Liang Ulu Kec. Kota Bangun Kab. Kutai Kartanegara. Dengan upaya meningkatkan peran serta mahasiswa dalam menunjang pemberdayaan masyarakat dan peningkatan SDM daerah. Maka kami Kelompok Mahasiswa Pelaksana kegiatan memohon Sebagaimana Perihal diatas.

    Demikian surat permohon ini kami sampaikan, atas bantuan dan partisipasinya kearah ini kami ucapkan terima kasih.

    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

    Tenggarong, 29 Juli 2009

    KELOMPOK MAHASISWA PELAKSANA
    KULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XI TAHUN 2009
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA
    Ketua

    Arifin
    NPM : 05.11.108.170207.000169 Sekretaris

    M.Ansari
    NPM : 06.11.108.601101.000306

    KELOMPOK MAHASISWA PELAKSANA
    KULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XI TAHUN 2009
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA
    DESA LIANG ULU KEC. KOTA BANGUN KAB. KUTAI KARTANEGARA

    Nomor : 002/KEL-MA-PEL/KKN/ANGKTN XI/UKT.VII.2009
    Lampiran : 1 (Satu) Berkas
    Perihal : Mohon Bantuan Dana

    Kepada Yth,
    Pimpinan PT. LEO
    Di-
    Tenggarong

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.

    Salam silaturahmi kami haturkan kepada Bapak/Ibu semoga dalam menjalankan aktivitasnya selalu mendapat Ridho dan Hidayah dari Allah SWT. Amin.

    Sehubungan akan dilaksanakannya Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan XI tahun 2009 Unikarta. Pada tanggal 01-31 Agustus 2009 bertempat di Desa Liang Ulu Kec. Kota Bangun Kab. Kutai Kartanegara. Dengan upaya meningkatkan peran serta mahasiswa dalam menunjang pemberdayaan masyarakat dan peningkatan SDM daerah. Maka kami Kelompok Mahasiswa Pelaksana kegiatan memohon Sebagaimana Perihal diatas.

    Demikian surat permohon ini kami sampaikan, atas bantuan dan partisipasinya kearah ini kami ucapkan terima kasih.

    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

    Tenggarong, 29 Juli 2009

    KELOMPOK MAHASISWA PELAKSANA
    KULIAH KERJA NYATA (KKN)
    ANGKATAN XI TAHUN 2009
    UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA
    Ketua

    Arifin
    NPM : 05.11.108.170207.000169 Sekretaris

    M.Ansari
    NPM : 06.11.108.601101.000306

  • idrus86_tarbiyah

    Bab I
    ISLAM DAN PENDIDIKAN PLURALISME
    (Menampilkan Wajah Islam Toleran Melalui Kurikulum PAI
    Berbasis Kemajemukan)

    A. Abstrak
    Banyak para ‘ahli dan pemuka agama’ telah berusaha dengan segala cara demi terciptanya hubungan yang mesra dan harmonis diantara umat beragama, di negeri Indonesia yang terkenal sangat pluralistik ini. Melalui tulisan-tulisan baik buku, majalah, jurnal bahkan melalui seminar dan mimbar-mimbar ‘khutbah’ mereka senantiasa menyarankan akan arti pentingnya kerjasama dan dialog antar umat beragama. Meskipun nampaknya, saran-saran mereka belum memiliki ‘efek’ yang begitu menggembirakan.
    Seringnya konflik dan pertikaian yang menggunakan ‘baju agama’, merebaknya aksi-aksi teroris, pembakaran dan pengrusakan sarana dan tempat-tempat ibadah di negara kita, masih saling curiga mencurigai antara umat Islam dan Kristen serta kepada agama-agama lainya, cukup membuktikan kegagalan para penganjur ‘perdamaian’ tersebut. Meskipun begitu, ‘doktrin’ perdamaian dan persahabatan ini harus senantiasa kita teruskan, kemudian kita coba kembangkan dan dakwahkan, melalui strategi-strategi baru yang lebih efektif dan relevan, kepada saudara-saudara kita, teman-teman dan peserta didik kita kapan pun dan dimana pun kita berada.
    Untuk memperoleh keberhasilan bagi terealisasinya tujuan mulia yaitu perdamaian dan persaudaraan abadi di antara orang-orang yang pada realitasnya memang memiliki agama dan iman berbeda, perlulah kiranya adanya keberanian mengajak mereka melakukan perubahan-perubahan di bidang pendidikan—terutama sekali melalui kurikulumnya yang berbasis keanekaragaman. Sebab, melalui kurikulum seperti ini, memungkinkan untuk bisa ‘membongkar’ teologi agama masing-masing yang selama ini cenderung ditampilkan secara eklusif dan dogmatis. Sebuah teologi yang biasanya hanya mengeklaim bahwa hanya agamanya yang bisa membangun kesejahteraan duniawi dan mengantar manusia dalam surga Tuhan. Pintu dan kamar surga itu pun hanya satu yang tidak bisa dibuka dan dimasuki kecuali dengan agama yang dipeluknya.
    Padahal berteologi semacam itu, harus kita akui, sebagai sesuatu yang sangat menghawatirkan dan dapat mengganggu keharmonisan masyarakat agama-agama dalam era pluralistik sekarang. Suatu era dimana seluruh masyarakat dengan segala unsurnya dituntut untuk dapat saling tergantung dan menaggung nasib secara bersama-sama demi terciptanya perdamaian abadi. Disinilah letak ‘tantangan’ bagi agama (termasuk Islam) untuk kembali mendefenisikan dirinya ditengah agama-agama lain. Atau dengan meminjam bahasanya John Lyden, seorang ahli agama-agama, adalah “what should one think about religions other than one’s own? Apa yang harus dipikirkan oleh seorang muslim terhadap non-Muslim. Apakah masih sebagai seorang musuh atau sebagai seorang sahabat. Tentu saja masih adanya anggapan satu agama dengan yang lain sebagai musuh, harus dibuang jauh-jauh. Bukankah pada hakikatnya kita semua adalah sebagai seorang ‘saudara’ dan ‘sahabat’ dalam menghampiri yang mutlak? Bahkan, Islam melalui Al-Qur’an dan Hadistnya juga mengajarkan sikap-sikap toleran seperti ini bukan?
    Untuk bisa memperoleh pemahaman yang sejuk dan bisa menganggap orang lain sebagai ‘partner’ dalam menuju Tuhan, antara Islam dan non-Muslim di samping harus menampilkan teologi yang inklusif dan ramah, mereka juga harus memasuki dialog antaragama dengan mencoba memahami cara baru yang mendalam mengenai bagaimana Tuhan mempunyai jalan ‘penyelamatan’. Dalam konteks ini, tentu saja pengajaran agama Islam yang diajarkan di sekolah-sekolah harus memuat kurikulum berbasis keanekaragaman. Pendidikan agama Islam yang diberikan kepada siswa tidak menciptakan suatu pemahaman yang tunggal, melainkan kurikulum pendidikan yang dapat menunjang proses siswa menjadi manusia yang demokratis, pluralis dan menekankan penghayatan hidup serta refleksi untuk menjadi manusia yang utuh. Kurikulumnya mestilah mencakup subjek seperti: toleransi, Aqidah Inklusif, Fiqih Muqarran dan perbandingan agama serta tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama: bahaya diskriminasi: penyelesaian konflik dan mediasi: HAM; demokrasi dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan. Inilah sebuah kurikulum, yang mampu menghantarkan peserta didik untuk melakukan dialog antaragama dan mampu memasuki persoalan-persoalan teologis dan melibatkan iman. Karena dialog yang sejati mustahil dilakukan tanpa memasuki persoalan-persoalan teologis dan melibatkan iman. Sehingga pada akhirnya setiap umat Islam akan mampu melakukan apa yang disebut John S. Dunne dengan “melintas” (“passing over”), melintas dari satu budaya kepada budaya lain, dari satu cara hidup kepada cara hidup lain, dari satu agama kepada agama lain. Ini diikuti oleh proses yang sama dan berlawanan yang kita sebut “kembali” (“coming back”), kembali dengan wawasan baru kepada budaya sendiri, cara hidup sendiri, agama sendiri.
    Perlunya memperbaharui dan mengembangkan kurikulum PAI yang berbasis keanekaragaman tersebut dengan suatu pertimbangan kurikulum dan metode merupakan elemen penting dalam proses belajar mengajar. Berhasil dan tidaknya suatu tujuan pendidikan tergantung kurikulum yang dipersiapkan dan metode yang digunakannya. Tidak relevannya kurikulum dan metode yang dikembangkan di suatu sekolah dengan realitas kehidupan yang dialami oleh siswa, menyebabkan siswa teraliniasi dari lingkungannya alias tidak bisa peka terhadap perkembangan yang terjadi disekitarnya. Hal ini berarti, dalam konteks globalisasi, sekolah tersebut telah “gagal” untuk mengantarkan peserta didiknya untuk menjadi “anak” yang cerdas, tanggap dan dapat bersaing dipasaran bebas.
    Selain itu, pentingnya mereformasi kurikulum PAI dengan menampilkan wajah Islam toleran dapat dijelaskan dari sudut pandang filsafat perenialisme, esensialisme dan progresifisme. Dalam pandangan perenialisme kurikulum adalah “construct” yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan. Sementara dalam prespektif filsafat progresivisme, posisi kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa depan dimana kehidupan masa lalu, masa sekarang, dan berbagai rencana pengembangan dan pembangunan bangsa dijadikan dasar untuk mengembangkan kehidupan masa depan. Dari sinilah sangat memungkinkan untuk mengajarkan prinsip –prinsip ajaran Islam yang humanis, demokratis dan berkeadilan kepada peserta didik. Sebuah prinsip-prinsip ajaran Islam yang sangat relevan untuk memasuki masa depan dunia yang ditandai dengan adanya keanekaragaman budaya dan agama.

    Bab II
    ISLAM DAN PENDIDIKAN PLURALISME
    Kata Kunci: Islam, Pendidikan, Kurikulum, Pluralisme

    B. Latar Belakang
    Entah kenapa ketika mendengar kata “pluralisme”, sebagian dari kebanyakan umat Islam harus menutup kuping mereka rapat-rapat. Seolah-olah pluralisme ini telah dianggap oleh mereka, sebagai “hantu” yang perlu ditakuti dan dijauhi. Orang yang mencoba menjelaskan dan mewacanakannya pun juga terkena imbasnya, tak sedikit dari mereka yang telah di hujat, dicaci maki dan dikucilkan tidak hanya dianggap sebagai antek-antek Barat, tetapi juga telah “diklaim” sebagai calon penghuni neraka. Masyaallah..!
    Saya memahami, kenapa mereka sampai berbuat demikian. Karena kebanyakan dari mereka saya yakin belum mengetahui secara komprehensif substansi pluralisme itu sendiri. Disamping itu, mereka juga sudah terburu-buru untuk bersikap antipati dan penuh kecurigaan, kalau pluralisme ini adalah produk Barat, yang pasti sesat dan menyesatkan. Memang sih, tidak bisa dipungkiri dalam realitas kesejarahanya pluralisme ini adalah berasal dari Barat. Tetapi kalau kemudian paham ini, mampu memberikan kontribusi positif bagi terciptanya persahabatan dan perdamaian bagi masyarakat agama, kenapa harus ditampik, inilah pertanyaanya.
    Bukankah kalau mau jujur, selama ini kita juga telah ikut merasakan dan menikmati produk-produk barat akibat keunggulan IPTEK yang dimilikinya? Janganlah menutup mata, kalau kita selama ini bisa berkomunikasi jarak jauh dengan HP, faximile dan internet serta bisa bepergian keseluruh dunia (termasuk menunaikan ibadah haji ke mekkah) dengan naik pesawat, mobil dan kapal adalah berkat Barat.
    Dengan begitu, dapatlah dikatakan bahwa sesuatu yang datang dari Barat ternyata tidak selamanya jelek dan bertentangan dengan Islam. Semuanya sebenarnya tergantung bagaimana cara kita menyikapi dan mempergunakanya. Sebagai contoh, kalau kita tidak dapat secara arif dan bijaksana mempergunakan sains dan teknologi, maka hal ini pastilah akan berimplikasi negatif bagi kehidupan manusia, yaitu menyebabkan terjadinya krisis dalam berbagai bidang kehidupan. Bukankah contoh seperti ini juga berlaku bagi paham pluralisme?
    Namun haruslah diakui, bahwa Barat tentu saja bukanlah “segala-galanya”. Sehingga semua pikiran, perilaku, budaya serta norma-norma kita harus berkiblat dengan Barat. Kalau tidak mengikuti trend Barat, dikataka “ndeso” dan kampungan alias ketinggalan zaman. Karena memang pada kenyataanya, terdapat dari tradisi dan kebudayaan yang berasal dari Barat yang tidak sesuai dengan kultur Islam seperti; dari cara berpakaian yang banyak mengundang syahwat, makanan dan minuman beralkohol, free sex. Alangkah baiknya kalau kita memang seselektif mungkin untuk mencoba memilih dan memilah budaya Barat tersebut. Yang baik kita tiru, dan yang tidak sesuai dengan Islam kita bung jauh-jauh.
    Lebih baik memang, dan ini sudah saatnya, kalau kita sesegera mungkin melakukan upaya-upaya menuju dialog antara Islam dan barat. Sehingga melalui proses dialog ini, akan memungkinkan terciptanya suasana saling belajar satu sama lain. Dialog juga akan memungkinkan diantara keduanya untuk saling sharing pemahaman tentang budaya masing-masing yang dimilikinya serta memberikan suatu kritik yang kontrukstif demi terciptanya saling memahami dan menghormati. Kalau hal seperti ini dapat dilakukan, saya yakin cita-cita menciptakan perdamaian global akan tercapai. Tetapi kalau belum-belum sudah saling mengkafirkan satu sama lain, lantas apa yang bakal terjadi? Pastilah kekacauan dan peperangan seperti yang terjadi selama ini, akan selalu terulang kembali. Termasuk salah satu yang perlu didialogkan antara barat dan Islam adalah gagasan perlunya konsep pluralisme, sebuah konsep yang berasal dari Barat yang bertujuan untuk menciptakan harmonisasi di antara agama-agama di dunia.
    Apakah sebenarnya pluralisme itu? kalau melacak dari beberapa sumber, dapatlah didefenisikan bahwa pluralisme adalah sebuah paham tentang pluralitas. Paham, bagaimana melihat keragaman dalam agama-agama, mengapa dan bagaimana memandang agama-agama, yang begitu banyak dan beragam. Apakah hanya ada satu agama yang benar atau semua agama benar.
    Paham pluralisme dengan begitu, sangat menghendaki terjadinya dialog antaragama, dan dengan dialog agama memungkinkan antara satu agama terhadap agama lain untuk mencoba memahami cara baru yang mendalam mengenai bagaimana Tuhan mempunyai jalan penyelamatan. Pengalaman ini, saya kira sangat penting untuk memperkaya pengalaman antar iman, sebagai pintu masuk ke dalam dialog teologis. Inilah sebuah teologi yang menurut Wilfred C. Smith (1981: 187) disebut dengan istilah world theology (teologi dunia) dan oleh John Hick (1980: 8) disebutnya global theology (teologi global). Kemudian teologi tersebut belakangan ini terkenal dengan sebutan teologi pluralisme.
    Pengakuan terhadap pluralisme agama dalam suatu komunitas umat beragama menjanjikan dikedepankanya prinsip inklusifitas yang bermuara pada tumbuhnya kepekaan terhadap berbagai kemungkinan unik yang bisa memperkaya usaha manusia dalam mencari kesejahteraan spritual dan moral. Gagasan bahwa manusia adalah satu umat, seperti ini menurut Sachedina “merupakan dasar pluralisme teologis yang menuntut adanya kesetaraan hak yang diberikan Tuhan bagi semua. Manusia tetap merupakan “satu bangsa” berdasarkan kemanusiaan yang sama-sama mereka miliki. Karena itulah diperlukan suatu “etika global” yang bisa memberikan dasar pluralistik untuk memperantarai hubungan antar agama di antara orang-orang yang memiliki komitmen spritual berbeda”.
    Pengertian dan tujuan pluralisme seperti itu, sebenarnya telah lama menimbulkan perdebatan di kalangan umat beragama. Sampai akhirnya, pembicaraan mengenai pluralisme sempat “menghangat” kembali ketika MUI melalui fatwanya baru-baru ini, menyatakan bahwa pluralisme adalah paham yang sesat dan sangat membahayakan, karena dianggap sebagai paham yang menyebarkan “ semua agama adalah benar”.
    Fatwa MUI yang melarang pluralisme seperti itu, kemudian menunai banyak protes dari masyarakat luas. Karena dianggap fatwa MUI seperti itu akan sangat membahayakan bagi integritas bangsa Indonesia yang pluralistik. Bahkan, salah satu dari ketua MUI ketika menanggapi protes dari berbagai kalangan, ada yang dengan tegas menyatakan bahwa mereka yang protes itu berdasarkan akal, sedangkan ulama (MUI) berdasarkan Alquran dan Sunnah Rasul.
    Padahal kalau kita mau memahami dan mempelajari pengertian dari pluralisme yang dimaksud, pastilah kita akan secara arif dapat menerimanya. Bukankah pluralisme pada dasarnya justru sangat compatible dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Apalagi kalau mau membaca sejarah, pasti kita dapat menyimpulkan bahwa meskipun Islam merupakan agama termuda dalam tradisi Ibrahimi. Pemahaman diri Islam sejak kelahiranya pada abad ke-7 justru sudah melibatkan unsur kritis pluralisme, yaitu hubungan Islam dengan agama lain. Dan agama Ibrahimi termuda ini sebenarnya bisa mengungkap diri dalam suatu dunia agama pluralistis. Islam mengakui dan menilainya secara kritis, tapi tidak pernah menolaknya atau menganggapnya salah.
    Bahkan menurut Alquran sendiri, pluralitas adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau Sunnah Allah, dan bahwa hanya Allah yang tahu dan dapat menjelaskan, di hari akhir nanti, mengapa manusia berbeda satu dari yang lain, dan mengapa jalan manusia berbeda-beda dalam beragama. Dalam al-Qura’an disebutkan, yang artinya: “Untuk masing-masing dari kamu (umat manusia) telah kami tetapkan Hukum (Syari’ah) dan jalan hidup (minhaj). Jika Tuhan menghendaki, maka tentulah ia jadikan kamu sekalian umat yang tunggal (monolitk). Namun Ia jadikan kamu sekalian berkenaan dengan hal-hal yang telah dikarunia-Nya kepada kamu. Maka berlombalah kamu sekalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah-lah tempat kalian semua kembali; maka Ia akan menjelaskan kepadamu sekalian tentang perkara yang pernah kamu perselisihkan” (QS 5: 48).
    Dalam kaitannya yang langsung dengan prinsip inilah Allah, di dalam Alquran, menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika ia menunjukkan keinginan dan kesediaan yang menggebu untuk memaksa manusia menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “Jika Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri? (QS 10: 99).
    Demikianlah beberapa prinsip dasar Alquran yang berkaitan dengan masalah pluralisme dan toleransi. Paling tidak, dalan dataran konseptual, Alquran telah memberi resep atau arahan-arahan yang sangat diperlukan bagi manusia Muslim untuk memecahkan masalah kemanusiaan universal, yaitu realitas pluralitas keberagamaan manusia dan menuntut supaya bersikap toleransi terhadap kenyataan tersebut demi tercapainya perdamaian di muka bumi. Karena Islam menilai bahwa syarat untuk membuat keharmonisan adalah pengakuan terhadap komponen-komponen yang secara alamiah berbeda.
    Melihat peran pentingnya sikap pluralisme untuk bisa mengakui dan menghormati “perbedaan” dan sikap seperti ini ternyata memiliki landasan teologis dari Al-Qur’an maka, teologi pluralisme seperti ini sangat penting untuk ditekankan pada peserta didik melalui pendidikan agama, sebab persoalan teologi sampai sekarang masih menimbulkan kebingungan di antara agama-agama. Soal teologi yang menimbulkan kebingungan adalah standar: bahwa agama kita adalah agama yang paling sejati berasal dari Tuhan, sedangkan agama lain adalah hanya kontruksi manusia. Dalam sejarah, standar ganda ini biasanya dipakai untuk menghakimi agama lain dalam derajad keabsahan teologis di bawah agama kita sendiri. Lewat standar ganda inilah kita menyaksikan bermunculnya perang klaim-klaim kebenaran dan janji penyelamatan, yang kadang-kadang kita melihatnya berlebihan, dari satu agama atas agama lain.
    Selain itu, era sekarang adalah era multikulturalisme dan pluralisme, yang dimana seluruh masyarakat dengan segala unsurnya dituntut untuk saling tergantung dan menanggung nasib secara bersama-sama demi terciptanya perdamaian abadi. Salah satu bagian penting dari konsekuensi tata kehidupan global yang ditandai kemajemukan etnis, budaya, dan agama tersebut, adalah membangun dan menumbuhkan kembali teologi pluralisme dalam masyarakat.
    Demi tujuan itu, maka pendidikan sebenarnya masih dianggap sebagai instrumen penting. Sebab, “pendidikan” sampai sekarang masih diyakini mempunyai peran besar dalam membentuk karakter individu-individu yang dididiknya, dan mampu menjadi “guiding light” bagi generasi muda penerus bangsa. Dalam konteks inilah, pendidikan agama sebagai media penyadaran umat perlu membangun teologi inklusif dan pluralis, demi harmonisasi agama-agama (yang telah menjadi kebutuhan masyarakat agama sekarang).
    Hal tersebut dengan suatu pertimbangan, bahwa salah satu peran dan fungsi pendidikan agama diantaranya adalah untuk meningkatkan keberagamaan peserta didik dengan keyakinan agama sendiri, dan memberikan kemungkinan keterbukaan untuk mempelajari dan mempermasalahkan agama lain sebatas untuk menumbuhkan sikap toleransi (Sealy, 1986: 43-44). Ini artinya, pendidikan agama pada prinsipnya, juga ikut andil dan memainkan peranan yang sangat besar dalam menumbuh-kembangkan sikap-sikap pluralisme dalam diri siswa.
    Apalagi, kalau mencermati pernyatan yang telah disampaikan oleh Alex R. Rodger (1982: 61) bahwa “pendidikan agama merupakan bagian integral dari pendidikan pada umumnya dan berfungsi untuk membantu perkembangan pengertian yang dibutuhkan bagi orang-orang yang berbeda iman, sekaligus juga untuk memperkuat ortodoksi keimanan bagi mereka”. Artinya pendidikan agama adalah sebagai wahana untuk mengekplorasi sifat dasar keyakinan agama di dalam proses pendidikan dan secara khusus mempertanyakan adanya bagian dari pendidikan keimanan dalam masyarakat. Pendidikan agama dengan begitu, seharusnya mampu merefleksikan persoalan pluralisme, dengan mentransmisikan nilai-nilai yang dapat menumbuhkan sikap toleran, terbuka dan kebebasan dalam diri generasi muda.
    Organisasi sekolah dan atmosfirnya harus mampu mewujudkan jalan menuju kehidupan secara personal dan sosial. Sekolah harus dapat mempraktekkan sesuatu yang telah diajarkanya. Dengan demikian, lingkungan sekolah tersebut dapat dijadikan percontohan oleh murid-murid untuk learning by doing. Di dalam sekolah, peserta didik seharusnya dapat mempelajari adanya kurikulum-kurikulum umum di dalam kelas-kelas heterogen. Hal ini diperlukan guna mendorong adanya persamaan ideal, membangun perasaan persamaan, dan memastikan adanya input dari peserta didik yang memiliki latar belakang berbeda.
    Adanya serentetan kerusuhan-kerusuhan yang berbau SARA di Indonesia, menunjukkan bahwa secara kolektif kita sebenarnya tidak mau belajar tentang bagaimana hidup secara bersama secara rukun. Bahkan, dapat dikatakan, agen-agen sosialisasi utama seperti keluarga dan lembaga pendidikan, tampaknya tidak berhasil menanamkan sikap toleransi-inklusif dan tidak mampu mengajarkan untuk hidup bersama dalam masyarakat plural. Di sinilah letak pentingnya sebuah ikhtiar menanamkan teologi pluralisme melalui pendidikan agama. Sehingga, masyarakat Indonesia akan mampu membuka visi pada cakrawala yang semakin luas, mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama. Inilah pendidikan akan nilai-nilai dasar kemanusiaan untuk perdamaian, kemerdekaan, dan solidaritas.
    Melalui pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam berbasis kemajemukan dengan mempertimbangkan pengembangan komponen-komponen, ya , bahan, metode, peserta didik, media, lingkungan, dan sumber belajar Maksud dan tujuan pendidikan pluralisme, dengan begitu akan dapat dijadikan sebagai jawaban atau solusi alternatif bagi keinginan untuk merespon persoalan-persoalan di atas. Sebab dalam pendidikanya, pemahaman Islam yang hendak dikembangkan oleh pendidikan berbasis pluralisme adalah pemahaman dan pemikiran yang bersifat inklusif.
    Melalui sistem pendidikannya, sebuah pendidikan yang berbasis pluralisme akan berusaha memelihara dan berupaya menumbuhkan pemahaman yang inklusif pada peserta didik. Dengan suatu orientasi untuk memberikan penyadaran terhadap para peserta didiknya akan pentingnya saling menghargai, menghormati dan bekerja sama dengan agama-agama lain.

    Bab III
    ISLAM DAN PENDIDIKAN PLURALISME
    Kata Kunci: Islam, Pendidikan, Kurikulum, Pluralisme

    C. Landasan Teori
    1. Islam Dan Pluralisme
    Dalam Islam berteologi secara inklusif dengan menampilkan wajah agama secara santun dan ramah sangat dianjurkan. Islam bahkan memerintahkan umat Islam untuk dapat berinteraksi terutama dengan agama Kristen dan Yahudi dan dapat menggali nilai-nilai keagamaan melalui diskusi dan debat intelektual/teologis secara bersama-sama dan dengan cara yang sebaik-baiknya (QS al-Ankabut/29: 46), tentu saja tanpa harus menimbulkan prejudice atau kecurigaan di antara mereka.
    Karena menurut al-Qur’an sendiri, sebagai sumber normatif bagi suatu teologi inklusif. Karena bagi kaum muslimin, tidak ada teks lain yang menempati posisi otoritas mutlak dan tak terbantahkan selain Alqur’an. Maka, Alqur’an merupakan kunci untuk menemukan dan memahami konsep persaudaraan Islam-terhadap agama lain—pluralitas adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau Sunnah Allah, sebagaimana firman Allah SWT: “ Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal” (Al Hujurat 49: 13).
    Kalu kita membaca dari ayat tersebut, secara kritis dan penuh keterbukaan, pastilah kita akan menemukan suatu kesimpulan bahwa Allah SWT sendiri sebenarnya secara tegas telah menyatakan bahwa ada kemajemukan di muka bumi ini. Perbedaan laki-laki dan perempuan, perbedaan suku bangsa; ada orang Indonesia, Jerman, Amerika, orang Jawa, Sunda atau bule, adalah realitas pluralitas yang harus dipandang secara positif dan optimis. Perbedaan itu, harus diterima sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin atas dasar kenyataan itu. Bahkan kita disuruh untuk menjadikan pluralitas tersebut, sebagai instrumen untuk menggapai kemuliaan di sisi Allah SWT, dengan jalan mengadakan interaksi sosial antara individu, baik dalam konteks pribadi atau bangsa.
    Kenapa kita diperintah untuk saling mengenal dan berbuat baik sama orang lain, meskipun berbeda agama, suku dan kulit dan dilarang untuk memperolok-olok satu sama lain? Jawabannya adalah bahwa hanya Allah yang tahu dan dapat menjelaskan, di hari akhir nanti, mengapa manusia berbeda satu dari yang lain, dan mengapa jalan manusia berbeda-beda dalam beragama: “Untuk masing-masing dari kamu (umat manusia) telah kami tetapkan Hukum (Syari’ah) dan jalan hidup (minhaj). Jika Tuhan menghendaki, maka tentulah ia jadikan kamu sekalian umat yang tunggal (monolitk). Namun Ia jadikan kamu sekalian berkenaan dengan hal-hal yang telah dikarunia-Nya kepada kamu. Maka berlombalah kamu sekalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah-lah tempat kalian semua kembali; maka Ia akan menjelaskan kepadamu sekalian tentang perkara yang pernah kamu perselisihkan” (Q.S. Al Maaidah: 48).
    Bahkan konsep unity in diversity, dalam Islam telah diakui keabsahanya dalam kehidupan ini. Untuk mendukung pernyataan ini, kita dapat melacak kebenaranya dalam perjalanan sejarah yang telah ditunjukkan oleh al-Qur’an, bahwa Islam telah memberi karaketer positif kepada komunitas non-Muslim, Ini bisa dilihat, misalnya, dari berbagai istilah eufemisme, mulai dari ahl al-kitab, shabih bi ah al-kitab, din Ibrahim sampai dinan hanifan. Dan secara spesifik, Islam malahan mengilustrasikan karakter para pemuka agama Kristen sebagai manusia dengan sifat rendah hati (la yastakbirun) serta pemeluk agama Nasrani sebagai kelompok dengan jalinan emosional (aqrabahum mawaddatan) terdekat dengan komunitas Muslim (Q.S. Al Maidah: 82).
    Dalam kaitannya yang langsung dengan prinsip untuk dapat menghargai agama lain dan dapat menjalin persahabatan dan perdamaian dengan ‘mereka’ inilah Allah, di dalam al-Qur’an, menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika ia menunjukkan keinginan dan kesediaan yang menggebu untuk memaksa manusia menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “Jika Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri? (Q.S. Yunus: 99).
    Dari ayat tersebut tergambar dengan jelas bahwa persoalan kemerdekaan beragama dan keyakinan menjadi “tanggungjawab” Allah SWT, dimana kita semua dituntut toleran terhadap orang yang tidak satu dengan keyakinan kita. Bahkan nabi sendiri dilarang untuk memaksa orang kafir untuk masuk Islam. Maka dengan begitu, tidaklah dibenarkan “kita” menunjukkan sikap kekerasan, paksaan, menteror dan menakut-nakuti orang lain dalam beragama.
    Apalagi kalau kita mau memahami secara benar, bahwa pada dasarnya menurut al-Qur’an, pokok pangkal kebenaran universal Yang Tunggal itu ialah paham Ketuhanan Yang Maha Esa, atau tauhid. Tugas para Rasul adalah menyampaikan ajaran tentang tauhid ini, serta ajaran tentang keharusan manusia tunduk dan patuh hanya kepada-Nya saja (Q. S. al-Ambiya’: 92) dan justru berdasarkan paham tauhid inilah, al-Qur’an mengajarkan paham kemajemukan keagamaan. Dalam pandangan teologi Islam, sikap ini menurut Budy Munawar Rahman (2001: 15), dapat ditafsirkan sebagai suatu harapan kepada semua agama yang ada; bahwa semua agama itu pada mulanya menganut prinsip yang sama, dan persis karena alasan inilah al-Qur’an mengajak kepada titik pertemuan (kalimatun sawa’): “Katakanlah olehmu (Muhammad): Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimatun sawa’) antara kami dan kamu: yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya kepada apapun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan” selain Allah” (Q.S. al-Maidah: 64).
    Implikasi dari kalimatun sawa’ ini menurut Alqur’an adalah: siapapun dapat memperoleh “keselamatan” asalkan dia beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, dan berbuat baik”. Jadi, dalam prespektif ini, al-Qur’an tidak mengingkari kasahihan pengalaman transendensi agama, semisal Kristen bukan? Islam malah mengetahui dan bahkan mengakui daya penyelamatan kaum lain (termasuk Kristen) itu dalam hubunganya dengan lingkup monoteisme yang lebih luas: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan yang beragama Yahudi, Kristen, dan Shabiin, barang siapa dari mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan mengerjakan amal baik, maka mereka akan dapat ganjaran dari Tuhan mereka; dan tidak ada ketakutan dan tidak ada duka cita atas mereka” (Q.S 2: 62).
    Hal itu sejalan dengan ajaran bahwa monoteisme merupakan dogma yang diutamakan dalam Islam. Monoteisme, yakni percaya kepada Tuhan yang Maha Esa, dipandang jalan untuk keselamatan manusia. Dalam al-Qur’an ayat 48 dan 116 surah al-Nisa’ menerangkan bahwa Allah tidak mengampuni dosa orang yang mempersekutukan Tuhan tetapi mengampuni dosa selainya bagi barang siapa yang dikehendaki Allah. Kedua ayat ini mengandung arti bahwa dosa dapat diampuni Tuhan kecuali dosa sirk atau politeis. Inilah satu-satunya dosa yang tak dapat diampuni Tuhan.
    Alqur’an, dengan demikian, sebagaimana ditegaskan oleh Abdulaziz Sachedina dalam bukunya The Islamic Roots of Democratic Pluralism (2002: 59), adalah jelas memandang dirinya sebagai mata rantai kritis dalam pengalaman pewahyuan umat manusia—satu jalan universal yang dimaksudkan untuk semua makhluk. Secara khusus, Islam juga memiliki etos biblikal dan Kristen, dan Islam memiliki sikap yang luar biasa inklusif terhadap Ahli Kitab, yang dengan merekalah Islam terhubungkan melalui manusia pertama di muka bumi.
    2. Islam Memerintahkan Untuk Bersikap ‘Toleran’ Kepada Agama lain
    Sedangkan secara umum, pandangan Islam terhadap agama lain (Ahli Kitab—pen) sangat positif dan sangat kontruktif. Hal ini dapat dilihat dari nilai dan ajarannya yang memberikan peluang dan mendorong kepada umat Islam untuk dapat melakukan interaksi sosial, kerja sama dengan mereka. Tentang hal ini, Farid Asaeck (2000: 206-207)), telah menunjukkan bukti-bukti sebagai berikut; Pertama, Ahli Kitab, sebagai penerima wahyu, diakui sebagai bagian dari komunitas. Ditujukan kepada semua nabi, al-Qur’an mengatakan: “Dan sungguh inilah umatmu, umat yang satu” (QS al-Mu’miunun: 52). Sehingga konsep Islam tentang para pengikut Kitab Suci atau Ahli Kitab yaitu konsep yang memberikan pengakuan tertentu kepada para penganut agama lain, yang memiliki Kitab Suci dengan memberikan kebebasan menjalankan ajaran agamanya masing-masing.
    Kedua, dalam dua bidang sosial terpenting, makanan dan perkawinan, sikap murah hati al-Qur’an terlihat jelas, bahwa makanan “orang-orang yang diberi Alkitab” dinyatakan sebagai sah (halal) bagi kaum muslim dan makanan kaum muslim sah bagi mereka (QS al-Maidah: 5). Demikian juga, pria muslim diperkenankan mengawini “wanita suci dari Ahli Kitab” (QS al-Maidah: 5). Jika kaum Muslim diperkenankan hidup berdampingan dengan golongan lain dalam hubungan yang seintim hubungan perkawinan, ini menunjukkan secara eksplisit bahwa permusuhan tidak dianggap sebagai norma dalam hubungan Muslim-kaum lain.
    Ketiga, dalam bidang hukum agama, norma-norma dan peraturan kaum Yahudi dan Nasrani diakui (QS al-Maidah: 47) dan bahkan dikuatkan oleh Nabi ketika beliau diseru untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka (QS al-Maidah: 42-43). Keempat, kesucian kehidupan religius penganut agama wahyu lainya ditegaskan oleh fakta bahwa izin pertama yang pernah diberikan bagi perjuangan bersenjata dimaksudkan untuk menjamin terpeliharanya kesucian ini, “Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagai manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja dan sinagog-sinagog orang Yahudi, dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak di sebut nama Allah” (QS al-Hajj: 40).
    Perintah Islam agar umatnya bersikap toleran, bukan hanya pada agama Yahudi dan Kristen, tetapi juga kepada agama-agama lain. Ayat 256 surat al-Baqarah mengatakan bahwa tidak ada paksaan dalam soal agama karena jalan lurus dan benar telah dapat dibedakan dengan jelas dari jalan salah dan sesat. Terserahlan kepada manusia memilih jalan yang dikehendakinya. Telah dijelaskan mana jalan benar yang akan membawa kepada kesengsaraan. Manusia merdeka memilih jalan yang dikehendakinya. Kemerdekaan ini diperkuat oleh ayat 6 surah al-Kafirun yang mengatakan: Bagimulah agamamu dan bagiku agamaku.
    Demikianlah beberapa prinsip dasar al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah pluralisme dan anjuran untuk dapat menunjukkan sikap saling menghormati, ramah dan bersahabat dengan agama Kristen, secara khusus. Dengan begitu, jauh-jauh hari, al-Qur’an sesungguhnya telah mensinyalir akan munculnya bentuk “truth claim” (Abdullah, 1999: 68). Baik itu dalam wilayah intern umat beragama maupun wilayah antar-umat beragama. Kedua-duanya, sama-sama tidak favourable dan tidak kondusif bagi upaya membangun tata pergaulan masyarakat pluralistik yang sehat.
    Oleh al-Qur’an, kecendrungan manusia untuk mengantongi “truth claim” yang potensial untuk ekplosif dan destruktif itu, kemudian dinetralisir dalam bentuk anjuran untuk selalu waspada terhadap bahaya ektrimitas dalam berbagai bentuknya. Dan manusia Muslim sendiri dituntut untuk senantiasa merendahkan hati dan bersedia dengan “kebenaran” (al-haq) dan kesabaran (al-Shabar) dalam setiap langkah dalam perjalanan hidupnya (surat al-Ashr: 1-3).
    Paling tidak, dalan dataran konseptual, al-Qur’an telah memberi resep atau arahan-arahan yang sangat diperlukan bagi manusia Muslim untuk memecahkan masalah kemanusiaan universal, yaitu realitas pluralitas keberagamaan manusia dan menuntut supaya bersikap toleransi terhadap kenyataan tersebut demi tercapainya perdamaian di muka bumi. Karena Islam menilai bahwa syarat untuk membuat keharmonisan adalah pengakuan terhadap komponen-komponen yang secara alamiah berbeda.
    Dengan begitu, dapat pula dikatakan konsepsi pluralisme dalam Islam sudah terbawa pada misi awal agama ini diturunkan, yakni membawa kasih terhadap seluruh alam tanpa batas-batas atau benturan-benturan dimensi apapun. Semua orang yang mengaku Islam haruslah menunjukkan sikap saling “mengasihi” kepada sesama manusia. Karena seseorang bisa disebut sebagai seorang muslim, menurut kanjeng nabi adalah Al-Muslimu man salima Al-muslimuna min lisanihi wa yadihi. Maksudnya adalah seorang muslim yang senantiasa menebarkan sikap damai dan rasa aman dihati masyarakatnya.
    3. Kegagalan Pendidikan Agama
    Berangkat dari kesadaran adanya fenomena bahwa “satu Tuhan, banyak agama” merupakan fakta dan realitas yang dihadapi manusia sekarang. Maka, manusia sekarang harus didorong menuju kesadaran bahwa pluralisme memang sungguh-sungguh fitrah kehidupan manusia.
    Mendorong setiap orang untuk dapat menghargai “keanekaragaman” adalah sangat penting segera dilakukan, terutama sekali di negara Indonesia yang pluralistik ini. Dampak krisis multi-dimensional yang melandanya, menyebabkan bangsa Indonesia menghadapi berbagai problem sosial. Salah satu problem besar dimana peran agama menjadi sangat dipertanyakan adalah konflik etnis, kultur dan religius, atau yang lebih dikenal dengan SARA.
    Kegagalan agama dalam memainkan perannya sebagai problem solver bagi persoalan SARA erat kaitanya dengan pengajaran agama secara eklusif. Maka, agar bisa keluar dari kemelut yang mendera bangsa Indonesia terkait persoalan SARA, adalah sudah saatnya bagi bangsa Indonesia untuk memunculkan wajah pendidikan agama yang inklusif dan humanis.
    Pada tataran teologis, dalam pendidikan agama perlu mengubah paradigma teologis yang pasif, tektualis, dan eklusif. Menuju teologi yang saling menghormati, saling mengakui eksistensi, berfikir dan bersikap positif, serta saling memperkaya iman. Hal ini dengan tujuan untuk membangun interaksi umat beragama dan antarumat beragama yang tidak hanya berkoeksistensi secara harmonis dan damai, tetapi juga bersedia aktif dan pro-aktif kemanusiaan.
    Sebenarnya masyarakat Indonesia telah lama akrab dengan diktum Bhinneka Tunggal Ika. Namun sayangnya, konsep ini telah mengalami pemelintiran makna dan bias interpretasi, terutama sepanjang pemerintahan Orde Baru. Kebijakan sosial-politik saat itu cenderung uniformistik, sehingga tampaknya budaya milik kelompok dominanlah yang diajarkan dan disalurkan oleh sekolah dari satu generasi kepada generasi lainya.
    Sekolah pada saat itu juga ditengarai hanya merefleksikan dan menggemakan stereotip dan prasangka antarkelompok yang sudah terbentuk dan beredar dalam masyarakat, tidak berusaha menetralisisir dan menghilangkanya. Bahkan, ada indikasi bahwa sekolah ikut mengembangkan prasangka dan mengeskalasi ketegangan antarkelompok melalui perundang-undangan yang mengkotak-kotakkan penyampaiaan pendidikan agama, isi kurikulum yang etnosentris, dan dinamika relasi sosial antarsekolah yang segregatif (Khisbiyah, 2000: 156-157). Bukan tak mungkin segregasi sekolah berdasarkan kepemelukan agama juga ikut memeperuncing prasangka dan proses demonisasi antara satu kelompok dengan kelompok lainya, baik secara langsung maupun atau tidak langsung .
    Padahal, menurut S. Hamid Hasan, “keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan aspirasi politik, dan kemampuan ekonomi adalah suatu realita masyarakat dan bangsa Indonesia. Namun demikian, keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan aspirasi politik yang seharusnya menjadi faktor yang diperhitungkan dalam penentuan filsafat, teori, visi, pengembangan dokumen, sosialisasi kurikulum, dan pelaksanaan kurikulum, nampaknya belum dijadikan sebagai faktor yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan di negara kita” (Hasan, 2000: 511). Maka, akibatnya, wajar manakala terjadi kegagalan dalam pendidikannya (termasuk pendidikan agama), terutama sekali dalam menumbuhkan sikap-sikap untuk menghargai adanya perbedaan dalam masyarakat.
    Selain itu, Kautsar Azhari Noer (2001) menyebutkan, paling tidak ada empat faktor penyebab kegagalan pendidikan agama dalam menumbuhkan pluralisme. Pertama, penekananya pada proses transfer ilmu agama ketimbang pada proses transformasi nilai-nilai keagamaan dan moral kepada anak didik; kedua, sikap bahwa pendidikan agama tidak lebih dari sekedar sebagai “hiasan kurikulum” belaka, atau sebagai “pelengkap” yang dipandang sebelah mata; ketiga, kurangnya penekanan pada penanaman nilai-nilai moral yang mendukung kerukunan antaragama, seperti cinta, kasih sayang, persahabatan, suka menolong, suka damai dan toleransi; dan keempat, kurangnya perhatian untuk perhatikan untuk mempelajari agama-agama lain (Noer dalam Sumartana, 2001: 239-240).
    Melihat realitas tersebut, bahkan ditambah dengan adanya banyak konflik, kekerasan, dan bahkan kekejaman yang dijalankan atas nama agama, sebagaimana tersebut di atas, seharusnyalah yang menjadi tujuan refleksi atas pendidikan agama adalah mampu melakukan transformasi kehidupan beragama itu sendiri dengan melihat sisi ilahi dan sosial-budayanya. Pendidikan agama harus mampu menanamkan cara hidup yang lebih baik dan santun kepada peserta didik. Sehingga sikap-sikap seperti saling menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman agama dan budaya dapat tercapai di tengah-tengah masyarakat plural.
    4. Perlunya Pendidikan Pluralisme
    Dengan menyadari bahwa masyarakat kita terdiri dari banyak suku dan beberapa agama, jadi sangat pluralis. Maka, pencarian bentuk pendidikan alternatif mutlak diperlukan. Yaitu suatu bentuk pendidikan yang berusaha menjaga kebudayaan suatu masyarakat dan memindahkanya kepada generasi berikutnya, menumbuhkan akan tata nilai, memupuk persahabatan antara siswa yang beraneka ragam suku, ras, dan agama, mengembangkan sikap saling memahami, serta mengerjakan keterbukaan dan dialog. Bentuk pendidikan seperti inilah yang banyak ditawarkan oleh “banyak ahli” dalam rangka mengantisipasi konflik keagamaan dan menuju perdamaian abadi, yang kemudian terkenal dengan sebutan “pendidikan pluralisme”.
    Apakah sebenarnya pendidikan pluralisme itu? Kalau kita melacak referensi tentang pendidikan pluralisme, banyak sekali literatur mengenai pendidikan tersebut atau sering dikenal orang dengan sebutan “pendidikan multikultural”. Namun literatur-literatur tersebut menunjukkan adanya keragaman dalam pengertian istilah. Sleeter (dalam Burnet, 1991: 1) mengartikan pendidikan multikultural sebagai any set of proces by which schools work with rather than against oppressed group. Banks, dalam bukunya Multicultural education: historical development, dimension, and practice (1993) menyatakan bahwa meskipun tidak ada konsensus tentang itu ia berkesimpulan bahwa di antara banyak pengertian tersebut maka yang dominan adalah pengertian pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color.
    Lebih jelasnya, menariklah kalau kita memperhatikan suatu defenisi tentang pendidikan pluralisme yang disampaikan Frans Magnez Suseno (dalam Suara Pembaharuan, 23 September, 2000), yaitu suatu pendidikan yang mengandaikan kita untuk membuka visi pada cakrawala yang semakin luas, mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama kita sehingga kita mampu melihat “kemanusiaan” sebagai sebuah keluarga yang memiliki baik perbedaan maupun kesamaan cita-cita. Inilah pendidikan akan nilai-nilai dasar kemanusiaan untuk perdamaian, kemerdekaan, dan solidaritas.
    Senada dengan itu, Ainurrofiq Dawam menjelaskan defenisi pendidikan multikultural sebagai proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman budaya etnis, suku, dan aliran (agama). Pengertian pendidikan multikultural yang demikian, tentu mempunyai implikasi yang sangat luas dalam pendidikan. Karena pendidikan itu sendiri secara umum dipahami sebagai proses tanpa akhir atau proses sepanjang hayat. Dengan demikian , pendidikan multikultural menghendaki penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya terhadap harkat dan martabat manusia darimana pun dia datangnya dan berbudaya apa pun dia. Harapanya, sekilas adalah terciptanya kedamaian yang sejati, keamanan yang tidak dihantui kecemasan, kesejahteraan yang tidak dihantui manipulasi, dan kebahagiaan yang terlepas dari jaring-jaring manipulasi rekayasa sosial.
    Muhammad Ali (dalam Kompas, 26 April 2002) menyebut pendidikan yang berorientasi pada proses penyadaran yang berwawasan pluralis secara agama sekaligus berwawasan multikultural, seperti itu, dengan sebutan “pendidikan pluralis multikultural”. Menurutnya, pendidikan semacam itu harus dilihat sebagai bagian dari upaya komprehensif mencegah dan menaggulangi konflik etnis agama, radikalisme agama, separatisme, dan integrasi bangsa, sedangkan nilai dasar dari konsep pendidikan ini adalah toleransi.
    Memperhatikan beberapa defenisi tentang pendidikan pluralisme tersebut di atas, secara sederhana dapatlah pendidikan pluralisme didefenisikan sebagai pendidikan untuk/tentang keragaman keagamaan dan kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan. Pendidikan disini, dituntut untuk dapat merespon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok.
    5. Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Kemajemukan
    Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan, karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan. Pemikiran ini mengandung konsekuensi bahwa penyempurnaan atau perbaikan kurikulum pendidikan agama Islam adalah untuk mengantisipasi kebutuhan dan tantangan masa depan dengan diselaraskan terhadap perkembangan kebutuhan dunia usaha atau industri, perkembangan dunia kerja, serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Konsep yang sekarang banyak diwacanakan oleh banyak ahli adalah kurikulum pendidikan berbasis pluralisme.
    Sebagaimana disebut di atas, bahwa konsep pendidikan pluralisme adalah pendidikan yang berorientasi pada realitas persoalan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dan umat manusia secara keseluruhan. Pendidikan pluralisme digagas dengan semangat besar “untuk memberikan sebuah model pendidikan yang mampu menjawab tantangan masyarakat pasca modernisme”.
    Melihat realitas tersebut, maka disinilah letak pentingnya menggagas pendidikan Islam berbasis pluralisme dengan menonjolkan beberapa karakter sebagai berikut; pertama pendidikan Islam harus mempunyai karakter sebagai lembaga pendidikan umum yang bercirikan Islam. Artinya, di samping menonjolkan pendidikannya dengan penguasaan atas ilmu pengetahuan, namun karakter keagamaan juga menjadi bagian integral dan harus dikuasai serta menjadi bagian dari kehidupan siswa sehari-hari. Tentunya, ini masih menjadi pertanyaan, apakah sistem pendidikan seperti ini betul-betul mampu membongkar sakralitas ilmu-ilmu keagamaan dan dikhotomi keilmuan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu keagamaan.
    Kedua ; Pendidikan Islam juga harus mempunyai karakter sebagai pendidikan yang berbasis pada pluralitas. Artinya, bahwa pendidikan yang diberikan kepada siswa tidak menciptakan suatu pemahaman yang tunggal, termasuk di dalamnya juga pemahaman tentang realitas keberagamaan. Kesadaran pluralisme merupakan suatu keniscayaan yang harus disadari oleh setiap peserta didik. Tentunya, kesadaran tersebut tidak lahir begitu saja, namun mengalami proses yang sangat panjang, sebagai realitas pemahaman yang komprehenship dalam melihat suatu fenomena.
    Ketiga; Pendidikan Islam harus mempunyai karakter sebagai lembaga pendidikan yang menghidupkan sistem demokrasi dalam pendidikan. Sistem pendidikan yang memberikan keluasaan pada siswa untuk mengekspresikan pendapatnya secara bertanggung jawab. Sekolah memfasilitasi adanya “mimbar bebas”, dengan meberikan kesempatan kepada semua civitas untuk berbicara atau mengkritik tentang apa saja, asal bertanggung jawab. Tentunya, sistem demokrasi ini akan memberikan pendidikan pada siswa tentang realitas sosial yang mempunyai pandangan dan pendapat yang berbeda. Di sisi yang lain, akan membudayakan “reasoning” bagi civitas di lembaga pendidikan Islam.
    Perlunya membentuk pendidikan Islam berbasis pluralisme tersebut, sekali lagi merupakan suatu inisiasi yang lahir dari realitas sejarah pendidikan khususnya di Indonesia yang dianggap gagal dalam membangun citra kemanusiaan. Dimana umumnya, pendidikan umum hanya mencetak orang-orang yang pinter namun tidak mempunyai integritas keilmuan dan akhlaq ilmuan. Ini yang kemudian melahirkan para koruptor yang justru menjadi penyakit dan menyengsarakan bangsa ini. Di satu sisi, pendidikan agama yang ada hanya menciptakan ahli agama yang cara berpikirnya parsial dan sempit. Akhirnya, semakin banyak orang pinter ilmu agama semakin kuat pertentangan dan konflik dalam kehidupan. Inilah sistem pendidikan yang gagal dalam menciptakan citra kemanusiaan.
    Untuk merealisasikan cita-cita pendidikan yang mencerdaskan seperti tersebut, lembaga pendidikan Islam perlu menerapkan sistem pengajaran yang berorientasi pada penanaman kesadaran pluralisme dalam kehidupan. Adapun beberapa program pendidikan yang sangat strategis dalam menumbuhkan kesadaran pluralisme adalah: pendidikan sekolah harus membekali para mahasiswa atau peserta didik dengan kerangka (frame work) yang memungkinkannya menyusun dan memahami pengetahuan yang diperoleh dari lingkunganya (UNESCO, 1981).
    Karena masyarakat kita majemuk, maka kurikulum PAI yang ideal adalah kurikulum yang dapat menunjang proses siswa menjadi manusia yang demokratis, pluralis dan menekankan penghayatan hidup serta refleksi untuk menjadi manusia yang utuh, yaitu generasi muda yang tidak hanya pandai tetapi juga bermoral dan etis, dapat hidup dalam suasana demokratis satu dengan lain, dan menghormati hak orang lain.
    Selain itu, perlu kiranya memperhatikan kurikulum sebagai proses. Ada empat hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengembangkan kurikulum sebagai proses ini, yaitu;
    1) Posisi siswa sebagai subjek dalam belajar
    2) Cara belajar siswa yang ditentukan oleh latar belakang budayanya,
    3) Lingkungan budaya mayoritas masyarakat dan pribadi siswa adalah entry behaviour kultur siswa,
    4) Lingkungan budaya siswa adalah sumber belajar (hamid, op cit: 522). Dalam konteks deskriptif ini, kurikulum pendidikan mestilah mencakup subjek seperti: toleransi, tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama: bahaya diskriminasi: penyelesaian konflik dan mediasi: ham; demokrasi dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan
    Bentuk kurikulum dalam pendidikan agama Islam hendaknya tidak lagi ditujukan pada siswa secara individu menurut agama yang dianutnya, melainkan secara kolektif dan berdasarkan kepentingan bersama. Bila selama ini setiap siswa memperoleh pelajaran agama sesuai dengan agamanya, maka diusulkan agar lebih baik bila setiap siswa SLTP-PT memperoleh materi agama yang sama, yaitu berisi tentang sejarah pertumbuhan semua agama yang berkembang di Indonesia. Sedangkan untuk SD diganti dengan pendidikan budi pekerti yang lebih menanamkan nilai-nilai moral kemanusiaan dan kebaikan secara universal. Dengan materi seperti itu, di samping siswa dapat menentukan agamanya sendiri (bukan berdasarkan keturunan), juga dapat belajar memahami pluralitas berdasarkan kritisnya, mengajarkan keterbukaan, toleran, dan tidak eklusif, tapi inklusif (Darmaningtyas, 1999: 165).
    Amin Abdullah (2001: 13-16) menyarankan “perlunya rekontruksi pendidikan sosial-keagamaan untuk memperteguh dimensi kontrak sosial-keagamaan dalam pendidikan agama”. Dalam hal ini, kalau selama ini praktek di lapangan, pendidikan agama Islam masih menekankan sisi keselamatan yang dimiliki dan didambakan oleh orang lain di luar diri dan kelompoknya sendiri jadi materi pendidikan agama lebih berfokus dan sibuk mengurusi urusan untuk kalangan sendiri (individual atau private affairs). Maka, pendidikan agama Islam perlu direkontruksi kembali, agar lebih menekankan proses edukasi sosial, tidak semata-mata individual dan untuk memperkenalkan konsep social-contract. Sehingga pada diri peserta didik tertanam suatu keyakinan, bahwa kita semua sejak semula memang berbeda-beda dalam banyak hal, lebih-lebih dalam bidang akidah, iman, credo, tetapi demi untuk menjaga keharmonisan, keselamatan, dan kepentingan kehidupan bersama, mau tidak mau, kita harus rela untuk menjalin kerjasama (cooperation) dalam bentuk kontrak sosial antar sesama kelompok warga masyarakat.
    Pendek kata, agar maksud dan tujuan pendidikan agama Islam berbasis pluralisme dapat tercapai, kurikulumnya harus didesain sedemikian rupa dan favourable untuk semua tingkatan dan jenjang pendidikan. Namun demikain, pada level sekolah dasar dan menengah adalah paling penting, sebab pada tingkatan ini, sikap dan perilaku peserta didik masih siap dibentuk. Dan perlu diketahui, suatu kurikulum tidak dapat diimplementasikan tanpa adanya keterlibatan, pembuatan dan kerjasama secara langsung antara para pembuat kurikulum, penulis text book dan guru.
    Langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh pembuat kurikulum, penulis text book dan guru untuk mengembangkan kurikulum PAI berbasis pluralisme di Indonesia, adalah sebagai berikut; Pertama, mengubah filosofi kurikulum dari yang berlaku seragam seperti saat ini kepada filosofi yang lebih sesuai dengan tujuan, misi, dan fungsi setiap jenjang pendidikan dan unit pendidikan. Untuk tingkat dasar, filosofi konservatif seperti esensialisme dan perenialisme haruslah dapat diubah ke filosofi yang lebih menekankan pendidikan sebagai upaya mengembangkan kemampuan kemanusiaan peserta didik baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat bangsa, dan dunia. Filosofi kurikulum yang progresif seperti humanisme, progresifme, dan rekontruksi sosial dapat dijadikan landasan pengembangan kurikulum.
    Kedua, teori kurikulum tentang konten (curriculum content) haruslah berubah dari teori yang mengartikan konten sebagai aspek substantif yang berisikan fakta, teori, generalisasi kepada pengertian yang mencakup pula nilai, moral, prosedur, dan ketrampilan yang harus dimiliki generasi muda.
    Ketiga, teori belajar yang digunakan dalam kurikulum masa depan yang memperhatikan keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan politik tidak boleh lagi hanya mendasarkan diri pada teori psikologi belajar yang bersifat individualistik dan menempatkan siswa dalam suatu kondisi value free, tetapi harus pula didasarkan pada teori belajar yang menempatkan siswa sebagai makhluk sosial, budaya, politik, dan hidup sebagai anggota aktif masyarakat, bangsa, dan dunia.
    Keempat, proses belajar yang dikembangkan untuk siswa haruslah pula berdasarkan proses yang memiliki tingkat isomorphism yang tinggi dengan kenyataan sosial. Artinya, proses belajar yang mengandalkan siswa belajar individualistis harus ditinggalkan dan diganti dengan cara belajar berkelompok dan bersaing secara kelompok dalam suatu situasi positif. Dengan cara demikian maka perbedaan antar-individu dapat dikembangkan sebagai suatu kekuatan kelompok dan siswa terbiasa hidup dengan berbagai keragaman budaya, sosial, intelektualitas, ekonomi, dan aspirasi politik.
    Kelima, evaluasi yang digunakan haruslah meliputi keseluruhan aspek kemampuan dan kepribadian peserta didik, sesuai dengan tujuan dan konten yang dikembangkan. Alat evaluasi yang digunakan haruslah beragam sesuai dengan sifat tujuan dan informasi yang ingin dikumpulkan. Penggunaan alternatif assesment (portfolio, catatan, observasi, wawancara) dapat digunakan.
    Di samping perlunya memperhatikan langkah-langkah itu, untuk menuju sebuah PAI yang menghargai pluralisme, sebenarnya selain aspek kurikulum yang harus didesain, sebagaimana telah penulis uraikan, aspek pendekatan dan pengajaran. Pola-pola lama dalam pendekatan atau pengajaran agama harus segera dirubah dengan model baru yang lebih mengalir dan komunikatif. Aspek perbedaan harus menjadi titik tekan dari setiap pendidik. Pendidik harus sadar betul bahwa masing-masing peserta didik merupakan “manusia yang unik” (human uniqe), karena itu tidak boleh ada penyeragaman-peyeragaman. Dalam prespektif ini, pendidikan agama Islam yang memberikan materi kajian perbandingan agama dan nilai-nilai prinsip Islam seperti; toleransi, keadilan, kebebasan dan demokrasi untuk memperoleh suatu pemahaman di antara orang-orang yang berbeda iman itu adalah sebuah keniscayaan.
    6. Menampilkan Islam Toleran Melalui Kurikulum
    Mengembangkan sikap pluralisme pada peserta didik di era sekarang ini, adalah mutlak segera “dilakukan” oleh seluruh pendidikan agama di Indonesia demi kedamaian sejati. Pendidikan agama Islam perlu segera menampilkan ajaran-ajaran Islam yang toleran melalui kurikulum pendidikanya dengan tujuan dan menitikberatkan pada pemahaman dan upaya untuk bisa hidup dalam konteks perbedaan agama dan budaya, baik secara individual maupun secara kolompok dan tidak terjebak pada primordialisme dan eklusifisme kelompok agama dan budaya yang sempit. Sehingga sikap-sikap pluralisme itu akan dapat ditumbuhkembangkan dalam diri generasi muda kita melalui dimensi-dimensi pendidikan agama dengan memperhatikan hal-hal seperti berikut:
    a. Pendidikan agama seperti fiqih, tafsir tidak harus bersifat linier, namun menggunakan pendekatan muqaron. Ini menjadi sangat penting, karena anak tidak hanya dibekali pengetahuan atau pemahaman tentang ketentuan hukum dalam fiqih atau makna ayat yang tunggal, namun juga diberikan pandangan yang berbeda. Tentunya, bukan sekedar mengetahui yang berbeda, namun juga diberikan pengetahuan tentang mengapa bisa berbeda.
    b. Untuk mengembangkan kecerdasan sosial, siswa juga harus diberikan pendidikan lintas agama. Hal ini dapat dilakukan dengan program dialog antar agama yang perlu diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Islam . Sebagai contoh, dialog tentang “puasa” yang bisa menghadirkan para bikhsu atau agamawan dari agama lain. Program ini menjadi sangat strategis, khususnya untuk memberikan pemahaman kepada siswa bahwa ternyata puasa itu juga menjadi ajaran saudara-saudara kita yang beragama Budha. Dengan dialog seperti ini, peserta didik diharapkan akan mempunyai pemahaman khususnya dalam menilai keyakinan saudara-saudara kita yang berbeda agama. karena memang pada kenyataanya “Di Luar Islampun Ada Keselamatan”.
    c. Untuk memahami realitas perbedaan dalam beragama, lembaga-lembaga pendidikan Islam bukan hanya sekedar menyelenggarakan dialog antar agama, namun juga menyelenggarakan program road show lintas agama. Program road show lintas agama ini adalah program nyata untuk menanamkan kepedulian dan solidaritas terhadap komunitas agama lain. Hal ini dengan cara mengirimkan siswa-siswa untuk ikut kerja bhakti membersihkan gereja, wihara ataupun tempat suci lainnya. Kesadaran pluralitas bukan sekedar hanya memahami keberbedaan, namun juga harus ditunjukkan dengan sikap konkrit bahwa diantara kita sekalipun berbeda keyakinan, namun saudara dan saling membantu antar sesama.
    d. Untuk menanamkan kesadaran spiritual, pendidikan Islam perlu menyelenggarakan program seperti spiritual work camp (SWC), hal ini bisa dilakukan dengan cara mengirimkan siswa untuk ikut dalam sebuah keluarga selama beberapa hari, termasuk kemungkinan ikut pada keluarga yang berbeda agama. Siswa harus melebur dalam keluarga tersebut. Ia juga harus melakukan aktifitas sebagaimana aktifitas keseharian dari keluarga tersebut. Jika keluarga tersebut petani, maka ia harus pula membantu keluarga tersebut bertani dan sebagainya. Ini adalah suatu program yang sangat strategis untuk meningkatkan kepekaan serta solidaritas sosial. Pelajaran penting lainnya, adalah siswa dapat belajar bagaimana memahami kehidupan yang beragam. Dengan demikian, siswa akan mempunyai kesadaran dan kepekaan untuk menghargai dan menghormati orang lain.
    e. Pada bulan Ramadhan, adalah bulan yang sangat strategis untuk menumbuhkan kepekaaan sosial pada anak didik. Dengan menyelenggarakan “program sahur on the road”, misalnya. Karena dengan program ini, dapat dirancang sahur bersama antara siswa dengan anak-anak jalanan. Program ini juga memberikan manfaat langsung kepada siswa untuk menumbuhkan sikap kepekaan sosial, terutama pada orang-orang di sekitarnya yang kurang mampu.
    Selain beberapa hal di atas, perlu kiranya mengajarkan materi Aqidah Inklusif.
    Sebagaimana telah banyak diketahui umat Islam, aqidah berasal dari bahasa Arab yang berarti “kepercayaan”, maksudnya ialah hal-hal yang diyakini oleh orang-orang beragama. Dalam Islam, aqidah selalu berhubungan dengan iman. Aqidah adalah ajaran sentral dalam Islam dan menjadi inti risalah Islam melalui Muhammad. Tegaknya aktivitas keislaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa orang itu memiliki akidah. Masalahnya karena iman itu bersegi teoritis dan ideal yang hanya dapat diketahui dengan bukti lahiriah dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, terkadang menimbulkan “problem” tersendiri ketika harus berhadapan dengan “keimanan” dari orang yang beragama lain. Apalagi persoalan iman ini, juga merupakan inti bagi semua agama, jadi bukan hanya milik Islam saja. Maka, tak heran jika kemudian muncul persoalan truth claim dan salvation claim diantara agama-agama, yang sering berakhir dengan konflik antar agama.
    Untuk mengatasi persoalan seperti itu, pendidikan agama Islam melalui ajaran aqidahnya, perlu menekankan pentingnya “persaudaraan” umat beragama. Pelajaran aqidah, bukan sekedar menuntut pada setiap peserta didik untuk menghapal sejumlah materi yang berkaitan denganya, seperti iman kepada Allah swt, nabi Muhamad saw, dll. Tetapi sekaligus, menekankan arti pentingya penghayatan keimanan tadi dalam kehidupan sehari-hari. Intinya, aqidah harus berbuntut dengan amal perbuatan yang baik atau akhlak al-Karimah pada peserta didik. Memiliki akhlak yang baik pada Tuhan, alam dan sesama umat manusia.
    Pendidikan Islam harus sadar, bahwa kerusuhan-kerusuhan bernuasan SARA seperti yang sering terjadi di Indonesia ini adalah akibat ekspresi keberagamaan yang salah dalam masyarakat kita, seperti ekspresi keberagamaan yang masih bersifat ekslusif dan monolitik serta fanatisme untuk memonopoli kebenaran secara keliru. Celakanya, ekspresi keagamaan seperti itu merupakan hasil dari “pendidikan agama”. Pendidikan agama dipandang masih banyak memproduk manusia yang memandang golongan lain (tidak seakidah) sebagai musuh. Maka di sinilah perlunya menampilkan pendidikan agama yang fokusnya adalah bukan semata kemampuan ritual dan keyakinan tauhid, melainkan juga akhlak sosial dan kemanusiaan.
    Pendidikan agama, merupakan sarana yang sangat efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai atau aqidah inklusif pada peserta didik. Perbedaan agama di antara peserta didik bukanlah menjadi penghalang untuk bisa bergaul dan bersosialisasi diri. Justru pendidikan agama dengan peserta didik berbeda agama, dapat dijadikan sarana untuk menggali dan menemukan nilai-nilai keagamaan pada agamanya masing-masing sekaligus dapat mengenal tradisi agama orang lain.
    Target kurikulum Agama Islam harus berorientasi pada akhlak. Bahkan dalam pengajaran akidahnya, kalau perlu semua peserta didik disuruh merasakan jadi orang yang beragama lain atau atheis sekalipun. Tujuanya adalah bukan untuk “konfersi”, melainkan dalam rangka agar mereka mempertahankan iman. Sebab, akidah itu harus dipahami sendiri, bukan dengan cara taklid, taklid tidak dibenarkan dalam persoalan akidah. Selain itu, pada masalah-masalah syari’ah. Dalam persoalan syariah, sering umat Islam juga berbeda pendapat dan bertengkar. Maka dalam hal ini pendidikan Islam perlu . memberikan pelajaran “fiqih muqarran”untuk memberikan penjelasan adanya perbedaan pendapat dalam Islam dan semua pendapat itu sama-sama memiliki argumen, dan wajib bagi kita untuk menghormati. Sekolah tidak menentukan salah satu mazhab yang harus diikuti oleh peseta didik, pilihan mazhab terserah kepada mereka masing-masing.
    Melalui suasana pendidikan seperti itu, tentu saja akan terbangun suasana saling menenami dalam kehidupan beragama secara dewasa, tidak ada perbedaan yang berarti diantara “perbedaan”manusia yang pada realitasnya memang berbeda. Tidak dikenal superior ataupun inferior, serta memungkinkan terbentuknya suasana dialog yang memungkinkan untuk membuka wawasan spritualitas baru tentang keagamaan dan keimanan masing-masing.
    Pendidikan Islam harus memandang “iman”, yang dimiliki oleh setiap pemeluk agama, bersifat dialogis artinya iman itu bisa didialogkan antara Tuhan dan manusia dan antara sesama manusia. Iman merupakan pengalaman kemanusiaan ketika berintim dengan-Nya (dengan begitu, bahwa yang menghayati dan menyakini iman itu adalah manusia, dan bukanya Tuhan), dan pada tingkat tertentu iman itu bisa didialogkan oleh manusia, antar sesama manusia dan dengan menggunakan bahasa manusia.
    Tujuan untuk menumbuhkan saling menghormati kepada semua manusia yang memiliki iman berbeda atau mazhab berbeda dalam beragama, salah satunya bisa diajarkan lewat pendidikan akidah yang inklusif. Dalam pembelajaranya, tentu saja memberikan perbandingan dengan akidah yang dimiliki oleh agama lain (perbandingan agama). Meminjam bahasanya Alex Roger (1982: 61-62), pendidikan akidah seperti itu mensyaratkan adanya fairly and sensitively dan bersikap terbuka (open minded). Tentu saja, pengajaran agama seperti itu, sekaligus menuntut untuk bersikap “objektif” sekaligus “subjektif”. Objektif, maksudnya sadar bahwa membicarakan banyak iman secara fair itu tanpa harus meminta pertanyaan mengenai benar atau validnya suatu agama. Subjektif berarti sadar bahwa pengajaran seperti itu sifatnya hanyalah untuk mengantarkan setiap peserta didik memahami dan merasakan sejauh mana keimana tentang suatu agama itu dapat dirasakan oleh orang yang mempercayainya.
    Melalui pengajaran akidah inklusif seperti itu, tentu saja bukan untuk membuat suatu kesamaan pandangan, apalagi keseragaman, karena hal itu adalah sesuatu yang absurd dan agak mengkhianati tradisi suatu agama. yang dicari adalah mendapatkan titik-titik pertemuan yang dimungkinkan secara teologis oleh masing-masing agama. setiap agama mempunyai sisi ideal secara filosofis dan teologis, dan inilah yang dibanggakan penganut suatu agama, serta yang akan menjadikan mereka tetap bertahan, jika mereka mencari dasar rasional atas keimanan mereka. Akan tetapi, agama juga mempunyai sisi real, yaitu suatu agama menyejarah dengan keagungan atau kesalahan-kesalahan yang biasa dinilai dari sudut pandang sebagai sesuatu yang memalukan. Oleh karena itu, suatu dialog dalam perbandingan agama harus selalu mengandalkan kerendahan hati untuk membandingkan konsep-konsep ideal yang dimiliki agama lain yang hendak dibandingkan, dan realitas agama—baik yang agung atau yang memalukan dengan realitas agama lain yang agung atau memalukan itu dengan demikian, akan dapat terhindar dari suatu penilai stndar ganda dalam melihat agama lain.

    D. Kesimpulan
    Kalau tujuan akhir pendidikan adalah perubahan perilaku dan sikap serta kualitas seseorang, maka pengajaran harus berlangsung sedemikian rupa sehingga tidak sekedar memberi informasi atau pengetahuan melainkan harus menyentuh hati, sehingga akan mendorongnya dapat mengambil keputusan untuk berubah. Pendidikan agama Islam, dengan demikian, di samping bertujuan untuk memperteguh keyakinan pada agamanya, juga harus diorientasikan untuk menanamkan empati, simpati dan solidaritas terhadap sesama. Maka, dalam hal ini, semua materi buku-buku yang diajarkannya tentunya harus menyentuh tentang isu pluralitas. Dari sinilah kemudian kita akan mengerti urgensinya untuk menyusun bentuk kurikulum pendidikan agama berbasis pluralisme agama.

    DAFTAR PUSTAKA
     Afifi, al-Hadi, Muhammad, (1964), al-Tarbiyah wa al-Taghoyyur al-Tsaqafi, Kairo: Maktabah Angelo al-Mishriyyah.
     Allen, Dougles, 1978, Structure and Creativity in Religion. The Houge

  • idrus86_tarbiyah

    Bab I
    ISLAM DAN PENDIDIKAN PLURALISME
    (Menampilkan Wajah Islam Toleran Melalui Kurikulum PAI
    Berbasis Kemajemukan)

    A. Abstrak
    Banyak para ‘ahli dan pemuka agama’ telah berusaha dengan segala cara demi terciptanya hubungan yang mesra dan harmonis diantara umat beragama, di negeri Indonesia yang terkenal sangat pluralistik ini. Melalui tulisan-tulisan baik buku, majalah, jurnal bahkan melalui seminar dan mimbar-mimbar ‘khutbah’ mereka senantiasa menyarankan akan arti pentingnya kerjasama dan dialog antar umat beragama. Meskipun nampaknya, saran-saran mereka belum memiliki ‘efek’ yang begitu menggembirakan.
    Seringnya konflik dan pertikaian yang menggunakan ‘baju agama’, merebaknya aksi-aksi teroris, pembakaran dan pengrusakan sarana dan tempat-tempat ibadah di negara kita, masih saling curiga mencurigai antara umat Islam dan Kristen serta kepada agama-agama lainya, cukup membuktikan kegagalan para penganjur ‘perdamaian’ tersebut. Meskipun begitu, ‘doktrin’ perdamaian dan persahabatan ini harus senantiasa kita teruskan, kemudian kita coba kembangkan dan dakwahkan, melalui strategi-strategi baru yang lebih efektif dan relevan, kepada saudara-saudara kita, teman-teman dan peserta didik kita kapan pun dan dimana pun kita berada.
    Untuk memperoleh keberhasilan bagi terealisasinya tujuan mulia yaitu perdamaian dan persaudaraan abadi di antara orang-orang yang pada realitasnya memang memiliki agama dan iman berbeda, perlulah kiranya adanya keberanian mengajak mereka melakukan perubahan-perubahan di bidang pendidikan—terutama sekali melalui kurikulumnya yang berbasis keanekaragaman. Sebab, melalui kurikulum seperti ini, memungkinkan untuk bisa ‘membongkar’ teologi agama masing-masing yang selama ini cenderung ditampilkan secara eklusif dan dogmatis. Sebuah teologi yang biasanya hanya mengeklaim bahwa hanya agamanya yang bisa membangun kesejahteraan duniawi dan mengantar manusia dalam surga Tuhan. Pintu dan kamar surga itu pun hanya satu yang tidak bisa dibuka dan dimasuki kecuali dengan agama yang dipeluknya.
    Padahal berteologi semacam itu, harus kita akui, sebagai sesuatu yang sangat menghawatirkan dan dapat mengganggu keharmonisan masyarakat agama-agama dalam era pluralistik sekarang. Suatu era dimana seluruh masyarakat dengan segala unsurnya dituntut untuk dapat saling tergantung dan menaggung nasib secara bersama-sama demi terciptanya perdamaian abadi. Disinilah letak ‘tantangan’ bagi agama (termasuk Islam) untuk kembali mendefenisikan dirinya ditengah agama-agama lain. Atau dengan meminjam bahasanya John Lyden, seorang ahli agama-agama, adalah “what should one think about religions other than one’s own? Apa yang harus dipikirkan oleh seorang muslim terhadap non-Muslim. Apakah masih sebagai seorang musuh atau sebagai seorang sahabat. Tentu saja masih adanya anggapan satu agama dengan yang lain sebagai musuh, harus dibuang jauh-jauh. Bukankah pada hakikatnya kita semua adalah sebagai seorang ‘saudara’ dan ‘sahabat’ dalam menghampiri yang mutlak? Bahkan, Islam melalui Al-Qur’an dan Hadistnya juga mengajarkan sikap-sikap toleran seperti ini bukan?
    Untuk bisa memperoleh pemahaman yang sejuk dan bisa menganggap orang lain sebagai ‘partner’ dalam menuju Tuhan, antara Islam dan non-Muslim di samping harus menampilkan teologi yang inklusif dan ramah, mereka juga harus memasuki dialog antaragama dengan mencoba memahami cara baru yang mendalam mengenai bagaimana Tuhan mempunyai jalan ‘penyelamatan’. Dalam konteks ini, tentu saja pengajaran agama Islam yang diajarkan di sekolah-sekolah harus memuat kurikulum berbasis keanekaragaman. Pendidikan agama Islam yang diberikan kepada siswa tidak menciptakan suatu pemahaman yang tunggal, melainkan kurikulum pendidikan yang dapat menunjang proses siswa menjadi manusia yang demokratis, pluralis dan menekankan penghayatan hidup serta refleksi untuk menjadi manusia yang utuh. Kurikulumnya mestilah mencakup subjek seperti: toleransi, Aqidah Inklusif, Fiqih Muqarran dan perbandingan agama serta tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama: bahaya diskriminasi: penyelesaian konflik dan mediasi: HAM; demokrasi dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan. Inilah sebuah kurikulum, yang mampu menghantarkan peserta didik untuk melakukan dialog antaragama dan mampu memasuki persoalan-persoalan teologis dan melibatkan iman. Karena dialog yang sejati mustahil dilakukan tanpa memasuki persoalan-persoalan teologis dan melibatkan iman. Sehingga pada akhirnya setiap umat Islam akan mampu melakukan apa yang disebut John S. Dunne dengan “melintas” (“passing over”), melintas dari satu budaya kepada budaya lain, dari satu cara hidup kepada cara hidup lain, dari satu agama kepada agama lain. Ini diikuti oleh proses yang sama dan berlawanan yang kita sebut “kembali” (“coming back”), kembali dengan wawasan baru kepada budaya sendiri, cara hidup sendiri, agama sendiri.
    Perlunya memperbaharui dan mengembangkan kurikulum PAI yang berbasis keanekaragaman tersebut dengan suatu pertimbangan kurikulum dan metode merupakan elemen penting dalam proses belajar mengajar. Berhasil dan tidaknya suatu tujuan pendidikan tergantung kurikulum yang dipersiapkan dan metode yang digunakannya. Tidak relevannya kurikulum dan metode yang dikembangkan di suatu sekolah dengan realitas kehidupan yang dialami oleh siswa, menyebabkan siswa teraliniasi dari lingkungannya alias tidak bisa peka terhadap perkembangan yang terjadi disekitarnya. Hal ini berarti, dalam konteks globalisasi, sekolah tersebut telah “gagal” untuk mengantarkan peserta didiknya untuk menjadi “anak” yang cerdas, tanggap dan dapat bersaing dipasaran bebas.
    Selain itu, pentingnya mereformasi kurikulum PAI dengan menampilkan wajah Islam toleran dapat dijelaskan dari sudut pandang filsafat perenialisme, esensialisme dan progresifisme. Dalam pandangan perenialisme kurikulum adalah “construct” yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan. Sementara dalam prespektif filsafat progresivisme, posisi kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa depan dimana kehidupan masa lalu, masa sekarang, dan berbagai rencana pengembangan dan pembangunan bangsa dijadikan dasar untuk mengembangkan kehidupan masa depan. Dari sinilah sangat memungkinkan untuk mengajarkan prinsip –prinsip ajaran Islam yang humanis, demokratis dan berkeadilan kepada peserta didik. Sebuah prinsip-prinsip ajaran Islam yang sangat relevan untuk memasuki masa depan dunia yang ditandai dengan adanya keanekaragaman budaya dan agama.

    Bab II
    ISLAM DAN PENDIDIKAN PLURALISME
    Kata Kunci: Islam, Pendidikan, Kurikulum, Pluralisme

    B. Latar Belakang
    Entah kenapa ketika mendengar kata “pluralisme”, sebagian dari kebanyakan umat Islam harus menutup kuping mereka rapat-rapat. Seolah-olah pluralisme ini telah dianggap oleh mereka, sebagai “hantu” yang perlu ditakuti dan dijauhi. Orang yang mencoba menjelaskan dan mewacanakannya pun juga terkena imbasnya, tak sedikit dari mereka yang telah di hujat, dicaci maki dan dikucilkan tidak hanya dianggap sebagai antek-antek Barat, tetapi juga telah “diklaim” sebagai calon penghuni neraka. Masyaallah..!
    Saya memahami, kenapa mereka sampai berbuat demikian. Karena kebanyakan dari mereka saya yakin belum mengetahui secara komprehensif substansi pluralisme itu sendiri. Disamping itu, mereka juga sudah terburu-buru untuk bersikap antipati dan penuh kecurigaan, kalau pluralisme ini adalah produk Barat, yang pasti sesat dan menyesatkan. Memang sih, tidak bisa dipungkiri dalam realitas kesejarahanya pluralisme ini adalah berasal dari Barat. Tetapi kalau kemudian paham ini, mampu memberikan kontribusi positif bagi terciptanya persahabatan dan perdamaian bagi masyarakat agama, kenapa harus ditampik, inilah pertanyaanya.
    Bukankah kalau mau jujur, selama ini kita juga telah ikut merasakan dan menikmati produk-produk barat akibat keunggulan IPTEK yang dimilikinya? Janganlah menutup mata, kalau kita selama ini bisa berkomunikasi jarak jauh dengan HP, faximile dan internet serta bisa bepergian keseluruh dunia (termasuk menunaikan ibadah haji ke mekkah) dengan naik pesawat, mobil dan kapal adalah berkat Barat.
    Dengan begitu, dapatlah dikatakan bahwa sesuatu yang datang dari Barat ternyata tidak selamanya jelek dan bertentangan dengan Islam. Semuanya sebenarnya tergantung bagaimana cara kita menyikapi dan mempergunakanya. Sebagai contoh, kalau kita tidak dapat secara arif dan bijaksana mempergunakan sains dan teknologi, maka hal ini pastilah akan berimplikasi negatif bagi kehidupan manusia, yaitu menyebabkan terjadinya krisis dalam berbagai bidang kehidupan. Bukankah contoh seperti ini juga berlaku bagi paham pluralisme?
    Namun haruslah diakui, bahwa Barat tentu saja bukanlah “segala-galanya”. Sehingga semua pikiran, perilaku, budaya serta norma-norma kita harus berkiblat dengan Barat. Kalau tidak mengikuti trend Barat, dikataka “ndeso” dan kampungan alias ketinggalan zaman. Karena memang pada kenyataanya, terdapat dari tradisi dan kebudayaan yang berasal dari Barat yang tidak sesuai dengan kultur Islam seperti; dari cara berpakaian yang banyak mengundang syahwat, makanan dan minuman beralkohol, free sex. Alangkah baiknya kalau kita memang seselektif mungkin untuk mencoba memilih dan memilah budaya Barat tersebut. Yang baik kita tiru, dan yang tidak sesuai dengan Islam kita bung jauh-jauh.
    Lebih baik memang, dan ini sudah saatnya, kalau kita sesegera mungkin melakukan upaya-upaya menuju dialog antara Islam dan barat. Sehingga melalui proses dialog ini, akan memungkinkan terciptanya suasana saling belajar satu sama lain. Dialog juga akan memungkinkan diantara keduanya untuk saling sharing pemahaman tentang budaya masing-masing yang dimilikinya serta memberikan suatu kritik yang kontrukstif demi terciptanya saling memahami dan menghormati. Kalau hal seperti ini dapat dilakukan, saya yakin cita-cita menciptakan perdamaian global akan tercapai. Tetapi kalau belum-belum sudah saling mengkafirkan satu sama lain, lantas apa yang bakal terjadi? Pastilah kekacauan dan peperangan seperti yang terjadi selama ini, akan selalu terulang kembali. Termasuk salah satu yang perlu didialogkan antara barat dan Islam adalah gagasan perlunya konsep pluralisme, sebuah konsep yang berasal dari Barat yang bertujuan untuk menciptakan harmonisasi di antara agama-agama di dunia.
    Apakah sebenarnya pluralisme itu? kalau melacak dari beberapa sumber, dapatlah didefenisikan bahwa pluralisme adalah sebuah paham tentang pluralitas. Paham, bagaimana melihat keragaman dalam agama-agama, mengapa dan bagaimana memandang agama-agama, yang begitu banyak dan beragam. Apakah hanya ada satu agama yang benar atau semua agama benar.
    Paham pluralisme dengan begitu, sangat menghendaki terjadinya dialog antaragama, dan dengan dialog agama memungkinkan antara satu agama terhadap agama lain untuk mencoba memahami cara baru yang mendalam mengenai bagaimana Tuhan mempunyai jalan penyelamatan. Pengalaman ini, saya kira sangat penting untuk memperkaya pengalaman antar iman, sebagai pintu masuk ke dalam dialog teologis. Inilah sebuah teologi yang menurut Wilfred C. Smith (1981: 187) disebut dengan istilah world theology (teologi dunia) dan oleh John Hick (1980: 8) disebutnya global theology (teologi global). Kemudian teologi tersebut belakangan ini terkenal dengan sebutan teologi pluralisme.
    Pengakuan terhadap pluralisme agama dalam suatu komunitas umat beragama menjanjikan dikedepankanya prinsip inklusifitas yang bermuara pada tumbuhnya kepekaan terhadap berbagai kemungkinan unik yang bisa memperkaya usaha manusia dalam mencari kesejahteraan spritual dan moral. Gagasan bahwa manusia adalah satu umat, seperti ini menurut Sachedina “merupakan dasar pluralisme teologis yang menuntut adanya kesetaraan hak yang diberikan Tuhan bagi semua. Manusia tetap merupakan “satu bangsa” berdasarkan kemanusiaan yang sama-sama mereka miliki. Karena itulah diperlukan suatu “etika global” yang bisa memberikan dasar pluralistik untuk memperantarai hubungan antar agama di antara orang-orang yang memiliki komitmen spritual berbeda”.
    Pengertian dan tujuan pluralisme seperti itu, sebenarnya telah lama menimbulkan perdebatan di kalangan umat beragama. Sampai akhirnya, pembicaraan mengenai pluralisme sempat “menghangat” kembali ketika MUI melalui fatwanya baru-baru ini, menyatakan bahwa pluralisme adalah paham yang sesat dan sangat membahayakan, karena dianggap sebagai paham yang menyebarkan “ semua agama adalah benar”.
    Fatwa MUI yang melarang pluralisme seperti itu, kemudian menunai banyak protes dari masyarakat luas. Karena dianggap fatwa MUI seperti itu akan sangat membahayakan bagi integritas bangsa Indonesia yang pluralistik. Bahkan, salah satu dari ketua MUI ketika menanggapi protes dari berbagai kalangan, ada yang dengan tegas menyatakan bahwa mereka yang protes itu berdasarkan akal, sedangkan ulama (MUI) berdasarkan Alquran dan Sunnah Rasul.
    Padahal kalau kita mau memahami dan mempelajari pengertian dari pluralisme yang dimaksud, pastilah kita akan secara arif dapat menerimanya. Bukankah pluralisme pada dasarnya justru sangat compatible dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Apalagi kalau mau membaca sejarah, pasti kita dapat menyimpulkan bahwa meskipun Islam merupakan agama termuda dalam tradisi Ibrahimi. Pemahaman diri Islam sejak kelahiranya pada abad ke-7 justru sudah melibatkan unsur kritis pluralisme, yaitu hubungan Islam dengan agama lain. Dan agama Ibrahimi termuda ini sebenarnya bisa mengungkap diri dalam suatu dunia agama pluralistis. Islam mengakui dan menilainya secara kritis, tapi tidak pernah menolaknya atau menganggapnya salah.
    Bahkan menurut Alquran sendiri, pluralitas adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau Sunnah Allah, dan bahwa hanya Allah yang tahu dan dapat menjelaskan, di hari akhir nanti, mengapa manusia berbeda satu dari yang lain, dan mengapa jalan manusia berbeda-beda dalam beragama. Dalam al-Qura’an disebutkan, yang artinya: “Untuk masing-masing dari kamu (umat manusia) telah kami tetapkan Hukum (Syari’ah) dan jalan hidup (minhaj). Jika Tuhan menghendaki, maka tentulah ia jadikan kamu sekalian umat yang tunggal (monolitk). Namun Ia jadikan kamu sekalian berkenaan dengan hal-hal yang telah dikarunia-Nya kepada kamu. Maka berlombalah kamu sekalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah-lah tempat kalian semua kembali; maka Ia akan menjelaskan kepadamu sekalian tentang perkara yang pernah kamu perselisihkan” (QS 5: 48).
    Dalam kaitannya yang langsung dengan prinsip inilah Allah, di dalam Alquran, menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika ia menunjukkan keinginan dan kesediaan yang menggebu untuk memaksa manusia menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “Jika Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri? (QS 10: 99).
    Demikianlah beberapa prinsip dasar Alquran yang berkaitan dengan masalah pluralisme dan toleransi. Paling tidak, dalan dataran konseptual, Alquran telah memberi resep atau arahan-arahan yang sangat diperlukan bagi manusia Muslim untuk memecahkan masalah kemanusiaan universal, yaitu realitas pluralitas keberagamaan manusia dan menuntut supaya bersikap toleransi terhadap kenyataan tersebut demi tercapainya perdamaian di muka bumi. Karena Islam menilai bahwa syarat untuk membuat keharmonisan adalah pengakuan terhadap komponen-komponen yang secara alamiah berbeda.
    Melihat peran pentingnya sikap pluralisme untuk bisa mengakui dan menghormati “perbedaan” dan sikap seperti ini ternyata memiliki landasan teologis dari Al-Qur’an maka, teologi pluralisme seperti ini sangat penting untuk ditekankan pada peserta didik melalui pendidikan agama, sebab persoalan teologi sampai sekarang masih menimbulkan kebingungan di antara agama-agama. Soal teologi yang menimbulkan kebingungan adalah standar: bahwa agama kita adalah agama yang paling sejati berasal dari Tuhan, sedangkan agama lain adalah hanya kontruksi manusia. Dalam sejarah, standar ganda ini biasanya dipakai untuk menghakimi agama lain dalam derajad keabsahan teologis di bawah agama kita sendiri. Lewat standar ganda inilah kita menyaksikan bermunculnya perang klaim-klaim kebenaran dan janji penyelamatan, yang kadang-kadang kita melihatnya berlebihan, dari satu agama atas agama lain.
    Selain itu, era sekarang adalah era multikulturalisme dan pluralisme, yang dimana seluruh masyarakat dengan segala unsurnya dituntut untuk saling tergantung dan menanggung nasib secara bersama-sama demi terciptanya perdamaian abadi. Salah satu bagian penting dari konsekuensi tata kehidupan global yang ditandai kemajemukan etnis, budaya, dan agama tersebut, adalah membangun dan menumbuhkan kembali teologi pluralisme dalam masyarakat.
    Demi tujuan itu, maka pendidikan sebenarnya masih dianggap sebagai instrumen penting. Sebab, “pendidikan” sampai sekarang masih diyakini mempunyai peran besar dalam membentuk karakter individu-individu yang dididiknya, dan mampu menjadi “guiding light” bagi generasi muda penerus bangsa. Dalam konteks inilah, pendidikan agama sebagai media penyadaran umat perlu membangun teologi inklusif dan pluralis, demi harmonisasi agama-agama (yang telah menjadi kebutuhan masyarakat agama sekarang).
    Hal tersebut dengan suatu pertimbangan, bahwa salah satu peran dan fungsi pendidikan agama diantaranya adalah untuk meningkatkan keberagamaan peserta didik dengan keyakinan agama sendiri, dan memberikan kemungkinan keterbukaan untuk mempelajari dan mempermasalahkan agama lain sebatas untuk menumbuhkan sikap toleransi (Sealy, 1986: 43-44). Ini artinya, pendidikan agama pada prinsipnya, juga ikut andil dan memainkan peranan yang sangat besar dalam menumbuh-kembangkan sikap-sikap pluralisme dalam diri siswa.
    Apalagi, kalau mencermati pernyatan yang telah disampaikan oleh Alex R. Rodger (1982: 61) bahwa “pendidikan agama merupakan bagian integral dari pendidikan pada umumnya dan berfungsi untuk membantu perkembangan pengertian yang dibutuhkan bagi orang-orang yang berbeda iman, sekaligus juga untuk memperkuat ortodoksi keimanan bagi mereka”. Artinya pendidikan agama adalah sebagai wahana untuk mengekplorasi sifat dasar keyakinan agama di dalam proses pendidikan dan secara khusus mempertanyakan adanya bagian dari pendidikan keimanan dalam masyarakat. Pendidikan agama dengan begitu, seharusnya mampu merefleksikan persoalan pluralisme, dengan mentransmisikan nilai-nilai yang dapat menumbuhkan sikap toleran, terbuka dan kebebasan dalam diri generasi muda.
    Organisasi sekolah dan atmosfirnya harus mampu mewujudkan jalan menuju kehidupan secara personal dan sosial. Sekolah harus dapat mempraktekkan sesuatu yang telah diajarkanya. Dengan demikian, lingkungan sekolah tersebut dapat dijadikan percontohan oleh murid-murid untuk learning by doing. Di dalam sekolah, peserta didik seharusnya dapat mempelajari adanya kurikulum-kurikulum umum di dalam kelas-kelas heterogen. Hal ini diperlukan guna mendorong adanya persamaan ideal, membangun perasaan persamaan, dan memastikan adanya input dari peserta didik yang memiliki latar belakang berbeda.
    Adanya serentetan kerusuhan-kerusuhan yang berbau SARA di Indonesia, menunjukkan bahwa secara kolektif kita sebenarnya tidak mau belajar tentang bagaimana hidup secara bersama secara rukun. Bahkan, dapat dikatakan, agen-agen sosialisasi utama seperti keluarga dan lembaga pendidikan, tampaknya tidak berhasil menanamkan sikap toleransi-inklusif dan tidak mampu mengajarkan untuk hidup bersama dalam masyarakat plural. Di sinilah letak pentingnya sebuah ikhtiar menanamkan teologi pluralisme melalui pendidikan agama. Sehingga, masyarakat Indonesia akan mampu membuka visi pada cakrawala yang semakin luas, mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama. Inilah pendidikan akan nilai-nilai dasar kemanusiaan untuk perdamaian, kemerdekaan, dan solidaritas.
    Melalui pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam berbasis kemajemukan dengan mempertimbangkan pengembangan komponen-komponen, ya , bahan, metode, peserta didik, media, lingkungan, dan sumber belajar Maksud dan tujuan pendidikan pluralisme, dengan begitu akan dapat dijadikan sebagai jawaban atau solusi alternatif bagi keinginan untuk merespon persoalan-persoalan di atas. Sebab dalam pendidikanya, pemahaman Islam yang hendak dikembangkan oleh pendidikan berbasis pluralisme adalah pemahaman dan pemikiran yang bersifat inklusif.
    Melalui sistem pendidikannya, sebuah pendidikan yang berbasis pluralisme akan berusaha memelihara dan berupaya menumbuhkan pemahaman yang inklusif pada peserta didik. Dengan suatu orientasi untuk memberikan penyadaran terhadap para peserta didiknya akan pentingnya saling menghargai, menghormati dan bekerja sama dengan agama-agama lain.

    Bab III
    ISLAM DAN PENDIDIKAN PLURALISME
    Kata Kunci: Islam, Pendidikan, Kurikulum, Pluralisme

    C. Landasan Teori
    1. Islam Dan Pluralisme
    Dalam Islam berteologi secara inklusif dengan menampilkan wajah agama secara santun dan ramah sangat dianjurkan. Islam bahkan memerintahkan umat Islam untuk dapat berinteraksi terutama dengan agama Kristen dan Yahudi dan dapat menggali nilai-nilai keagamaan melalui diskusi dan debat intelektual/teologis secara bersama-sama dan dengan cara yang sebaik-baiknya (QS al-Ankabut/29: 46), tentu saja tanpa harus menimbulkan prejudice atau kecurigaan di antara mereka.
    Karena menurut al-Qur’an sendiri, sebagai sumber normatif bagi suatu teologi inklusif. Karena bagi kaum muslimin, tidak ada teks lain yang menempati posisi otoritas mutlak dan tak terbantahkan selain Alqur’an. Maka, Alqur’an merupakan kunci untuk menemukan dan memahami konsep persaudaraan Islam-terhadap agama lain—pluralitas adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau Sunnah Allah, sebagaimana firman Allah SWT: “ Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal” (Al Hujurat 49: 13).
    Kalu kita membaca dari ayat tersebut, secara kritis dan penuh keterbukaan, pastilah kita akan menemukan suatu kesimpulan bahwa Allah SWT sendiri sebenarnya secara tegas telah menyatakan bahwa ada kemajemukan di muka bumi ini. Perbedaan laki-laki dan perempuan, perbedaan suku bangsa; ada orang Indonesia, Jerman, Amerika, orang Jawa, Sunda atau bule, adalah realitas pluralitas yang harus dipandang secara positif dan optimis. Perbedaan itu, harus diterima sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin atas dasar kenyataan itu. Bahkan kita disuruh untuk menjadikan pluralitas tersebut, sebagai instrumen untuk menggapai kemuliaan di sisi Allah SWT, dengan jalan mengadakan interaksi sosial antara individu, baik dalam konteks pribadi atau bangsa.
    Kenapa kita diperintah untuk saling mengenal dan berbuat baik sama orang lain, meskipun berbeda agama, suku dan kulit dan dilarang untuk memperolok-olok satu sama lain? Jawabannya adalah bahwa hanya Allah yang tahu dan dapat menjelaskan, di hari akhir nanti, mengapa manusia berbeda satu dari yang lain, dan mengapa jalan manusia berbeda-beda dalam beragama: “Untuk masing-masing dari kamu (umat manusia) telah kami tetapkan Hukum (Syari’ah) dan jalan hidup (minhaj). Jika Tuhan menghendaki, maka tentulah ia jadikan kamu sekalian umat yang tunggal (monolitk). Namun Ia jadikan kamu sekalian berkenaan dengan hal-hal yang telah dikarunia-Nya kepada kamu. Maka berlombalah kamu sekalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah-lah tempat kalian semua kembali; maka Ia akan menjelaskan kepadamu sekalian tentang perkara yang pernah kamu perselisihkan” (Q.S. Al Maaidah: 48).
    Bahkan konsep unity in diversity, dalam Islam telah diakui keabsahanya dalam kehidupan ini. Untuk mendukung pernyataan ini, kita dapat melacak kebenaranya dalam perjalanan sejarah yang telah ditunjukkan oleh al-Qur’an, bahwa Islam telah memberi karaketer positif kepada komunitas non-Muslim, Ini bisa dilihat, misalnya, dari berbagai istilah eufemisme, mulai dari ahl al-kitab, shabih bi ah al-kitab, din Ibrahim sampai dinan hanifan. Dan secara spesifik, Islam malahan mengilustrasikan karakter para pemuka agama Kristen sebagai manusia dengan sifat rendah hati (la yastakbirun) serta pemeluk agama Nasrani sebagai kelompok dengan jalinan emosional (aqrabahum mawaddatan) terdekat dengan komunitas Muslim (Q.S. Al Maidah: 82).
    Dalam kaitannya yang langsung dengan prinsip untuk dapat menghargai agama lain dan dapat menjalin persahabatan dan perdamaian dengan ‘mereka’ inilah Allah, di dalam al-Qur’an, menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika ia menunjukkan keinginan dan kesediaan yang menggebu untuk memaksa manusia menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “Jika Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri? (Q.S. Yunus: 99).
    Dari ayat tersebut tergambar dengan jelas bahwa persoalan kemerdekaan beragama dan keyakinan menjadi “tanggungjawab” Allah SWT, dimana kita semua dituntut toleran terhadap orang yang tidak satu dengan keyakinan kita. Bahkan nabi sendiri dilarang untuk memaksa orang kafir untuk masuk Islam. Maka dengan begitu, tidaklah dibenarkan “kita” menunjukkan sikap kekerasan, paksaan, menteror dan menakut-nakuti orang lain dalam beragama.
    Apalagi kalau kita mau memahami secara benar, bahwa pada dasarnya menurut al-Qur’an, pokok pangkal kebenaran universal Yang Tunggal itu ialah paham Ketuhanan Yang Maha Esa, atau tauhid. Tugas para Rasul adalah menyampaikan ajaran tentang tauhid ini, serta ajaran tentang keharusan manusia tunduk dan patuh hanya kepada-Nya saja (Q. S. al-Ambiya’: 92) dan justru berdasarkan paham tauhid inilah, al-Qur’an mengajarkan paham kemajemukan keagamaan. Dalam pandangan teologi Islam, sikap ini menurut Budy Munawar Rahman (2001: 15), dapat ditafsirkan sebagai suatu harapan kepada semua agama yang ada; bahwa semua agama itu pada mulanya menganut prinsip yang sama, dan persis karena alasan inilah al-Qur’an mengajak kepada titik pertemuan (kalimatun sawa’): “Katakanlah olehmu (Muhammad): Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimatun sawa’) antara kami dan kamu: yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya kepada apapun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan” selain Allah” (Q.S. al-Maidah: 64).
    Implikasi dari kalimatun sawa’ ini menurut Alqur’an adalah: siapapun dapat memperoleh “keselamatan” asalkan dia beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, dan berbuat baik”. Jadi, dalam prespektif ini, al-Qur’an tidak mengingkari kasahihan pengalaman transendensi agama, semisal Kristen bukan? Islam malah mengetahui dan bahkan mengakui daya penyelamatan kaum lain (termasuk Kristen) itu dalam hubunganya dengan lingkup monoteisme yang lebih luas: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan yang beragama Yahudi, Kristen, dan Shabiin, barang siapa dari mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan mengerjakan amal baik, maka mereka akan dapat ganjaran dari Tuhan mereka; dan tidak ada ketakutan dan tidak ada duka cita atas mereka” (Q.S 2: 62).
    Hal itu sejalan dengan ajaran bahwa monoteisme merupakan dogma yang diutamakan dalam Islam. Monoteisme, yakni percaya kepada Tuhan yang Maha Esa, dipandang jalan untuk keselamatan manusia. Dalam al-Qur’an ayat 48 dan 116 surah al-Nisa’ menerangkan bahwa Allah tidak mengampuni dosa orang yang mempersekutukan Tuhan tetapi mengampuni dosa selainya bagi barang siapa yang dikehendaki Allah. Kedua ayat ini mengandung arti bahwa dosa dapat diampuni Tuhan kecuali dosa sirk atau politeis. Inilah satu-satunya dosa yang tak dapat diampuni Tuhan.
    Alqur’an, dengan demikian, sebagaimana ditegaskan oleh Abdulaziz Sachedina dalam bukunya The Islamic Roots of Democratic Pluralism (2002: 59), adalah jelas memandang dirinya sebagai mata rantai kritis dalam pengalaman pewahyuan umat manusia—satu jalan universal yang dimaksudkan untuk semua makhluk. Secara khusus, Islam juga memiliki etos biblikal dan Kristen, dan Islam memiliki sikap yang luar biasa inklusif terhadap Ahli Kitab, yang dengan merekalah Islam terhubungkan melalui manusia pertama di muka bumi.
    2. Islam Memerintahkan Untuk Bersikap ‘Toleran’ Kepada Agama lain
    Sedangkan secara umum, pandangan Islam terhadap agama lain (Ahli Kitab—pen) sangat positif dan sangat kontruktif. Hal ini dapat dilihat dari nilai dan ajarannya yang memberikan peluang dan mendorong kepada umat Islam untuk dapat melakukan interaksi sosial, kerja sama dengan mereka. Tentang hal ini, Farid Asaeck (2000: 206-207)), telah menunjukkan bukti-bukti sebagai berikut; Pertama, Ahli Kitab, sebagai penerima wahyu, diakui sebagai bagian dari komunitas. Ditujukan kepada semua nabi, al-Qur’an mengatakan: “Dan sungguh inilah umatmu, umat yang satu” (QS al-Mu’miunun: 52). Sehingga konsep Islam tentang para pengikut Kitab Suci atau Ahli Kitab yaitu konsep yang memberikan pengakuan tertentu kepada para penganut agama lain, yang memiliki Kitab Suci dengan memberikan kebebasan menjalankan ajaran agamanya masing-masing.
    Kedua, dalam dua bidang sosial terpenting, makanan dan perkawinan, sikap murah hati al-Qur’an terlihat jelas, bahwa makanan “orang-orang yang diberi Alkitab” dinyatakan sebagai sah (halal) bagi kaum muslim dan makanan kaum muslim sah bagi mereka (QS al-Maidah: 5). Demikian juga, pria muslim diperkenankan mengawini “wanita suci dari Ahli Kitab” (QS al-Maidah: 5). Jika kaum Muslim diperkenankan hidup berdampingan dengan golongan lain dalam hubungan yang seintim hubungan perkawinan, ini menunjukkan secara eksplisit bahwa permusuhan tidak dianggap sebagai norma dalam hubungan Muslim-kaum lain.
    Ketiga, dalam bidang hukum agama, norma-norma dan peraturan kaum Yahudi dan Nasrani diakui (QS al-Maidah: 47) dan bahkan dikuatkan oleh Nabi ketika beliau diseru untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka (QS al-Maidah: 42-43). Keempat, kesucian kehidupan religius penganut agama wahyu lainya ditegaskan oleh fakta bahwa izin pertama yang pernah diberikan bagi perjuangan bersenjata dimaksudkan untuk menjamin terpeliharanya kesucian ini, “Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagai manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja dan sinagog-sinagog orang Yahudi, dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak di sebut nama Allah” (QS al-Hajj: 40).
    Perintah Islam agar umatnya bersikap toleran, bukan hanya pada agama Yahudi dan Kristen, tetapi juga kepada agama-agama lain. Ayat 256 surat al-Baqarah mengatakan bahwa tidak ada paksaan dalam soal agama karena jalan lurus dan benar telah dapat dibedakan dengan jelas dari jalan salah dan sesat. Terserahlan kepada manusia memilih jalan yang dikehendakinya. Telah dijelaskan mana jalan benar yang akan membawa kepada kesengsaraan. Manusia merdeka memilih jalan yang dikehendakinya. Kemerdekaan ini diperkuat oleh ayat 6 surah al-Kafirun yang mengatakan: Bagimulah agamamu dan bagiku agamaku.
    Demikianlah beberapa prinsip dasar al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah pluralisme dan anjuran untuk dapat menunjukkan sikap saling menghormati, ramah dan bersahabat dengan agama Kristen, secara khusus. Dengan begitu, jauh-jauh hari, al-Qur’an sesungguhnya telah mensinyalir akan munculnya bentuk “truth claim” (Abdullah, 1999: 68). Baik itu dalam wilayah intern umat beragama maupun wilayah antar-umat beragama. Kedua-duanya, sama-sama tidak favourable dan tidak kondusif bagi upaya membangun tata pergaulan masyarakat pluralistik yang sehat.
    Oleh al-Qur’an, kecendrungan manusia untuk mengantongi “truth claim” yang potensial untuk ekplosif dan destruktif itu, kemudian dinetralisir dalam bentuk anjuran untuk selalu waspada terhadap bahaya ektrimitas dalam berbagai bentuknya. Dan manusia Muslim sendiri dituntut untuk senantiasa merendahkan hati dan bersedia dengan “kebenaran” (al-haq) dan kesabaran (al-Shabar) dalam setiap langkah dalam perjalanan hidupnya (surat al-Ashr: 1-3).
    Paling tidak, dalan dataran konseptual, al-Qur’an telah memberi resep atau arahan-arahan yang sangat diperlukan bagi manusia Muslim untuk memecahkan masalah kemanusiaan universal, yaitu realitas pluralitas keberagamaan manusia dan menuntut supaya bersikap toleransi terhadap kenyataan tersebut demi tercapainya perdamaian di muka bumi. Karena Islam menilai bahwa syarat untuk membuat keharmonisan adalah pengakuan terhadap komponen-komponen yang secara alamiah berbeda.
    Dengan begitu, dapat pula dikatakan konsepsi pluralisme dalam Islam sudah terbawa pada misi awal agama ini diturunkan, yakni membawa kasih terhadap seluruh alam tanpa batas-batas atau benturan-benturan dimensi apapun. Semua orang yang mengaku Islam haruslah menunjukkan sikap saling “mengasihi” kepada sesama manusia. Karena seseorang bisa disebut sebagai seorang muslim, menurut kanjeng nabi adalah Al-Muslimu man salima Al-muslimuna min lisanihi wa yadihi. Maksudnya adalah seorang muslim yang senantiasa menebarkan sikap damai dan rasa aman dihati masyarakatnya.
    3. Kegagalan Pendidikan Agama
    Berangkat dari kesadaran adanya fenomena bahwa “satu Tuhan, banyak agama” merupakan fakta dan realitas yang dihadapi manusia sekarang. Maka, manusia sekarang harus didorong menuju kesadaran bahwa pluralisme memang sungguh-sungguh fitrah kehidupan manusia.
    Mendorong setiap orang untuk dapat menghargai “keanekaragaman” adalah sangat penting segera dilakukan, terutama sekali di negara Indonesia yang pluralistik ini. Dampak krisis multi-dimensional yang melandanya, menyebabkan bangsa Indonesia menghadapi berbagai problem sosial. Salah satu problem besar dimana peran agama menjadi sangat dipertanyakan adalah konflik etnis, kultur dan religius, atau yang lebih dikenal dengan SARA.
    Kegagalan agama dalam memainkan perannya sebagai problem solver bagi persoalan SARA erat kaitanya dengan pengajaran agama secara eklusif. Maka, agar bisa keluar dari kemelut yang mendera bangsa Indonesia terkait persoalan SARA, adalah sudah saatnya bagi bangsa Indonesia untuk memunculkan wajah pendidikan agama yang inklusif dan humanis.
    Pada tataran teologis, dalam pendidikan agama perlu mengubah paradigma teologis yang pasif, tektualis, dan eklusif. Menuju teologi yang saling menghormati, saling mengakui eksistensi, berfikir dan bersikap positif, serta saling memperkaya iman. Hal ini dengan tujuan untuk membangun interaksi umat beragama dan antarumat beragama yang tidak hanya berkoeksistensi secara harmonis dan damai, tetapi juga bersedia aktif dan pro-aktif kemanusiaan.
    Sebenarnya masyarakat Indonesia telah lama akrab dengan diktum Bhinneka Tunggal Ika. Namun sayangnya, konsep ini telah mengalami pemelintiran makna dan bias interpretasi, terutama sepanjang pemerintahan Orde Baru. Kebijakan sosial-politik saat itu cenderung uniformistik, sehingga tampaknya budaya milik kelompok dominanlah yang diajarkan dan disalurkan oleh sekolah dari satu generasi kepada generasi lainya.
    Sekolah pada saat itu juga ditengarai hanya merefleksikan dan menggemakan stereotip dan prasangka antarkelompok yang sudah terbentuk dan beredar dalam masyarakat, tidak berusaha menetralisisir dan menghilangkanya. Bahkan, ada indikasi bahwa sekolah ikut mengembangkan prasangka dan mengeskalasi ketegangan antarkelompok melalui perundang-undangan yang mengkotak-kotakkan penyampaiaan pendidikan agama, isi kurikulum yang etnosentris, dan dinamika relasi sosial antarsekolah yang segregatif (Khisbiyah, 2000: 156-157). Bukan tak mungkin segregasi sekolah berdasarkan kepemelukan agama juga ikut memeperuncing prasangka dan proses demonisasi antara satu kelompok dengan kelompok lainya, baik secara langsung maupun atau tidak langsung .
    Padahal, menurut S. Hamid Hasan, “keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan aspirasi politik, dan kemampuan ekonomi adalah suatu realita masyarakat dan bangsa Indonesia. Namun demikian, keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan aspirasi politik yang seharusnya menjadi faktor yang diperhitungkan dalam penentuan filsafat, teori, visi, pengembangan dokumen, sosialisasi kurikulum, dan pelaksanaan kurikulum, nampaknya belum dijadikan sebagai faktor yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan di negara kita” (Hasan, 2000: 511). Maka, akibatnya, wajar manakala terjadi kegagalan dalam pendidikannya (termasuk pendidikan agama), terutama sekali dalam menumbuhkan sikap-sikap untuk menghargai adanya perbedaan dalam masyarakat.
    Selain itu, Kautsar Azhari Noer (2001) menyebutkan, paling tidak ada empat faktor penyebab kegagalan pendidikan agama dalam menumbuhkan pluralisme. Pertama, penekananya pada proses transfer ilmu agama ketimbang pada proses transformasi nilai-nilai keagamaan dan moral kepada anak didik; kedua, sikap bahwa pendidikan agama tidak lebih dari sekedar sebagai “hiasan kurikulum” belaka, atau sebagai “pelengkap” yang dipandang sebelah mata; ketiga, kurangnya penekanan pada penanaman nilai-nilai moral yang mendukung kerukunan antaragama, seperti cinta, kasih sayang, persahabatan, suka menolong, suka damai dan toleransi; dan keempat, kurangnya perhatian untuk perhatikan untuk mempelajari agama-agama lain (Noer dalam Sumartana, 2001: 239-240).
    Melihat realitas tersebut, bahkan ditambah dengan adanya banyak konflik, kekerasan, dan bahkan kekejaman yang dijalankan atas nama agama, sebagaimana tersebut di atas, seharusnyalah yang menjadi tujuan refleksi atas pendidikan agama adalah mampu melakukan transformasi kehidupan beragama itu sendiri dengan melihat sisi ilahi dan sosial-budayanya. Pendidikan agama harus mampu menanamkan cara hidup yang lebih baik dan santun kepada peserta didik. Sehingga sikap-sikap seperti saling menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman agama dan budaya dapat tercapai di tengah-tengah masyarakat plural.
    4. Perlunya Pendidikan Pluralisme
    Dengan menyadari bahwa masyarakat kita terdiri dari banyak suku dan beberapa agama, jadi sangat pluralis. Maka, pencarian bentuk pendidikan alternatif mutlak diperlukan. Yaitu suatu bentuk pendidikan yang berusaha menjaga kebudayaan suatu masyarakat dan memindahkanya kepada generasi berikutnya, menumbuhkan akan tata nilai, memupuk persahabatan antara siswa yang beraneka ragam suku, ras, dan agama, mengembangkan sikap saling memahami, serta mengerjakan keterbukaan dan dialog. Bentuk pendidikan seperti inilah yang banyak ditawarkan oleh “banyak ahli” dalam rangka mengantisipasi konflik keagamaan dan menuju perdamaian abadi, yang kemudian terkenal dengan sebutan “pendidikan pluralisme”.
    Apakah sebenarnya pendidikan pluralisme itu? Kalau kita melacak referensi tentang pendidikan pluralisme, banyak sekali literatur mengenai pendidikan tersebut atau sering dikenal orang dengan sebutan “pendidikan multikultural”. Namun literatur-literatur tersebut menunjukkan adanya keragaman dalam pengertian istilah. Sleeter (dalam Burnet, 1991: 1) mengartikan pendidikan multikultural sebagai any set of proces by which schools work with rather than against oppressed group. Banks, dalam bukunya Multicultural education: historical development, dimension, and practice (1993) menyatakan bahwa meskipun tidak ada konsensus tentang itu ia berkesimpulan bahwa di antara banyak pengertian tersebut maka yang dominan adalah pengertian pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color.
    Lebih jelasnya, menariklah kalau kita memperhatikan suatu defenisi tentang pendidikan pluralisme yang disampaikan Frans Magnez Suseno (dalam Suara Pembaharuan, 23 September, 2000), yaitu suatu pendidikan yang mengandaikan kita untuk membuka visi pada cakrawala yang semakin luas, mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama kita sehingga kita mampu melihat “kemanusiaan” sebagai sebuah keluarga yang memiliki baik perbedaan maupun kesamaan cita-cita. Inilah pendidikan akan nilai-nilai dasar kemanusiaan untuk perdamaian, kemerdekaan, dan solidaritas.
    Senada dengan itu, Ainurrofiq Dawam menjelaskan defenisi pendidikan multikultural sebagai proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman budaya etnis, suku, dan aliran (agama). Pengertian pendidikan multikultural yang demikian, tentu mempunyai implikasi yang sangat luas dalam pendidikan. Karena pendidikan itu sendiri secara umum dipahami sebagai proses tanpa akhir atau proses sepanjang hayat. Dengan demikian , pendidikan multikultural menghendaki penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya terhadap harkat dan martabat manusia darimana pun dia datangnya dan berbudaya apa pun dia. Harapanya, sekilas adalah terciptanya kedamaian yang sejati, keamanan yang tidak dihantui kecemasan, kesejahteraan yang tidak dihantui manipulasi, dan kebahagiaan yang terlepas dari jaring-jaring manipulasi rekayasa sosial.
    Muhammad Ali (dalam Kompas, 26 April 2002) menyebut pendidikan yang berorientasi pada proses penyadaran yang berwawasan pluralis secara agama sekaligus berwawasan multikultural, seperti itu, dengan sebutan “pendidikan pluralis multikultural”. Menurutnya, pendidikan semacam itu harus dilihat sebagai bagian dari upaya komprehensif mencegah dan menaggulangi konflik etnis agama, radikalisme agama, separatisme, dan integrasi bangsa, sedangkan nilai dasar dari konsep pendidikan ini adalah toleransi.
    Memperhatikan beberapa defenisi tentang pendidikan pluralisme tersebut di atas, secara sederhana dapatlah pendidikan pluralisme didefenisikan sebagai pendidikan untuk/tentang keragaman keagamaan dan kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan. Pendidikan disini, dituntut untuk dapat merespon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok.
    5. Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Kemajemukan
    Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan, karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan. Pemikiran ini mengandung konsekuensi bahwa penyempurnaan atau perbaikan kurikulum pendidikan agama Islam adalah untuk mengantisipasi kebutuhan dan tantangan masa depan dengan diselaraskan terhadap perkembangan kebutuhan dunia usaha atau industri, perkembangan dunia kerja, serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Konsep yang sekarang banyak diwacanakan oleh banyak ahli adalah kurikulum pendidikan berbasis pluralisme.
    Sebagaimana disebut di atas, bahwa konsep pendidikan pluralisme adalah pendidikan yang berorientasi pada realitas persoalan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dan umat manusia secara keseluruhan. Pendidikan pluralisme digagas dengan semangat besar “untuk memberikan sebuah model pendidikan yang mampu menjawab tantangan masyarakat pasca modernisme”.
    Melihat realitas tersebut, maka disinilah letak pentingnya menggagas pendidikan Islam berbasis pluralisme dengan menonjolkan beberapa karakter sebagai berikut; pertama pendidikan Islam harus mempunyai karakter sebagai lembaga pendidikan umum yang bercirikan Islam. Artinya, di samping menonjolkan pendidikannya dengan penguasaan atas ilmu pengetahuan, namun karakter keagamaan juga menjadi bagian integral dan harus dikuasai serta menjadi bagian dari kehidupan siswa sehari-hari. Tentunya, ini masih menjadi pertanyaan, apakah sistem pendidikan seperti ini betul-betul mampu membongkar sakralitas ilmu-ilmu keagamaan dan dikhotomi keilmuan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu keagamaan.
    Kedua ; Pendidikan Islam juga harus mempunyai karakter sebagai pendidikan yang berbasis pada pluralitas. Artinya, bahwa pendidikan yang diberikan kepada siswa tidak menciptakan suatu pemahaman yang tunggal, termasuk di dalamnya juga pemahaman tentang realitas keberagamaan. Kesadaran pluralisme merupakan suatu keniscayaan yang harus disadari oleh setiap peserta didik. Tentunya, kesadaran tersebut tidak lahir begitu saja, namun mengalami proses yang sangat panjang, sebagai realitas pemahaman yang komprehenship dalam melihat suatu fenomena.
    Ketiga; Pendidikan Islam harus mempunyai karakter sebagai lembaga pendidikan yang menghidupkan sistem demokrasi dalam pendidikan. Sistem pendidikan yang memberikan keluasaan pada siswa untuk mengekspresikan pendapatnya secara bertanggung jawab. Sekolah memfasilitasi adanya “mimbar bebas”, dengan meberikan kesempatan kepada semua civitas untuk berbicara atau mengkritik tentang apa saja, asal bertanggung jawab. Tentunya, sistem demokrasi ini akan memberikan pendidikan pada siswa tentang realitas sosial yang mempunyai pandangan dan pendapat yang berbeda. Di sisi yang lain, akan membudayakan “reasoning” bagi civitas di lembaga pendidikan Islam.
    Perlunya membentuk pendidikan Islam berbasis pluralisme tersebut, sekali lagi merupakan suatu inisiasi yang lahir dari realitas sejarah pendidikan khususnya di Indonesia yang dianggap gagal dalam membangun citra kemanusiaan. Dimana umumnya, pendidikan umum hanya mencetak orang-orang yang pinter namun tidak mempunyai integritas keilmuan dan akhlaq ilmuan. Ini yang kemudian melahirkan para koruptor yang justru menjadi penyakit dan menyengsarakan bangsa ini. Di satu sisi, pendidikan agama yang ada hanya menciptakan ahli agama yang cara berpikirnya parsial dan sempit. Akhirnya, semakin banyak orang pinter ilmu agama semakin kuat pertentangan dan konflik dalam kehidupan. Inilah sistem pendidikan yang gagal dalam menciptakan citra kemanusiaan.
    Untuk merealisasikan cita-cita pendidikan yang mencerdaskan seperti tersebut, lembaga pendidikan Islam perlu menerapkan sistem pengajaran yang berorientasi pada penanaman kesadaran pluralisme dalam kehidupan. Adapun beberapa program pendidikan yang sangat strategis dalam menumbuhkan kesadaran pluralisme adalah: pendidikan sekolah harus membekali para mahasiswa atau peserta didik dengan kerangka (frame work) yang memungkinkannya menyusun dan memahami pengetahuan yang diperoleh dari lingkunganya (UNESCO, 1981).
    Karena masyarakat kita majemuk, maka kurikulum PAI yang ideal adalah kurikulum yang dapat menunjang proses siswa menjadi manusia yang demokratis, pluralis dan menekankan penghayatan hidup serta refleksi untuk menjadi manusia yang utuh, yaitu generasi muda yang tidak hanya pandai tetapi juga bermoral dan etis, dapat hidup dalam suasana demokratis satu dengan lain, dan menghormati hak orang lain.
    Selain itu, perlu kiranya memperhatikan kurikulum sebagai proses. Ada empat hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengembangkan kurikulum sebagai proses ini, yaitu;
    1) Posisi siswa sebagai subjek dalam belajar
    2) Cara belajar siswa yang ditentukan oleh latar belakang budayanya,
    3) Lingkungan budaya mayoritas masyarakat dan pribadi siswa adalah entry behaviour kultur siswa,
    4) Lingkungan budaya siswa adalah sumber belajar (hamid, op cit: 522). Dalam konteks deskriptif ini, kurikulum pendidikan mestilah mencakup subjek seperti: toleransi, tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama: bahaya diskriminasi: penyelesaian konflik dan mediasi: ham; demokrasi dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan
    Bentuk kurikulum dalam pendidikan agama Islam hendaknya tidak lagi ditujukan pada siswa secara individu menurut agama yang dianutnya, melainkan secara kolektif dan berdasarkan kepentingan bersama. Bila selama ini setiap siswa memperoleh pelajaran agama sesuai dengan agamanya, maka diusulkan agar lebih baik bila setiap siswa SLTP-PT memperoleh materi agama yang sama, yaitu berisi tentang sejarah pertumbuhan semua agama yang berkembang di Indonesia. Sedangkan untuk SD diganti dengan pendidikan budi pekerti yang lebih menanamkan nilai-nilai moral kemanusiaan dan kebaikan secara universal. Dengan materi seperti itu, di samping siswa dapat menentukan agamanya sendiri (bukan berdasarkan keturunan), juga dapat belajar memahami pluralitas berdasarkan kritisnya, mengajarkan keterbukaan, toleran, dan tidak eklusif, tapi inklusif (Darmaningtyas, 1999: 165).
    Amin Abdullah (2001: 13-16) menyarankan “perlunya rekontruksi pendidikan sosial-keagamaan untuk memperteguh dimensi kontrak sosial-keagamaan dalam pendidikan agama”. Dalam hal ini, kalau selama ini praktek di lapangan, pendidikan agama Islam masih menekankan sisi keselamatan yang dimiliki dan didambakan oleh orang lain di luar diri dan kelompoknya sendiri jadi materi pendidikan agama lebih berfokus dan sibuk mengurusi urusan untuk kalangan sendiri (individual atau private affairs). Maka, pendidikan agama Islam perlu direkontruksi kembali, agar lebih menekankan proses edukasi sosial, tidak semata-mata individual dan untuk memperkenalkan konsep social-contract. Sehingga pada diri peserta didik tertanam suatu keyakinan, bahwa kita semua sejak semula memang berbeda-beda dalam banyak hal, lebih-lebih dalam bidang akidah, iman, credo, tetapi demi untuk menjaga keharmonisan, keselamatan, dan kepentingan kehidupan bersama, mau tidak mau, kita harus rela untuk menjalin kerjasama (cooperation) dalam bentuk kontrak sosial antar sesama kelompok warga masyarakat.
    Pendek kata, agar maksud dan tujuan pendidikan agama Islam berbasis pluralisme dapat tercapai, kurikulumnya harus didesain sedemikian rupa dan favourable untuk semua tingkatan dan jenjang pendidikan. Namun demikain, pada level sekolah dasar dan menengah adalah paling penting, sebab pada tingkatan ini, sikap dan perilaku peserta didik masih siap dibentuk. Dan perlu diketahui, suatu kurikulum tidak dapat diimplementasikan tanpa adanya keterlibatan, pembuatan dan kerjasama secara langsung antara para pembuat kurikulum, penulis text book dan guru.
    Langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh pembuat kurikulum, penulis text book dan guru untuk mengembangkan kurikulum PAI berbasis pluralisme di Indonesia, adalah sebagai berikut; Pertama, mengubah filosofi kurikulum dari yang berlaku seragam seperti saat ini kepada filosofi yang lebih sesuai dengan tujuan, misi, dan fungsi setiap jenjang pendidikan dan unit pendidikan. Untuk tingkat dasar, filosofi konservatif seperti esensialisme dan perenialisme haruslah dapat diubah ke filosofi yang lebih menekankan pendidikan sebagai upaya mengembangkan kemampuan kemanusiaan peserta didik baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat bangsa, dan dunia. Filosofi kurikulum yang progresif seperti humanisme, progresifme, dan rekontruksi sosial dapat dijadikan landasan pengembangan kurikulum.
    Kedua, teori kurikulum tentang konten (curriculum content) haruslah berubah dari teori yang mengartikan konten sebagai aspek substantif yang berisikan fakta, teori, generalisasi kepada pengertian yang mencakup pula nilai, moral, prosedur, dan ketrampilan yang harus dimiliki generasi muda.
    Ketiga, teori belajar yang digunakan dalam kurikulum masa depan yang memperhatikan keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan politik tidak boleh lagi hanya mendasarkan diri pada teori psikologi belajar yang bersifat individualistik dan menempatkan siswa dalam suatu kondisi value free, tetapi harus pula didasarkan pada teori belajar yang menempatkan siswa sebagai makhluk sosial, budaya, politik, dan hidup sebagai anggota aktif masyarakat, bangsa, dan dunia.
    Keempat, proses belajar yang dikembangkan untuk siswa haruslah pula berdasarkan proses yang memiliki tingkat isomorphism yang tinggi dengan kenyataan sosial. Artinya, proses belajar yang mengandalkan siswa belajar individualistis harus ditinggalkan dan diganti dengan cara belajar berkelompok dan bersaing secara kelompok dalam suatu situasi positif. Dengan cara demikian maka perbedaan antar-individu dapat dikembangkan sebagai suatu kekuatan kelompok dan siswa terbiasa hidup dengan berbagai keragaman budaya, sosial, intelektualitas, ekonomi, dan aspirasi politik.
    Kelima, evaluasi yang digunakan haruslah meliputi keseluruhan aspek kemampuan dan kepribadian peserta didik, sesuai dengan tujuan dan konten yang dikembangkan. Alat evaluasi yang digunakan haruslah beragam sesuai dengan sifat tujuan dan informasi yang ingin dikumpulkan. Penggunaan alternatif assesment (portfolio, catatan, observasi, wawancara) dapat digunakan.
    Di samping perlunya memperhatikan langkah-langkah itu, untuk menuju sebuah PAI yang menghargai pluralisme, sebenarnya selain aspek kurikulum yang harus didesain, sebagaimana telah penulis uraikan, aspek pendekatan dan pengajaran. Pola-pola lama dalam pendekatan atau pengajaran agama harus segera dirubah dengan model baru yang lebih mengalir dan komunikatif. Aspek perbedaan harus menjadi titik tekan dari setiap pendidik. Pendidik harus sadar betul bahwa masing-masing peserta didik merupakan “manusia yang unik” (human uniqe), karena itu tidak boleh ada penyeragaman-peyeragaman. Dalam prespektif ini, pendidikan agama Islam yang memberikan materi kajian perbandingan agama dan nilai-nilai prinsip Islam seperti; toleransi, keadilan, kebebasan dan demokrasi untuk memperoleh suatu pemahaman di antara orang-orang yang berbeda iman itu adalah sebuah keniscayaan.
    6. Menampilkan Islam Toleran Melalui Kurikulum
    Mengembangkan sikap pluralisme pada peserta didik di era sekarang ini, adalah mutlak segera “dilakukan” oleh seluruh pendidikan agama di Indonesia demi kedamaian sejati. Pendidikan agama Islam perlu segera menampilkan ajaran-ajaran Islam yang toleran melalui kurikulum pendidikanya dengan tujuan dan menitikberatkan pada pemahaman dan upaya untuk bisa hidup dalam konteks perbedaan agama dan budaya, baik secara individual maupun secara kolompok dan tidak terjebak pada primordialisme dan eklusifisme kelompok agama dan budaya yang sempit. Sehingga sikap-sikap pluralisme itu akan dapat ditumbuhkembangkan dalam diri generasi muda kita melalui dimensi-dimensi pendidikan agama dengan memperhatikan hal-hal seperti berikut:
    a. Pendidikan agama seperti fiqih, tafsir tidak harus bersifat linier, namun menggunakan pendekatan muqaron. Ini menjadi sangat penting, karena anak tidak hanya dibekali pengetahuan atau pemahaman tentang ketentuan hukum dalam fiqih atau makna ayat yang tunggal, namun juga diberikan pandangan yang berbeda. Tentunya, bukan sekedar mengetahui yang berbeda, namun juga diberikan pengetahuan tentang mengapa bisa berbeda.
    b. Untuk mengembangkan kecerdasan sosial, siswa juga harus diberikan pendidikan lintas agama. Hal ini dapat dilakukan dengan program dialog antar agama yang perlu diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Islam . Sebagai contoh, dialog tentang “puasa” yang bisa menghadirkan para bikhsu atau agamawan dari agama lain. Program ini menjadi sangat strategis, khususnya untuk memberikan pemahaman kepada siswa bahwa ternyata puasa itu juga menjadi ajaran saudara-saudara kita yang beragama Budha. Dengan dialog seperti ini, peserta didik diharapkan akan mempunyai pemahaman khususnya dalam menilai keyakinan saudara-saudara kita yang berbeda agama. karena memang pada kenyataanya “Di Luar Islampun Ada Keselamatan”.
    c. Untuk memahami realitas perbedaan dalam beragama, lembaga-lembaga pendidikan Islam bukan hanya sekedar menyelenggarakan dialog antar agama, namun juga menyelenggarakan program road show lintas agama. Program road show lintas agama ini adalah program nyata untuk menanamkan kepedulian dan solidaritas terhadap komunitas agama lain. Hal ini dengan cara mengirimkan siswa-siswa untuk ikut kerja bhakti membersihkan gereja, wihara ataupun tempat suci lainnya. Kesadaran pluralitas bukan sekedar hanya memahami keberbedaan, namun juga harus ditunjukkan dengan sikap konkrit bahwa diantara kita sekalipun berbeda keyakinan, namun saudara dan saling membantu antar sesama.
    d. Untuk menanamkan kesadaran spiritual, pendidikan Islam perlu menyelenggarakan program seperti spiritual work camp (SWC), hal ini bisa dilakukan dengan cara mengirimkan siswa untuk ikut dalam sebuah keluarga selama beberapa hari, termasuk kemungkinan ikut pada keluarga yang berbeda agama. Siswa harus melebur dalam keluarga tersebut. Ia juga harus melakukan aktifitas sebagaimana aktifitas keseharian dari keluarga tersebut. Jika keluarga tersebut petani, maka ia harus pula membantu keluarga tersebut bertani dan sebagainya. Ini adalah suatu program yang sangat strategis untuk meningkatkan kepekaan serta solidaritas sosial. Pelajaran penting lainnya, adalah siswa dapat belajar bagaimana memahami kehidupan yang beragam. Dengan demikian, siswa akan mempunyai kesadaran dan kepekaan untuk menghargai dan menghormati orang lain.
    e. Pada bulan Ramadhan, adalah bulan yang sangat strategis untuk menumbuhkan kepekaaan sosial pada anak didik. Dengan menyelenggarakan “program sahur on the road”, misalnya. Karena dengan program ini, dapat dirancang sahur bersama antara siswa dengan anak-anak jalanan. Program ini juga memberikan manfaat langsung kepada siswa untuk menumbuhkan sikap kepekaan sosial, terutama pada orang-orang di sekitarnya yang kurang mampu.
    Selain beberapa hal di atas, perlu kiranya mengajarkan materi Aqidah Inklusif.
    Sebagaimana telah banyak diketahui umat Islam, aqidah berasal dari bahasa Arab yang berarti “kepercayaan”, maksudnya ialah hal-hal yang diyakini oleh orang-orang beragama. Dalam Islam, aqidah selalu berhubungan dengan iman. Aqidah adalah ajaran sentral dalam Islam dan menjadi inti risalah Islam melalui Muhammad. Tegaknya aktivitas keislaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa orang itu memiliki akidah. Masalahnya karena iman itu bersegi teoritis dan ideal yang hanya dapat diketahui dengan bukti lahiriah dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, terkadang menimbulkan “problem” tersendiri ketika harus berhadapan dengan “keimanan” dari orang yang beragama lain. Apalagi persoalan iman ini, juga merupakan inti bagi semua agama, jadi bukan hanya milik Islam saja. Maka, tak heran jika kemudian muncul persoalan truth claim dan salvation claim diantara agama-agama, yang sering berakhir dengan konflik antar agama.
    Untuk mengatasi persoalan seperti itu, pendidikan agama Islam melalui ajaran aqidahnya, perlu menekankan pentingnya “persaudaraan” umat beragama. Pelajaran aqidah, bukan sekedar menuntut pada setiap peserta didik untuk menghapal sejumlah materi yang berkaitan denganya, seperti iman kepada Allah swt, nabi Muhamad saw, dll. Tetapi sekaligus, menekankan arti pentingya penghayatan keimanan tadi dalam kehidupan sehari-hari. Intinya, aqidah harus berbuntut dengan amal perbuatan yang baik atau akhlak al-Karimah pada peserta didik. Memiliki akhlak yang baik pada Tuhan, alam dan sesama umat manusia.
    Pendidikan Islam harus sadar, bahwa kerusuhan-kerusuhan bernuasan SARA seperti yang sering terjadi di Indonesia ini adalah akibat ekspresi keberagamaan yang salah dalam masyarakat kita, seperti ekspresi keberagamaan yang masih bersifat ekslusif dan monolitik serta fanatisme untuk memonopoli kebenaran secara keliru. Celakanya, ekspresi keagamaan seperti itu merupakan hasil dari “pendidikan agama”. Pendidikan agama dipandang masih banyak memproduk manusia yang memandang golongan lain (tidak seakidah) sebagai musuh. Maka di sinilah perlunya menampilkan pendidikan agama yang fokusnya adalah bukan semata kemampuan ritual dan keyakinan tauhid, melainkan juga akhlak sosial dan kemanusiaan.
    Pendidikan agama, merupakan sarana yang sangat efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai atau aqidah inklusif pada peserta didik. Perbedaan agama di antara peserta didik bukanlah menjadi penghalang untuk bisa bergaul dan bersosialisasi diri. Justru pendidikan agama dengan peserta didik berbeda agama, dapat dijadikan sarana untuk menggali dan menemukan nilai-nilai keagamaan pada agamanya masing-masing sekaligus dapat mengenal tradisi agama orang lain.
    Target kurikulum Agama Islam harus berorientasi pada akhlak. Bahkan dalam pengajaran akidahnya, kalau perlu semua peserta didik disuruh merasakan jadi orang yang beragama lain atau atheis sekalipun. Tujuanya adalah bukan untuk “konfersi”, melainkan dalam rangka agar mereka mempertahankan iman. Sebab, akidah itu harus dipahami sendiri, bukan dengan cara taklid, taklid tidak dibenarkan dalam persoalan akidah. Selain itu, pada masalah-masalah syari’ah. Dalam persoalan syariah, sering umat Islam juga berbeda pendapat dan bertengkar. Maka dalam hal ini pendidikan Islam perlu . memberikan pelajaran “fiqih muqarran”untuk memberikan penjelasan adanya perbedaan pendapat dalam Islam dan semua pendapat itu sama-sama memiliki argumen, dan wajib bagi kita untuk menghormati. Sekolah tidak menentukan salah satu mazhab yang harus diikuti oleh peseta didik, pilihan mazhab terserah kepada mereka masing-masing.
    Melalui suasana pendidikan seperti itu, tentu saja akan terbangun suasana saling menenami dalam kehidupan beragama secara dewasa, tidak ada perbedaan yang berarti diantara “perbedaan”manusia yang pada realitasnya memang berbeda. Tidak dikenal superior ataupun inferior, serta memungkinkan terbentuknya suasana dialog yang memungkinkan untuk membuka wawasan spritualitas baru tentang keagamaan dan keimanan masing-masing.
    Pendidikan Islam harus memandang “iman”, yang dimiliki oleh setiap pemeluk agama, bersifat dialogis artinya iman itu bisa didialogkan antara Tuhan dan manusia dan antara sesama manusia. Iman merupakan pengalaman kemanusiaan ketika berintim dengan-Nya (dengan begitu, bahwa yang menghayati dan menyakini iman itu adalah manusia, dan bukanya Tuhan), dan pada tingkat tertentu iman itu bisa didialogkan oleh manusia, antar sesama manusia dan dengan menggunakan bahasa manusia.
    Tujuan untuk menumbuhkan saling menghormati kepada semua manusia yang memiliki iman berbeda atau mazhab berbeda dalam beragama, salah satunya bisa diajarkan lewat pendidikan akidah yang inklusif. Dalam pembelajaranya, tentu saja memberikan perbandingan dengan akidah yang dimiliki oleh agama lain (perbandingan agama). Meminjam bahasanya Alex Roger (1982: 61-62), pendidikan akidah seperti itu mensyaratkan adanya fairly and sensitively dan bersikap terbuka (open minded). Tentu saja, pengajaran agama seperti itu, sekaligus menuntut untuk bersikap “objektif” sekaligus “subjektif”. Objektif, maksudnya sadar bahwa membicarakan banyak iman secara fair itu tanpa harus meminta pertanyaan mengenai benar atau validnya suatu agama. Subjektif berarti sadar bahwa pengajaran seperti itu sifatnya hanyalah untuk mengantarkan setiap peserta didik memahami dan merasakan sejauh mana keimana tentang suatu agama itu dapat dirasakan oleh orang yang mempercayainya.
    Melalui pengajaran akidah inklusif seperti itu, tentu saja bukan untuk membuat suatu kesamaan pandangan, apalagi keseragaman, karena hal itu adalah sesuatu yang absurd dan agak mengkhianati tradisi suatu agama. yang dicari adalah mendapatkan titik-titik pertemuan yang dimungkinkan secara teologis oleh masing-masing agama. setiap agama mempunyai sisi ideal secara filosofis dan teologis, dan inilah yang dibanggakan penganut suatu agama, serta yang akan menjadikan mereka tetap bertahan, jika mereka mencari dasar rasional atas keimanan mereka. Akan tetapi, agama juga mempunyai sisi real, yaitu suatu agama menyejarah dengan keagungan atau kesalahan-kesalahan yang biasa dinilai dari sudut pandang sebagai sesuatu yang memalukan. Oleh karena itu, suatu dialog dalam perbandingan agama harus selalu mengandalkan kerendahan hati untuk membandingkan konsep-konsep ideal yang dimiliki agama lain yang hendak dibandingkan, dan realitas agama—baik yang agung atau yang memalukan dengan realitas agama lain yang agung atau memalukan itu dengan demikian, akan dapat terhindar dari suatu penilai stndar ganda dalam melihat agama lain.

    D. Kesimpulan
    Kalau tujuan akhir pendidikan adalah perubahan perilaku dan sikap serta kualitas seseorang, maka pengajaran harus berlangsung sedemikian rupa sehingga tidak sekedar memberi informasi atau pengetahuan melainkan harus menyentuh hati, sehingga akan mendorongnya dapat mengambil keputusan untuk berubah. Pendidikan agama Islam, dengan demikian, di samping bertujuan untuk memperteguh keyakinan pada agamanya, juga harus diorientasikan untuk menanamkan empati, simpati dan solidaritas terhadap sesama. Maka, dalam hal ini, semua materi buku-buku yang diajarkannya tentunya harus menyentuh tentang isu pluralitas. Dari sinilah kemudian kita akan mengerti urgensinya untuk menyusun bentuk kurikulum pendidikan agama berbasis pluralisme agama.

    DAFTAR PUSTAKA
     Afifi, al-Hadi, Muhammad, (1964), al-Tarbiyah wa al-Taghoyyur al-Tsaqafi, Kairo: Maktabah Angelo al-Mishriyyah.
     Allen, Dougles, 1978, Structure and Creativity in Religion. The Houge

Leave a Reply